Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 33 Bertemu Penjaga Cincin


__ADS_3

Kembali ke satu bulan yang lalu saat Wawan sedang meditasi.


" Selamat malam Tuan. "


Wawan yang sedang membaca buku mengangkat kepala


" Selamat malam Pak. Ada yang bisa saya bantu. " sambil berfikir bagaimana Bapak ini bisa berada di alam bathin nya.


" Saya Tri Wongso penjaga dari Cincin yang dikenakan oleh Tuan. "


" Setelah Tuan menguasai ilmu ruang dan waktu tataran sembilan saya baru bisa berkomunikasi dan mengetahui bahwa Tuan adalah pewaris yang tepat. "


" Semua harta kekayaan milik keluarga sebelum nya di simpan di suatu tempat dan saya lah yang menjaga. "


" Dengan dikenakannya cincin tersebut maka mulai hari ini ijinkan saya untuk mengabdi pada Tuan. "


" Apa yang harus saya lakukan dengan harta milik keluarga tersebut dan apa kompensasinya ? "


" Tidak ada kompensasi akan hal itu dan tugas apapun. Yang terpenting adalah Tuan pernah berjanji jika terjadi sesuatu terhadap keluarga itu saya akan selalu berdiri di sisi Tuan untuk membantu mengatasi. "


" Baiklah Paman.... Sekarang tunjukkan dimana harta tersebut di simpan. "


Tri Wongso mendekat dan menempelkan telunjuk nya ke kening Wawan.


" Jadi begitu cara saya memasuki ruangan tersebut. "


" Mari kita praktekkan. " ucap Wawan


Seketika Wawan berpindah ke suatu tempat. Tapi sebelumnya Wawan kembali ke tubuh aslinya terlebih dahulu baru setelah itu menuju tempat yang diinginkan.


Dalam ruangan berukuran tiga puluh meter persegi terdapat tumpukan koin emas yang sangat banyak, belum lagi terdapat tumpukan berlian seukuran bola tennis disisi yang lain.


Dari kesemuanya hanya satu yang menarik minat Wawan yaitu sebuah baju zirah berwarna emas yang berdiri di sudut belakang dari tumpukan yang ada.


" Paman Tri Wongso, ini apa ? "


" Apa Tuan tertarik dengan ini. "


" Benar. Hanya ini yang membuat ku tertarik. Bolehkah saya memakainya ? "


" Tentu saja. "


" Tuan boleh mengenakannya. " jawab Tri Wongso sambil tersenyum.


Seorang kesatria tidak membutuhkan harta akan tetapi mereka lebih memilih sebuah senjata untuk memperkuat dirinya.


Kala baju zirah tersebut di sentuh oleh Wawan tanpa harus memakainya baju zirah tersebut sudah langsung melekat di tubuhnya.


Tubuh Wawan bersinar keemasan setelah itu meredup dan hilang


" Paman kemana perginya baju zirah tersebut ? "


" Sudah menyatu dengan tubuh Tuan. "


" Baju zirah tersebut sangat ringan sekali bahkan seperti tidak mengenakannya. Kelebihan dari baju tersebut untuk melindungi dari segala serangan baik pedang atau sesuatu yang bersifat menghancurkan. "


" Bahkan sekelas makhluk halus, setan dan siluman tidak akan mampu menguasai tubuh Tuan. "


" Terima kasih atas penjelasan nya. "


" Mari kita pergi dari sini. " kata Wawan


" Tunggu sebentar Tuan. " Tri Wongso mengambil sekantung koin emas dan sekantung berlian berukuran kelereng untuk diserahkan ke Wawan


" Untuk apa ini ? "


" Tuan memang tidak membutuhkannya, akan tetapi orang diluar sana banyak yang membutuhkan bantuan Tuan. "


" Paman, bagaimana cara saya pergi ke suatu tempat menemui seseorang akan tetapi tidak mengetahui dimana dia berada ? "

__ADS_1


" Bukankah Tuan pernah melakukan nya saat pertama kali mengenakan cincin tersebut. "


" Baiklah mari ikut saya. "


" Wush...... "


Wawan tiba di sebuah kamar tidur perempuan yang nampak bersih dan wangi.


Dilihat nya tumpukan buku berjajar rapih di atas meja belajar. Matanya berpindah ke sebuah tempat tidur berwarna biru.


Dari arah pintu terdengar langkah kaki. Dengan kemampuan hukum ruang dan waktu Wawan bisa melihat Rini sedang berjalan membuka pintu.


Rini baru pulang dari sekolah saat dirinya melihat cahaya menembus dari bawah pintu. Dia teringat saat terakhir sebelum meninggalkan kamar semua lampu sudah dipadamkan.


" Siapa yang berada di kamarku ? "


Rini ketakutan.


" Cerita hantu hanya ada di Indonesia, aku khan sekarang di Australia. "


Setelah memutar anak kunci mata Rini melihat seseorang yang sedang duduk membelakanginya di meja belajar.


Kepala orang itu menoleh


" Kyaaaaaa. " Rini berteriak kaget


Setelah diperhatikan ternyata yang dilihatnya adalah Wawan.


Rini berlari ke dalam pelukan Wawan. Diciumnya kedua pipi Wawan dengan penuh perasaan.


" Kamu kok kurusan. " kala Wawan memeluk pinggang Rini. dijawab dengan anggukan yang dirasakan Wawan di bahunya.


