Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 13 Pasukan baru


__ADS_3

Seminggu kemudian di rumah Dimas sekitaran Gombel


" Roni, apa benar khabar yang disampaikan Rahmat barusan...? " tanya Dimas saat Rahmat menyampaikan perkembangan di sekolah.


" Benar Mas... "


" Saya dengar sendiri waktu Wawan ngomong. "


" B*jing*n.... " Rahmat emosi


" Anak itu harus diberi pelajaran. "


" Sabar Mas. Waktunya bukan sekarang. "


" Yang terpenting kamu sehat dulu. "


saran Roni


" Gigiku patah tiga. Tulang rusuk ku patah dua. Aku masih terima karena kita sudah sepakat. "


" Tapi kalo ambil gebetan ku...Aku ngga terima." Dimas geram.


" Oh ya aku baru ingat. "


" Bukannya waktu itu Wawan sudah kuhajar habis-habisan. Bagaimana mungkin bisa berangkat sekolah besoknya. " kata Dimas penasaran


" Aku juga sempat penasaran juga Mas....? "


"Wawan hari itu datang dengan kondisi seperti tidak pernah menerima pukulan darimu. " kata Rahmat


" Coba besok kamu cari informasi...!!! " perintah Dimas ke Rahmat dan Roni


" Siap.... "jawab mereka berbarengan


****


Setelah Mereka pergi Dimas mengambil telepon wireless yang berada di nakas samping tempat tidurnya.


" Halo... ini siapa..? "


" Dimas..... Bang. "


" Gimana khabarnya...? ".


" Aku dengar kamu dihajar habis-habisan sama adik kelasmu. "


" Iya Bang. "


" Anak mana yang berani membuatmu harus terkapar selama seminggu ....? "


" Anak Indraprasta Bang... "


" Ya sudah kamu tenang aja. Ini sudah jadi urusanku. "


" Makasih Bang. " Dimas tersenyum puas


*****


" Yud, siapa yang barusan telpon sampai kamu emosi."


" Dimas Bang. Kemarin dihajar sama temannya sampai parah. "


" Hebat benar lawannya sampai Dimas terluka sebegitu parah. " Bang Diki penasaran


" Gimana kalo kita pantau dulu anaknya...? "


" Siapa tahu punya latar belakang yang kuat. "


ajak Yudi ke Bang Diki


******


Depan sekolah SMP


Suasana cukup ramai saat jam pulang sekolah.


Rahmat cs baru keluar dari gerbang dipanggil Yudi


" Siap Bang... ada perlu apa ya..? "


" Mat, yang namanya Wawan anaknya mana..? "


Rahmat cs mengedarkan pandangan.


Saat melihat Wawan dan teman-temannya hendak meninggalkan sekolah.


" Itu Bang. " kata Rahmat


Saat Yudi hendak menuju kearah Wawan tangan nya dipegang Bang Diki.


" Jangan Yud..... Sebaiknya kita ngga ikut campur urusan mereka. "


" Ada yang aneh apa Bang" Bisikan Yudi ke Bang Diki yang notabene adalah pimpinan Dojo dimana Dimas berlatih.


" Nanti kita bicarakan di dojo. " Bang Diki menyalakan motornya disusul Yudi yang langsung duduk di jok belakang


" Rahmat, kita jalan dulu. " motor Bang Diki berjalan menuju ke arah Wawan pergi


" Urusannya makin panjang kalo Bang Diki sudah turun. " kata Rahmat


" Mat, aku ngga ikut campur ach. Sudah kelas tiga. Bentar lagi ujian. " kata Roni dibenarkan teman-temannya yang lain.


Mereka semua anak bandel akan tetapi melihat orang-orang dewasa yang ikut campur masalah remaja sudah sangat berlebihan.


*****


" Yud, kamu mungkin bisa melihat. Tapi dari terawanganku anak itu tidak bisa diganggu. " saat motor Bang Diki berada di belakang Wawan cs.


