Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 39 Undangan Mamah


__ADS_3

Hari ini Jessica pulang lebih awal dari biasanya. Bermain dan menemani Nanda tidur siang adalah hal yang mulai jarang dia lakukan semenjak mengambil shift pagi.


Setelah Nanda tidur, timbul keinginan Jessica untuk masuk kedalam kamar anak pertama nya.


Semua buku tertata rapih termasuk tempat tidur. Satu hal yang dia ajarkan untuk selalu meninggalkan kamar dalam kondisi rapih.


Satu demi satu buku dia buka dan baca sekilas. Saat mengambil buku yang nampak kusam sebuah amplop bertuliskan nama sebuah bank terjatuh.


Jessica penasaran sudah berapa banyak tabungan anaknya.


Wawan termasuk anak yang hemat dan rajin menabung. Untuk membeli sesuatu biasanya dia menabung terlebih dahulu sedangkan sisanya akan meminta tambahan kepada orang tuanya.


Dibukanya isi amplop tersebut. Jessica menemukan delapan buah buku tabungan di dalam nya dengan sebuah nama tertulis diatasnya.


Jessica tertarik ketika melihat nama Nanda. Tertera angka yang fantastis. Jessica berjalan keluar untuk mengambil kacamata karena dia pikir salah baca.


" Satu... dua... tiga... tujuh... delapan. "


" Seratus juta rupiah. "


Dibuka kembali buku tabungan berikut nya atas nama dia


" Lima milyar. "


Satu demi satu dibuka dan dibaca atas nama Rini, Citra, Sari, Claudia dan terakhir Lidya berisi masing masing adalah lima ratus juta.


" Dari mana anakku mendapat uang sebanyak itu. "


Jessica sangat penasaran dengan isi tabungan tersebut sekalian dia bangga bahwa angka yang diberikan untuknya sepuluh kali lipat dari wanita yang disayangi anaknya.


Setelah merapihkan kembali Jessica beranjak meninggalkan kamar Wawan saat Sari berdiri di depan pintu rumahnya.


" Halo cantik. Tumben Siang-siang datang kemari. " Sapa Jessica sambil memeluk dan mencium pipi Sari.


" Sebenarnya Sari tadi ke rumah sakit, kata suster disana mamah pulang lebih awal karena kebetulan hari ini sedang tidak ada tindakan operasi. "


" Ada apa sayang kamu datang ke kantor mamah ? "


Sari nampak bingung membuat Jessica mulai berfikir lain. Dipeluk nya Sari dengan penuh kelembutan.


" Kamu sudah telat berapa bulan ? "


Jessica sudah menyiapkan mental


" Maksud mamah Sari hamil gitu. "


" Haish... " Sari menepuk jidatnya


" Sari dan Wawan memang dekat mah tapi kita belum pernah ngapa-ngapain. "


" Pernah Sari genggam tangan Wawan bukannya dibalas malah Wawan gemeteran. "


Kata Sari sambil tertawa membuat Jessica yang awalnya bingung jadi ikut tertawa canggung.


" Jadi gini mah waktu itu perusahaan yang dipimpin nenek sedang mengalami masalah keuangan. Dan Wawan datang sebagai dewa penolong. " Kata Sari dengan wajah berseri-seri


" Wawan membeli saham perusahaan kami sebanyak enam puluh lima persen atau setara dengan tiga puluh milyar. "


Mendengar angka yang fantastis Jessica langsung nafasnya tersengal-sengal. Sari bergegas mengambil air minum dan diminumkan kepada Jessica.


Jessica sudah bisa mengatur nafasnya.


" Wawan memberikan saham kepemilikan tersebut untuk Sari. Sedangkan Sari hanya menginginkan Wawan mah. "


" Maka dari itu saham kepemilikan perusahaan Kuda Terbang akan Sari kembalikan ke mamah. " Sambil menyerahkan satu bendel sertifikat kepemilikan saham kepada Jessica.