" Materi pelajaran di sini sangat berbeda dengan di Indonesia tapi Rini masih bisa mengatasi. Yang paling berat adalah Kamu Wan. "


" Menahan rindu adalah ujian yang paling berat. " bahu Wawan terasa basah kala Rini mengucapkan hal itu.


Setelah puas memeluk dan memandang Wawan Rini kembali ceria.


" Panjang cerita nya. Nanti suatu saat akan saya ceritakan yang penting mau ngga kita jalan jalan menikmati pemandangan. "


*****


Sepanjang jalan sepasang remaja berumuran belasan tahun saling bergandengan mengelilingi jajaran toko yang saling berdempetan.


Saat melintasi sebuah toko barang antik Wawan teringat dengan koin emas yang diberikan Tri Wongso.


Dengan telepati dipanggilnya Tri Wongso


" Paman, bolehkah saya menjual koin-koin tersebut? "


" Tentu saja Tuan... Memang koin itu adalah mata uang untuk bertransaksi. Sebaiknya Tuan menguangkannya. Sedia payung sebelum hujan. "


Dengan kemampuan nya diwujudkan beberapa koin ke dalam saku celananya.


Setelah puas berkeliling dan menikmati sore, Wawan pamit diri.


Rini memeluk Wawan dengan sangat berat dan enggan untuk berpisah. Setelah diberi pengertian akhirnya Rini melepas kepergian Wawan.


Wawan berjalan lurus melewati beberapa blok karena Rini memandang kepergiannya. Saat terdapat sebuah belokan Wawan segera menghilang dan muncul di toko barang antik tersebut.


Berbekal bahasa Inggris yang dia pelajari di tempat kursus Wawan memasuki toko tersebut.


" Excuse me Sir ( permisi Pak). " kata Wawan dengan terbata-bata


" Hi, Can i help you ( Hai ada yang bisa saya bantu) ? " tanya pemilik toko tersebut.


" Saya memiliki beberapa koin, apakah saya bisa menjualnya disini? "


" Ijinkan saya melihatnya terlebih dahulu. "

__ADS_1


Pemilik toko tersebut kagum memandangi koin yang ada di depannya sambil mengoleskan setetes cairan di sebuah pinggan dan menggosokkan koin tersebut.


" Koin emas yang sangat bagus dan sempurna. " kata pemilik toko tersebut sambil menimbang koin tersebut


" Seratus gram. " katanya


" Berapa kamu ingin menjualnya ? "


" Berapa anda menawarnya ? "


" Hahaha anak yang pintar. Bagaimana kalau dua juta lima ratus ribu."


" Angka yang sangat sedikit untuk benda seni." jawab Wawan


" Berapa banyak yang kamu miliki ? "


" Saat ini saya hanya membawa sepuluh keping. Kalo Paman mau saya masih memiliki seratus keping lagi. "


" Baiklah saya harga sepuluh keping tersebut seharga tiga puluh juta. "


" Apakah kamu setuju ? "


" Baiklah. oh ya satu lagi saya memiliki sebuah berlian dengan ukuran yang sangat besar. "


Wawan mengeluarkan sebuah berlian dari saku atas bajunya setelah dia meletakkan sepuluh keping dari saku celananya.


Mata pemilik toko tersebut terbelalak kala berlian tersebut memantulkan bias cahaya yang sangat lembut dan berwarna warni.


Segera dia menuju ke laci meja dan diambilnya sebuah alat untuk memeriksa berlian tersebut.


Pemilik toko takjub melihat berlian dengan kejernihan yang sangat luar biasa, warna yang indah ditambah lagi potongan-potongan nya sangat rapih serta ukuran dari berlian tersebut cukup berat.


" Berapa kamu ingin menjualnya anak muda ? "


" Satu milyar. " Wawan asal menyebutkan sebuah harga.


Pemilik toko tersebut hanya tersenyum. Kemarin lewat balai lelang yang dimiliki nya dia bisa menjual harga yang sama dengan ukuran setengah dari berlian yang saat ini di pegangnya.


" Berapa banyak yang kamu miliki ? "


" Berapa banyak uang paman bisa membayarnya ? "


" Apakah ini barang curian ? " tanya pemilik toko.


" Apakah paman sudah mendengar khabar seseorang kehilangan harta berharganya ? "


Pemilik toko menggeleng mendapat jawaban pertanyaan Wawan


" Saya memiliki lima puluh butir kalo paman mau dan mampu menjualnya. Kalo tidak akan saya tawarkan kepada orang lain. "


" Saya ada uang tunai sebanyak yang kamu minta. "


" Kalo begitu siapkan dan saya akan menyiapkan barangnya besok. "


Pemilik toko tersebut menghitung uang dalam bentuk dollar dan menyerahkan kepada Wawan.


" Bagaimana cara kamu membawa uang sebanyak ini ? " setelah menyerahkan lima kantong besar berisi uang.


" Sudah saya pikirkan caranya. "


" Wush. " seketika lima kantong uang tersebut menghilang


" Senang berbisnis dengan paman. Asal paman bisa menjaga keberadaan saya maka paman akan mendapat keuntungan yang banyak. "


" Baiklah anak muda. Senang berbisnis dengan anda. " diantar sampai dengan pintu Wawan berjalan dan berbelok ke dalam sebuah gang kecil yang sedikit gelap.


Wawan tahu dia sedang diikuti pemilik toko tersebut.


" Kemana perginya anak itu ? "

__ADS_1


Kata pemilik toko kebingungan saat dia mencari keberadaan Wawan.


" Peduli amat. Yang penting anak itu akan membuatku kaya. "


__ADS_2