
2 Juni 1992
Nakal tetap ..... pinter harus......itulah semboyan yang Wawan patri dalam hati.
Saat mengambil raport Mamah tersenyum senang atas nilai yang diperoleh anaknya.
Dan mengucapkan selamat atas prestasi Wawan yang menduduki peringkat pertama.
Mamahnya Wawan tak lupa mengucapkan selamat ke Dwi, Kartika dan Anton karena mereka juga pendapatan peringkat tiga besar di kelas.
Mamah bangga meski mereka sering bikin ulah akan tetapi diimbangi dengan prestasi.
Liburan kali ini Wawan ingin mondok ke tempat Abah Tohari. Alasannya sederhana karena Wawan ingin menenangkan hatinya yang sedang gelisah.
Bagaimana dengan nasib Dimas ?
Semenjak pertemuan terakhir dengan Wawan, Dimas khabarnya menjalani pengobatan di Jakarta. Karena setiap malam lukanya selalu terbuka dan mengeluarkan darah. Menurut ahli spiritual keluarganya Dimas diganggu oleh roh jahat.
****
Pelataran pondok sudah di depan mata. Akan tetapi Wawan masih enggan untuk menapakkan kakinya kearah sana. Akhirnya dia duduk di warung depan sambil memesan teh manis.
Santriwan - santriwati nampak keluar masuk pondok namun tidak menaruh minat Wawan untuk mendekat. Kala matanya menemukan satu sosok perempuan bertubuh tinggi semampai berjalan meninggalkan pondok menuju motor yang diparkir di luar gerbang. Jantungnya berdegup kencang. Mata mereka saling beradu pandang.
****
Setelah menyerahkan sumbangan yang sudah terkumpul Citra segera beranjak pergi menuju tempat dimana motornya di parkir.
Saat dirinya sudah sampai di gerbang pondok dari sebrang jalan dia melihat satu sosok yang mirip dengan seseorang beberapa tahun yang lalu.
Citra tidak berani menatap ke arah sebrang lebih lama karena dia memilki etika. Citra melanjutkan langkahnya menuju motor. Dari sebrang seorang laki-laki dengan perawakan tinggi 180 cm, berkulit putih dan berwajah ganteng berjalan menghampiri dia. Citra sempat salah tingkah.
" Assalamu'alaikum wrwb. " Salam orang tersebut dengan suara nge bass.
" Wa alaikum salam. " Jawab Citra dengan menunduk.
" Apa benar saya bicara dengan Mba Citra...? "
" Maaf sebelum nya darimana mas tahu nama saya...? "
" Saya Wawan Mba.... "
" Dig... dug... dig.... dug. "
" Kenapa jantung ku berdebar - debar ya...?" Kata Citra dalam hati
Mba Citra mengangkat wajahnya. Ditatapnya Wajah Wawan lebih lama.
" Ya Allah.... kamu sudah besar... "
" Kapan-kapan main ke rumah ya....!!! "
Citra tidak ingin berlama-lama disitu. Kakinya sudah lemas. Kemudian dia pamit.
" Mba Citra jalan dulu.... Janji lho main ke rumah. "
" Pasti Mba..... memang tujuan Wawan ke sini selain kangen sama Mba Citra juga kangen sama suasana pondok. "
__ADS_1
Citra melaju meninggalkan Wawan dengan wajah bersemu merah.
" Makin cantik....Andai Mba Citra bisa **kumilik**i. "
****
" Kenapa jantungku berdebar-debar saat Wawan berdiri di dekatku. " kata Mba Citra
" Citra, ngapain kamu duduk disitu terus. Ngga baik anak perempuan ngalamun dipinggir jalan lho. " Suara Astari menyadarkan Citra dari lamunannya.
" Ngga tahu Bun..... tadi Citra ketemu sama Wawan. "
" Wawan yang pernah menolong kamu dulu. "
Citra mengiyakan
" Terus yang membuat kamu sampai lupa beranjak dari atas motor apa....? "
" Entah kenapa jantung Citra berdetak sangat kencang Bun. "
" Oalah Nduk - nduk..... Sekarang umurmu berapa tho...? "
" Sembilan belas Bu. Emang apa hubungan nya antara umur Citra dengan jantung Citra yang berdebar-debar...? "
Astari langsung mengajak Citra anaknya untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah membuatkan minum untuk anak semata wayang nya Astari bertanya :
" Citra, siapa orang yang paling kamu sayangi selain Bunda dan Ayah. "
" Wahid Bu.... "
" Lupa lah Bu... " jawab Citra singkat akan tetapi Ibunya tidak percaya
Hatinya terasa perih saat membuka luka lama.
