Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 42 Minta Ijin


__ADS_3

" Wawan..... anakku. " teriakan mamah mengundang perhatian seluruh anggota keluarga untuk mendatangi kamar Nanda.


" Mah.... sadar mah. " tubuh mamah digoyang-goyang oleh papah


" Wawan dimana pah ? " tanya mamah dengan dengan deraian air mata.


"Wawan di kamar mah. Tadi khan lagi bareng sama teman-teman nya. " Kata Pak Edi.


" Ada apa sebenarnya ? " tanya papah


" *Tadi mamah melihat ada sebuah tombak menancap di dada Wawan Pah. "


" Dan mamah merasakan betapa kesakitan nya Wawan*. "


" Ada pertanda apa ya Pah ? "


Tanya mamah yang saat ini dipeluk oleh Nanda yang ikut menangis dalam pelukan nya.


" Dimana anakku ? " tanya mamah turun dari tempat tidur dan menuju kamar Wawan.


**


Tubuh Wawan saat ini sedang dikelilingi oleh Dewi Rengganis, Kakek Kencana dan ketiga sahabatnya.


" Dewi, kenapa kalian tidak menolong Wawan saat melawan mereka. " Tanya Anton penuh dengan amarah.


Anton tahu kemampuan dan kekuatan Dewi Rengganis sangat hebat.


" Kalo bukan karena permintaan Wawan kepada kami untuk tidak ikut campur dari awal kami sudah turut serta. "


" Kamu sahabat nya pasti lebih kenal dia han. "


Anton terdiam


Saat ini Kakek Kencana sedang mengalirkan energi untuk menghentikan racun dalam tubuh Wawan.


Sebuah kesalahan terjadi, dengan masuknya sebuah energi baru dalam jumlah besar justru membuat racun tersebut menyebar dengan sangat cepat.


Tubuh Wawan mulai berubah menjadi kehitaman. Lambat laun menjadi debu.


" Wawaaaaaaaaaan. " Teriak ketiga sahabatnya tidak menerima kematian sahabatnya.


Di dalam medan pertempuran nampak seorang bocah berdiri di udara sedang merapalkan doa.


Dari kedua telapak tangannya muncul array ( segel ) berbentuk bintang yang saat ini akan diarahkan pada kening siluman serigala yang sedang mematung.


Meski tubuhnya kaku nampak dari matanya ada kemarahan dan tidak menerima akan apa yang dilakukan bocah itu.


Dalam hatinya berkata :


" Dasar bocah tengik.... Melakukan kecurangan dalam pertempuran dan akan memasang segel penaklukan padaku. "


Ucap siluman serigala yang tidak lain adalah Sengkulu.


" Aku bukan budak manusia seperti mu. Aku tidak terima.... Jangan... Jangan. "


Teriak hati kecil Sengkulu.


" Akhirnya selesai juga memasang segel ini. "


Wawan mendengar teriakan ketiga sahabatnya memanggil-manggil namanya.


" Apa yang terjadi ? " Wawan khawatir.


Tanpa berfikir panjang dia pacu dirinya untuk terbang kearah sumber suara.


" Heh.... Kalian sedang apa ? " tanya Wawan penasaran


" Teriak-teriak kayak lihat hantu. " bentak Wawan kesal


Semua mencari-cari sumber suara yang membentak mereka.Tidak terlihat siapapun. Semua saling berpandangan.


" Aku disini... " Kata Wawan sambil cengengesan melihat semua kebingungan.


" Heh bocah.... Ngagetin orang tua. Cepat turun kemari. " Kata Kakek Kencana.


Wawan turun tepat di hadapan mereka.


" Siapa yang sedang kalian tangisi ? "


Sambil dirinya mencondongkan tubuh kearah depan


" Kamu masih hidup. " Ucap Anton


" Inikah balasan atas kebaikan yang kuberi ? "

__ADS_1


" Mendo'akan diriku cepat mati. "


" Huft.... " Dengus Wawan kesal.


" Begini Wan..... Tadi kami semua melihat dirimu terkena serangan sebuah tombak. Dan tubuh mu berubah menjadi debu. " Kartika menjelaskan kenapa mereka berbuat seperti ini.


Wawan mengerti duduk permasalahannya. Kemudian dia menjelaskan bahwa yang terkena tombak tersebut adalah bayangan nya.


