
Ruang rapat direksi
Nampak sepuluh orang duduk dengan sangat gelisah. Pasalnya mereka sudah berada di ruangan tersebut selama hampir dua jam menunggu.
" Sebaiknya adik sepupu perlu berfikir ulang dengan posisi dan jabatan anak itu? "
" Kondisi keuangan sudah sangat kacau akibat ulah anak itu. "
" Apa alasan adik sepupu begitu sangat mempercayai dia ? "
" Bahkan mengijinkan Sari untuk menikah dengan dia. " kata Stephen cucu dari paman pertama Bu Ratna
" Betul adik sepupu, sebaiknya kita memilih orang yang tepat untuk duduk di posisi dia. " kata Andy cucu dari paman keduanya
" Saya tidak berani bertindak gegabah bertindak apalagi Kak Chandra tahu sejarah akan cincin yang melingkar di jarinya. "
Ratnasari sebenarnya punya pemikiran yang sama dengan saudara sepupu nya. Akan tetapi sampai saat ini dia belum berani bertindak tegas.
Bu Ratnasari juga belum mengerti arah dan tujuan penggelontoran dana besar-besaran untuk membuka usaha baru.
Sedangkan usaha yang kali ini mereka pimpin juga sedang mengalami kesulitan akibat perginya para investor.
Divisi keuangan pun juga unjuk bicara
" Sebaiknya Bu Ratna menahan dulu pengembangan usaha yang akan dimulai. Alangkah bijak jika dana yang tersisa digunakan untuk memperbaiki keuangan terlebih dahulu. "
" Hmm. "
Bu Ratna membenarkan usulan dari divisi keuangan. Dia tidak ingin usaha yang sudah dirintis ayahnya hancur gara-gara mengikuti keinginan seorang anak kecil.
Robert hanya menghela nafas. Hati kecilnya masih tetap mendukung keinginan Wawan.
Sebenarnya bisa saja perusahaan yang dirintis ibunya digabungkan dengan perusahaan milik keluarga ayahnya.
Akan tetapi dilarang oleh nenek karena itu adalah usaha peninggalan menanti dan anaknya untuk cucunya.
" Criet.. " Wawan berjalan menuju arah nenek diikuti oleh Sari. Setelah memberi hormat kepada semua yang hadir Wawan menduduki kursi yang berada di samping Robert.
" Maaf atas keterlambatan saya. Dan terima kasih karena sudah menunggu kedatangan saya. " Ucap Wawan sebelum duduk.
" Heh anak muda jangan pernah sombong dengan kedudukan mu dalam perusahaan ini. Perlu kamu tahu hari ini semua investor menarik diri dari perusahaan kita. "
" Mereka ngga mau ikut dengan perusahaan yang segala keputusan nya diambil oleh anak kecil kayak kamu. "
" Sebaiknya kamu pulang ke rumah dan mengerjakan PR. Serahkan jabatan mu kepada kami. " ucap Andy dengan muka merah padam dan jari menunjuk ke arah Wawan
Melihat sikap Wawan yang tenang dengan tangan saling bertautan diatas meja membuat Andy tambah murka.
" Sekarang juga tinggalkan ruangan ini !! "
usir Andi.
Robert dan Sari wajahnya langsung terlihat muram dan secara bersamaan memandang kearah nenek. Akan tetapi nenek memberi kode dengan mengangkat sedikit telapak tangannya supaya mereka tenang.
" Sudah belum paman bicara nya. " Jawab Wawan tenang
" Ingat dalam internal keluarga saya masih memegang saham sebesar dua puluh lima persen. Kewenangan saya masih lebih banyak dibandingkan kalian. "
" Jika kalian menginginkan saya untuk pulang dan mengerjakan PR mengingat usia kalian bukankah lebih baik jika kalian yang pulang dan membantu cucu kalian mengerjakan PR. "
" Kurang ajar..... memang anak tidak tahu diri. Sudah baik kamu diijinkan masuk dalam keluarga ini. Sekarang malah tidak tahu diri dan ingin menginjak kepala kami. " Stephen bangkit sambil menggebrak meja.
Tanpa mempedulikan amarah paman Stephen dan paman Andy, Wawan tetap mengajak divisi keuangan berbicara.
" Paman Raharjo, berapa banyak perusahaan kehilangan sumber dana keuangan pasca investor pergi ? "
" Berapa dana yang harus dikeluarkan untuk meneruskan proyek yang akan dibangun ? "
Meskipun takut Raharjo tetap membuka bindex yang ada di depannya.