Bang Diki dan Bang Yudi melihat dibelakang Wawan nampak dua kumbang berjalan mengikutinya. Meskipun tataran ilmu Bang Diki tidak rendah dia tidak mampu melihat lebih jauh.


Yang dia rasakan adalah ada sesuatu yang dia tidak mampu melihat tetapi energinya sangat kuat disekitar Wawan.


Setelah melintasi Wawan tubuh Bang Diki kayak disengat listrik tegangan tinggi.


Yudi yang membonceng dibelakangnya pun merasakan induksi dari sengatan listrik tersebut.


*****


" Berapapun uang yang diberikan Dimas sebaiknya kamu tolak tawarannya. "


" Tadi kamu sudah merasakan benturan nya khan. "


" Jadi tadi itu benturan energi kita dengan punya anak itu ya Bang. "

__ADS_1


" Betul banget. "


Yudi langsung bergidik ngeri.


" Gimana kalo nanti malam kita kontrol dulu. " kata Yudi


" Berapa uang yang sudah kamu Terima. " tanya Bang Diki


" Lima ratus ribu Bang " ( setara dengan lima juta saat ini )


" Tapi kalo kamu penasaran nanti malam kita kontrol. " kata Bang Diki


****


Di kamar Wawan


Saat ini Wawan tengah meditasi dengan sikap Lotus.


" Kamu makin banyak perkembangan ya. " Dalam alam bathin Wawan, Dewi Rengganis menghampiri Wawan


" Alhamdulillah Nis. "


" Semua berkat bimbinganmu dan atas izin Nya."


" Nis, boleh ngga Wawan tanya..? "


" Silahkan.... "


" Disini apa bisa Wawan membawa buku untuk belajar....? "


" Tentu saja bisa.... Apakah anak yang bernama Ririn yang memaksamu belajar. "


" Terlepas dari itu... Selain harus kuat Wawan juga ingin menjadi yang terpandai. Ririn hanya s bagai motivasi aja. "


" Caranya bagaimana...? "


Dewi Rengganis menempelkan telunjuknya ke kening Wawan. Berbagai informasi segera dicerna oleh Wawan


"Wah kenapa banyak banget yang bisa aku pelajari termasuk ilmu terawangan. "


" Karena kamu mungkin akan membutuhkan nya."


Segera Wawan mempraktikkan satu demi satu hal baru yang diterimanya.


Dari memindahkan barang ke dalam alam bathinnya saat dia melihat buku-buku pelajaran berada di depannya.


" Kalo begini caranya kemana-mana Wawan ngga perlu membawa tas donk. "


Dewi Rengganis tersenyum


Wawan kemudian belajar menciptakan sebuah cermin. Disitu dia bisa melihat apa yang dikerjakan Rini dan Rina.


" Keren...Aku bisa membuat cermin pengawas. "


Wawan meningkatkan kembali fungsi dari cermin tersebut hingga dia bisa mendengar obrolan di sebrang sana.


Dengan sedikit kepo dia mencuri dengar obrolan Ririn dan Rina.


" Mba, kamu ngga malu pacaran dengan adik kelas....? " Rina penasaran


" Dhek, kadang cinta itu ngga bisa ditebak. Dimas itu ganteng,kaya... "


" Banyak cewek berebut untuk menjadi pacarnya." Rina setuju dengan itu


" Malah kadang mual kalo berdekatan dengannya. "


" Hmmm.. " kata Rina


" Meskipun Wawan masih kelas satu dan Mba Rina kelas tiga tapi sikap dan tindakan Wawan tidak menunjukkan dia kekanak-kanakan. "


" Dia tidak berubah setelah jadian dengan Mba Rini. "


" Seolah-olah dia yang termotivasi dengan omongan Mba Rini. Malah justru Wawan menjadi penyemangat untuk Mba Rini. "


Wawan tidak ingin mendengar lebih lanjut. Saat dia hendak menutup kaca pengawasnya tiba-tiba muncul di kaca tersebut dua pria dewasa dengan wujud transparan sedang mengawasi rumahnya.


