
" Paman, saya punya beberapa permintaan sebelum kalian melakukan nya. " Sari berusaha mengulur waktu
Farid dan Sanusi yang awalnya tertawa kini diam sejenak
" Sebutkan Syarat mu. " Tanya Sanusi
" Saat ini aku masih suci dan ini yang pertama bagiku tolong perlakukan aku dengan lembut dan lepaskan tali yang mengikat kakiku. "
" Aku bukan binatang ternak dan aku ingin memiliki kesan yang baik saat kehilangan kesucian ku. "
" Selanjutnya perlakukan aku dengan lembut dan tolong lakukan secara bergantian kalo bisa lampu dipadamkan. "
Farid dan Sanusi saling berpandangan setelah mendengar permintaan dari Sari yang masih dianggap masuk akal. Keduanya saling mengangguk tanda setuju.
" Sekarang siapa dulu yang harus mulai terserah ? "
" Saya minta segelas air dan tolong basuh tubuhku dengan kain basah..... Karena tubuhku terasa lengket. " Pinta Sari
" Baiklah karena Kak Farid yang lebih tua makan dia yang akan mendapatkan kehormatan pertama. " Ucap Sanusi
" Saya keluar dulu untuk mengambil air dan kain untuk membasuh tubuhnya. " Selanjutnya Sanusi berjalan keluar ruangan.
Sari terus berdoa dalam hati dan berharap semoga dewa penolongnya segera datang.
Beberapa saat kemudian
" Ini kak airnya. " Ucap Sanusi sambil menyerah kan seember air dan segera pergi.
Farid mulai melepaskan ikatan pada kaki Sari dan mulai membasuh kaki yang jenjang dan berkulit putih bersih dengan perlahan. Jakunnya terus saja naik turun saat kain basah yang dia pegang sudah mencapai pangkal paha dan secara tidak sadar dia mendengar Sari melenguh
" Aach.... " Diikuti dengan tubuhnya sedikit bergetar
" Apa yang seperti ini yang kamu inginkan ? " Tanya Farid saat melihat mata Sari yang mulai sayu dan menggigit bibirnya.
Sari berusaha sekuat mungkin menahan semua itu namun saat usapan Farid sudah mulai bergerak ke atas Sari mulai sedikit tidak terkontrol. Perutnya sedikit terangkat.
" Sssssh......Aaaach....... " Farid tersenyum senang melihat tubuh Sari mulai merespon usapan dari kain basah yang dia pegang.
" Paman jangan berputar - putar disitu aja....geli..... " Ucap Sari diikuti tubuhnya yang terus menggelepar seperti ikan jauh dari air.
" Hahaha...... Kamu senang khan. " Ucap Farid bahagia karena sebentar lagi dia akan menikmati tubuh indah di depannya.
__ADS_1
" Sssshhhh. " Sari terus mendesis seperti ular menerima sentuhan tangan Farid
" Bisakah paman melepas tali yang ditanganku ? " Gerakan tangan Farid berhenti
" Apa kamu memiliki rencana di kepalamu ? " Tanya Farid curiga
" Tanganku sakit dan gerakan ku kurang bebas. " Jawab Sari kemudian matanya berputar ke atas dan merasa seperti terbang ke awang-awang
Bagi orang yang sudah berpengalaman seperti Farid pemandangan ini membuktikan bahwa Sari sebentar lagi akan mencapai puncak dan biasanya perempuan dalam posisi seperti ini hanya ingin terpuaskan. Tanpa berfikir panjang Farid segera melepas ikatan pada tangan Sari.
Seakan tidak peduli dengan sakit di pergelangan tangannya, Sari mulai menggoda Farid dengan senyuman nakalnya dan berkata.
" Paman segera lakukan secepatnya tapi secara lembut ya." Pinta Sari sambil membuka lebar kedua kakinya.
" Sudah tidak sabar ya.... " Ucap Farid turun dari tempat tidur dan mulai membuka bajunya hingga telanjang bulat.
Kini di depan Sari nampak seorang pria dengan perut buncit tanpa baju seperti bayi dan duduk diantara dua kakinya sedangkan kedua tangannya mulai beraktivitas di bukit surgawi miliknya.
