Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 43 Di madu


__ADS_3

Wawan keluar dari kamar dengan berdandan rapi. Nampak di depan matanya banyak orang berlalu lalang sedang menghias ruangan dengan berbagai aksesoris dan bunga.


" Aku pikir hari ini acaranya tidak terlalu formal. Kenapa sekarang banyak dekorasi terpasang di setiap sudut. "


Belum habis pikir dirinya melihat seorang wanita cantik tersenyum kepadanya.


" Wah, anak mamah sudah bangun. "


Wawan menggosok-gosokkan matanya beberapa kali saat melihat mamahnya berdandan sangat cantik.


" Wow..... Ternyata mamahku seperti bidadari dari surga. " ucap Wawan kagum


Dari belakang mamah muncul dua orang bidadari yang lain.


" Sari dan Lidya kah itu ? " Mata Wawan melotot dengan mulut terbuka


" Kenapa Mas ? " Jawab Sari dengan tersenyum



" Hari ini kalian sangat cantik sekali. Bagai pinang dibelah dua. " Mendapat jawaban seperti itu keduanya sambil tersenyum.


Dibalut busana kebaya modern berwarna merah sangat cocok dengan kulit Sari yang putih.


Baju itu mampu memperlihatkan lekukan tubuh indah Sari dan Lidya. Pinggul yang indah bagai gitar Spanyol.


Belum lagi belahan dada berbentuk V mempertontonkan sesuatu yang sedang mekar sangat memanjakan bagi siapapun yang memandang.


Leher jenjang dan bersih dihiasi oleh perpaduan antara berlian dan batu permata blue shaphire yang berkilau menambah aura keduanya makin bersinar.


Tanpa disadari oleh Wawan ketiga sahabat nya pun ikut menikmati pemandangan yang sangat jarang ditemui.


" Cantik sekali.... Betapa sempurna ciptaan Tuhan di depanku " Gumam Dwi.


Kartika dan Anton sudah tidak mampu mendeskripsikan keindahan yang tepat berada di depan mereka. Hanya ekspresi wajah m reka yang menggambarkannya saat ini. Jakun naik turun berkali-kali menelan ludah dengan mata tak berkedip.


Di belakang mereka tiba-tiba papah berdiri dan menarik telinga Kartika dan Anton.


" Apa yang sedang kalian lakukan disini ?"


" Ampun Om.... Kita lagi mengagumi kecantikan mereke berdua. " ucap Kartika dan Anton.


" Dwi, Wawan..... " papah melepas telinga Anton dan Kartika dan menarik telinga Mereka.


" Jangan ganggu dulu..... Kapan lagi melihat mamah Wawan secantik ini. " Mendengar hal itu Pak edi langsung memelintir daun telinga Dwi karena mengagumi istrinya.


" Bocah aneh kamu ya..... Suka kok sama orang tua. " Sambil membawa mereka semua untuk membantu di belakang.


" Papah, kenapa rumah ini di hias. Kapan persiapan kalian ? " tanya Wawan sambil membantu menata gelas.

__ADS_1


" Sari yang mengatur semuanya. Tadi pagi mereka datang atas perintah Sari. "


**


Dua buah mobil sedan berwarna hitam keluaran eropa memasuki halaman rumah Wawan.


Semua berjajar rapih di depan rumah untuk menyambut kedatangan dari keluarga Lidya.


Dari pintu belakang keluar seorang pria meski sudah cukup umur masih cukup gagah dan tampan. Disusul dibelakang nya seorang wanita cantik yang sangat mirip dengan Lidya.


Di Mobil berikut nya turun seorang pelayan dan diikuti seorang wanita tua.


Mereka berdiri dan berjajar kemudian membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah.


Lidya maju sedikit ke depan dan memberitahu siapa saja yang turun dari mobil.


Dari seluruh penumpang dalam mobil tersebut ada satu yang nampak aneh. Perawakan tinggi kekar, lumayan tampan menatap penuh kebencian kepada Wawan.


" Sialan, aku yang sabar menunggu bocah ini tiba-tiba datang dan mengambil pujaan hatiku. " Suara hati pemuda tersebut terdengar di telinga Wawan.


" Terima kasih Tuhan atas karuniamu memberikan kelebihan ini kepadaku. Jadi aku lebih waspada. " Ucap Wawan dalam hati


Setelah saling bersalaman semua memasuki ruangan. Sedangkan para pengawal tetap berjaga di luar termasuk pemuda itu.