" Anis, apa maksud dari pemandangan ini. " tanya Wawan


" Ada orang yang penasaran dengan kamu. "


" Apa Wawan bisa menemui mereka....? "


" Bisa.... begini caranya....? " Dewi Rengganis mempraktikkan caranya.


Ditusuknya jadi tangan dengan tusuk rambut kemudian ditempelkan ke kaca. Wawan dan Dewi Rengganis langsung berpindah tempat.


Didampingi Dewi Rengganis, sepasang panglima kumbang dan seratus pasukan kumbangnya Wawan menghampiri mereka.


" Maaf sebelumnya.... ada kepentingan apa kalian berdiri di depan rumah saya. " tanya Wawan sopan kepada para pengintai.


Kedua orang itu terkejut karena kedatangan mereka ketahuan. Ditambah lagi Mereka melihat Wawan pun bisa seperti mereka. Keluar dari tubuh sejatinya.


" Maafkan atas kelancangan kami. " Kata Bang Diki sopan dan berusaha tidak ingin menyinggung orang yang berdiri dihadapan mereka.


" Saya tanya.... tujuan kalian apa...? "


Dewi Rengganis dengan nada penuh tekanan


" Kami hanya ingin tahu bagaimana bisa murid kami kalah dengan anak ini. "


" Setelah tahu kalian mau apa...? " Dewi Rengganis menuntut jawaban.


Bang Diki, Bang Yudi bingung harus menjawab apa. Karena mereka belum merencanakan apapun


" Kami belum merencanakan apapun. " jawab Yudi


Tiba-tiba Dewi Rengganis muncul disamping mereka sambil menggenggam pergelangan tangan Bang Diki, Bang Yudi.


Setelah dilepas melingkar sebuah gelang berwarna biru di pergelangan mereka.


" Bantu anak ini saat dia membutuhkan kalian. Jika kalian menolak sukma kalian akan ku hanguskan. "


" Selain sebagai kontrol buat kalian, gelang itu juga ada kelebihannya..... Dimanapun kalian berada tidak ada makhluk jahat apapun yang berani mengganggu kalian. "


" Gunakan kekuatan gelang itu untuk hal-hal yang baik. "


" Satu lagi panggil namaku Dewi Rengganis... "


" Apa kalian mendengar....? "


" Kami mendengar Dewi... "


" Pulanglah..... "

__ADS_1


Seketika mereka berdua menghilang dari hadapan Wawan


" Kamu sekarang memiliki pasukan nyata di duniamu. " kata Dewi Rengganis


" Terima kasih Nis... " dijawab dengan senyuman


" Mari kita kembali ke dalam. Lanjutkan belajarmu. "


******


Bang Diki dan Bang Yudi terengah-engah seperti dikejar anjing. Jantung mereka berdebar kencang.


" Sudah percaya khan Yud, kenapa saya melarang kamu meneruskan tawaran dari Dimas. "


" Percaya Bang... "


Mata mereka terpaku dengan sebuah gambar seperti tatto melingkar di pergelangan tangan masing-masing. Mereka saling berpandangan dan berteriak


" Aaaaaaaaaaaaaaaaa..... "


" Pendamping anak itu bisa menyegel kita....Bahkan gelang ini pun bisa memberikan tanda di tubuh nyata kita. "


" Terus bagaimana ini Bang... " tanya Yudi


" Mau ngga mau kita harus ikuti saran Dewi Rengganis. " jawab Bang Diki


" Selain cantik dan memiliki ilmu tinggi, dia juga berbahaya Bang. " komentar Yudi


" Resiko dari pekerjaan... "


" Sekarang kamu hubungi Dimas...!!! " perintah Bang Diki


" Tuuuut.... tuuuut..... " setelah memanggil selama sepuluh menit baru telpon terhubung.


