
Mas Wahid terpaksa harus menginap di rumah Bu Ratnasari karena tubuhnya masih lemas.
Wawan lebih memilih untuk pulang ke rumah.
Diantar dengan mobil dinas pejabat tinggi kepolisian dengan pengawalan di depannya membuat hati Wawan sangat bangga.
Wawan tertawa senang saat security perumahan yang biasanya galak nampak ketakutan.
Dengan tergesa-gesa dia menggunakan motor C70 nya menjadi penunjuk jalan.
Sudah menjadi aturan setempat apabila ada tamu perumahan pasti akan dikawal.
****
Semburat lampu berwarna biru berputar -putar menerangi halaman dan masuk di sela-sela jendela ke dalam rumah.
Ditambah suara gemuruh motor 500 cc membangkitkan minat papa dan mama untuk mengetahui siapa yang beruntung memliki saudara pejabat.
Mama berdiri memaku saat melihat anaknya berjalan memasuki pekarangan rumahnya di dampingi seorang pria yang sangat gagah di belakang nya terdapat beberapa petugas kepolisian.
Tubuhnya gemetar, matanya sedikit berkedut, digenggam tangan suaminya.
" Papah, apa yang sudah dilakukan Wawan. Bukannya dia di Pondok sedang ngaji. "
Mamah nampak ragu untuk maju. Antara takut, khawatir menjadi satu.
Papah tahu apa yang terjadi dengan istrinya, dikalungkan lengannya ke bahu mamah sebelah kiri.
" Selamat Malam Pak - Bu. "
"Saya minta maaf karena mengagetkan semuanya dengan kedatangan saya. "
Setelah melihat dengan jelas siapa yang berbicara didepannya, mamah mengambil sikap sempurna dan memberi hormat meski sedang menggunakan baju rumah.
Dibalaa dengan sikap hormat yang sama oleh Pak Nuruddin.
" Apa ibu dari kesatuan militer ? "
" Siap ...benar. "
" Mayor dr. SpOg Jessica Pratiwi Pak nama saya. "
" Pantes, punya anak yang pemberani dan tidak takut melihat darah. "
" Mamah nya ternyata dokter bedah. "
" Sudah jangan terlalu formal." memberikan arahan ke mamah untuk santai.
" Kedatangan saya untuk mengandar dhek Wawan pulang sekalian minta izin untuk besok ikut kami lagi. "
" Apakah putra saya melakukan kesalahan ? "
" Tidak Bu. Justru putra ibu membantu kami memecahkan suatu kasus besar beberapa tahun yang lalu. "
" Nanti kamu jelaskan ke mamahmu ya. " kata Pak Nuruddin sambil menepuk-nepuk punggung Wawan. "
" Saya pamit dulu Bu. " Mamah memberi hormat perpisahan dan dibalas hal yang sama oleh Pak Nuruddin.
****
Duduk dihadapan kedua orang tua nya, Wawan sedang dicecar dengan berbagai macam pertanyaan.
" Mah, kapan waktu nya Wawan untuk menjelaskan ? "
" Dari tadi mamah bicara terus. "
Papah mengangguk memberi kode istri nya untuk diam.
Wawan menceritakan dengan detail semua kejadian termasuk permintaan dengan Citra dan Sari.
Perasaan Jessica campur aduk antara senang, bahagia, sedih, bingung menjadi satu. Nano-nano lah.
" Like son like mother. "
" Hahahaha. " papah tertawa
" Mamah lagi bingung malah papah meledek. " mamah cemberut
Mamah berfikir keras untuk mencari solusi. Suasana menjadi hening digantikan suara tivi di ruang tengah.
" Wan, permasalahan mu cukup pelik karena berhubungan dengan hati. "
" karena patah hati seorang gadis mampu menghancurkan sebuah kerajaan. "
" Disini sulit nya.... Ilmu jika sudah dikuasai maka akan muncul sebuah kewajiban dan tanggung jawab. "
" Dilema yang dihadapi oleh hati dan Cinta. "
" Contoh kasus papah.... "
" Lho kok papah yang jadi sampelnya ? "
" Papah adalah anak pengusaha dan memiliki beberapa cabang. Tiba-tiba jatuh hati sama mamah anak orang biasa yang bertugas di militer dan rumah sakit."
