
Peristiwa penyerbuan keluarga Cahyo sempat menjadi headline news di beberapa surat khabar.
Keberhasilan pihak berwajib dalam mengungkap kasus pembunuhan sepuluh tahun yang lalu menjadikan Pak Nuruddin memiliki jabatan khusus di pemerintah pusat.
Terkadang beliau sering meminta tolong Wawan untuk membantu memecahkan beberapa kasus kepolisian yang sangat sulit.
Hubungan antara Wawan, Sari dan Rini makin dekat dan semakin rumit dengan hadirnya Citra.
Seperti biasa hari sabtu adalah waktunya Wawan hibernasi. Tidur adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan tubuh, sedangkan hibernasi versi Wawan adalah dengan meditasi seperti hari ini.
Dengan sikap lotus Wawan melakukan meditasi.
__________________________________
Memasuki dunia bathin adalah saat yang paling menyenangkan. Karena disini Wawan bisa melakukan apa saja khususnya belajar. Seiring meningkatnya kemampuan dia dalam menguasai ilmu hukum ruang dan waktu Wawan mampu membuat perbedaan waktu yang kian panjang.
Satu jam di dalam dunia bathin sama dengan satu bulan di dunia nyata.
Wawan yang awalnya menguasai ilmu membaca fikiran kini semakin meningkat. Wawan telah mampu memanipulasi pikiran manusia seperti hipnotis dan membaca pikiran
Wawan telah bisa memindahkan tubuh kasarnya ke dalam dunia bathin bahkan mampu memindahkan tubuhnya ke tempat lain. Akan tetapi memakan banyak sekali tenaga. Dan saat ini ilmu itu yang sedang dilatihnya.
Sebenarnya tanpa harus belajar pun Wawan sudah memiliki cincin pemindah waktu dari leluhur Sari. Tapi dia tidak ingin tergantung pada benda.
__________________________
Kembali ke situasi dimana Wawan sudah melakukan meditasi selama tiga jam kala dia mendengar suara diskusi yang cukup seru.
Dalam dunia bathin suara luarpun kini bisa di dengarkan. Karena keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Setelah mengerjakan kewajiban Wawan menghampiri sumber suara.
Langkahnya terhenti manakala melihat sosok Citra sedang diwawancara oleh mamah, Sari dan Rini sedangkan Rina sudah kabur entah kemana bersama Anton.
Wawan berjalan perlahan menghampiri group arisan ibu-ibu di ruang tengah ( 😅😅😅😅 )
Matanya bertemu pandang dengan Citra dan semua mengikuti arah pandangan Citra.
Citra memandang nya dengan perasaan kesal. Meski sesaat kemudian tersenyum.
" Halo Wawan... kaget ya dengan kedatangan saya. " ucap Citra santai tapi menusuk di dada.
Wawan salah tingkah menanggapi sikap ramah Citra
" Hai Mba... Kapan sampai.... Kok tahu rumah Wawan. "
" Mamah yang kasih tahu alamat rumah ini sayang. Sini bergabung dengan kita. "
Wawan hanya duduk diam memandang semuanya. Mereka semua pun sama juga duduk diam dan menunduk.
Buat mereka pesona Wawan bagai seorang raja dihadapan rakyatnya. Ingin melihat akan tetapi tidak ada keberanian untuk mengangkat kepala.
Begitu pula dengan Citra. Jantung nya berdebar sangat kencang. Nafasnya tidak teratur, sedang tangannya terus saja *******-***** ujung baju hingga kusut.
" Lho kok malah pada diam. Katanya tadi nyariin Wawan. "
" Citra, kamu jauh-jauh dari Demak katanya ada hal penting yang mau disampaikan. Kok malah diamah saja. "
" Anu Bun.... eh anu Bu.... hish... susah amat ngomongnya... "
" Lupa Bu..... eh Lupa Mah... malah parah manggilnya. " Jessica tersenyum melihat betapa gugupnya Citra saat di depan Wawan.
" Sudah-sudah Citra tenang dulu. " Jessica berdiri dan mengelus kepala Citra yang menempel di perutnya.
__ADS_1
" Mumpung masih sore siapa yang mau ikut mamah berbelanja. " ajak mamah ke mereka.
"Mamah pasti mau pamer mobil barunya." bathin Wawan
" Wawan, sudah bisa nyetir Khan. " tanya mamah
" Baru belajar kemarin sama Sari mah..."
" Nanti kamu yang pegang ya... "
" Serius mah.....Apa ngga takut ? "
" Ngga... " jawab Sari
Meskipun masih nampak kaku dalam penguasaan mobil akan tetapi semua penumpang tetap nyaman di dalamnya.
Wawan murni jadi sopir karena tidak ada yang mau duduk di bangku sebelah dia.
Semua memilih berdesak-desakan daripada harus terpisah terlebih mamah.
Sesampainya mobil di pelataran depan toserba Sri Ratu Pemuda mereka turun dan meninggalkan Wawan.
Toserba terlengkap masa itu di kota Semarang. Untuk baju dan aksesoris sangat lengkap bahkan kita bisa menemukan barang dari desainer desainer kelas dunia dengan harga selangit di dalamnya.
Setelah mobil diparkir Wawan langsung menuju tempat yang sudah ditentukan.
Surga belanja buat wanita kala itu.
