Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 14 Takdir


__ADS_3

Berkat ilmu baru yang diberikan Dewi Rengganis, Wawan bisa mempelajari apa saja tanpa kekurangan Waktu.


Bahkan Wawan bisa mengundang khodam pendamping dari gurunya sebagai partner dia belajar.


Wawan berhasil meningkatkan kemampuan Kaca pengawasnya untuk melihat kejadian seminggu ke depan. Bahkan tanpa harus masuk ke alam bathin. Akan tetapi konsekuensi yang dia peroleh sangat merugikan.


30 Desember 1991


Semua teman-temannya sedang merencanakan acara untuk menyambut tahun baru di Gedong Songo. Termasuk Wawan cs, Rini dan Rina.


Saat malam pergantian tahun baru Anton berencana nembak Rina untuk menjadi pacarnya.


*****


Menjelang malam seperti biasa Wawan melakukan meditasi. Setelah berlatih semua ilmu yang diberikan, muncul keisengan dalam dirinya.


Wawan membuat kaca pengawas untuk melihat apakah Anton bakal diterima Rina.


Muncul gambaran satu jam sebelum detik-detik pergantian tahun. Dibawah guyuran hujan Anton mengungkapkan isi hati dan perasaannya.


Disambut sorak sorai teman-temannya. Yang pada akhirnya Anton diterima Rina sebagai pacarnya.


Akan tetapi sebelum Anton berhasil mendekati Rina petir datang dan menghampiri anton. Suasana bahagia menjadi duka.


Wawan beranjak dari tempatnya. Segera dia ambil air wudlu untuk salat tobat dilanjut salat tahajud dan terus wiridan menjelang subuh. Kebiasaan yang sudah dia lakukan semenjak pulang mondok waktu itu.


Di sela-sela shalatnya air mata jatuh tiada henti.


Menyesal dia telah melihat kehidupan seseorang di masa datang.


*****


Seperti biasa tiga sahabatnya datang ke rumah untuk berangkat bersama. Obrolan teman-temannya sepanjang jalan dia abaikan. Membuat Teman-temannya sampai heran.


" Wan, kamu kenapa...? " Tanya Dwi


" Kamu putus sama Rini ya...? " tanya Kartika


" Kamu ngga bisa ee' ya?..? " tanya Anton


Semua tertawa.... sedangkan Wawan hanya diam.


Dewi Rengganis muncul dan berdiri di samping Wawan.


" Pelajaran buat kamu. Masa depan milik Allah hari kemarin milik kamu. Nikmati saat-saat kebersamaan kalian. Jika kamu bersedih maka mereka akan tahu bahwa kamu bisa melihat masa depan. Biasakan dirimu dengan pemandangan seperti ini. "


" Tubuh akan kuat jika digembleng dengan keras, pedang akan tajam jika diasah. Begitu juga kamu.... Mental pun harus dilatih untuk menerima kenyataan. "

__ADS_1


" Tadi malam aku mimpi basah. "


" Ada perasaan gimana gitu.... "


" Oalah kirain kenapa...... " Semua sontak ketawa. Wawan mulai menikmati perjalanan menuju sekolah kembali. Dia ingin mengingat masa-masa terakhir bersama sahabatnya itu.


" Santai bro.... aku juga sudah mimpi basah. "


kata Dwi


" Hampir tiap malam sambil membayangkan Yanti. "


" Rencana nya nanti malam mau tak tembak. Bareng sama Anton.


*******


Dengan menggunakan Bis yang disediakan sekolah semua anak duduk di bangku masing-masing.


Bis melaju dengan santai menuju lokasi. Untuk mengusir kejenuhan Kartika memainkan lagu yang sedang hits saat ini seperti Leaving on The Jetplane nya Chantal Kreviazuk, lanjut My Heart Will Go on- ost. Titanic. Semua bernyanyi dan semua terhibur.


Menjelang malam hujan turun tiada henti. Semua berkumpul di aula penginapan yang sudah di pesan pihak sekolah.


