Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 44 Kedatangan Pemiliknya


__ADS_3

Pagi pukul empat dini hari Sari sudah berdiri di depan pagar rumah Sari bersama MUA ( make up artis). Tujuan nya untuk merias Jessica, dirinya dan Lidya.


Jessica sedang di make up di dalam sedangkan dirinya duduk ditemani Lidya di samping kolam.


" Apa kamu benar-benar mencintai Mas Wawan ? " tanya Sari penuh selidik


" Aku tahu siapa kamu ? "


" Apa ini bagian dari rencana mu ? "


Lidya dihujani pertanyaan oleh Sari.


Lidya baru pertama kali bertemu dengan Sari. Namun Jessica sudah bercerita banyak tentang Sari kepadanya semalam.


Meskipun Lidya lebih tua akan tetapi kedudukan nya tetap nomer sekian disisi Wawan.


" Sebelumnya saya minta maaf jika sudah berbuat sesuatu kepada perusahaan milik keluarga besar Kak Sari. "


" Dalam hal ini tidak ada keinginan lebih selain menjadi pendamping Mas Wawan."


" Saya bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta dengan seseorang karena saya memiliki latar belakang yang rumit. "


" Saya juga berusaha memungkiri perasaan ini. Mengingat selisih umur yang cukup banyak. "


" Hanya saja....... Semua kriteria tentang cowok yang kuinginkan ada dalam diri Mas Wawan. "


" Ditambah lagi Mas Wawan dengan mudahnya melakukan sesuatu yang jelas ayah saya sudah berusaha selama ini tapi selalu menemui kegagalan yaitu menjemput ibu dan nenek. "


" Benih-benih cinta di hatiku semakin mekar. "


" Yang seharusnya mendapatkan kehormatan untuk keperjakaan Mas Wawan adalah Kak Sari malah diambil oleh saya. "


" Masalah itu bukan urusanmu. Yang terpenting jangan pernah sakiti hati Mas Wawan. Kamu mau berjanji ? "


Lidya mengangguk mantap yang kemudian dipeluk oleh Sari.


****


Dalam pertemuan keluarga Wawan dan Lidya.


Sari meneteskan air mata bahagia. Ternyata dirinya menempati posisi yang special di hati Mas Wawan.


Pak Arifin bangkit dari tempat duduknya dengan menggandeng lengan istrinya.


Lidya menutup mulutnya dengan cemas melihat tindakan orang tuanya yang beranjak dari tempat duduk dan menggandeng istrinya.


Dengan nama tegas gaya militer Pak Arifin memanggil Wawan


" Nak Wawan sini. " dengan langkah ringan Wawan mendekat


Dia sudah siap apabila Pak Arifin hendak memukulnya karena memang dia yang salah


Jessica dan suaminya hanya menatap pasrah.


" Ayah..... " Ucap Lidya lirih.


Dia tahu benar dengan sifat ayahnya.


Pak Arifin memegang bahu Wawan dan dipeluknya.

__ADS_1


" Aku titipkan Lidya kepadamu. Jaga dia, sayangi dia seperti kamu menyayangi Sari."


" Lidya bukan anak yang manja. "


" Kamu berhasil membuat dia jadi feminim. "


" Datanglah ke rumah.... Ada yang ingin ku bicarakan. "bisik Pak Arifin di telinga Wawan


****


Seminggu pasca pertemuan Wawan.


Wawan dan Anton sedang asyik menikmati semangkuk mie rebus sambil bercanda ketika seorang perempuan memasuki kantin sekolah.


Berusia sekitar dua puluh lima tahun mengenakan baju putih dibalut dengan jas berwarna biru. Rambut lurus sebahu, wajah oriental, dibingkai dengan kaca mata yang menambah kecantikannya.


Perempuan itu duduk di seberang meja Wawan kemudian memesan minuman dan makanan.


Wawan dan Anton kaget bukan main saat di sekitar perempuan itu berdiri tujuh khodam dengan berbagai macam bentuk. Berdasarkan penilaian Wawan kekuatan dari khodam tersebut tidak bisa diremehkan.


Wawan dan Anton menghabiskan makanannya dan berniat meninggalkan mejanya.


" Kalian melihat nya. " Ucap perempuan tersebut datar. Wawan dan Anton tidak menghiraukan pertanyaan perempuan tersebut.


Perempuan itu tersenyum.