Citra berusaha mengingat-ingat awal pertemuan nya dengan Wahid
" Waktu itu rasanya senang, bangga bisa dekat sama orang nomer satu di sekolah. Ada rasa ingin memiliki seutuhnya dan tidak ingin berbagi dengan orang lain meski tanpa ikatan. "
" Kenapa ibu mengungkit cerita yang Citra sendiri ingin melupakannya. "
tanya Citra
" Apa kamu terluka saat Wahid lebih memilih wanita itu...? "
" Sedikit sich... Citra sakit karena merasa dibohongi. "
" Khan Citra yang berkeinginan untuk dijadikan istri bukan pacar sama Wahid kalo ngga salah waktu itu Ibu dengar. "
" Benar juga ya... 🤔🤔🤔. "
" Gini Nduk... Ibu mau kasih tahu.... Cinta itu adalah perwujudan dari rasa yakin, percaya dan peduli. Tanpa pernah berfikir untung rugi atas tindakan yang dilakukannya. "
" Cinta itu adalah bentuk tanggung jawab yang mana sang pelaku sangat membutuhkannya. "
" Seperti kita kepada Allah tanpa harus tahu wujudnya tapi kita percaya akan kekuasaanNya. Kita jalankan perintahNya, kita ingin menjadi yang terbaik dihadapan Nya. "
__ADS_1
" Begitu juga dengan Wawan tanpa memandang dirinya anak-anak dia donorkan darah nya untuk membantu kamu tanpa pernah berfikir resikonya. "
" Waktu itu dia cuma berkata meskipun setetes setidaknya bisa membantu kamu melewati masa kritis. "
" Seperti kata pujangga di dalam darahku tercipta benih-benih cinta yang terus mengalir mengisi jantungku berpindah ke hati dan pikiranku."
" Betul ngga....? "
" So sweet....Bunda sok puitis. " sambil memeluk ibunya.
" Coba kamu telaah yang sudah ibu sampaikan." sambil mengusap rambut anaknya.
Seperti film yang diputar kembali tentang peristiwa yang terjadi tiga tahun yang lalu. Tanpa sadar air matanya menetes
" Citra mengerti Bu.... "
" Apakah Wawan berfikir resikonya.... " Citra menggelengkan kepala
" Di dalam tubuhmu mengalir darahnya. Di dalam darahnya ada harapan untuk kesembuhan dirimu. Darahnya khusus tercipta hanya untukmu begitu sebaliknya. "
" Tapi mamahnya....? "
" Wajar, setiap Ibu pasti akan mengambil sikap seperti itu. Kelak kamu pun akan bertindak hal yang sama jika diposisikan seperti itu. "
" Dalam tidurnya namamu sering dipanggil. Mamahnya khawatir saat anaknya terlalu dini mengenal cinta. "
" Darimana Ibu tahu..? "
" Abah Tohari yang bercerita saat menjenguk Wawan. Wahid tahu akan hal itu makanya dia mundur. "
" Kenapa Wahid tidak berjuang Bu....? "
" Karena yang terjadi pada dirimu pun sama. "
" Maksudnya...? "
" Dalam kondisi tidak sadarkan diri kamu mengigau bahwa kamu berjanji tidak akan pernah bisa dimiliki laki-laki lain selain Wawan. "
" Dan waktu itu Wahid mendengar semua janjimu.... Maka dia pun pelan-pelan pergi dari kehidupan mu. "
" Glek... " Citra tertegun mendengar ucapan Ibunya
" Jadi perihal putusnya Citra dengan Wahid sebenarnya ibu tahu. Kenapa Bunda jahat dengan Citra...? " tangis Citra akhirnya pecah.
" *Maafkan Bunda Nak. " Astari menghela napas
" Bukannya Bunda jahat. Waktu itu Bunda sudah berbicara empat mata dengan Nak Wahid. "
" Disitu Nak Wahid jujur bahwa dia sudah menentukan pilihan dan pilihannya bukan kamu*. "
" Terimalah kenyataan..... "
" Saran Ibu mengalir lah seperti arus sungai. Biarkan cinta datang atas izin Allah. "
" Maksud Bunda Citra sama Wawan gitu... selisih umur kita lima tahun. "
" Bukan urusanmu... "
__ADS_1
" Jika kalian berjodoh Allah yang akan memantaskan nya. "