" Hu.... Hu... Hu... " Sari nampak kepedasan dengan nafas menderu membuat Farid semakin bersemangat dalam permainannya hingga tiba-tiba
" Plokkk...... Bukkkk...... " Sari dengan sekuat tenaga menendang ******** Farid disusul pukulan kearah tenggorokan sebelum Farid sempat berteriak dan tubuhnya menimpa Sari dengan sigap diputar nya kepala Farid
" Brukkkkk.... " Seketika tubuh Farid rubuh menimpa tubuh Sari
Aaaaaaachhhhhhh. "
" Pelan-pelan Paman jangan tergesa-gesa. " Teriak Sari dengan keras berakting
Sanusi mendengar suara yang mencurigakan dari arah dalam dan hendak mendobrak masuk namun segera diurungkan niatnya saat mendengar suara Sari.
" Pelan-pelan Kak..... Hahaha. " Ucap Sanusi dan sesaat berikutnya sebuah benda menghantam tengkuknya
" Satu orang sudah beres, tinggal berfikir bagaimana mengatasi Paman Sanusi dan kabur dari sini. " Sambil mengikat tubuh Farid dengan perasaan jijik.
" Praaaaaakkkk. "
" Aargh. "
" Brukkkkk. " Tubuh Sanusi langsung tersungkur mencium lantai dengan sempurna dan pingsan.
" Pak Arifin, pimpin pasukan mu dan segera selesaikan urusan disini selanjutnya kita jemput Lidya. "
__ADS_1
" Siap..... " Bersama ratusan orang terlatih dibawah pimpinan Pak Arifin dan Diego mereka segera menyebar ke seluruh penjuru gudang tersebut.
" Prank..... Prank... bukkkk..... bukkk.... " Terdengar suara besi beradu dan disisi lain terdengar pula suara tubuh yang terkena pukulan bercampur menjadi satu.
" Brakkkkk...... " Pintu kamar dimana Sari berada mendadak hancur saat terkena pukulan Wawan. Selanjutnya Wawan dan Paramitha langsung bergegas masuk.
Pertama kali masuk mata Wawan disuguhi pemandangan yang sangat ambigu dimana tubuh seorang pria gemuk dan telanjang telah terikat di kedua tangan dan kakinya serta mulut yang disumpal kain. Disudut lain ada seorang gadis dengan mengenakan seprai sebagai penutup tubuh sedang mengacungkan sebilah pisau pada mereka
" Kalian jangan mendekat.... Kalo tidak orang ini akan aku bunuh. " Ancam Sari dengan mata nanar
" Sari...... Ini aku.,... Wawan. " Ucap Wawan singkat
" Kamu jangan ngaku-ngaku.....Wawan telah lama meninggal. " Ucap Sari dengan mata mulai berkaca-kaca.
" Sari, dengarkan penjelasan Wawan dulu.... Dia masih hidup dan kali ini dia datang atas panggilan mu. " Jelas Paramitha
" Benarkah kamu Wawan..... Tunjukkan buktinya. "
Wawan segera menunjukkan tanda di lengannya dan hanya orang keturunan dari keluarga Sari yang mampu melihat tanda pelindung keluarga.
" Kamu benar Wawan...... " Teriak Sari
" Plukkk. " Sari masuk dalam pelukan Wawan dan menangis sejadi-jadinya.
Ada kerinduan yang teramat sangat besar yang telah tersimpan selama ini. Saat ini Sari laksana anak kucing yang sedang bermanja-manja dengan induknya. Wawan tak berdaya menerima ciuman di pipi, kening berulang kali hingga Paramitha merasa malu melihat kemesraan mereka berdua.
" Sudah-sudah...... Kenalan baju ini dulu setelah itu kita tinggalkan tempat ini. " Ucap Wawan sambil menyodorkan baju.
Tanpa merasa malu Sari mengenakan pakaian di depan Wawan hingga tanpa sadar mulutnya menganga lebar melihat tubuh Sari yang kian berisi.
" Sudah puas belum melihatnya. " Ucap Sari menyadarkan Wawan dari lamunannya
" Dasar mesum. " Selanjutnya Sari masuk dalam pelukan Wawan kembali dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
" Tuan semua nya sudah dikumpulkan..... Selanjutnya apa. " Tanya Diego sambil memperlihatkan satu tumpuk mayat di hadapan Wawan.
" Hadeuh..... Betapa repotnya jika punya anak buah gangster....Bukannya dilumpuhkan malah dibunuh. "
" Baiklah kita tinggalkan tempat ini, jangan lupa bereskan tempat ini. " Ucap Wawan sambil mengajak mereka menuju portal yang berada diluar gedung.
" Jegeeeeerrrrrr. " Dari arah belakang terdengar ledakan yang sangat memekakkan telinga sesaat sebelum portal teleportasi menghilang.
__ADS_1