Saat ibu kantin mengantar pesanannya saat hendak pergi perempuan itu bertanya


" Bu, tadi dua anak yang duduk di meja sebelah namanya siapa, kelas berapa ? "


Tanyanya ramah


":Ada masalah apa Bu ? "


" Tidak ada masalah apa-apa kok Bu. "


" Hanya penasaran aja. " Ibu kantin tertawa lirih


" Semua anak disini selalu menanyakan khabar tentang dia lewat ibu. Apalagi sekarang dia jomblo. ".


" Terkenal dong Bu."


" Begitulah... Anaknya ramah dan pinter bergaul Bu. "


" Saya tinggal ke dalam dulu Bu. " ucap ibu kantin untuk mengakhiri pembicaraan.


***


Wawan dan Anton segera masuk kelas selang beberapa waktu istirahat usai.


Beberapa anak sedang asyik ngobrol karena hingga lima belas menit kelas tidak ada guru.


" Tok... Tok.... " Terdengar suara di depan pintu membuat suasana langsung hening.


Muncul dari balik pintu seorang dengan mengenakan jas biru melangkah masuk ke dalam kelas. Diikuti tujuh khodam yang sama masih ditambah


" Selamat Siang anak-anak..... Perkenalkan nama saya Ratih Purwaningsih. Guru ganti mata pelajaran matematika. "


Bu Ratih segera memulai pelajaran. Seperti kebiasaan guru yang kemarin, di pertengahan waktu diberi kuis untuk dikerjakan dan dikumpulkan.

__ADS_1


Bu Ratih mulai keliling mengitari setiap barisan hingga paling akhir tiba di meja Wawan dan Anton.


" Ketemu lagi...... Kenapa kalian begitu ketakutan melihat Ibu. "


" Apa kalian bisa melihat mereka ? "


" Jawab pertanyaan saya. " Bentak Bu Ratih ke Wawan dan Anton akan tetapi tidak mempengaruhi yang lain.


Bu Ratih menggunakan sebuah pengendali jiwa. Membuat siapapun seakan-akan berpindah dimensi.


Tujuh khodam tersebut mendekati meja Wawan dan Anton. Ada kunti, buta ijo, kalong dan wewe mengelilingi mereka.


Wawan memegang tangan Anton untuk tenang.


Ekspresi Anton yang tadinya ketakutan kembali tenang. Berkat pelatihan yang terus dilakukan sepulang sekolah beberapa waktu kemarin.


" Saya melihat mereka Bu Ratih. Apa yang ibu inginkan dari saya ? "


" Bagus kalo kamu bisa melihat mereka. "


" Ibu mau tanya siapa di sekolah ini yang memiliki khodam macan kumbang ? "


" Kenapa Ibu bertanya hal itu ? "


" Kalian cukup menjawab pertanyaan ku !!! "


Wajah Bu Ratih tampak merah padam menahan amarah. "


Wawan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi. Hingga dia menemukan kelemahan dari segel pengendali jiwa.


Setiap Bu Ratih emosi kondisi segel pengendali jiwa sedikit bergetar.


Wawan memanfaatkan keadaan dengan jawaban-jawaban yang memancing emosi dari Bu Ratih.


Karena dengan begitu segel pengendali jiwa akan mudah rusak karena berhubungan erat dengan ketenangan jiwa penggunanya.


Setelah muncul beberapa retakan dari segel pengendali jiwa Wawan segera mengambil alih situasi tersebut dengan merapalkan sebuah doa untuk memasang segel miliknya.


" Kamu pikir dengan cara seperti ini terus bisa mengintervensi kami. " Kata Wawan membalikkan keadaan dengan nada tidak kalah tinggi


" Dari kemarin kita memang sengaja tidak bergerak. Kita sedang menunggu aksi berikut nya dari pemilik siluman serigala dan capung. "


" Aku pikir akan menunggu lama ternyata kamu langsung bergerak. "


" *Kurang ajar kamu bocah. Berani sekali menahan peliharaan ku. "


" Kalian maju dan beri pelajaran kepada anak ini*. " Bu Ratih memberi perintah kepada peliharaannya untuk menyerang Wawan.


Akan tetapi semuanya diam di tempat saat Wawan menyentuh pergelangan tangan Bu Ratih untuk memasang segel penakluk.


" Kenapa kalian diam saja. " Cepat serang dia. "


" Ratih..... Cukup. Hentikan perbuatan mu memperbudak kami. " Ucap siluman serigala yang tiba-tiba muncul di samping Ratih.


" Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadiran serigala ini. " kata Ratih dalam hati


" Tentu saja tidak bisa..... Karena segelmu sudah kuhancurkan. "


" Kalian semua maju..... Kalo tidak akan ku binasakan kalian semua. " Ucap Ratih marah.

__ADS_1


__ADS_2