" Halo.... ini siapa ya....? " jawab suara orang yang baru bangun tidur


" Ini Bang Diki.... " mendengar suara gurunya Dimas langsung terjaga seratus persen


" Eh.. iya Bang.... Ada apa ya....? "


" Tadi Bang Diki sudah mendatangi rumah Wawan. Saran Abang sebaiknya kamu jangan berurusan dengan dia lagi. "


" Kenapa gitu Bang, bukannya dia anak-anak. Kenapa Bang Diki sangat ketakutan. "


" Kalo kamu nekat urusannya akan jadi panjang.... "


" Apa dia punya latar belakang yang hebat Bang....? "


" Siapa orang dibelakang dia....? "


*****


Wawan baru memulai meditasinya saat mendengar obrolan Bang Diki dan Dimas


" Anis, apa Wawan bisa masuk dalam obrolan mereka...? " tanya Wawan meskipun dewi Rengganis tidak nampak di dekatnya.


Akan tetapi sepanjang Wawan masih di dunia bathin dia bisa berkomunikasi kapanpun.


" Coba kamu praktekkan ilmu yang diberikan leluhurmu...!! "


" Dari yang Wawan pahami , kita bisa muncul di hadapan seseorang meski berjarak ratusan kilometer dan Wawan bisa masuk ke alam bawah sadar mereka. "


" Terus berlatih untuk bisa melakukan nya tanpa harus kena resiko. "


" Maksudnya begini setiap melakukan teleportasi atau terawangan kita pasti melewati sungai, hutan, kuburan dan sebagainya. "


Dewi Rengganis diam sesaat


" Makhluk dengan tingkatan rendah mungkin diam saja... Berbeda kalo yang melihat adalah makhluk dengan tingkatan tinggi. Mereka pasti tertarik dengan pemilik ilmu tersebut. "


" Maka mereka akan berusaha merebut dan menguasai tubuh dari orang itu. "


" Contoh mudahnya kesurupan. "


" Daripada bercerita ayuk Anis kasih contohnya. "


Dewi Rengganis melakukan sebuah gerakan dan diikuti Wawan. Seketika tubuh Dewi Rengganis dan Wawan terbagi menjadi dua yang sama persis.


" Mari kita bagi tugas.... " Dewi Rengganis memberikan caranya ke Wawan


Setelah itu mereka menghilang


****


Wawan melihat Bang Diki sedang berbicara dengan seseorang.


" Kalo kamu nekat urusannya akan jadi panjang.... " cegah Bang Diki.


Sesaat dirinya melihat Wawan dan Dewi Rengganis hadir di depan dia.


Matanya melotot, tubuhnya kaku dan mulutnya melongo. Bang Diki sudah tidak fokus melakukan pembicaraan di telpon.


" Maaf..... saya hanya mengingatkan....." Tanpa sadar gagang telepon terlepas dari genggaman nya dan tidak sadarkan diri.


*****


" Apa dia punya latar belakang yang hebat Bang....? " tanya Dimas


" Siapa orang dibelakang dia....? "


" Bang.... Bang Diki... " tanya Dimas saat dia mendengar suara barang jatuh


" Bang..... kenapa bang.... " terdengar suara Mas Yudi memanggil nama Bang Diki.


Dimas segera mematikan panggilan saat dirinya merasa ada yang berdiri di sampingnya


Setelah bisa mengenali siapa yang berdiri disampingnya Dimas bertanya


" Wan ngapain kamu disitu...? Kenapa kamu bisa masuk ke dalam kamarku...? "


" Apa belum cukup diberi pelajaran.....? "


" Berani beraninya kamu suruhan orang datang ke rumahku. "


Wawan mendekat kemudian dia memukul sambungan gips yang berasa di kakinya.


" Brak... " lapisan gips pembungkus luka rusak....darah mengalir membasahi sprai. Belum cukup sampai disitu dipukul kembali bahu Dimas yang terdapat sambungan pen. Dimas tidak bisa teriak karena mulutnya dibungkam oleh Dewi Rengganis


" Kalo sampai aku melihat kamu berkeliaran, berdiri dan mengawasiku dari jauh.... Maka yang kamu alami lebih parah dari ini. "


" Apalagi sampai kamu bercerita. "


"Apa kamu paham. " Dimas menganggukkan kepala tanda setuju.

__ADS_1


__ADS_2