Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 22 Kerinduan


__ADS_3

Pangeran Sethyawan adalah anak yang rajin, tangkas dan pemberani. Dari kecil bakatnya sangat luar biasa. Semua kitab di dalam perpustakaan kerajaan selesai dibaca saat umur nya menjelang sebelas tahun.


Seratus lembar halaman kitab mampu dia baca dalam waktu tiga sampai lima hari. Bahkan para sastrawan yang diundang untuk menguji Pangeran semua kagum dengan kemampuan nya dalam memahami isi yang terkandung di dalamnya.


Sewaktu kerajaan di serang oleh Bangsa Mongolia, Pangeran tampil dan membantu para Jenderal kerajaan dalam mengatur strategi.


Tidak ada yang membenci Pangeran karena dia lebih senang bebas dan tidak tertarik dengan politik. Bergaul dengan rakyat lebih menyenangkan daripada harus tinggal di dalam kerajaan yang penuh dengan aturan.


Hingga suatu saat adik dari selir ketiga Raja menginginkan kedudukan nya sebagai calon pewaris kerajaan.


" Kakanda, ijinkan adinda untuk membantu Raja dalam mengatur kerajaan. " pinta adiknya lembut.


" Apapun yang kamu inginkan asal bisa menjadi pemimpin yang bijak kelak saat Raja mangkat Kakak akan selalu mendukung dari jauh. "


" Kakak percaya dibawah kepemimpinan kamu nanti Kerajaan Matahari akan maju dan makmur. "


" Terima kasih Kakanda atas kepercayaan yang diberikan ke Adinda. "


Keputusan dari Pangeran Sethyawan pun disampaikan dihadapan Raja dan para Menteri manakala sedang membahas masalah rakyat berdasarkan hasil laporan yang diberikan oleh Pangeran Sethyawan.


Semua kagum saat Pangeran memberikan tahta yang seharusnya memjadi miliknya.


Diwaktu yang sama Pangeran meminta ijin untuk mencari ilmu ke negeri China.


Karena Pangeran sering mendengar dari para pedagang di pelabuhan bahwa disana sastra sangat maju.


Meski dengan berat hati Raja dan permaisuri memberikan ijin kepada putranya.


" Nak, Hati-hati disana. Adat istiadat dan kebudayaan mereka berbeda dengan kita." Pesan permaisuri saat memeluk Pangeran.


Kenangan yang tidak pernah dilupakan Pangeran saat bersama dengan ibundanya sebelum meninggalkan tanah kelahiran.


Wawan tanam dalam benak dan pikiran nya aroma tubuh ibundanya, aroma wewangian yang dipakai, kelembutan dan kecantikannya sebagai sarana pengobat rindu kelak.


Kapal vinisi lambat laun bergerak meninggal kan bumi Jawa menuju negeri tirai bambu.


******


" Apakah kita akan bermalam disini." tanya Dewi Rengganis menyadarkan Wawan akan situasi saat ini


" Wawan sedang membayangkan situasi dimana Pangeran Sethyawan hidup dan dikelilingi oleh orang-orang yang sayang sama dia. "


" Anis, kamu memang perusak suasana. "


" *Masih banyak waktu. Kita masih berada di pelataran makam. Berbahaya......"


" Sekarang yang penting kamu berlatih menggunakan cincin itu*. "


" Bayangkan tempat yang ingin kamu tuju saat ini. "


Suasana hati Wawan masih teringat moment dimana Pangeran Sethyawan memeluk ibundanya.


Wawan sedang mengingat ingat aroma tubuh seseorang yang terkadang melintas di benaknya.


Seketika Wawan dibawa ke moment pertemuan terakhir Pangeran Sethyawan memeluk istrinya.


Teringat akan janjinya.


Teringat akan aroma tubuh istrinya yang bercampur dengan darah sebelum dirinya meninggal.


*****


" N****is..... Anis..... " panggil Wawan dengan mata terpejam.


" Dewi Rengganis.... " panggil Wawan kembali.


" Aroma ini..... aroma ini adalah aroma milik istriku di masa lalu. Aku hafal betul dengan aroma tubuh ini. " peluk Wawan erat


" Aroma tubuh ini mengingatkan janjiku padanya. "


" Uhuk......uhuk......" Wawan mendengar suara batuk yang dibuat-buat oleh seseorang.