"Jika kita berjodoh pasti akan menjadi milik Sari juga. " tegas Sari


Ada dua tipe perempuan yang satu berjuang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang sedangkan satunya lagi melepaskan harta demi mengharapkan cinta.


" Mamah selalu berdoa semoga kalian berjodoh. "

__ADS_1


**


Obrolan Sari terhenti kala Wawan memasuki rumah. Jantung nya berdebar-debar setiap melihat Wawan.


Dibelakang Wawan berdiri tiga orang sahabatnya diikuti dua gadis cantik yang pernah dilihat nya di sekolah.


Sari tersenyum dan menyapa mereka semua. Sahabat Wawan membalas sapaan Sari


" Halo Mba Sari..... makin kesini makin cantik saja. Kata Dwi dan Anton


" Halo Mba Sari. " sapa Kartika dan Monica


Hanya Claudia yang nampak terdiam dan malu-malu bertemu dengan Sari.


" Kamu namanya siapa? " tanya Sari kepada Claudia dan Monica


" Saya Claudia dan ini Monica Mba. "


Sari memang pintar mencair kan suasana. Claudia dan Monica sudah tidak canggung lagi dan terlibat dalam pembicaraan dengan Jessica dan Sari.


Ada saat dimana Claudia dan Sari berdua. Sari tahu mamah yang memberikan waktu supaya Sari lebih bisa menyelami jiwa Claudia.


" Sari boleh tanya sesuatu yang penting ngga ? "


" Boleh Mba. "


" Kamu serius sama Wawan. " Claudia mengangguk


" Kalau begitu kita jaga Wawan bersama-sama. "


" Maksud mba Sari bagaimana ? "


" Claudia kurang paham. "


" Kamu janji tidak marah. " Claudia menggelengkan kepala


" Mba Sari juga pacar Mas Wawan. " Claudia kaget dan tidak percaya


Claudia segera bangkit dari tempat duduk nya dan berlari ke arah luar. Hatinya sakit karena merasa dikhianati cintanya oleh Wawan.


Terkadang kita menginginkan seseorang menjadi milik kita sendiri tanpa ingin dibagi ( egoisme cinta). Di tingkatan tertinggi demi cinta kita rela berbagi.


Monica segera pulang setelah tahu sahabat nya sedang sedih. Dengan menggunakan mobil monica diajak Sari untuk mencari Claudia.


Claudia mereka temukan sedang duduk menunggu bus di sebuah halte. Awalnya Claudia menolak namun setelah dibujuk Monica akhirnya Claudia mau meski diam sepanjang jalan.


Rumah Wawan kembali sepi setelah semuanya pergi.


" Kriiiiiiinggggggg..... kriiiiiiiinnnnnnggg "


Suara telepon memecah kesunyian.


" Halo... Bisa bicara dengan Wawan. "


" Maaf dari mana ya ? " Tanya Jessica


" Saya Lidya Bu... teman Wawan. "


Mendengar nama itu Jessica sedikit menjadi gelisah.


" Sebentar saya panggilkan. "


" Tok.... tok... tok.... "


" Mas, ada telepon dari Lidya. "


Tidak ada jawaban dari dalam.


Lidya membuka pintu dan menemukan anaknya sedang meditasi seperti biasanya.


" Halo..... Lidya... "

__ADS_1


" Iya Bu.... Wawan sedang istirahat. "


" Ada keperluan apa ya... Nanti saya sampaikan. "


" Emm.... Sore ini Lidya akan sampai di Semarang Bu. Kalo ada waktu bisa ketemu ngga. "


" Ini nomer telepon yang bisa dihubungi 024 55*******."


" Baiklah nanti saya sampaikan. "


Wawan keluar dari kamar saat dan melihat mamah sedang duduk sendiri.


Tanpa sengaja telinganya mendengar suara hati Jessica.