Wawan memang sengaja membuat satu lagi bayangan sebagai pengecoh untuk mengalihkan perhatian siluman serigala.


Karena untuk membuat array penaklukan dibutuhkan konsentrasi tinggi dan Wawan tidak ingin rencana nya terbaca oleh lawan.


" Dewi Rengganis dan Kakek Kencana Terima kasih sudah memenuhi keinginan saya. " Kata Wawan sambil memberi hormat.


" Sekalian minta tolong untuk memberi pelajaran dan pengajaran pada kedua penyusup tersebut. "


" *Sebaiknya kita kembali, mamah saat ini sedang menuju kamar buat nengok kita. "


" Tolong apa yang sudah kalian lihat barusan jangan diceritakan ke siapapun*. "


" Satu lagi kemampuan kalian yang kalian miliki semua berasal dari Tuhan dan tidak untuk disombongkan. "


" Kalian paham. "


" Siap... kami paham. "


**


" Cekrek...... " pintu terbuka dan di dorong ke dalam oleh mamah


" Wawan, kamu tidak apa-apa Nak ? "


mamah menyerbu masuk dan memeriksa dengan teliti kondisi Wawan


" Sebentar ada apa kok mamah sangat khawatir. " Wawan melihat mata Jessica sangat bengkak akibat kebanyakan menangis.


Jessica lalu menceritakan gambaran yang sempat dia lihat. Wawan dan ketiga sahabatnya saling berpandangan.


" Mamah tenang saja..... Semua baik-baik saja kok. " Kata Wawan berusaha menenangkan mamahnya.


**


Pagi ini semua nampak sibuk termasuk Wawan dan ketiga sahabatnya. Tidak lain karena keluarga orang tua Lidya hendak datang.


Tapi sebelum nya pukul sepuluh malam Wawan mendatangi Sari untuk meminta ijin.


" Malam Mas.. " jawab Sari kala sedang duduk di depan kaca dan membersihkan wajah.


" Ada perlu apa Mas Wawan datang tiba-tiba ke kamar Sari ? " Didekati nya Wawan yang masih berdiri terpaku melihat tubuh Sari yang hanya dibalut lingerie berbahan sutra berwarna biru muda dan tanpa mengenakan apapun dibalik itu.


" Celeguk. " Wawan menelan ludah


" Mas, wajah Sari di sini.... " canda Sari saat tahu mata Wawan sedang memandang kearah mana.


" Hehehe.. Maaf. " kata Wawan sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


Sari membawa Wawan untuk duduk di pinggir tempat tidur.


Mata Wawan susah untuk di kendalikan. Berulang kali selalu memandang ke tempat yang sama. Digenggamnya pinggiran tempat tidur dengan kuat untuk mengontrol nafsunya.


Sari masih tetap berdiri di sisi sebelah kiri Wawan. Diangkat nya dagu Wawan yang sedari tadi tertunduk ke hadapan nya.


" Aku tahu maksud kedatangan mu kemari Mas. " jawab Sari


" Mamah tadi siang sudah cerita. "


" Sari hanya bisa mendoakan kebahagiaan kalian berdua dan janji Sari masih tetap sama.....Setia untuk menunggu mu disini. " Air mata Sari menetes dan jatuh ke pipi Wawan.


" Maafkan Wawan sudah membuat mu menangis. " Kata Wawan hendak pergi


" Mas.... " panggil Sari dan membuat Wawan menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan.


" Apakah di dalam hatimu ada sedikit perasaan untukku ? " tanya Sari berharap


Wawan berbalik badan


" Sari, apa yang sudah Wawan lakukan bukankah bukti tentang keseriusanku. " Ucapan Wawan langsung menembus ke dalam hati Sari.


" Mas, boleh ngga Sari jujur ? "


" Katakan.... "


" Sari cemburu.. " ucapnya lirih sambil menunduk


" Aku tahu akan perasaan mu. "

__ADS_1


" Semua yang terjadi adalah kesalahan. Dan Sari jangan berfikir akan melakukan hal yang sama. "


Meski usia Wawan lebih muda dari Sari akan tetapi pemikiran nya jauh lebih dewasa dibandingkan dengan orang dewasa. Semua itu berkat ilmu yang dia pelajari dari semua kitab dan bimbingan para guru nya selama ini.