" Sudah belum meluknya....? " kata seorang pria dengan nada tinggi.


" Dia bukan istrimu Nak..... Anakku belum menikah. " suara perempuan mengingatkan.


*******

__ADS_1


Ayah dan Bunda masih belum mengerti kenapa sampai malam ini Citra masih belum sadarkan diri.


Astari sudah melakukan berbagai macam cara untuk membangunkan putrinya. Beberapa dokter kenalan suaminya sengaja diundang untuk memeriksa Citra. Kata mereka Citra mengalami suatu depresi yang membuat bathinnya terguncang.


Sedangkan hasil diskusi dengan pendamping milik leluhur nya sukma milik Citra terbelenggu disuatu tempat.


" Bunda tidak adakah cara untuk memanggil sukma Citra untuk kembali..?"


Tanya suaminya saat mereka duduk di samping tempat tidur anaknya


" Bunda sudah mendapatkan cara terkait pemanggilan sukma. "


" Akan tetapi resikonya bukan sukma Citra yang masuk, malah bisa jadi sesuatu yang tidak diinginkan yang datang dan menguasai tubuh anak kita. "


Saat Ayah dan Bunda Citra sedang berdiskusi tiba-tiba muncul seorang pria sedang memeluk tubuh anaknya.


Sambil berteriak-teriak memanggil nama seseorang.


" Nis..... Anis..... "


" Dewi Rengganis.... " Mendengar sebuah nama yang tidak asing dipanggil Astari langsung tahu siapa yang sedang memeluk anaknya. Dia menengok ke kanan dan kekiri mencari sesuatu.


" Astari tenangkan suamimu. Meskipun tidak pantas tapi dengan cara ini bisa memanggil sukma anakmu untuk kembali. "


Dewi Rengganis memberi perintah kepada Astari.


Segera memegang lengan suaminya yang hendak menarik paksa tubuh Wawan.


" Aroma ini..... aroma ini. "


" Dewi Rengganis.....aroma ini adalah aroma milik istriku. Aku hafal betul dengan aroma tubuh ini. " peluk Wawan erat*


" Aroma tubuh ini mengingatkan janjiku padanya. "


" Uhuk......uhuk......" Wawan mendengar suara batuk yang dibuat-buat oleh seseorang.


" Sudah belum meluknya....? " kata seorang pria dengan nada tinggi.


" Dia bukan istrimu Nak..... Anakku belum menikah. " suara perempuan mengingatkan.


Di sudut ruangan Dewi Rengganis tertawa terbahak-bahak yang hanya bisa dilihat oleh Wawan dan Astari ibu nya Citra


" Meluk anak orang sembarangan. "


" hi - hi - hi.... " Dewi Rengganis tertawa bahagia diatas penderitaan orang.


Wawan kaget saat membuka mata. Dilihatnya dia sedang memeluk tubuh Mba Citra disaksikan oleh Bunda dan Ayahnya.


"Lho, kok Wawan bisa ada di ruangan ini....? " Antara bingung dan malu


" Om.... Tante....Wawan minta maaf sudah lancang peluk Mba Citra tanpa ijin. "


Saat Ayah Citra hendak memarahi Wawan, terdengar suara anaknya memanggil.


" Ayah, jangan kamu marahi Dia. "


Astari dan suaminya membalikkan badan dan memeluk anaknya.


" Kamu sudah bangun Nak. " kata Astari disela tangis bahagianya. Memeluk tubuh anaknya. Dicium pipinya kemudian dipeluk lagi.


" Apa yang terjadi denganmu Nak...? " ditatap nya wajah Citra


" Bunda sangat khawatir. "


" Bunda sampai putus asa karena tidak menemukan cara untuk membuatmu kembali. " di peluknya dengan erat tubuh anak semata wayangnya.


" Bunda, Citra ngga bisa nafas. "


Astari mengendurkan pelukannya.


Setelah bisa bergerak bebas, Citra membetulkan posisi duduknya dengan bersandar pada dinding tempat tidur.


" Bunda masih ingat dengan gambaran waktu itu..." Astari mengangguk


" Bunda melihat ngga manakala seseorang dengan wajah mirip Citra ditikam dari belakang oleh seseorang...? "


Astari kembali mengangguk.