" Dari awal papah sudah tahu bahwa mamah milik negara dan rumah sakit. "
__ADS_1
" Sedangkan papah pengusaha yang butuh seseorang disisinya untuk menenangkan hati kala menghadapi masalah. "
" Keluarga besar banyak yang menyangsikan hubungan papah. "
" Kembali ke tekad dan keyakinan papah di pertaruhkan. "
" Tidak mudah memang bagi papah kala berjuang menghadapi situasi sulit sendirian. "
" Mamah sudah menyarankan untuk meninggalkan mamah. "
Tangan mamah digenggam erat oleh papah.
" Apa jawaban papah kala itu ? "
Wawan menggelengkan kepala
" Aku tidak akan meninggalkan keduanya. Andai harus memilih akan aku tetap akan mempertahankan mamah. "
" Hancurnya sebuah usaha masih bisa di rintis k mbali.... tapi hancurnya hati maka semuanya akan hancur. "
" Makasih pah, sudah memilih mamah yang utama. " kata Jessica memeluk suaminya.
" Wawan harus jujur kepada mereka semua dari awal. Andai harus sakit maka itu yang terbaik. Andai harus berbagi minimal mereka siap. Dan Wawan harus adil kepada mereka semua. "
*****
Wawan tidur sangat nyenyak hampir lupa mengerjakan salat malam.
Tengkuknya terasa dingin. Wawan membuka mata dengan enggan.
" Hai Nis. "
" Waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Apakah kamu tidak ingin shalat ?"
" Masih ngantuk. Beberapa hari ini Wawan kurang tidur. "
" Bangun. Suatu saat kamu akan tidur panjang hingga dibangkitkan oleh Allah. "
Dengan rasa malas Wawan menuju ke tempat wudlu.
Dingin nya air membuat kesadaran Wawan kembali.
Setelah selesai mengerjakan shalat malam Wawan mengambil sikap lotus untuk meditasi.
" Nis, bagaimana kalo paman kumbang Wawan beri tugas mencari dimana letak segel yang menutupi aura kematian ? "
" Terus menghantui alam bawah sadar pelaku untuk mengakui perbuatan mereka. "
" Apapun yang kamu perintahkan akan kami laksanakan. Meski resikonya berat. "
" Sudah menjadi tugas kami. "
Hadir di depan Wawan kedua paman kumbang nya. Setelah mendapat tugas dari Dewi Rengganis mereka mengundang sepuluh anak buah nya. Didampingi mereka semua menghilang setelah memberi hormat kepada Wawan.
" Satu lagi Nis, apa bisa raga Wawan memasuki dunia bathin. "
" Sangat bisa setelah Wawan kuasa tenaga dalam. Berlatih lah dengan giat disini. "
" Nis, saya heran sama kamu kok selalu punya jawaban dari pertanyaanku. Kayak doraemon aja. "
________________________________________
Tontonan yang lagi viral era tahun 1990 di RCTI pukul delapan pagi
________________________________________
" Siapa Doraemon ? "
" Film animasi dari Jepang yang memiliki kantung ajaib dan pintu kemana saja. "
" Bukannya kamu juga seperti itu. Bisa kemana saja dengan cincin yang diwariskan keluarga Stephanie. "
" Kantung ajaib pun Wawan juga bisa jika mencapai tingkatan ke sembilan ilmu menembus batas ruang dan waktu. "
" Kamu bisa meyimpan sesuatu yang bentuknya besar dalam dunia bathinmu. "
" Sekarang teruslah belajar paling lama 3 tahun di dunia bathin kamu sudah bisa menguasai ilmu itu. "
****
" Mas Wawan bangun. "
" Ada perempuan nyariin Mas Wawan. "
" Cantik lho. " ucap Nanda
Mendengar kata cantik Wawan langsung terjaga.
" Yang benar dhek ? "
" Masak Nanda bohong. "
" Ciri-ciri nya bagaimana ? "
" Tinggi hampir kayak mamah, kalo mamah kuning langsat kalo perempuan yang di depan putih kayak porselen. "
__ADS_1
" Sari.... " gumam Wawan
" Betul Mas namanya Sari. "
" Ya sudah, mas Wawan mandi dulu. "
Ditengok nya jam dinding diatas pintu. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.