Wawan berdiri di samping Sari dibelakang kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Lidya yang berdiri di belakang orang tuanya.


" Rumah yang nyaman. " Ucap Pak Arifin yang ditujukan ke mamah


" Senang bisa berkenalan dengan keluarga Nak Wawan yang sudah membantu mempertemukan saya kembali dengan ibu dan istri saya. "


" Kita hanya saling membantu Pak Arifin, sebagai manusia. " ucap papah


" Kakak Wawan sangat cantik ya. " tanya Pak Arifin menghilangkan kecanggungan.


Setinggi apapun posisinya kedatangan Pak Arifin saat ini untuk meminta Wawan untuk menjadi menantunya demi kebahagiaan anak semata wayangnya.


" Ayah salah, Kak Sari adalah istri pertama dari Mas Wawan. " Semua terkejut mendengar jawaban Lidya.


" Maksudmu ? "


" Kak Sari adalah wanitanya Mas Wawan. Mereka belum menikah secara negara karena faktor usia. " Jelas Lidya


Pak Arifin berusaha mencerna ucapan Lidya.


" Atas ijin dari Kak Sari, Lidya diperbolehkan melangkah lebih dulu. "


Pak Arifin cukup terkejut dengan penjelasan Lidya. Dia mencoba mencari jawaban atas penjelasan anaknya ke kedua orang tua Wawan.


Papah dan mamah ditatap seperti itu juga kesulitan untuk menjelaskan nya.

__ADS_1


Karena situasi yang terjadi begitu sulit untuk masuk ke dalam logika mereka.


Kapasitas mereka sebagai orang tua hanya memberi restu.


Kembali ke topik


" Begini penjelasan nya Pak .. Saya tidak pernah meminta dan memohon putri dari keluarga Sari. Saya sangat tahu diri dan mengerti akan status Keluarga kami.


Sari menggenggam tangan Wawan dengan lembut.


Sangat tidak pantas jika kami meminang putri dari keturunan keluarga Bu Ratnasari. " Ucap Wawan


" Bapak pasti tahu dengan perusahaan Kuda Terbang khan. " Pak Arifin mengangguk.


" Akan tetapi kami saling mencintai. " Sari menatap wajah Wawan dengan pipi bersemu merah


" *Dan saya berjanji dalam hati untuk selalu melindungi, menjaga hatinya untuk selalu bahagia."


" Hingga datang sebuah masalah yang cukup membuat hati Sari gelisah. " Wawan menoleh ke arah Sari*


" Dalam kondisi yang sangat genting Sari bercerita dan meminta saya untuk membantu mengatasi permasalahan saat itu. "


" Dari situlah saya mendapat restu dari nenek Sari dan menjadi pemilik saham terbesar dari perusahaan Kuda Terbang. "


" Saya tidak ada keinginan untuk mengambil putri bapak untuk dijadikan istri saya. Karena dengan Sari berada disisi saya saat ini sudah lebih dari cukup. "


" Selanjutnya apa yang terjadi antara saya dengan Lidya pasti sudah tahu. "


" Saya tidak berani meminta Lidya untuk menjadi istri saya. "


" Apa yang saya lakukan hanya berdasarkan naluri. "


"Yang namanya keluarga sudah sewajarnya berkumpul. " Jawab Wawan santai


" Mengabdi kepada negara adalah kewajiban setiap warga negara. Kita berkorban demi negara dan balasannya apa hanya Pak Arifin yang bisa menjawab. "


" Permasalahan terberat yang membebani pikiran saya bukan pertemuan hari ini Pak. "


" Saya siap dengan resiko yang terjadi jika Pak Arifin tahu status saya yang sebenarnya bergegas meninggalkan kediaman saya. " Wawan terdiam


" Apa permasalahan terberat mu ? "


Semua penasaran dengan termasuk Pak Arifin penasaran


" Saya tidak ingin menyakiti hati dan perasaan Sari. Saya tidak ingin membuat dia menangis karena kecewa."


" Musuh dan tantangan seberat apapun akan kuhadapi. " Tiga sahabat nya dan Pak Arifin mengangguk karena mereka menyaksikan sendiri setiap aksi yang dilakukan Wawan


" Saya tidak pernah takut. "

__ADS_1


" Ketakutan saya hanya satu yaitu meminta keikhlasan Sari untuk dimadu. "


__ADS_2