Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch 47. Pusaka Negara


__ADS_3

Mendengar suara tembakan yang beruntun Pak Nuruddin segera memerintahkan nya pasukan untuk bergerak.


Tak perlu menunggu lama tiga puluh orang terbagi atas sepuluh kelompok langsung turun dari atas tembok menggunakan tali.


Pasukan militer bergerak dengan sangat cepat dan lincah mendekati beberapa orang yang sedang menembak ke arah belakang.


Saat mereka sedang mengisi ulang senjata yang kehabisan peluru dari arah belakang sebuah besi dingin sudah menggores leher mereka dengan mulut dibungkam.


Para pemberontak mulai berkurang jumlahnya karena tindakan berhasil disingkirkan oleh pasukan militer.


Dua kelompok di pimpin oleh Pak Nuruddin bergerak ke belakang rumah untuk menyelamatkan Wawan.


" Cepat.... Jangan sampai terlambat. Saya khawatir dengan keselamatan Wawan dan informan yang diceritakan Wawan. "


Saat hendak memasuki rumah tiga tembakan dari arah dalam menyambut mereka.


" Dor..... dor..... dor. " Semua tentara segera berlindung di balik tembok. Berkat pelatihan yang ketat dan kewaspadaan tinggi tidak ada korban jatuh dari pihak tentara.


Sebuah bom asap dilempar ke dalam rumah. Tak berapa lama terdengar suara batuk.


" Uhuk....uhuk....."


" Dor....dor.....dor....."


Para pemberontakan menembak brutal kearah pintu.


Pandangan mereka terhalang oleh asap putih yang sangat tebal ditambah lagi mata mereka terasa pedih seperti terbakar.


Tiga orang tentara dengan mengenakan masker bergerak cepat menuju ke dalam


" Jleb..... jleb..... sreeeettttt. " suasana mendadak sunyi.


Tiga mayat tergeletak dilantai dengan leher sobek dan dada berlubang akibat serangan dadakan dari tentara.


" Amankan lokasi dan kalian bertiga kita menuju ke lantai atas. "


Pak Nuruddin bergerak menuju tempat Wawan sesuai dengan gambar denah yang diberikan Wawan.


Kembali ke perkelahian Agus dan Pak Arifin.


Agus terus melayangkan tendangan dan pukulan ke arah perut dan kepala Pak Arifin dengan ritme cepat.


Meskipun Pak Arifin lebih kuat dan berpengalaman, kembali lagi ke faktor usia dan jarang berlatih membuat Pak Arifin mulai tampak kelelahan.Hingga sebuah gerakan tipuan berhasil mengecoh dirinya.


Awalnya Agus melayangkan tendangan ke arah muka Pak Arifin.


Gerakan tersebut terbaca oleh Pak Arifin. Dengan menggunakan tangannya Pak Arifin bersiap untuk menahan. Akan tetapi gerakan tendangan di batalkan, justru agus menancapkan sebilah pisau ke dalam pinggang sebelah kanan Pak Arifin disusul pukulan yang sangat keras ke dadanya


" Aaarrch. "


Lidya menangis sejadi-jadinya saat tubuh Wawan meregang kemudian terbujur lemah.


Lidya segera bangkit dan berdiri dengan bara api di dada nya karena dendam.


" Lebih baik aku mati daripada harus menderita karena kehilangan. "


Lidya melihat Agus sedang mengayunkan pisau di tangan kirinya ke arah pinggang ayahnya.


Lidya bergerak dengan cepat untuk memukul belakang kepala Agus sedang kan agus berhasil memukul dada ayahnya.


" Krak... " Tulang kepala Agus berderak retak.


Agus memutar tubuhnya untuk tahu siapa yang sudah menyerang dari arah belakang.


Dari mata, telinga dan hidung keluar darah segar akibat pukulan Lidya yang sangat keras dan bertenaga.


Saat hendak membalas dari mulut Agus keluar darah segar. Dirinya mengalami luka dalam yang sangat parah. Tak berapa lama dirinya tumbang.


" Ayah..... " Lidya segera menolong ayahnya.


" Bagaimana dengan Wawan ? " Lidya menggelengkan kepala.


" Dia sudah meninggal ayah. "


" Angkat tangan...!!!! " ucap seorang tentara sambil mengacungkan senjata.


" Apa yang terjadi disini ? " Ucapan Pak Nuruddin berhenti saat melihat tubuh Wawan bersimbah darah.


