Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 46 Pengkhianatan


__ADS_3

" Claudia.... Apa yang disampaikan mamah mu jangan dipercaya. Semua tidak benar. " Sanggah Jessica


" Sudah lah Jess.... Akui saja.... " canda Clara dan tiba-tiba berkata serius


" Wan, saya mohon dengan sangat jangan pernah permainkan anak tante ya. " sambil menangkup kan kedua tangannya ke depan.


" Claudia adalah bintang di rumah kami. Kebahagiaan nya dan senyumnya adalah penyejuk hati kami. " Clara berkata sambil matanya Berkaca-kaca


Jessica langsung kelu melihat sahabat nya memohon. Dia menatap ke arah Wawan dan Claudia.


" Clara.... Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu. Mari masuk dulu. "


Jessica menggandeng tangan sahabat nya diikuti Claudia. Sedangkan Wawan hanya duduk di teras depan rumah tampak lesu.


Wawan paling tidak tahan melihat air mata jatuh dari mata seorang Ibu. Dia segera berdiri dan mendatangi Mamah Claudia yang saat ini hanya bisa menahan amarah.


" Plak... " Pipi Wawan memerah kala menerima tamparan dari Clara.


" Kamu memang laki-laki buaya..... Sudah jelas memiliki wanita masih menggoda perempuan lain. "


" Clara.... Dengarkan dulu penjelasan ku. " Jessica berusaha menenangkan sahabat nya.


" Claudia... Mari kita pulang. Laki-laki seperti ini tidak perlu kamu tangisi dan kamu harapkan. " Clara menggandeng tangan anaknya dengan kasar meninggalkan rumah Wawan


" Semua ini salah Wawan..... Mamah tidak perlu bersedih. " kata Wawan berusaha menenangkan ibunya yang sedang menangis.


Hatinya sakit kala sahabat nya menampar pipi anaknya.


" Mas, mulai sekarang jangan tebar pesona ya. Tidak perlu menambah lagi masalah dalam hidupmu gara-gara wanita. " Ucap Jessica sambil memegang pipi Wawan


" Kriiiiiing..... Kriiiing. " terdengar suara telepon.


Mamah berjalan menuju meja telepon


" Halo.... selamat sore. " Ucap Mamah


" ( Selamat sore Mah, ini Lidya..... Wawan ada ? " ) Lidya menjawab sapaan Jessica dari seberang sana


" Gimana khabar nya...... Masih di Jakarta. "


" ( Iya mah kami sekeluarga baik....Bagaimana dengan mamah sekeluarga ?"


" Baik..... Tumben telpon. " jawab Jessica ramah


" ( Tadi ada pesan dari Ayah kalo Wawan diminta datang ke Jakarta. ")


" Sebentar ya..... Mamah panggilkan Wawan dulu. "


Wawan segera menerima gagang telepon dari Jessica.


Mereka menghabiskan waktu beberapa saat untuk saling melepas rindu hingga Wawan berkata:


" Saya usahakan nanti malam untuk datang menemui ayahmu. " Jawab Wawan mengakhiri pembicaraan.


Perasaan Wawan kembali gelisah seperti tadi siang.


" Sebenarnya apa yang akan terjadi ? "


" Sebaiknya aku mandi dulu setelah itu meditasi sebentar untuk menenangkan pikiran. " kata Wawan lirih


Setelah menyelesaikan meditasi dan dilanjutkan shalat Wawan menghampiri Jessica yang sedang menemani Nanda belajar.


" Mah, Wawan mau ke rumah Lidya. "


" Sekarang jam berapa Mas ? " Jessica melirik jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh malam.


" Wawan usahakan sebelum tengah malam sudah pulang mah. "


" Hati-hati ya... " pesan mamah


**


Kembali ke saat meditasi

__ADS_1


Wawan tengah duduk dengan sikap lotus kala mendapatkan sebuah gambaran yang akan terjadi. Tubuhnya lemas melihat dirinya terkapar bersimbah darah dengan Pak Arifin berdiri disisinya.