" Kenapa Lidya ajak Wawan ketemuan di luar. Nomer yang diberikan ternyata nomer kamar hotel. "


" Sore Mah... jangan ngalamun. "


Mamah mendongak dan tersenyum


Wawan duduk disampingnya tanpa disuruh.


" Oh ya Mas tadi ada telepon dari Lidya dan dia titip pesan kalo ada waktu pengin ketemu. Ini nomer telepon nya. "


Jessica melihat anaknya sedang berbicara dengan Lidya dan berbicara dengan hatinya sendiri.


" Aku pernah muda dan pernah merasakan kenikmatan yang sama diawal nikah. Siapa yang tidak ingin dibawa terbang ke angkasa. "


" Seperti candu....Ingin lagi dan lagi. "


" Dari pada harus melakukan diluar dan akan diketahui orang kenapa tidak di rumah saja dan dihalalkan sekalian. "


ucap Jessica dengan nada sedih


Wawan kembali mendengar suara hati mamahnya. Dia putuskan mengundang Lidya untuk datang ke rumahnya.


" Kok mamah ngalamun lagi... " Suara Wawan membuyarkan pikirannya


" Mas, kalo mamah boleh usul sebaiknya kamu undang saja Lidya kemari. "


" Baik mah, sudah Wawan lakukan. Dari awal Wawan sudah bilang mamah tidak perlu khawatir. "


Pukul enam sore Lidya bertandang ke rumah Wawan. Dia fikir Wawan anak dari keluarga sederhana ternyata dugaan dia salah.


Diantar oleh security komplek Lidya masuk ke dalam pekarangan rumah dan menemukan Wawan sedang berdiri menatap nya. Wawan tersenyum akan tetapi pandangan matanya tidak ke arah dirinya.


Wawan baru selesai menunaikan ibadah saat perisai yang dia pasang di depan pintu komplek memberikan sebuah tanda.


Dengan mata bathinnya diarahkan ke tempat dimana sumber masalah berada. Lidya sedang berbicara dengan Pak Yono security namun bukan itu yang sedang Wawan cari.


" Itu dia... " menempel diatas pos security seekor capung dan tiga makhluk astral berbentuk serigala dengan mata merah berdiri mengawasi setiap sudut.


" Apa yang sedang mereka lakukan disini ? "


Dari gambaran makhluk astral yang dia dapatkan dari Dewi Rengganis capung adalah salah satu makhluk suruhan untuk mencari informasi dan meninggalkan benih benih setan di setiap ruangan.


Benih tersebut tidak akan berkembang jika di rumah tersebut tercipta kedamaian. Tapi mereka biasanya menempel pada seseorang yang baru pulang dari luar.


Pantas kenapa orang dulu selalu mengatakan lepas dulu baju yang dipakai dari luar. Dianjurkan untuk cuci muka dan langsung mandi. Tujuannya supaya dirinya selalu bersih kala masuk rumah.


Serigala bermata merah adalah sejenis teluh yang sangat mematikan.


Lidya masuk ke dalam mobil dan mulai bergerak mengikuti Pak Yono melewati portal perisai yang dipasang Wawan.


Dari pantauan Wawan makhluk astral tersebut segera menempel di handle pintu sebelum telapak tangan Lidya menyentuhnya.


Kini Lidya berdiri di hadapan Wawan hendak bersalaman sedangkan capung terbang secepat kilat menuju rumahnya.


Wawan mendapat sebuah pengetahuan baru. Sebuah teluh atau santet jika kesulitan menembus pagar ghaib kita mereka akan menggunakan orang lain sebagai pembawa. Media bisa lewat makanan atau sentuhan.


kembali ke cerita

__ADS_1


Wawan menghampiri Pak Yono untuk mengucapkan terima kasih dan memberikan sedikit uang sebagai ucapan terima kasih sebelum tangan Lidya bersentuhan dengan dirinya.


Lidya terbengong karena tangannya hanya menyentuh angin


__ADS_2