" Saya tanya sekali lagi apa yang terjadi dengan anak ini ? "


Dipeluknya kepala Wawan.

__ADS_1


" Nak Wawan, bangun ....!!! "


Tubuh Wawan diguncang-guncang dengan keras.


" Cepat panggil tenaga medis kemari. " teriak Pak Nuruddin.


******


Tempat pemakaman umum


Di dalam sebuah mobil sedan yang terparkir cukup jauh duduk dua orang pria yang satu berusia tujuh puluh tahun dan satunya lagi berusia empat puluh tahun.


" Keberuntungan masih milik kita. "


" Untung saja anak itu meninggal... Jika tidak organisasi kita ancam terancam. "


" Benar Tuan. "


" Bagaimana dengan Arifin ? " Tanya pria tua tersebut


" Dia juga meninggal semalam di rumah sakit.Jenazahnya rencana akan di kremasi besok."


" Mari kita tinggalkan tempat ini. " Mobil sedan itu bergerak meninggalkan lokasi pemakaman. Tanpa mereka sadari sebuah mobil mengikuti dari belakang.


Disisi lain lokasi pemakaman


" Kamu yakin rencana mu pasti akan berhasil. " Tanya Pak Nuruddin kepada Wawan


" Pasti Pak... " jawab Wawan


Dari jauh nampak papah sedang memeluk mamah yang menangis sejadi-jadinya saat tubuh Wawan dimasukkan ke dalam liang lahat.


Lidya sedang dipeluk ibunya karena jatuh pingsan. Claudia menangis dalam pelukan mamahnya.


Hanya Sari yang nampak berdiri dengan menggenggam erat kedua tangannya menatap jenazah Wawan kala dimasukkan ke dalam liang kubur.


" Wan, aku mau tanya semalam yang bergelimang darah siapa ? " tanya Pak Nuruddin membuyarkan perhatian Wawan


" Saya Pak. "


" Lha terus yang sekarang sedang dimakamkan di sana itu siapa ? "


" Saya Pak. "


" Ceritanya panjang Pak. Tapi untuk saat ini saya masih belum bisa bercerita. " Mata Wawan masih melihat kearah pemakaman


" Sebenarnya tindakan saya ini terlalu berlebihan. " Kata Wawan seperti berbicara sendiri


" Tapi ini semua saya lakukan demi keselamatan mereka juga. " Terdiam sejenak


" Saya tidak tahu siapa mereka karena saat ini mereka sedang berdiri dalam kegelapan. "


" Tapi saya yakin mereka sedang mengawasi kita saat ini. "


" Apa Pak Nuruddin sudah mengerahkan beberapa orang untuk berjaga. " Tanya Wawan untuk memastikan.


" Saat ini ada sekitar sepuluh orang berjaga diluar area pemakaman dan di setiap pertigaan dan perempatan sudah ada beberapa orang berjaga. "


" Lapor Pak.... Ada mobil bergerak meninggalkan area pemakaman. "


" Minta ijin untuk mengikuti. " Lapor salah satu anggota yang berjaga lewat radio panggil.


" Tetap jaga jarak supaya target tidak merasa diikuti. Dan usahakan untuk bergantian dalam membuntuti. "


" Siap Pak. "


Wawan duduk sambil memejamkan mata. Tubuhnya terasa sangat lelah karena dua hari ini tidak tidur.


Andai malam itu bukan tubuh bayangan nya yang diserang mungkin dia tidak akan berada di sini.


Mengingat kembali kejadian dimana Wawan minta ijin ke kamar mandi. Disitu dia menggandakan tubuhnya. Wawan bersembunyi di dalam kamar mandi sedangkan yang menuju ke ruangan Pak Arifin adalah duplikatnya.


Hal itu juga dia lakukan ke tubuh Pak Arifin. Lewat ilmu yang dimilikinya Wawan menduplikat tubuh Pak Arifin yang saat ini sedang istirahat di dunia batinnya.


Dengan bersandar pada dinding mobil Wawan berkonsentrasi untuk masuk ke dalam dunia bathin. Sedang tubuh kasarnya tetap berada di luar.


Dalam dunia batin


" Bagaimana keadaan diluar Nak Wawan ? "


" Semua sesuai dengan rencana Pak."

__ADS_1


" Tubuh Wawan baru saja dikebumikan, sedangkan jenazah Pak Arifin besok akan di kremasi. "


" Hmmm. " Pak Arifin mengangguk.


