Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 62 Hutang Penjelasan


__ADS_3

Wawan menepuk pipi Paramitha perlahan dan membuatnya tersadar dari keterkejutan nya.


" Apa kamu baik-baik saja ? "


" Bukannya kamu tadi berdiri di sana, kenapa bisa ada disini ? " Paramitha masih bingung dengan keberadaan Wawan yang berdiri di hadapan nya.


" Makhluk tadi kemana ? " Paramitha masih menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan makhluk itu.


" Yang penting sekarang kita tolong Airin dulu. "


" Nanti saja cerita nya. " Wawan menggandeng Paramitha untuk menolong Airin yang terduduk di tanah.


" Apa kamu baik-baik saja ? " Tanya Paramitha.


Bersama-sama mereka membantu Airin untuk berdiri. Di saat itu Wawan mengalirkan sedikit energinya untuk memulihkan tenaga Airin.


" Terima kasih...Sekarang jauh lebih baik." Jawab Airin sambil berdiri tegak. Tubuh nya kembali bugar dan wajahnya sudah tidak pucat lagi.


" Kamu mau kemana nanti saya antar ? "


Baru saja Paramitha menawarkan bantuan datang sepasang suami-istri dan pengawalnya berlari ke arah mereka.


" Airin... Apakah kamu baik-baik saja sayang ? " Tanya wanita itu khawatir.


" Seperti yang mamah lihat. " jawabnya pelan.


" Mama tadi mencari mu ke dalam kamar untuk memberi tahu bahwa teman papah punya kenalan yang bisa membantu menyembuhkan penyakit mu. "


" Mamah mencari ke seluruh ruangan tetapi dirimu tidak mamah temukan. Bahkan kamera pengawas pun tidak merekam jejak kepergian mu. "


" Untung keamanan taman memberi khabar bahwa dia melihat dirimu ada di sini. "


" Maaf mah, Airin sendiri juga bingung saat keluar dari kamar mandi kamar justru malah berada di depan toilet taman ini. " Airin langsung dipeluk oleh wanita tersebut.


" Maaf jika mamah kurang waspada hingga kamu bisa sampai di sini. Bersyukur nya mamah masih bisa menemukan. Sambil membelai lembut rambut putri nya.


" Mah, perkenalkan teman Airin.... Ini Mitha dan ini kekasih nya. Mereka sudah membantu Airin mengusir makhluk itu mah. " Tubuhnya sedikit bergidik


" Hai.... Saya Gissele mamahnya Airin dan ini Dimitri papahnya. Terimakasih sudah membantu anak kami. " Ucap Gissele dengan lembut dan sopan serta tubuh sedikit membungkuk memberi hormat diikuti suaminya.


"Sudah sewajarnya kita saling menolong."


Jawab Paramitha sambil sedikit membungkukkan badan membalas salam hormat mereka.


Gissele melihat perubahan pada putrinya yang sudah bisa berdiri tegak dan wajahnya lebih segar.


" Airin apakah mamah tidak salah melihat jika dirimu sudah bisa berdiri tegak dan wajahmu terlihat seperti matahari di pagi hari. '"

__ADS_1


" Mereka yang telah berjasa dalam kesembuhan Airin mah. " Jelas Airin pada mamahnya sambil tersenyum menatap Wawan dan Paramitha.


Dimitri pun baru menyadari bahwa ada perubahan pada putri semata wayang nya dan dia langsung memeluk keduanya dengan penuh kebahagiaan.


Wawan melihat ada sebuah pedang yang tertancap di punggung Dimitri saat dia membelakangi Wawan. Paramitha hendak bersuara namun genggaman Wawan dipererat memberi isyarat supaya diam.


" Kita jangan mencampuri urusan ini lebih dalam lagi sebelum tahu duduk permasalahannya. " Bisik Wawan di telinga Paramitha.


Aroma parfum yang lembut dan menggoda mengingat kan Wawan akan kejadian tadi siang. Giliran Paramitha mengingatkan dengan menggenggam erat pegangan Wawan


" Apa tadi siang kurang puas ? " Wawan hanya cengengesan menahan malu.


Mereka terhanyut dalam kegembiraan hingga Wawan ingin undur diri.


" Maaf jika kami mengganggu kebahagiaan kalian, hari sudah mulai gelap.....Kemungkinan teman-teman sudah menunggu kedatangan kami berdua. "


Wawan dan Paramitha dengan tergesa-gesa meninggalkan taman karena teringat belum mendapatkan tempat untuk istirahat malam ini.