Wawan menyudahi meditasi nya dan segera melakukan telepati ke Pak Nuruddin yang saat itu sedang bersama keluarga nya.


" Malam Pak.... Saya Wawan. "


Pak Nuruddin menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari sumber suara tersebut.


" Bapak tidak perlu mencari saya karena saya masih di Semarang. "


" Saya ada informasi terkait beberapa agen musuh yang berada di Indonesia. "


" Posisi informan tersebut berada di Jakarta."


" Jika bapak bisa menginterogasi dia siapa tahu akan mendapatkan beberapa nama agen rahasia dan tujuan mereka berada di indonesia."


" Tapi saya mohon lindungi orang itu. '


" Informasi mu valid khan Wan. " Tanya Pak Nuruddin


" Bapak kenal dengan saya khan." Jawab Wawan


" Semoga informasimu tepat. "


" Saya akan berkoordinasi dengan bagian intelijen. Semoga mereka segera merespon. "


***


Rumah Lidya cukup asri. Berdiri diatas tanah perbukitan seluas sepuluh ribu meter persegi yang jauh dari rumah warga.


Saat ini di dalam sebuah truk terdapat sepuluh orang dengan seragam lengkap milik badan intelijen negara duduk diantaranya Wawan dan Pak Nuruddin.


Wawan mengedarkan pandangannya. Lewat kemampuan nya dia bisa melihat sesuatu dari jarak lima kilometer.


Ada dua puluh orang bersenjata api sedang bersembunyi disudut ruangan yang terlihat gelap.


Wawan berusaha menajamkan pendengaran nya untuk mengetahui pembicaraan dari orang itu.


" Siapa yang akan datang hingga mempersenjatai kita dengan senjata api ?"


" Boss tidak terima jika Lidya menikah dengan bocah itu. Tambah lagi boss ingin mengambil alih kepemimpinan disini. "


jawab penjaga kedua


" Apa sudah direncanakan dengan matang. Bukankah bos besar termasuk orang penting di organisasi. "


" Justru bos dapat perintah dari pimpinan organisasi untuk mengaktifkan jaringan yang di sini. "


" Sekarang kamu koordinasi ulang bawahan mu untuk waspada. "


Mendengar percakapan tersebut Wawan baru paham maksud dan arti dari gambaran tadi sore.


" Pak,seperti nya informan tersebut akan di serang malam ini. Sebaiknya kita bergerak sekarang. " kata Wawan ke Pak Nuruddin sebagai komandan operasi


" Boleh saya minta kertas, saya mendapat gambaran posisi para penyusup. "


Wawan menggambar pada kertas yang diberikan oleh salah satu dari prajurit tersebut.


" Hati-hati mereka semua bersenjata. "


" Berarti ada tiga puluh enam orang penyusup ya. "


" Betul Pak.... "


"Sekarang Wawan akan masuk ke dalam."


"Apa-apaan ini..... Jelas kamu tahu mereka menunggumu di dalam. " Kata Pak Nuruddin khawatir.


" Saya punya rencana sendiri Pak. "


Wawan menuju ke rumah Lidya menggunakan taksi yang sudah disiapkan.


Sedangkan Pak Nuruddin langsung memimpin pasukan yang berjumlah tiga puluh orang untuk bergerak sesuai dengan rencana.

__ADS_1


Di depan pagar yang tinggi Wawan menekan bel yang terdapat pada dinding.


" Siapa ? " tanya penjaga


" Saya Wawan Pak...... "


" Owh ya..... Pak Arifin sudah menunggu kedatangan mu. " Dengan berjalan kaki sekitar tiga ratus meter Wawan sampai di depan pintu utama melewati tiga lapis pemeriksaan.


Wawan tahu mereka semua akan memberontak karena dibalik jaket mereka terdapat senjata api. Hanya penjaga rumah utama yang polos.


