Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 74 Flamingo 2


__ADS_3

Dengan menjentikkan jari keempat orang itu kembali berada di tengah-tengah ruangan.


Mereka semua kini sudah bisa tersenyum dan memiliki sedikit harapan. Bersama-sama memberikan hormat dengan menundukkan kepala sedikit lalu pamit undur diri.


Kepulangan kelompok kedua membuat semua orang semakin penasaran.


" Sebenarnya apa yang terjadi ? " Terdengar bisik-bisik diantara tamu.


" Saya sendiri tidak tahu apa yang sudah Tuan muda itu lakukan tapi dari senyum orang-orang yang pergi seperti nya mereka puas dengan bantuannya. "


" Wan, bolehkah aku ikut prosesi nya ?"


Tanya Paramitha lewat telepati.


" Kenapa tidak. " Jawab Wawan kemudian berjalan dan menghampiri meja Paramitha lalu dengan lembut menggandengnya berjalan menuju ke depan tiga kelompok yang masih tersisa.


Dari ketiga kelompok tersebut Wawan memilih dua orang yang memiliki aura putih.


" Saya persilahkan kalian berdua untuk maju dan berdiri disini. " Pinta Wawan sambil mempersilahkan kedua orang itu.


Dengan kemampuan hukumnya wawan menghentikan waktu. Suasana yang awalnya terang benderang dan banyak orang kini menjadi sunyi dan temaram seperti senja hari.


Berdiri di sebuah taman yang sangat indah tidak membuat mereka senang justru malah semakin ketakutan.


" Dimana kami berada sekarang ? " Kedua orang itu mengedarkan pandangannya ke segala arah dan mulai berjalan kesana kemari.


Seberapa jauh mereka berjalan selalu kembali ke hadapan Wawan dan Paramitha.


" Saya harap kalian tenang dan jangan takut. "


" Kalian berada di tempat yang aman dan bisa berbicara sebebas mungkin tanpa takut ada yang mendengar. " Ucap Wawan memberikan pengertian namun kedua nya masih saja gelisah dan terus berjalan mengelilingi taman.


Saya harap kalian berhenti berjalan kesana kemari. " Ucap Wawan dengan nada penuh penekanan


" Kamu jangan emosi. " Ucap Paramitha sambil menyentuh bahu Wawan.


" Ada kepentingan apa hingga Bapak sekalian jauh-jauh datang kemari ? " Tanya Paramitha dengan lembut setelah berdiri di sisi mereka.


Dengan kemampuan nya Wawan menciptakan sebuah cermin dan melihat sebuah gambaran terkait dengan permasalahan yang sedang di hadapi kedua orang tersebut.


Mereka berdua saling bertatapan dan saling memberi isyarat untuk berbicara.


" Apakah ada kaitannya dengan Flamingo ? " Ucap Wawan dengan sedikit emosi membuat mereka berdua terkejut dan heran karena tadi mereka berdua melihat Wawan masih ada diujung sana dan kini berdiri di hadapan nya.


Mereka berdua masih bertanya-tanya dari mana Tuan yang didepan nya bisa tahu rahasia yang mereka pendam.

__ADS_1


Wawan segera melanjutkan ucapannya:


" Apa yang membuat pendeta utama ditahan oleh mereka ? " Ucap Wawan langsung ke inti masalah.


" Maaf Tuan jika kami bersikap tidak sopan, kami harus tetap waspada karena mata-mata Flamingo ada di mana-mana."


Mereka saling memberi kode untuk berbicara.


" Tidak usah sungkan, segeralah bicara karena waktu kita tidak banyak. " Paksa Wawan karena sudah bosan menunggu.


" *Begini Tuan, nama saya Agustinus dan ini saudara saya Yustinus. Maksud dan tujuan kami datang kemari adalah untuk minta tolong pada Anda untuk membebaskan Pendeta Utama yang telah terkena ilmu magis dan dikendalikan oleh seseorang. "


" Awalnya kami tidak menyadari perilaku beliau yang sedikit aneh. Namun makin kesini semua tindakan beliau banyak bertentangan dengan aturan yang ada. "


" Beliau mulai mengijinkan puluhan orang memasuki tempat yang sebenarnya untuk bermeditasi dalam pembersihan diri dan tidak boleh dimasuki sembarang orang malah dijadikan sebagai laboratorium. "


" Mulai saat itu banyak pria bersenjata berjaga di sekitar laboratorium dan diluar gereja. "


" Akhirnya keyakinan kami terungkap kala ada pertemuan yang rutin dilakukan setiap bulan untuk mengevaluasi kegiatan dimana salah satu pemimpin asrama putra mempertanyakan kepada pimpinan gereja terkait aktivitas yang banyak mengganggu justru dibunuh di depan kami dan pimpinan oleh seseorang yang baru kami ketahui bernama Flamingo. "


" Bahkan di depan kami semua pimpinan gereja di tendang di pukul sembarangan bahkan diinjak kepala nya namun diam saja. "


" Aku bisa menginjak-injak kepala pemimpin kalian sesuka hatiku... Apakah sulit untuk menjadikan kalian boneka seperti ini. " Ucap Agustinus menirukan ucapan Flamingo.