Wawan, Dwi, Anton Kartika, Rini, Rina, Yanti duduk mengelilingi penghangat ruangan.


Kartika masih sibuk dengan gitarnya melantunkan lagu Kemesraannya Iwan Fals dan Always Somewhere nya Scorpion hingga


Anton tiba-tiba berlari kearah luar diikuti oleh Dwi. Mereka membacakan puisi secara bersamaan


"Hari-hari berlalu mengukir sebuah huruf.


Tanpa terasa terangkai menjadi sebuah kata." Dwi dan Anton membacakan puisi secara bersama


" Kuabaikan kata itu namun justru rangkaian kata menjadi sebuah kalimat. "


" Ijinkan kuungkapkan isi hatiku padamu. "


" Aku mencintaimu. "


" Rina... " Anton


" Yanti.. " Dwi


" Maukah kamu menjadi pacarku.... "


Terima-terima.... " suara teman-temannya begitu riu terdengar menginginkan Rina dan Yanti menerima kawannya yang sedang gila.


Wawan teringat kembali akan gambaran semalam.... Saat Wawan hendak berdiri tiba-tiba tangannya dipegang oleh Rini.

__ADS_1


" Ay... jangan kesana. Jangan ganggu temanmu yang sedang mengungkapkan perasaannya. " bisik Rini lembut di telinga Wawan.


Sebenarnya Rini sudah tahu akan apa yang terjadi dari Neneknya dan dia meminta Rini untuk mencegah Wawan melawan takdir.


" Ay....kamu tidak perlu melakukan seperti apa yang mereka lakukan....Karena sebelum kamu ngomong pun aku sudah mencintai mu. "


kemudian Rini mencium pipi Wawan tanpa sadar karena terbawa suasana.


Rina kaget begitu juga dengan Yanti dan kedua saling berpandangan dan mengucapkan kata


" Mau "


Anton dan Dwi melompat kegirangan mendengar jawaban dari pasangan mereka.


Mereka segera berlari masuk ke dalam saat petir mulai terdengar.


Rini memeluk Wawan dengan erat karena takut dan melarang Wawan untuk menghampiri temannya.


Dwi berhasil masuk ke dalam aula sedangkan anton hampir sampai. Tiba-tiba petir menyambar antena TV yang ada di depan aula menjalar ke bawah dan mengenai Anton.


*****


Pelayan penginapan yang saat itu sedang membersihkan percikan air hujan. Saat itu Dia melihat dua anak laki-laki sedang membaca puisi dibawah guyuran hujan.


Petir mulai terdengar diatas langit. Entah apa yang dipikirkan Dia merasa ada bahaya yang mengarah ke penginapan. Dia melihat ada tongkat panjang bersandar di dinding dimana ujungnya ada sebuah jaring yang biasa dipakai untuk mengambil mangga di halaman samping.


Kala petir mengenai tiang antena dan menuju salah seorang anak dia ayunkan ujung tongkat dan mengenai kepala Anton.


Meski sedikit terlambat akan tetapi tubuh Anton masih bisa diselamatkan.


Semuanya terkejut saat melihat Anton tersambar petir. Seketika listrik padam dan mereka tidak tahu kelanjutan nya.


Semua menangis. Moment yang harusnya berakhir bahagia kini berakhir duka.


Rina memeluk tubuh Rini dan menangis tersedu-sedu.


Wawan duduk mematung beralaskan kakinya yg ditekuk. Dia marah dia menangis dan dia berteriak


" Antooooooooooooooon.... "


Teriakan Wawan menghentikan semua tangis dari kawan-kawannya.


Dalam situasi aula yang gelap gulita Wawan merangkak mendekati tubuh Anton yang kemudian dicegah oleh seseorang yang dia tidak tahu.


Wawan marah orang tersebut didorongnya hingga terjatuh. Wawan gelap mata. Sebuah tangan memukul tengkuknya hingga dia tak sadarkan diri.


*****

__ADS_1


Maaf sebelumnya jika alur cerita berjalan dengan lambat dan menggunakan bahasa yang Acak-acakan. 😂😂😂


__ADS_2