
" Rasanya semua baju yang kumiliki saat ini tidak cocok untuk tubuhku. " Grace berputar-putar di depan kaca.
Baju yang dia kenakan sekarang mempunyai belahan dada yang sangat menggoda dengan gundukan yang besar dan kencang sehingga memberikan daya tarik bagi yang melihat nya.
Dulu Grace sangat menyukai desain baju yang seperti ini. Meski berusia hampir empat puluh tapi tubuhnya masih kencang layak nya gadis usia dua puluh tahun. Itulah anugrah yang diberikan Tuhan padanya.
" Tok... Tok.... "
" Apa Bianca boleh masuk ? "
" Masuk aja sayang. "
Bianca masuk membawa sebuah kotak berwarna emas berukuran besar.
" Apa itu ? " Tanya Grace
" Semoga mamah suka. " Sambil menyerahkan kotak tersebut ke mamahnya. Grace dan Nicholas saling bertatapan.
Grace segera membuka kotak yang diberikan Bianca dan dia terkejut.Nampak sebuah gaun berwarna merah senada dengan yang dikenakan Bianca saat ini.
" Jika mamah tidak suka dengan modelnya nanti biar Bianca berikan pada orang lain. "
" Biarkan mamah coba dulu ya... Semoga cukup di badan Mamah. " Grace merasa baju yang diberikan Bianca bisa sesuai dengan ukuran badannya baik dari pinggul dan dadanya yang besar.
Grace kembali berputar-putar di depan kaca. Dirinya terkagum-kagum dengan penampilannya sendiri. Kemudian meminta Bianca untuk mengomentari penampilannya.
Mata Nicholas terpana melihat dua orang yang disayangi nya bagai pinang di belah dua.
" Sama-sama cantik dan sama-sama muda."
" Seperti bidadari yang turun dari surga. " Gumam Nicholas tidak sadar.
Anak dan ibu itu lalu tersenyum dan tertawa.
" Mamah suka dengan baju ini. Dari mana kamu mendapatkannya ? "
" Pemberian dari guruku untuk mamah. " Jawab Bianca singkat.
" Bagaimana gurumu bisa tahu ukuran tubuh mamah ? "
" Kata guruku baju itu akan menyesuaikan ukuran pemakai nya. "
" *Sejak kapan kamu punya guru ?"
__ADS_1
" Kenapa mamah tidak tahu*. "
" Ceritanya panjang Mah,yang pasti beliau yang membebaskan Bianca dan yang lain dari jeratan Iblis serta yang mengajari Bianca menjadi wanita yang sholehah. "
" Apa itu wanita sholehah ? "
" Wanita yang taat dan patuh serta menjalankan perintah agama dan menjauhi laranganNya. "
Grace dan Nicholas semakin bingung dengan penjelasan Bianca.
" Kapan anaknya belajar dan dimana mereka bertemu ? " Ucap Nicholas dan Grace dalam hati
" Suatu saat kalian akan bertemu. Itu janji yang beliau ucapkan pada kami. " Jawab Bianca seperti mengerti pertanyaan kedua orang tuanya.
" Ya sudah, mari kita berangkat. "
*****
Rombongan mobil Nicholas mulai memasuki halaman rumah Felix. Kali ini dia membawa pengawal lebih dari tiga puluh orang demi menjaga keselamatan keluarga nya terutama Bianca.
Saat Felix dan Nicholas saling berpelukan dari arah pintu masuk mulai berdatangan puluhan mobil.
" Hai.... Bagaimana khabar anda Tuan Nicholas ? " Sapa Alexandro yang berjalan berdampingan dengan istri dan anaknya.
" Baik.... Bagaimana dengan anda Tuan Alexandro ? " Ucap Nicholas bertanya balik
" Bukankah waktu pertemuan kita pukul delapan malam ? " Ucap Felix manakala di depan dia sudah berdiri Kurtis dan Ricardo bersama istri dan anak mereka.
" Apakah kedatangan kami yang lebih awal mengganggu Tuan Felix ? " Mendapat jawaban dari Kurtis, Felix segera meralat ucapannya
" Bukan begitu Tuan Kurtis...... Saya hanya heran apa yang menjadi penyebab nya ? "
" PUTRI KAMI YANG MENGINGINKAN DATANG LEBIH AWAL. " Jawaban yang serempak membuat mereka terkejut dan kemudian tertawa.