" Total dana yang ditarik investor adalah sepuluh milyar sedangkan kebutuhan untuk meneruskan proyek adalah dua puluh milyar. "
" Saldo yang dimiliki perusahaan saat ini tinggal dua milyar. "
" Terima kasih atas informasinya. "
Wawan segera mencatat laporan paman Raharjo diatas secarik kertas
" Apa yang kamu inginkan dengan meminta laporan keuangan perusahaan?"
" Saya akan berusaha untuk mendapatkan nya. "
__ADS_1
" Hahaha.... Jangankan tiga puluh milyar saya berani taruhan seratus ribu pun ngga punya. " tambah Andy
" Bocah jangan berlagak kamu disini. Jika adik sepupu ku tidak berani mengusirmu, kami pun mau melakukan nya dengan sukarela. "
Setelah itu Stephen dan Andy berjalan menuju ke kursi Wawan.
" Berapa nilai saham kalian ? "
" Hahaha..... Makin gila bocah ini. "
Stephen dan Andy tertawa dengan lelucon yang dibuat Wawan sambil terus berjalan mendekati Wawan.
Saat langkah mereka sudah sampai disisi Wawan Bu Ratna buka suara
" Berhenti..... Tolong berhenti..."
Bu Ratna marah dengan tingkah laku sepupu nya tersebut
" Ingat disini adalah ruang rapat. Semua masalah dibicarakan dengan baik. Tidak dengan tindak kekerasan apalagi kepada anak dibawah umur. " Bu Ratna mengingatkan
Bu Ratna masih penasaran dengan rencana yang dilakukan Wawan beberapa saat yang lalu dan apa langkah yang diambil untuk mengatasi nya.
Sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam bisnis kita tidak boleh merendahkan siapapun.
Apalagi Wawan anak yang ditunjuk leluhurnya sebagai Pelindung Keluarga.
Stephen dan Andy menghentikan tindakan mereka karena masih menghormati Bu Ratna sepupu nya sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan ini.
" Nak Wawan menanyakan tentang keuangan perusahaan itu wajar karena dia juga salah satu pemegang saham. "
" Tambah lagi Nak Wawan juga menanyakan apakah kalian ada keniatan menjual saham perusahaan milik keluarga kalian. "
" Perkara Nak Wawan bisa membeli atau tidak itu perkara nanti. "
Stephen dan Andy mulai menurunkan emosi mereka.
" Maaf sebelumnya adik sepupu. Kita hanya terbawa suasana. "
Keduanya saling berpandangan dan tersenyum licik. Mereka berdua memang punya rencana untuk menjual saham mereka begitu tahu perusahaan tersebut akan bangkrut.
" Dua milyar saja. "
Lebih baik dapat uang daripada saat bangkrut mereka tidak akan mendapatkan apa-apa.
" Dua milyar sangat mahal paman untuk kondisi perusahaan yang akan gulung tikar. " ucap Wawan saat mendengar suara hati mereka.
Bu Ratna terhenyak dengan ucapan Wawan. Tidak menyangka usaha yang dirintis ayahnya dihina begitu saja oleh anak kecil.
Akan tetapi dia berusaha untuk tetap tenang dan mengikuti alur cerita.
" Baiklah... baiklah.... kamu ada benarnya juga. Satu setengah milyar seperti nya harga yang sangat pantas dan tidak dapat ditawar lagi. "
" Hehehe....gimana kalo satu milyar saja."
" Dan tolong siapkan berkas kalian paman. Saya akan mencoba menghubungi seseorang. Barangkali dia bisa membantu mendapatkan uang. "
" Kita ikuti saja bualan anak ini. Nanti kalo dia tidak bisa kita telanjangi dan suruh keluar dari kantor ini tanpa baju. Setuju tidak. " bisik Stephen lirih ke Andy
" Setuju Kak..... Biar dia tahu rasa. "
Stephen dan Andy menghubungi rumah mereka untuk mengantarkan berkas yang diinginkan. Paman Raharjo saat ini juga sibuk membuat surat pelepasan hak atas kepemilikan Pak Stephen dan Pak Andy.
Sedangkan saat ini Wawan sedang menghubungi seseorang.
Saat teleponnya tersambung di seberang sana.
" Selamat siang Pak.......Dengan Wawan Setyawan Pak. Bisa minta tolong dibantu pemindahan buku ke perusahaan xxx uang sejumlah tiga puluh milyar dan uang cash diantar sekarang juga sebesar satu milyar. "
" Terima kasih sebelumnya. Saya tunggu secepatnya. "
Wawan menutup telepon.
" Sudah selesai belum membualnya. "
Satu jam telah berlalu akan tetapi masih belum ada khabar dari seseorang yang dihubungi Wawan
" Berapa lama lagi kami harus menunggu ? " tanya Stephen mulai geram
Melihat situasi akan memanas Bu Ratna segera mendinginkan suasana. Ditambah lagi cucunya sudah sangat cemas. Air matanya terus mengalir bagai anak sungai.
