Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 21 Kilas Balik


__ADS_3

Citra sedang duduk menonton tivi ditemani Ayah dan Bunda nya. Perasaan nya gelisah. Berkali-kali dia menengok kearah kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu.


Perasaannya sangat mencekam ketakutan padahal saat ini dia berada diantara kedua orang tuanya.


" Kamu kenapa Cit...? "


" Apa ada sesuatu yang hilang....? "


" Ngga tau Bun.... perasaan Citra rasanya mencekam. "


Astari ibunya Citra segera merapalkan sebuah doa sambil terus mengawasi putrinya.


Melihat Citra gelisah Ayahnya segera memeluk putrinya. Tak berapa lama Citra berdiri dan menuju pintu depan.


Diam terpaku dengan mata terbuka lebar memandang kearah jalan. Berdiri disampingnya Ayah dan Bunda nya.


" Bun, apa yang terjadi....? " Tanya Ayah Citra.


Pak Soleh adalah manusia biasa. Dia tidak memiliki indera keenam seperti isterinya. Namun beliau adalah typikal pekerja keras, sayang keluarga.


" Bunda juga sedang mempelajari situasi."


Pandangannya masuk ke dalam alam bawah sadar anaknya.


" Dimana ini.....? "


Astari ibunya Citra berdiri di ujung lorong gelap. Dirinya tidak berani melangkah maju saat di depan nya berdiri tiga perempuan dan satu pria.


Sang pria mengenakan baju bangsawan berwarna kuning emas khas penguasa di era Majapahit dengan wajah tampan dan badan kekar. Di belakangnya berdiri seorang perempuan yang mengenakan baju putri bangsawan senada dengan pria di depannya. Memiliki wajah seperti Citra.


Sedangkan kedua perempuan yang mengikuti mereka mengenakan pakaian khas pendekar dari negeri Bambu. Cantik dan kembar identik.


Tidak jauh dari mereka berempat,Astari melihat ada seorang anak laki-laki berparas tampan mirip dengan pria yang berdiri di depan ketiga perempuan tersebut akan tetapi menggunakan baju gamis.


" Dimana Citra...? " mata astari menyusuri setiap sudut.


Setelah Mencari-cari ditemukan putri nya sedang jongkok di dekat tumpukan jemari.


Entah apa yang dibicarakan mereka Astari tidak bisa mendengar dengan jelas. Namun peristiwa yang terjadi berikutnya membuat jantung nya hampir copot saat perempuan bangsawan ditusuk dari belakang tepat dipunggung nya.


" Bundaaaaaaaaaa.... " Citra berteriak dengan kencang.... tapi mereka semua tidak peduli.


Sang pria marah dan menyerang kedua perempuan yang sudah membunuh perempuan bangsawan tersebut.


Serangan nya berhasil dihindari salah satu diantara nya dan menusukkan pedang ke leher pria itu.


dalam kondisi sekarat merangkak mendekati tubuh perempuan yang sudah meninggal. Kemudian bersumpah


" Aku berjanji di kehidupan yang akan datang tidak akan ada bahaya yang menghampirimu termasuk maut. "


Saat perempuan Berwajah oriental tersebut mengayunkan pedang untuk mengakhiri hidup Sang pria tiba-tiba patah dan kepala nya terpisah dari tubuhnya.


Muncul secara tiba-tiba dua orang di sebelah Pria itu. Satu diantara nya adalah Dewi Rengganis yang mencoba menolong Sang pria akan tetapi terlambat karena tubuhnya meleleh seperti bubur.


Suasana kembali sepi. Menyisakan dua orang dengan baju modern. Satu Citra dan seorang anak laki-laki.

__ADS_1


Astari mengenali wajah anak itu. Disentuhnya pundak Wawan dan berkata :


" Kamu tidak apa apa Nak Wawan. "


Belum mendengar jawaban dari Wawan tubuhnya sudah menghilang termasuk Citra dan dirinya.


****


Astari mendapati dirinya sudah berbaring di atas tempat tidur disamping anaknya.


" Alhamdulillah Bunda sudah sadar. "


" Apa yang terjadi Bun...? "


Astari langsung menceritakan apa yang sudah dilihatnya kepada suaminya.


*****


Rini dan Rina sedang duduk sambil mengobrol mengomentari artikel di sebuah majalah. Melihat seorang model peraga berpakaian merah hati mereka tiba-tiba marah.


Mereka berdua duduk diatas rumput yang ditutupi semak belukar. Mereka kebingungan saat tersadar berada ditempat yang sangat asing.


Kala sedang kebingungan mereka mendengar sebuah pembicaraan.


" Nek, apa kamu berhasil membubuhi racun ke dalam makanannya...? " Tanya seorang wanita memakai baju khas negri tirai bambu.