" Setelah kejadian itu gereja dijadikan markas oleh mereka, bahkan para biarawati dijadikan pelayanan dan obyek penelitian obat terlarang oleh mereka. "


" Semua jalur komunikasi milik kami telah mereka putus. "


" Pernah ahli spiritual gereja yang mempelajari tentang hal ghaib berusaha mengobati pemimpin kita namun semua berakhir dengan kematian. "


" Apa yang mereka inginkan hingga melakukan hal buruk seperti itu ? " Meskipun Wawan tahu tapi dia butuh pernyataan dari keduanya.


" Pihak kami sering melakukan kunjungan ke luar negeri menggunakan pesawat terbang. "


" Kita semua tahu bahwa dalam bandara terdapat alat pemeriksaan berupa detektor logam dan anjing pelacak yang dilatih khusus untuk memeriksa bawaan dari setiap penumpang apakah membawa barang terlarang seperti senjata atau narkotika. "


" Dan Flamingo tahu bahwa pihak kami mendapat fasilitas khusus dari negara untuk bebas pemeriksaan. " Ucap pendeta tersebut


" Kesempatan ini oleh Flamingo dimanfaatkan untuk menyelundupkan obat terlarang dan senjata lewat peti kemas yang berisi buku-buku agama. "


" Misi kami mengajak jamaah untuk berbuat baik sedangkan tindakan kami tidak mencerminkan hal itu. "


" Bagaimana dengan nasib biarawati ? "


Tanya Paramitha

__ADS_1


" Mereka sementara masih di asrama. Tapi kondisi mereka sangat menyedihkan karena jadi kelinci percobaan setiap mereka mengembangkan obat baru. "


" Terus bagaimana caranya kalian bisa sampai sini ? "


" Kebetulan kami mendapat undangan untuk mengisi acara di kota sebelah. Saat ada kesempatan kami segera melarikan diri. "


" Tuhan sangat memberkati. "


" Saat kami tidak tahu harus bersembunyi kemana tiba-tiba dari jauh melihat iring-iringan orang menuju satu tempat, yaitu kemari. "


" Baiklah kalo begitu, untuk sementara waktu kalian tinggal disini. Karena jika berada diluar keselamatan kalian tidak terjamin. "


" Untuk urusan Flamingo akan saya usahakan mencari jawabannya. " Jawab Wawan mengakhiri pembicaraan.


" Kembalilah dan ikuti Dimitri. "


Seketika suasana berubah terang dan kedua pendeta tersebut sudah berada diantara para tamu kembali. Ada perasaan tenang manakala ada seseorang yang bersedia membantu.


" Pak Dimitri tolong beri mereka berdua dan kelompok tersisa tempat istirahat untuk beberapa hari ke depan. "


Ucap wawan lewat telepati membuat Dimitri terkejut dan segera menoleh ke arah nya dan dijawab anggukan oleh Wawan.


" Bapak ibu sekalian, mohon maaf jika pertemuan hari ini saya akhiri dengan cepat karena ada beberapa hal yang harus saya selesaikan. "


" Untuk dua kelompok yang tersisa silahkan ikuti Tuan rumah untuk beristirahat di kamar tamu yang telah disediakan. "


" Bagi yang tidak ada kepentingan saya persilahkan untuk pulang terlebih dahulu."


" Datanglah kemari satu minggu yang akan datang jika masih ada yang ingin disampaikan. "


Meskipun banyak yang tidak puas namun para tamu segera meninggalkan kediaman Dimitri dengan rapih.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Maaf jika baru bisa update sekarang.... Beberapa hari ini fokus Qinan kacau.


Entah gimana ceritanya Qinan selalu melihat seseorang sedang duduk di atas tempat tidur ukuran sedang, lagi duduk sambil bersandar pada tembok dengan bantal sebagai penyangga punggung.


Untuk semalam dia mengenakan baju atau kaos putih rambut sebahu dan memakai celana tiga perempat.


Satu lagi seseorang sedang duduk di ruang tamu di kursi sofa warna merah.


Kalo ada yang sesuai tulis di kolom komentar donk


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Salam damai


__ADS_2