Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch.23 Cerita Nenek


__ADS_3

Kediaman rumah Rini dan Rina


" Pah, apa biksu berkenan membantu...? "


tanya Sekar mamahnya Rini dan Rina.


Bu Ratna wanita berwajah oriental, berkulit putih, berpostur tinggi ramping dan memiliki kecantikan yang masih tetap terjaga meski berusia empat puluh tahun.


" Nanti malam mereka akan datang kemari Mah..... " Jawab Edwin papahnya Rini dan Rina.


Pak Edwin berwajah oriental, bertubuh tegak dan tinggi, tampan, berwibawa di usianya yang sudah lima puluh tahun.


" Sudah tiga hari mereka tidak sadarkan diri. " berwajah sedih melihat kedua putrinya tidur dengan wajah pucat.


" Pah, sebenarnya apa yang sudah mereka lakukan hingga terjadi seperti ini...? " tanya Ratna


" Kalo papah tahu, tidak mungkin harus mencari orang pintar. "


" Saat Mamah membasuh tubuh mereka hari ini muncul sebuah memar di dada Rini dan di leher Rina. "


" Rini memar di dada tembus kepunggung sedangkan Rina memar sekeliling leher. "


" Yang benar Mah...?? " tanya Edwin terkejut. Bergegas menuju kamar anaknya.


Setelah melihat sebuah memar di leher Rina Edwin kehilangan tenaga di kakinya dan terduduk di lantai.


"Tuhan apa yang terjadi dengan anakku ?"


*****


Terlihat Enam orang sedang membuat sebuah pentagram berbentuk lingkaran dari garam dicampur dengan kapur berbentuk lingkaran.


Dengan tubuh Rini dan Rina berada di tengahnya.


Lilin besar berwarna merah sejumlah delapan menyala mengelilingi Rini dan Rina dalam garis pentagram.


" Waktu sudah hampir jam dua belas. Mari kita mulai. "


Kepala biksu dengan mengenakan baju berwarna kuning dan dilapisi kain berwarna merah berjalan memercikkan air di luar Lingkaran pentagram.


Di depan Pak Edwin dan istrinya Biksu tersebut memasukkan jarinya ke dalam bokor berisi air dan mengoleskan ke kelopak mata orang tua Rini dan Rina.


" Sudah waktunya.. "


Sebuah ritual dilakukan untuk menjemput sukma dari putri Pak Edwin dan Bu Ratna.


*****


Berjalan ditemani biksu Pak Edwin dan istrinya memasuki sebuah lorong dan tiba di pinggiran hutan yang sangat lebat.


Dipandu sebuah alat yang menyerupai kompas mereka tiba di depan mulut gua.


Meski tidak terlihat kasat mata dengan bantuan bokor yang berisi air nampaklah sebuah segel yang terpasang setelah terkena percikan air.


Berbagai teknik yang dimiliki biksu tersebut sudah dikeluarkan. Akan tetapi segel itu yang awalnya rusak kembali tertutup.


*****


Merasa ada yang berusaha merusak segel seorang Nenek tua bergegas menuju mulut gua. Terlihat tiga orang sedang berdiri.


" Apa yang sedang kalian lakukan...? "


tanya nenek tersebut kepada Biksu.


" Amittabaha.... perkenalkan nama saya Yang Chao.. "


" Tujuan saya datang kesini sedang mencari dua orang yang menurut petunjuk berada di dalam gua tersebut. " diikuti dengan gerakan kepala sebagai petunjuk . "


" Dan kedua orang tersebut adalah orang tua dari anak yang di dalam gua. "

__ADS_1


Ditatap nya Pak Edwin dan istrinya


" Kamu sangat mirip dengan anak perempuan ku. "


ujar sang nenek saat menatap Ratna. Dibalas dengan tatapan kebingungan oleh pasangan suami istri tersebut.


" Masuklah..... " berjalan terlebih dahulu.


Dengan mengibaskan tangannya segel tersebut menghilang. Namun setelah mereka semua berjalan masuk segel tersebut terpasang kembali.


Setelah menyusuri gua yang sangat dalam nampak sebuah ruangan yang sangat besar. Dimana terdapat batu giok besar berbentuk balok berada ditengahnya.


Diatas balok tersebut terdapat dua mayat dengan luka yang sangat mengerikan.


Pak Edwin dan istrinya terkejut melihat kedua jenasah tersebut mirip dengan anaknya dengan luka seperti memar yang dilihat ditubuh kedua anaknya.


" Apa yang terjadi dengan anakku...?"


Kemudian sang nenek menceritakan kejadian dimana kedua gadis tersebut dibunuh oleh seseorang.


" Dimana sukma kedua anak tersebut....?"


tanya biksu Yang Chao


" Mereka berada disana.. " Nenek tersebut menunjuk kearah sebuah ruangan lain.


" Papah.... Mamah.... " panggil Rini dan Rina


" Rini.... " panggil Pak Edwin


" Rina... " panggil Bu Ratna


" Kalian tidak apa-apa khan sayang. " peluk Ratna sambil mengusap kedua rambut anaknya.


" Kita berdua baik-baik saja Mah. Untung ada nenek yang menolong kita. " jawab Rina


Suasana menjadi sunyi


" Semua terjadi akibat kesalahan ku. "


" Andai waktu itu tidak kumanjakan Li Mei dan Li Wei dan menuruti keinginan mereka semua ini tidak akan terjadi. "


Nenek tertunduk sedih.


