Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 65 Ruqyah


__ADS_3

" Siapa kalian ? " Bentak salah satu penjaga sambil mengarahkan laras senjatanya ke arah mereka bertiga.


" Berani sekali kalian bertiga menyelinap kemari ? "


Tak berapa lama puluhan penjaga sudah mengunci ruang gerak mereka dengan tatapan penuh curiga.


" Ini aku Benito. " Sambil melepas topi, angkat tangan dan membalikkan badan.


" Bukannya Ketua sedang berada di Locronan bagaimana mungkin sudah berada disini ? " Tanya penjaga masih tidak percaya.


" Ceritanya panjang, *tapi untuk saat ini kedatangan ku sudah di tunggu Tuan Dimitri. "


" Tolong beri aku jalan !! " sambil mengajak Paramitha dan Wawan untuk memasuki rumah.


****


Dalam ruang kerja Dimitri


" Benito.... Bagaimana caramu sampai kemari dengan cepat ? " Tanya Dimitri dengan heran


" Bawahan mu baru saja memberi laporan jika kamu masih bersama dengan mereka di Locronan. " Sambil menatap Benito dengan lekat


Menurut perhitungan nya meski menggunakan kereta Benito baru akan tiba sekitar tujuh jam lagi.


" Saya yang mengalami sendiri juga bingung Tuan." Benito memecah keheningan.


" Sepuluh menit yang lalu masih Di Locronan dan sekarang sudah berdiri di depan Tuan di Paris. "


Dimitri akhirnya tidak ambil pusing bagaimana Benito bisa sampai dengan cepat.


" Sekarang mereka dimana ? " Benito mempersilahkan Wawan dan Paramitha untuk menemui Dimitri


" Selamat pagi Pak Dimitri. " Ucap Wawan memberi salam.


" Selamat datang di kediaman ku. "


Dimitri senang dengan kedatangan Paramitha dan segera menghampirinya dengan mengabaikan keberadaan Wawan disitu. Baginya Paramitha adalah dewi penolong untuk anaknya dan bagi Wawan tidak jadi masalah.


" Mari silahkan duduk. " Beberapa pelayan menyajikan minum dan makanan kecil. Tanpa di komando semua orang meninggalkan ruangan termasuk Benito.


" Bagaimana Pak Dimitri bisa menemukan keberadaan kami ? " Tanya Paramitha mengawali pembicaraan.


" Demi menemukan dewi penolong anakku segala upaya kulakukan. Untung kita dibantu oleh pihak pemerintah kota menjadi kalian melalui kamera pengawas yang terpasang di setiap jalan utama. Ditambah lagi bantuan dari perusahaan taksi yang kamu tumpangi. "

__ADS_1


" Mulai sekarang aku harus lebih hati-hati. Apalagi dengan orang yang memiliki kekuasaan. Mereka bisa melakukan apa saja demi keinginan nya terkabul. " Ucap Wawan dalam hati dan di dengar oleh Paramitha. Sejenak dirinya menoleh ke arah Wawan dan menggenggam tangannya.


" Kamu jangan marah ya ....Jika tidak dianggap oleh Pak Dimitri. " Ucap Paramitha dalam hati dan dijawab dengan anggukan oleh Wawan.


" Sebenarnya ada keperluan apa mencari kami sampai Pak Dimitri melakukan berbagai upaya untuk menemukan kami?"


Dimitri diam sesaat dan wajahnya berubah sedih.


" Sebenarnya selain Airin masih ada lima anak lagi yang sakit. "


" Semua berawal dari penutupan proyek pembangunan hotel bintang lima di tengah kota. Kebetulan lokasi pembangunannya berdekatan dengan cagar budaya. "


" Banyak warga menuntut kepada pemerintah kota untuk menggagalkan proyek tersebut. Sebagai walikota posisi saya cukup dilema. Saya mendapat tekanan dari masyarakat yang notabene adalah pendukung saya waktu pemilihan, disisi yang lain pemerintah pusat sudah memberikan izin. "


" Akhirnya setelah mendapatkan dukungan dari Parlemen dan selaku walikota saya memutuskan untuk menangguhkan pembangunan, meskipun dari pihak pengembang berusaha untuk negoisasi. "


" Akhirnya seseorang datang dan memberikan sebuah ancaman jika mereka akan menuntut balas dan akan menyakiti keluarga kami. "


" Penjagaan kami perketat.... Saya pikir mereka akan menyerang dengan kekerasan ternyata tidak. "


" Ternyata mereka menggunakan dukun untuk menyerang anak-anak kami saat study tour. "


" Kami tidak bisa menuntut mereka karena tidak ada bukti meskipun kami tahu pelakunya adalah mereka. "


" Melihat Nona Mitha bisa menyembuhkan putri kami beberapa teman segera menanyakan bagaimana caranya Airin bisa sembuh. "


" Jadi maksud dan tujuan ku memanggil kemari karena ingin meminta tolong untuk menyembuhkan anak dari rekan kami yang sedang terbaring sakit. "


Paramitha hanya diam sambil menengok ke arah Wawan.