Nicholas menyentuh lengan Kurtis dan berkata
" Apa yang terjadi dengan istrimu ? "
" Sebenarnya pertanyaan yang sama ingin ku ajukan pada anda Tuan Nicholas. "
" Maksudnya ? "
" Bukankah ada yang berbeda dengan nyonya Nicholas hari ini. " Semua mata mulai melihat Grace dan Bianca kemudian beralih ke istri Kurtis dan Amelia serta istri yang lain.
Semua nampak muda dan bagai pinang dibelah dua dengan putri mereka masing - masing.
__ADS_1
" Ya sudah mari kita masuk dulu. "
Para orang tua berjalan bersama menuju ruang keluarga sedangkan para gadis memisahkan diri menuju kamar Nathalie dan diikuti oleh belasan pelayan perempuan.
Mereka sedang asyik bersenda gurau kala mendengar beberapa orang sedang membaca Al-Quran secara bergantian. Seketika suasana yang awalnya riuh langsung menjadi sunyi.
Tidak ada yang merasa terganggu dengan suara tersebut justru mereka semua menikmati.
Satu jam telah berlalu saat seorang pelayan tiba-tiba memberi tahu bahwa sajian makan malam telah siap.
Mereka duduk dengan rapih di meja panjang bersama keluarga masing-masing. Beberapa pelayan mulai menuangkan anggur ke dalam gelas masing-masing kecuali gelas putri mereka karena masih di bawah umur. Aroma anggur mahal mulai tercium. Felix mengangkat gelas miliknya disambut dengan yang lain.
Saat mereka mulai menyesap anggur berkualitas di gelas masing-masing tiba-tiba mengernyitkan alis.
" Pelayan, apa ada yang salah dengan anggur milikku atau memang lidahku yang sedang tidak baik ? "
Pelayan yang berdiri di belakang Felix sangat ketakutan.
" Maaf Tuan, anggur yang saya sajikan adalah kualitas terbaik tidak mungkin bermasalah. "
" Punya ku juga. " Alexandro menimpali dan disusul dengan yang lain.
Dengan cepat pelayan berlari ke dapur dan segera menggambil botol anggur yang lain.
Pelayan tersebut sudah tiga kali mengganti dan menuangkan anggur pada gelas milik Tuan dan para tamunya akan tetapi hasilnya sama..... PAHIT.
" Ayah, bukan anggur nya yang bermasalah akan tetapi tubuh ayah sendiri yang menolak. " Ucap Nathalie.
" Bukan maksud Nathalie membela mereka tapi memang kenyataan nya seperti itu. " Nathalie melhat ayahnya hampir memarahi pelayan akibat malu.
" Papah, apa yang dikatakan Nathalie benar..... Bukan salah anggur nya akan tetapi tubuh Papah sendiri yang sudah menolak dimasuki barang haram. "
Para orang tua saling berpandangan yang pada akhirnya setuju dengan pendapat putri nya masing-masing.
Mereka tidak habis pikir dengan kejadian seminggu ini. Mulai dari makanan, minuman yang awalnya mereka suka kini terasa hambar bahkan tidak layak dimakan. Bahkan yang lebih parah lagi mulut mereka seakan terkunci saat hendak menghardik pelayan atau pegawai yang melakukan kesalahan.
Saat semua sedang berkutat dengan pikiran masing-masing datang seorang pelayan dan berbisik pada telinga Felix.
Suasana sedikit riuh ketika Felix memukul gelas dengan lirih meminta perhatian dari para tamu untuk tenang.
" Tuan-Tuan, baru saja ada khabar dari Tuan Dimitri. "
" Beliau memberi kabar jika Nak Wawan dan Nak Mitha telah siuman. "
" Papah, Wawan itu siapa dan kenapa keadaan dia begitu penting ? " Tanya Bianca
__ADS_1
" Nanti sambil jalan papah ceritakan. Sekarang kita bergegas ke sana. "
Nicholas terkejut saat melihat banyak tentara dan polisi berdiri dan berjajar di sepanjang jalan. Setiap mobil yang memasuki rumah Dimitri diperiksa, bahkan puluhan pucuk senjata milik pengawal terpaksa disita sementara demi menjaga keamanan tamu yang di dalam.