__ADS_1


" Saat itu terjadi dada Citra sangat sakit. Citra melihat Bunda berada di kejauhan. "


" Citra memanggil-manggil nama Bunda. Kenapa Bunda tidak datang.....? "


Astari nampak kebingungan dan merasa bersalah. Dia teringat bahwa dirinya shock melihat adegan berdarah tersebut.


" Bunda tidak bisa menggerakkan tubuh Nak. "


Citra memaklumi karena bagaimanapun mereka tidak pernah melihat kejadian yang nampak nyata di depan mata mereka.


Citra melanjutkan kembali ceritanya.


" Dalam keadaan kesakitan datang seorang kakek tua menghampiri Citra dan membawa paksa Citra pergi dari situ. "


" Kakek tersebut baik, karena dia mau mengobati nyeri di dada Citra. Bahkan kakek itu juga mengajari Citra tentang pengobatan. "


" Citra dikenalkan berbagai macam jenis tanaman obat dan fungsinya dan tempat dimana obat itu tumbuh. Baik tanaman biasa maupun tanaman langka. "


" Setelah dirasa cukup menguasai ilmu yang dikuasai kakek itu. Citra diantarkan kembali ke tempat dimana Citra pertama kali datang dan ditinggal pergi. "


" Citra bingung bagaimana cara untuk kembali kemari. "


" Banyak orang lalu lalang melintas akan tetapi tidak satupun yang bisa ditanyain. Citra seperti arwah penasaran Bun. " tangis Citra pecah... Ditangkup nya kedua tangan menutupi wajah.


Setelah tenang, kembali Citra bercerita


" Waktu terus berjalan, peradaban berubah. Peperangan banyak terjadi di tempat itu. "


" Hingga suatu malam Citra teringat akan janji pria itu kepada istrinya. "


" Citra kemudian memanggil dia .....Suamiku tolong jemput aku. Aku takut sendirian disini. "


" Maksudmu gimana memanggil suami ke orang yang kamu belum menikah dengannya....? "


" Katakan dengan jelas...!!! "


Nada suara Ayah Citra sedikit naik manakala anak gadisnya sembarangan memanggil orang lain dengan kata suami.


" Terus Citra harus manggil hey kamu kesini gitu. " nada suara penuh dengan penekanan.


" Ayah tahu ngga Citra di alam itu berapa tahun...? " Citra berteriak karena emosi


Suasana kembali hening. Citra digenggam erat tangannya oleh Astari.


" Lanjutkan ceritamu Nak....!!! "


" Suatu ketika Citra melihat seseorang menanam tunas pohon jati. Dari awal hingga mereka bisa menebang empat kali yah. "


" Citra melihat seorang anak masih digendong dipundak, lalu berjalan, remaja, dewasa, menikah, punya anak, punya cucu dan cucunya punya cucu. "


Ucapnya dengan nada penuh keputus asaan


Sambil menatap Wawan Citra melanjutkan ceritanya kembali.


" Suamiku... tolong jemput aku.... berapa lama lagi kamu datang....? "


" Dari kejauhan..... nampak seseorang berjalan mendekat. Seperti sedang mencari sesuatu. "


Lamat lamat Citra mendengar apa yang diucapkannya. "


" Aroma ini..... aroma ini adalah aroma milik istriku. Aku hafal betul dengan aroma tubuh ini kata orang itu. "


" Aroma tubuh ini mengingatkan janjiku padanya. "


"Citra girang setengah mati Ayah.... Siapapun dia..... dia datang untuk menjemput Citra. "


" Citra melihat Wawan. "


" Citra hampiri dia. "


" *Citra hanya ingin memastikan apakah ini nyata.....Citra coba memeluk Wawan.


" Citra bisa merasakan hangat tubuhnya..."


" Citra mencium aroma tubuhnya sama dengan suaminya...meskipun dia tahu yang dipeluk adalah Wawan*. "


" Citra sendiri bingung Ayah...Akan tetapi ada penolakan dan kerinduan yang saling tumpang tindih.Citra seperti bukan Citra tapi ini Citra. "

__ADS_1


" Hingga tubuh Citra seperti diambil alih....Suamiku ternyata menjemput diriku.. "


Tanpa sadar Citra beranjak dari tempat tidur mendatangi Wawan dan masuk ke dalam pelukannya.


__ADS_2