" Tunggu..... Kalian mau kemana ? " Panggil Dimitri


" Mencari penginapan.... " Jawab Wawan sambil berlari.


" Wan, kenapa kita berlari seperti dikejar anjing ? "


" Nanti aku jelasin. "


Paramitha tidak bertanya lagi tapi jika ada waktu dia akan menuntut penjelasan pada Wawan.


" Mitha, apakah kamu punya teman di negara ini ? "


" Sebenarnya papah memiliki rumah di daerah Locronan. Tapi untuk menuju ke sana membutuhkan waktu sekitar lima sampai tujuh jam jika mengendarai kereta. "


" Tolong kamu ingat-ingat tempat itu dengan jelas sedangkan aku jemput mereka dan membawanya kemari. "


"Hmm... " Paramitha mengangguk


" Tin..... Tin... " Terdengar suara klakson sebuah taksi berwarna kuning yang berhenti agak jauh dari Paramitha.


Kaca jendela penumpang bagian belakang diturunkan dan Wawan mengayunkan tangan untuk supaya Paramitha segera mendekat.


" Lho, Bang Dicky yang jadi sopirnya. Cerita nya bagaimana ? "


" Cerita nya nanti saja... Apakah kamu sudah mengingat nya ? "


" Sudah... " Jawab Mitha dengan ketua


Wawan kembali menggenggam tangan Mitha kalau mendengar suara hati bibik yang mengganggu konsentrasi.

__ADS_1


" Cinta memang tidak mengenal usia. Meskipun Bu Mitha lebih dewasa tapi sikap nya tetap seperti gadis remaja. Tadi marah-marah sekarang senyum-senyum."


" Kalo dilihat-lihat mereka sepertinya cocok jadi pasangan kekasih. Entah mana yang berubah tapi mereka bisa terlihat seperti anak remaja. "


Wawan menepuk lengan bibik dan memberi tanda untuk diam dengan menempelkan telunjuk di mulutnya


" Ssstttt. "


" Perasaan dari tadi bibik ngga ngomong sama sekali. " gerutunya


" Bang, pertigaan depan berhenti ya. "


" Okay.... " jawab Bang Dicky


" Kita turun di sini. "


Pertama kali membuka pintu nampak sebuah baliho besar bertuliskan : bienvenue dans la ville de LOCRONAN yang artinya selamat datang di kota Locronan.


Salah satu kebanggaan Brittany yang lain, Locronan dianggap sebagai desa terindah di Perancis.


Locronan merupakan salah satu kota wisata di Perancis. Banyak rumah-rumah megah yang dibangun di abad ke delapan belas dan terdapat museum lokal yang menceritakan sejarah perindustrian tenun dan keseniannya.


Kembali ke cerita


Akhirnya mereka tiba di depan sebuah kastil yang sangat besar dengan desain abad ke delapan belas. Untuk masuk ke dalamnya mereka harus melewati sebuah jembatan sebelum melewati pintu gerbang setinggi lima meter.


" Tok... Toktoktok.... Toktok.... tok. " Paramitha mengetuk pintu dengan sandi khusus. Tak berapa lama dari arah dalam muncul tiga pelayan perempuan dan dua pelayan laki-laki menyambut kedatangan mereka.


" Selamat datang tuan putri....." Sambut mereka secara bersamaan.


Giliran Wawan sekarang yang kebingungan dengan status Paramitha. Bagaimana bisa orang Indonesia bisa memiliki status tinggi di negara ini.


" Tolong tunjukkan kamar untuk tamu saya !! "


" Baik Tuan putri... " Pelayan tersebut segera membimbing bibik, Bang Yudi dan Bang Dicky menuju kamar tamu. Wawan kembali tersadar dari lamunannya dan berjalan mengikuti pelayan itu.


" Kamu mau ke mana ? " Cegah Paramitha sambil memegang lengan Wawan


" Mau istirahat. "


" Kamu masih punya hutang penjelasan padaku."


" Mau dari mana dulu aku harus mulai ? "


" Dari awal hingga kita sampai berada disini. "


Wawan mulai bercerita kenapa dia m ngajak semua untuk pergi meninggalkan rumah dengan segera.

__ADS_1


Paramitha hampir tidak percaya dengan cerita Wawan jika saat ini tidak menunjukkan sebuah peristiwa alam yang ditampilkan di layar. Semua akibat dari pertempuran dirinya dan Wawan tadi siang.


__ADS_2