" Kak, kamu pikir satu milyar itu uang yang sedikit. Untuk menghitungnya butuh waktu, membawanya juga butuh pengawalan khusus. Belum lagi jarak yang ditempuh jauh atau tidak. "
__ADS_1
" Kriiiiiiing.... Kriiiiiiing.... "
Telepon di samping Bu Ratna berbunyi
" Halo... ( Bu, ada orang dari Bank xxx hendak mengantarkan uang sejumlah 10 peti )......Suruh mereka naik sekarang. "
" Tok... tok.... tok. "
" Masuk.... "
Sekretaris Bu Ratna menyerah kan selembar kertas kepadanya.
" Pak Raharjo, kemari..... "
" tiga puluh milyar sudah masuk dalam rekening perusahaan. " matanya tidak percaya melihat tulisan yang tertera di dalamnya.
" Apa kamu bilang ada pemindahan buku senilai tiga puluh milyar. " Andy segera merebut kertas dari tangan paman Raharjo.
Tangannya bergetar melihat angka yang tertera di dalam kertas tersebut.
" Tok.... tok.. tok.... "
" Masuk.... " sekali lagi sekretaris nya berbisik lirih di telinga Bu Ratna
" Bawa kemari uangnya. "
" Selamat sore Bu..... bisa bertemu dengan Bapak Wawan Setyawan. "
" Ya saya disini.... " petugas pengantar uang sangat terkejut kala melihat pemilik uang yang jumlah nya tidak sedikit ternyata masih sangat muda.
" Maaf Mas... eh.... Maaf Pak bisa minta tanda tangan penerimaan uang. "
Wawan segera membubuhkan tanda tangannya diatas kertas dan diserahkan kembali kepada petugas tersebut.
Saat mereka hendak beranjak pergi dipanggil oleh Wawan :
" Sebentar Pak.... jangan pergi dulu. "
Wawan menghampiri Sari
" Boleh ngga Wawan pinjam uang seratus ribu. "
" Apa kamu bilang Mas... pinjam uang seratus ribu.... buat apa ? " tanya Sari tidak percaya
" Aku khan pelajar mana mungkin bawa uang banyak. "
Mendengar obrolan keponakan nya Robert segera mengeluarkan uang sepuluh ribu sebanyak sepuluh lembar dan diserahkan kepada Wawan
" Saya pinjam dulu ya.... "
Bu Ratna melihat hal itu tertawa.
" Anak ini memang unik. Pantas almarhum kakek mempercayai nya. " ucap Bu Ratna lirih.
" Terima kasih Mas... eh Pak atas pemberiannya. Smoga makin lancar rejeki nya. "
" Aamiin. " jawab Wawan sambil menangkupkan kedua tangan nya atas doa yang diberikan petugas tersebut.
" Paman uangnya harap diterima. Ke depan kedatangan kalian berdua hanya tamu bukan pemilik saham lagi. " ujar Wawan datar
" Saya harap paman Stephen dan paman Andy untuk meninggalkan ruangan ini. Karena ruangan ini hanya boleh di masuki oleh petinggi perusahaan. "
Dengan dibantu security mereka membawa pergi semua uang tersebut.
" Dengan dibeli nya saham milik keluarga Stephen dan keluarga Andy maka pemegang saham tertinggi adalah Pak Wawan. " ucap Bu Ratna sambil berdiri dan menghampiri Wawan.
" Selamat datang di perusahaan kami Pak. Apapun yang menjadi perintah bapak akan kami ikuti. " kata Bu Ratna dengan penuh hormat dan dilanjutkan dengan membungkuk khusuk diikuti semua orang.
Wawan terlihat kikuk dengan penghormatan yang diberikan mereka semua termasuk Sari dan Robert.
" Kalian salah memberikan hormat kepada saya. " sambil berjalan disisi Sari
" Mulai hari ini saham yang saya miliki akan saya serahkan kepada Sari. " Semua kaget dan tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
" Mas kamu jangan gegabah. Sari tidak menginginkan semua ini. "
" Anggap saja sebagai hadiah dariku. Dan mulai sekarang kamu boleh berbicara di dalam ruangan ini. "
" Okay " ucap Wawan sambil merangkul pundak Sari dari belakang.
" Selamat datang di perusahaan kami Bu Sari. Apapun yang menjadi perintah Ibu akan kami ikuti. " kembali Bu Ratna mengucapkan kata yang sama dengan penuh hormat dan dilanjutkan dengan membungkuk khusuk diikuti semua orang.
__ADS_1