" Reksageni.....Sengkulu.. hadirlah.... " Panggil Wawan.


Saat di depan Wawan muncul dua buah siluman berbentuk serigala dengan tubuh api dan seekor capung raksasa membuat Pak Arifin terjengkang ke belakang saking kagetnya.


" Hamba siap menerima perintah. " Ucap mereka berdua


" Tolong kalian ikuti mobil yang saat ini sedang dibuntuti oleh pihak yang berwajib. "


Wawan membuka telapak tangannya dan muncul sebuah layar yang bisa menampilkan situasi dimana sebuah mobil sedan hitam dengan merk volvo melaju dengan kencang masuk ke dalam jalan tol.


"Siap Tuan. " Seketika mereka berdua menghilang dan sudah nampak dalam layar sedang mengikuti mobil sedan tersebut.


Setelah berjalan selama tiga puluh menit mobil itu berhenti di depan rumah yang sangat besar dengan pekarangan yang cukup luas.


Berdiri di depan pintu tiga orang menyambut kedatangan tamu yang di dalam mobil.


Pak Arifin terkejut melihat siapa yang turun dari mobil.


" Sumitro...... Bukannya waktu itu dia terbunuh saat menyeberang perbatasan. "


" Pak Arifin kenal siapa dia.... "


" Dia salah satu penggerak dalam misi kedatangan kita waktu itu. "


"Sebenarnya apa misi Pak Arifin tanya Wawan ? " Pak Arifin diam sejenak


" Apa yang bapak takutkan hingga tidak mau bercerita ? "


" Saya bisa melakukan beberapa cara untuk membuat bapak untuk menceritakan. Akan tetapi saya hanya ingin mendengar dari mulut bapak sendiri tanpa paksaan. "


" Sebenarnya misi kita datang kesini untuk mengambil kembali pusaka peninggalan leluhur yang diambil dari negara kami. "


" Dari lima pusaka sudah dua yang berhasil kita temukan. "


" Apa fungsi dari pusaka tersebut ? "


" Jika kelima pusaka tersebut bersatu kami bisa melakukan perjalanan ke masa lalu dan masa depan. "


" Saat ini yang belum ditemukan apa ? "


" Gagang pedang berbentuk kepala naga, bilah pedang dari sebuah meteorid berwarna biru laut dan sebuah permata berwarna biru dengan inti api di dalamnya. "


Wawan segera menutup jadi manisnya. Ternyata ini adalah benda pusaka.


" Gagang pedang berbentuk kepala naga tersebut saat ini berada dalam tempat penyimpanan di dalam rumah saya. "


" Saya menyimpan nya jauh di dalam tanah dan memasang beberapa array atau kertas segel untuk menutupi aura dan pancaran energi nya. "


" Konon katanya gagang pedang tersebut kekuatan nya seperti bom atom. Layaknya batu baterai bisa digunakan untuk menyalakan listrik di seluruh dunia."


" Kalau bilah pedang dan batu giok nya ? "


" Bilah pedang bisa digunakan untuk memotong apa saja termasuk membelah gunung tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali. "


" Jika bilah pedang digabungkan dengan gagang pedang di tambah lagi batu giok maka pemiliknya akan menjadi penguasa alam semesta dan bisa pergi kemanapun dia suka seperti kamu. "


Wawan terkejut mendengar ucapan dari Pak Arifin.


" Saya tidak memiliki batu tersebut Pak. "


" Hahahaha.... "


" Kenapa kamu terkejut ? " Pak Arifin melihat ekspresi Wawan yang meski sekilas namun masih bisa melihatnya.


Wawan hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Pak Arifin.


" Kamu tidak perlu takut.Tidak ada keinginan untuk merebutnya darimu. "


Wawan diam sesaat kemudian merapalkan doa hingga waktu berhenti.


Pak Arifin berdiri mematung. Wawan menempelkan telunjuknya ke arah kening Pak Arifin.


Ratusan informasi segera diunduhnya. Wawan melihat masa lalu Pak Arifin dan tidak menemukan kebohongan dari cerita nya dari misi yang sedang dia kerjakan.


Informasi terakhir yang dia peroleh justru Pak Arifin ingin menyerah kan gagang pedang berbentuk giok tersebut kepadanya.


Wawan mendapatkan gambaran tentang letak disimpan nya gagang pedang tersebut dan cara melepas semua jebakan yang terpasang untuk melindungi keberadaannya.

__ADS_1


__ADS_2