" Kamu sanggupi saja keinginan Dimitri dan kumpulkan anak-anak itu di sini. " Ucap Wawan menggunakan telepati.


" Tolong kumpulkan anak-anak itu disini sekarang juga. " Ucap Paramitha


Dimitri segera menghubungi orang tua dari anak-anak itu semua. Sedangkan Wawan dan Paramitha dipersilahkan menuju kamar tamu untuk istirahat.


" Wan, nanti aku harus bagaimana untuk menyembuhkan anak-anak itu ? "


" Kamu pegang kening mereka masing-masing sisa nya nanti Wawan yang atur. "


" Sambil menunggu mereka sebaiknya Mitha istirahat dulu karena prosesnya berat. "


Wawan segera meditasi dengan sikap lotus sementara Paramitha rebahan di atas tempat tidur.

__ADS_1


" Sengkulu hadir.... " Panggil Wawan


" Ada tugas apa Tuan memanggil saya ? "


" Bagaimana cara mengembalikan jiwa anak-anak itu ? " Sengkulu terdiam sesaat. Dia begitu terkejut karena tuannya tahu jiwa anak-anak itu ada padanya. Masalah nya jiwa anak-anak itu sudah tidak murni lagi karena sudah dijadikan budak pemuas ***** oleh dirinya.


" Kalo masalah mengembalikan jiwanya buat saya mudah Tuan. Yang jadi masalah adalah jiwa anak-anak itu sudah kotor. " Sengkulu begitu ketakutan melihat aura Wawan berubah menjadi warna merah.


" Berikan jiwa itu padaku dan pergi lah. "


Seketika di tangan Wawan terdapat lima tabung kecil.


Wawan melakukan meditasi kembali di alam semesta sambil memanjatkan doa dan memohon kepada Tuhan untuk cara memurnikan jiwa anak-anak itu kembali.


Terdengar suara tanpa wujud di telinga Wawan.


" Ajaklah jiwa-jiwa itu untuk mengenal Tuhan dan Nabi mu. Tuntun lah mereka kembali ke jalan yang benar. "


" Terima kasih Tuhan atas petunjuk Mu. "


Wawan segera masuk ke dalam alam batin dan melepas segel penutup tabung tersebut yang ternyata milik Sengkulu dengan mudah.


Kelima jiwa anak itu begitu ketakutan saat pertama kali melihat Wawan. Mereka bergerombol menjadi satu. Wajah mereka begitu sayur dan badan mereka kurus tinggal kulit dan tulang. Aura mereka hampir habis karena telah di serap oleh Sengkulu.


" Jangan takut.... Namaku Wawan. "


" Minumlah air ini. " Wawan menyodorkan sebotol air putih yang sudah dibacakan doa.


Awalnya mereka enggan tapi karena merasa haus dengan mengendap-endap maju dan mengambil botol yang dipegang Wawan.


Meskipun telah diminum lima orang hingga puas namun isi dalam botol tersebut tidak berkurang sama sekali.


" Jika sudah puas meminumnya tuangkan dalam ember dan gunakan untuk membersihkan tubuh kalian yang kotor di sana. " Wawan menunjuk ke salah satu tempat yang bisa digunakan untuk mandi.


Kini kelima anak itu sudah dalam keadaan bersih dan wangi. Meskipun tanpa sabun air tersebut adalah air yang diberi doa pembersihan.


" Apakah kalian ingin pulang ? " Dijawab anggukan dengan kompak


" Saya akan bacakan doa ruqyah atau pembersihan terlebih dahulu untuk membersihkan efek negatif dan menghapus semua peristiwa yang sudah kalian alami. "


" Terima kasih Tuan sudah bersedia membantu kami. Apapun akan kami lakukan untuk melupakan kejadian itu. "


" Bersiaplah. " Wawan mulai membacakan ayat-ayat suci secara terus menerus tanpa henti. Anak-anak itu berteriak, berguling-guling ke tanah ada juga yang melompat ke sana kemari.

__ADS_1


__ADS_2