" Kamu dan Rini adalah yang utama. Meskipun Lidya yang pertama bukan berarti bisa mengambil posisimu. "


" Kalian adalah wanitaku. Pasti akan aku jaga, lindungi dan cintai. Jangan pernah ragu. "


Kata-kata dari Wawan cukup meyakinkan hati dan perasaan Sari. Selanjutnya Sari memeluk tubuh Wawan dengan erat membuat Wawan menjadi tidak nyaman.


" Sari lepaskan...... Jangan menggodaku !" dibalas dengan cekikikan.


Ada sesuatu yang meronta dan meminta untuk dibebaskan.


Wawan mendorong tubuh dari untuk mundur.


" Besok kamu datang ke rumah ya. " dijawab dengan anggukan mantap dari Sari


Setelah pergi dari rumah Sari Wawan tidak kembali ke rumah akan tetapi menuju apartement Rini.


Tiba dalam kamar Rini, Wawan melihat bidadari nya sedang tidur di atas tempat tidur dengan cahaya temaram.


Wawan duduk di kursi meja belajar memandang tubuh Rini yang sedang tertidur. Diliriknya jam kecil di sisi nya. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari.


" Pantesan suasana begitu sunyi di kota ini ternyata sudah cukup malam untuk berkunjung."


Baru beberapa menit tubuh Rini menggeliat. Dia menyadari ada seseorang sedang berada di kamarnya. Dia mencium dua parfum yang sangat familiar di hidungnya.


" Wawan, Mba sari.... " gumam Rini lirih masih dengan mata terpejam


Rini langsung duduk. Dinyalakan lampu yang berada di samping kanannya.


" Klik. " Suasana ruangan menjadi terang.


Matanya menemukan Wawan sedang duduk di hadapannya.


" Kya...... " Rini malu saat dirinya ditatap Wawan dengan kondisi rambut acak-acakan.


" Sebentar ya. " Rini lari ke kamar mandi untuk cuci muka, sikat gigi dan merapikan rambutnya.


" Ay.... aku kangen. " Rini langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Wawan dan secara membabi buta mencium pipi Wawan secara bergantian.


Wawan makin tidak bisa berfikir kala bibirnya dilumat oleh Rini.


Baru beberapa bulan sekolah disini membuat kepribadian Rini yang pemalu menjadi lebih berani dalam menunjukkan rasa rindunya.


Wawan kehabisan nafas dan mendorong tubuh Rini mundur ke belakang.


" Apa yang kamu perbuat.... aku sampai kehabisan nafas. " kata Wawan menarik nafas panjang.


Jantung nya berdebar kencang kala melihat Rini dengan baju tidur berwarna merah. Baju yang dibelikannya terakhir kali bertemu.


Wawan hendak mengatakan sesuatu ketika dirinya ditarik dan dijatuhkan ke tempat tidur. Dan disumbat kembali mulutnya.


Satu jam sudah berlalu kala keduanya terkapar kelelahan. Nampak di wajah keduanya bersemu merah. senyum bahagia terpancar di wajah Rini.


Wawan hanya menatap langit-langit kamar kala Rini bangkit dan menuju kamar mandi.


Dilihatnya Rini berjalan dengan sedikit tertatih. Dari tempatnya tidur terlihat sebuah bercak merah.


Wawan makin pusing dibuatnya.


Wawan hendak mengatakan sesuatu dengan cepat dijawab oleh Rini.


" Aku sudah tahu Ay....... Sekarang ijinkan aku melampiaskan segala kekesalan ku. "


Rini mulai beraksi kembali.


Wawan terbangun akibat telinganya ditekankan oleh Dewi Rengganis


" Bangun...... Hari ini kamu ada pertemuan penting. "


" Terimakasih sudah diingatkan. "


" Kamu tidak berubah. " kata Dewi Rengganis


" Ay.... Aku pamit dulu ya. " Kata Wawan sambil mengecup kening Rini


Rini tersenyum dan berkata


" Janji ya......Jangan pernah lupakan aku. Kamu harus bertanggungjawab atas apa yang sudah kamu lakukan padaku. "


" Ingat itu.... " ancam Rini dengan Wawan tersenyum.


" Hmmm. "

__ADS_1


**


Tiba di kamarnya Wawan segera memantaskan diri di depan kaca dan segera bergabung dengan semua orang di depan.


__ADS_2