" Terlalu pagi untuk jam bertandang ke rumah orang. Dan tidak pantas seorang gadis bermain ke rumah laki-laki. "
" Byur.... byur.... "
****
" Tok.... tok... tok.... "
" Selamat pagi Bu.... Ada tamu katanya teman Mas Wawan. "
Ucap Pak Yono security galak saat Mamah membukakan pintu.
" Terima kasih Pak Yono...Tunggu sebentar......Jangan pergi dulu."
Kata Jessica mamahnya Wawan sambil masuk mengajak tamunya masuk.
" Mari Nak masuk dulu. "
Tak berapa lama mamah membawa minum untuk tamunya dan sebuah rangsum dan termos untuk security.
" Terima kasih Bu. Nanti kalo sudah selesai saya kembalikan. "
" Sama-sama. "
" Adik siapa, dari mana dan ada keperluan apa pagi-pagi mencari Wawan ? " tanya mamah selidik
" Nama saya Sari Tante..... Rumah saya di Menoreh.... Sengaja datang kemari untuk mengantar sarapan buat Mas Wawan dan keluarga. "
Setelah mendapatkan ijin Sari melangkah ke dapur menemui Bibik untuk meminta mangkuk dan piring serta menatanya diatas meja.
Satu nama yang diceritakan Wawan sudah hadir dihadapan Jessica.
" Cantik, anggun, berkharisma, berani berisiatif lebih dulu dan memiliki latar belakang yang jelas. " Ucap Jessica dalam hati pada pandangan pertama.
Setelah menata makanan yang dibawanya Sari kembali berdiri dihadapan Jessica.
Dengan sikap sedikit membungkukkan tubuh Sari meminta ijin untuk duduk
" Memiliki etika yang baik terhadap orang tua. " Jessica menambah review nya.
" Dari aroma masakan yang Sari bawa aromanya menggugah selera. Siapa yang masak ? "
" Saya sendiri tante. Sudah menjadi kebiasaan Sari memasak untuk nenek meskipun ada asisten rumah tangga di rumah. "
" Kedatangan Sari kemari juga sudah mendapatkan ijin dari nenek. "
" Dan Sari diminta untuk meladeni Mas Wawan dengan baik karena beliau adalah pelindung keluarga Sari dan orang yang sudah memenangkan hati Sari. "
" Baru kali ini aku melihat seorang perempuan level atas merendahkan dirinya di depan orang biasa seperti diriku. "
" Sudah menjadi janji dalam hati Sari tante barang siapa yang bisa mencuri hati Sari maka apapun yang terjadi Sari akan tetap menunggu dan siap untuk berbagi. "
" Sari tidak boleh gegabah dalam berucap. " cegah Jessica
" Sari sudah tidak memiliki orang tua tante. "
" *Maukah tante ke depannya menganggap Sari sebagai anak dan menantu. "
" Dan membiarkan Sari untuk mengabdikan diri sebagai anak kepada tante*. "
Sari turun dari tempat duduk dan melakukan sujud di hadapannya dengan tangan menempel di kaki Jessica.
Moment itu dilihat oleh Pak Edi papah Wawan.
" Nak, apa yang kamu lakukan ? "
" Berdiri Nak.... tidak pantas kamu melakukan hal itu. "
Jessica hanya diam mematung melihat tindakan Sari. Tidak menyangka akan apa yang dilakukan Sari. Air matanya menetes.
" Sebagai seorang perempuan dia tidak akan mau melakukan tindakan bodoh ini. dan sebagai ibu dia merasa tersanjung mendapatkan penghormatan seperti itu."
" Bangunlah Nak....... Mulai sekarang anggaplah aku sebagai ibumu. Dan aku menerima mu sebagai anak dan menantu ku. "
Papah seperti disambar geledek.
" Mamah, apakah kamu sadar dengan perbuatan mu ? " dijawab dengan anggukan
Mulut papah membentuk huruf O.
****
Wawan tidak percaya dengan apa yang dilihat. Dua perempuan saling bercanda, nampak akrab sekali. Di depan mereka terlihat papah yang hanya diam.
" Ehemm... "
" Wah, mamah bahagia sekali. Wawan ikut senang melihatnya. Kayak ibu dan anak. "
__ADS_1
" Papah makin melebarkan mulut nya dan mendelik ke arah Wawan. "