Saat Wawan hampir sampai di tempat mereka berkumpul terdengar Sari berkata :
" Semua boleh membeli apa saja yang menarik dan bisa membuat kita jadi tambah cantik. Dan nanti yang akan membayar adalah Mas Wawan. "
" Sari jangan begitu. Kalian boleh memilih apa saja nanti mamah yang akan membelikannya. "
" Darimana Wawan bisa punya uang untuk mentraktir mereka semua ? " kata mamah dalam hati
" Tenang saja mah.... Hari ini Wawan dapat penghasilan dari nenek. "
" Berarti uang mamah ngga laku nich. "
" Beruntung nya diriku punya anak yang berpenghasilan. " Kata mamah pura-pura bahagia
Semua berdecak kagum melihat keindahan dan kesempurnaan dalam penciptaan. Berjalan kesana kemari memantaskan baju. Saling mengomentari pilihan masing-masing.
Yang muda cantik dan energik sedangkan yang dewasa anggun dan bersahaja.
Mamah tampak bahagia diantara mereka. Dunia Wanita memang unik.
Wawan sangat menikmati keceriaan mereka dan berusaha menikmati masa-masa tenang ini.
Bercanda sepanjang lorong toserba membuat semua mata perempuan iri dan bagi yang berpasangan akan cemburu manakala pasangan mereka melirik dan mengagumi kecantikan para bidadari yang melintas di depan mereka
Dibalik itu mereka menggeleng dan memandang kasihan pada seorang pria dibelakang nya yang penuh dengan barang belanjaan.
" Kasihan. "
*****
Wawan duduk di samping kolam usai makan malam saat Citra datang menghampiri.
" Wan, lagi ngapain disini ? "
" *Ngga tahu Mba, Wawan sedang menenangkan diri. "
__ADS_1
" Wawan sedang menata hati untuk menghadapi sesuatu yang sebentar lagi akan pergi*. "
Mendengar ucapan Wawan Ciitra menutup mulutnya dan menjadi ragu untuk berbicara.
Sebenarnya Wawan tahu apa yang akan disampaikan Citra. Lebih baik dia mengatakan terlebih dulu daripada mendengar langsung. Maskipun tahu itu sakit Wawan berusaha mengikhlaskan.
" Sudah Mba, ngga usah ragu Wawan ikhlas kok. Yang terpenting Mba Citra bahagia. "
" Mudah bagimu untuk bicara seperti itu karena sudah memiliki yang lain. " Mba Citra berusaha untuk tidak menangis meskipun mendung sudah menyelimuti hatinya.
" Meski Wawan masih muda bukan berarti tidak bertanggung jawab dengan janji yang sudah terucap. "
" Mba Citra tahu ngga kenapa saat Wawan bergabung tadi sore mereka semua diam ? "
Citra menggeleng
" Karena mereka sadar diri bahwa pemilik hati Wawan yang utama adalah mba Citra. "
" Mereka semua baik ngga dengan Mba Citra ? " dijawab dengan anggukan
" Karena tanpa ijin dari Mba Citra mereka tidak punya harapan untuk bisa masuk dalam kehidupan Wawan. "
" Wawan sudah menceritakan perihal Mba Citra kepada mereka. "
" Akan janji yang sudah Wawan ucapkan di depan ayah Mba Citra. "
" Mereka tidak ada yang berusaha untuk merebut posisi pertama yang memang Wawan siapkan untuk Mba Citra. "
" Melihat Mba Citra bahagia itu cukup buat Wawan. Jangan pernah menolak apapun yang dikirim Tuhan untuk kita. "
" Lakukanlah Mba, Wawan tidak ingin menjadi penghalang untuk kebahagiaan Mba Citra. "
" Janji Wawan untuk melindungi Mba Citra masih tetap akan berlaku. "
Jatuh lah air mata yang sedari tadi ditahan. Dipeluk nya Wawan dengan erat.
" Terima kasih Wan. "
Mba Citra beranjak pergi meninggalkan rumah setelah berpamitan dengan mamah, diikuti Rini karena Rina sudah menjemput.
Wawan masih duduk di samping kolam. Pikirannya kosong. Hingga sebuah tangan lembut menepuk-nepuk punggungnya.
Sari berjalan dan berdiri di depan Wawan. Dipegang dengan lembut kepala dan bahu Wawan dan dibawa masuk ke dalam pelukan nya.
" Menangis lah....Dengan menangis itu menandakan Mas Wawan juga manusia yang punya hati dan perasaan. "
" Keluarkan semua bebanmu. Masih ada Sari yang akan selalu mendampingi mu kalau semua pergi. "
Tangis Wawan pecah. Baju Sari menjadi basah. Wawan tidak ingin Sari pergi meninggalkan nya.
Sari duduk di sebelah Wawan berdesakan di kursi malas di dekat kolam.
Wawan bersandar dan tertidur dalam pelukan Sari hingga keduanya tertidur.
Jessica dari dalam menyaksikan semuanya. Dia merasa bersalah pernah berdoa agar Wawan dan Citra tidak berjodoh karena selisih usia.
Kehilangan Cinta pertama dalam hidup sangat menyakitkan. Jessica besyukur disaat anaknya terpuruk ada Sari yang dengan sedia menemani dan mendampinginya.
Jessica berjalan menghampiri mereka dan memasang selimut supaya mereka tidak masuk angin karena tidur diluar.
Dewi Rengganis melihat dari jauh kejadian tersebut ditemani oleh Kakek Kencana.
" Langkah selanjutnya bagaimana guru ? "
__ADS_1
" Guru salut dengan Wawan.... Dia mampu terlihat tegar dan bijaksana untuk melepaskan meskipun itu sakit. "
" Tuhan selalu mengirim seseorang untuk kita disaat semua orang pergi dan dia tetap bertahan dan setia untuk mendampingi. "