" Nenek memohon kepada dewa supaya diberikan kesempatan untuk memperbaiki seluruh kesalahan di masa lalu. "


" Pertemuan kita sudah menjadi takdir. "


" Dewa mengabulkan permintaan Nenek. "


" Saat Nenek sedang bermeditasi terdengar tangisan yang sangat kencang dan mengganggu meditasi yang sudah nenek lakukan. "


" Tangisan bayi yang cukup lama dan ada dua bayi yang menangis bersamaan. "


" Kenapa tangisan itu terdengar nyaring ditelingaku... itu pertanyaan nenek pertama kali. "


" Tubuh nenek seakan terpanggil. Atas ijin dewa nenek berdiri di depan seorang ibu yang menangis bahagia kalau diletakkan bayi tersebut di kedua sisinya. "


" Nenek dampingi mereka.... nenek ajari mereka tentang kelembutan, ketenangan jiwa dan pengendalian emosi. "


Nenek terdiam seperti memikirkan sesuatu.


" Hingga terjadi pertemuan antara Nenek dan orang itu. "


" Dewi Rengganis... "


" Pendamping Pangeran Sethyawan.... "


" Penghuni kitab alam semesta yang berisi tentang pengendalian ruang dan waktu. "

__ADS_1


" Nenek berusaha keras menutupi jejak peristiwa tersebut. "


" Bagaimana cara nenek menghilangkan jejak tersebut...? " tanya Biksu


" Sedangkan sebuah kejadian tidak mungkin bisa terhapus dari buku takdir. "


" Biksu, saya tidak menghapus suatu takdir hanya memenggal bagian dari sebuah cerita. "


" Maksud nenek seperti film gitu..... ada beberapa bagian yang dipotong atau disensor. " tanya Rini


" Betul cucuku. "


Kemudian nenek tersebut melanjutkan ceritanya.


" Kitab yang dipelajari oleh Pangeran Sethyawan adalah ciptaan Ayahku dan dewi Rengganis adalah muridnya yang bersedia mengorbankan dirinya untuk menjaga kitab tersebut. "


" Kitab tersebut ada dua jilid. Satu nenek serahkan ke Pangeran Sethyawan dan satu masih nenek pegang hingga saat ini yang berisi tentang pengendali dari siapapun yang menguasai jilid pertama. "


" Nenek ajari mereka bertiga tentang isi dari jilid pertama. Hingga pada jurus tertinggi penjaga kitab memilih pewaris dari ilmu tersebut. "


" Dewi Rengganis memilih Pangeran Sethyawan sebagai Tuannya. "


" Li Mei dan Li Wei tidak mempermasalahkan siapa yang dipilih karena ternyata keduanya sangat mencintai Pangeran Sethyawan. "


" Perasaan tersebut terungkap manakala nenek menemukan mereka saling bertukar jurus untuk menjadi pemenang. Tubuh mereka banyak terdapat luka karena memang tujuan akhirnya adalah membiarkan salah satu diantara mereka hidup. "


Nenek tampak meneteskan air mata.


" Nenek akhirnya memberikan solusi terbaik kala itu untuk membiarkan Pangeran Sethyawan memilih satu diantara mereka. "


" Dengan menggunakan kapal kami bertiga meninggalkan tanah kelahiran menuju tempat dimana Wawan berada. "


" Kami tidak menyangka akan status Wawan yang ternyata adalah pewaris kerajaan. "


" Rakyat dan para menteri menginginkan Wawan menjadi raja setelah menikah dengan putri pejabat setempat.


" Cucuku Li Mei dan Li Wei marah. Maka segera mereka mengatur rencana untuk membunuh istri dari Pangeran Sethyawan dengan menghasut anak dari selir ketiga untuk melakukan pemberontakan. "


" Karena merasa akan menjadi penguasa dia bertindak sewenang-wenang kepada rakyat. "


" Dengan dukungan dari kami semua rencana berhasil. Kerajaan berhasil di rebut, istri Pangeran Sethyawan berhasil dibunuh akan tetapi nenek harus kehilangan mereka. "


" Maaf sebelumnya... Kalo boleh tahu nenek ini siapa....? " tanya Biksu memecah keheningan


" Xiao Mei... "


" Apa......????? " Ratna terkejut mendenganya


" Nenek bernama Xiao Mei Chang ... " ulang Ratna mencari kebenaran


Dijawab dengan anggukan


" Papah, ini leluhur mamah generasi kedua dari klan keluarga Chang. sedangkan mamah generasi ke 16."


" Berarti yang barusan nenek cerita kan adalah kejadian ribuan tahun yang lalu. "


" Amittabaha.... Budha maha welas asih. "


" Semua sudah menjadi suratan....."


" Diulang nya pertemuan ini supaya kita bisa memperbaiki semua kesalahan. "


" Xiao Mei... Ijinkan saya membawa pulang kedua anak ini. " sambil membungkuk dengan telapak tangan terbuka di depan dadanya.


" Baiklah. Saya serahkan kedua cucu saya padamu. "


" Blarrr... " terdengar suara petir membuat semua kaget.


" Papah... mamah.. " Rini dan Rina membuka mata.

__ADS_1


__ADS_2