" Misi yang diberikan Tuan Puteri sudah saya jalankan. Bahkan Nenek juga berhasil menghasut anggota kerajaan untuk melakukan pemberontakan. "


" Kondisi kerajaan tersebut sekarang kacau balau. Namun sayangnya istri dari Pangeran Sethyawan tidak berhasil ditemukan. "


" Untuk menghilangkan kecurigaan nenek sudah menyiapkan kantong berisi darah."


Dengan segera kedua gadis tersebut memercikkan darah ke baju mereka dengan sedikit jijik.


Mereka menunggu cukup lama. Sampai terdengar langkah kaki dari kejauhan. Seorang pemuda sedang berlari dengan sangat kencang menuju suatu tempat.


Saat pemuda itu melintas, segera dipanggil oleh mereka.


" Pangeran.... "


" Pangeran Sethyawan.... "


" Apa yang terjadi....? "


" Kenapa kami di serang di tengah jalan.Bukankah mereka prajurit setiamu...? " fitnah mereka


" Maaf sebelumnya atas kejadian ini. Di Kerajaan sedang terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh saudara saya. "


" Sebaiknya kita bicara nanti saja. Kita cari tempat yang aman terlebih dulu. "


" Mari ikuti saya......!!! " Kedua gadis itu saling berpandangan dan tersenyum licik.


Mereka bertiga langsung bergegas pergi dengan kecepatan yang sangat tinggi karena ilmu meringankan tubuh. "


" Kenapa kedua muridku berubah menjadi sangat kejam....? "

__ADS_1


" Cinta memang bisa merubah hal yang keras menjadi lembut begitu juga sebaliknya cinta bisa merubah perilaku yang lembut menjadi jahat. "


" Kelak di kehidupan yang akan datang andai kita dipertemukan kembali pasti akan ku didik mereka dengan lemah lembut. "


Melihat tiga bayangan melesat ke suatu tempat, Rini dan Rina segera berlari mengikuti arah yang mereka tuju.


Tibalah mereka di sebuah rumah yang terletak di sebuah lorong yang minim dengan cahaya. Tampak di hadapan Rini dan Rina terjadi ketegangan.


Perempuan yang bersama Pangeran Sethyawan merasa curiga dengan kehadiran dari kedua perempuan yang mengenakan baju khas negeri tirai bambu tersebut. "


Mereka terkejut saat wajah keduanya sangat mirip dengan mereka. Tanpa disadari mereka menginjak daun kering.


" Krusek.... " Mereka menahan nafas.


Suara yang ditimbulkan tidak membuat mereka terganggu.


" Mba, kayaknya kita seperti dipertontonkan sebuah kejadian masa lalu. "


Menyadari hal itu rasa ingin tahu mereka menggelitik. Tanpa dikomando mereka berjalan mendekat. Kewaspadaan tetap mereka jaga dengan mencari tempat persembunyian diantara tumpukan jerami.


Tempat persembunyian mereka sebenarnya berdekatan dengan Wawan.


" Bagaimana mereka bisa bersamamu..? "


Tanya Citra Wardhani ke suaminya.


" Istriku, sambil berjalan nanti saya ceritakan bagaimana bisa bertemu mereka. Saat ini yang terpenting adalah kita mencari tempat persembunyian yang aman terlebih dahulu.


Baru mereka melangkah dari dada Citra Wardhani keluar darah segar akibat ditusuk dari belakang.


Rini kaget setengah mati. Tubuhnya langsung tumbang ke belakang. Untungnya segera disangga oleh Rina.


Karena sibuk menolong kakaknya adegan selanjutnya mereka tidak memperhatikan tahu- tahu Rini berteriak kesakitan namun mulutnya segera dibungkam oleh Rina kala salah satu perempuan yang diikuti mereka meregang nyawa akibat dada nya berlubang.


Rina masih melihat kala salah satu perempuan tersebut menghujamkan pedang ke leher Pangeran tersebut dan melihat Pangeran tersebut dengan bersimbah darah merayap mendekati istrinya. Pandangan Rina sedikit kabur melihat adegan keji tersebut. Saat dia menutup matanya lehernya terasa perih sekali.


" Kenapa leherku rasanya perih sekali...? "


Rina meringis kesakitan. Sambil menahan sakit di dadanya Rini berusaha menolong adiknya. Melihat apa yang terluka.


Mereka melihat dua sosok membelakangi posisi mereka menatap jenazah kedua suami istri itu.


Saat keduanya berjalan meninggalkan tempat satu diantara nya mereka kenal.


" Pendamping Wawan kah itu.....? "


kata mereka dalam hati.


Rini dan Rina tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya.


" Sepertinya situasi sudah aman Dhek. Mari kita tinggalkan tempat ini. "


Mata mereka bertemu pandang dengan nenek mereka yang sedang menarik tandu yang berisi mayat kedua murid sekaligus Cucunya. Melihat darah yang terus mengalir dari kedua mayat tersebut membuat perut mereka mual, mata berkunang-kunang. Dan mereka tidak sadarkan diri.


*******

__ADS_1


__ADS_2