" Silahkan masuk. " penjaga tersebut mempersilahkan Wawan untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Wawan menajamkan indera perasa dan pendengaran nya.


Muncul dari arah dalam seorang pemuda yang pernah dilihat nya sewaktu di rumah.


" Akhirnya kamu muncul juga setelah menunggu. " Wawan mendengar suara hati pemuda itu.


" Mas Wawan ya.... Mari saya antar untuk bertemu dengan Pak Arifin. " sambutnya ramah.


" Pak, boleh minta ijin ke kamar kecil sebelum bertemu Pak Arifin. "


Pemuda tersebut mengantar Wawan menuju kamar kecil.


Setelah menunggu beberapa saat Wawan keluar menghampiri pemuda tersebut dan kembali dipandu menuju ruangan Pak Arifin.


" Nak Wawan akhirnya kamu datang juga." Sapa Pak Arifin kala Wawan muncul dari arah pintu.


Lidya muncul dari arah belakang dan langsung memeluknya di depan pemuda tersebut yang tanpa disadari semua orang mengambil sebilah pisau dan disembunyikan dibalik lengan tangannya.


" Wawan akhirnya kamu datang. "


"Aku kangen sama kamu. "


" Lidya lepaskan Wawan, tidak pantas menampilkan kemesraan di depan orang lain. " tegur Pak Arifin


Pemuda tersebut menggenggam erat pisaunya makin memantapkan rencananya.


"Jadi selama ini aku hanya dianggap orang lain setelah banyak berkorban untuknya. " ucap pemuda tersebut dalam hati dengan geram.


" Sebenarnya apa yang hendak bapak sampaikan ke saya. " tanya Wawan langsung tanpa basa basi setelah Lidya melepaskan pelukan nya dan berdiri di depan Pak Arifin.


" Agus, tolong tinggalkan ruangan ini. "


Bukannya bergegas keluar justru Agus berjalan dengan cepat dan menusukkan pisau nya dibagian punggung dan menembus tepat di jantung Wawan.


" Aaaarch.... " Suara Wawan manakala sebuah besi dingin dibenamkan dari arah belakang.


Disusul tusukan berikutnya di bagian pinggang.


" Uuuuch.... " Wawan berusaha membalikkan badan untuk menghentikan tikaman berikut nya namun sial Agus lebih cepat gerakan nya. Dada perut Wawan mendapatkan tikaman bertubi-tubi.


Melihat calon menantu nya mendapat serangan Pak Arifin menekan tombol alarm.


Kemudian menerjang ke arah Agus. Mereka beradu tendangan dan pukulan. Meski Pak Arifin sudah cukup berumur akan tetapi fisiknya tetap terjaga.


Setiap pukulan dan tendangan dari Agus berhasil ditangkis. Ruangan yang awalnya bersih dan rapih kini menjadi berantakan.


Lidya melihat Agus berlari menuju Wawan dan menghujam kan pisau ke tubuh Wawan secara bertubi-tubi


Melihat darah bagi Lidya adalah hal biasa.Namun beda cerita jika melihat Wawan yang berdarah-darah. Tubuhnya gemetar, otaknya tidak bisa berfikir.


Dia hanya menutup mulutnya menggunakan tangan kanan sedangkan tangan kirinya menekan dada saking terkejut nya.


Melihat tubuh Wawan tumbang dan bersimbah darah seketika menyadarkannya. Bergegas dihampiri tubuh Wawan dan mencari apapun untuk menyumbat luka yang terus menerus mengeluarkan darah.


Di luar rumah


Melihat lampu tanda bahaya yang berwarna merah menyala beberapa penjaga kediaman yang berada di depan pintu bergegas untuk masuk.


Namun langkah mereka terhenti akibat puluhan timah panas menghujani mereka dari berbagai arah.


" Bagaimana mana ini ? "


" Apa yang terjadi dengan boss besar dan siapa yang menembaki kita ? "

__ADS_1


Belasan orang mulai maju dan mengepung delapan penjaga yang sedang tiarap.


__ADS_2