Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 50 Balas dendam


__ADS_3

Tiba di kota yang cukup asing memaksa Wawan untuk cepat beradaptasi.


Atas usulan dari dewi Rengganis, Wawan memanggil Bang Dicky dan Bang Yudi untuk tinggal di rumahnya.


Tak menunggu lama wawan segera pergi menemui mereka di dalam kantor dojo nya


Kala itu mereka sedang berdiskusi tentang keuangan dojo.


" Sebaiknya kita tutup saja dojo ini. Semenjak perginya Dimas kita kehilangan banyak atlit. " Ucap bang Dicky dengan sedih


" Tapi bang.... Sumber keuangan kita darimana lagi jika dojo ini ditutup. " kata bang Yudi dengan memohon


" Dari saya..... " Ucap Wawan menyela pembicaraan mereka


" Ba.... Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam sini ? "


Wawan tersenyum.


" Tidak perlu kalian bertanya bagaimana cara saya bisa berada disini. "


" Saya tahu kalian sedang kesulitan keuangan. Bagaimana jika kalian bekerja untuk saya ? "


" Kamu jangan bercanda Wan. Darimana kamu dapat uang ? " Ucap bang Yudi setelah tahu yang berbicara adalah Wawan


" Saya akan gaji kalian satu juta per bulan. Kerjaan kalian sederhana..... Jaga kediaman saya. " Wawan diam sejenak


" Jika kalian mau bisa membuka dojo di sana. Semakin banyak orang yang bisa diandalkan semakin bagus untuk saya ke depan. "


" Sebagai awal pembayaran saya berikan satu tahun gaji. " Wawan meletakkan sebuah tas kecil ke hadapan mereka.


" Dan ini alamat rumah saya. " Setelah memberikan uang Wawan langsung menghilang.


Mereka saling berpandangan dan bersama-sama membuka tas yang diberikan Wawan.


" Gila benar anak itu..... Berani bayar dimuka. " Kata Dicky


" Hmm.... "


" Apa dia tidak khawatir kalo kita kabur. "


Lewat telepati Wawan berkata


" Kalo berani kabur saja. Dimanapun tempat pasti aku bisa menemukan. "


Dicky dan Yudi mencari asal suara tersebut.


Setelah mencari ke beberapa tempat akhirnya Dicky berkata


" Sudah lah tidak perlu dicari. Bagaimana jika tawaran anak itu kita ambil ? "


" Saya ikut Abang saja. " Jawab Dicky.


Malam itu juga mereka mengemas semua barang-barang yang dirasa perlu untuk dibawa besok.


***


Surabaya


" Terima kasih atas kedatangan kalian berdua ke tempat saya. "


" Silahkan kalian gunakan kamar yang berada di dekat taman. Nanti bibik yang akan membereskan nya. Untuk kebutuhan sehari-hari akan saya tanggung dan gunakan motor atau mobil di garasi untuk transportasi. "


" Tugas kalian hanya menjadi mata dan telinga saat aku lengah. "


" Jika ada hal yang mencurigakan segera laporkan pada saya. "


" Siap. " Ucap Bang Dicky.


" Oh ya Boss..... Bagaimana jika kita mengajak tiga kawan lagi kemari. "


" Baiklah.... "


" Jangan panggil saya Boss...... panggil saja Wawan. "


**


Hari pertama masuk sekolah

__ADS_1


Dengan Seragam baru, sepatu baru, tas baru dan sekolah baru Wawan melangkah menuju halaman sekolah.


Kali ini dia tidak ingin mencari masalah. Dia tidak ingin keberadaan nya cepat terekspos oleh musuh yang memiliki koneksi yang cukup kuat.


Berjalan dengan kepala sedikit tertunduk Wawan menyusuri selasar ruang kelas nya.


Kehadiran nya di tengah-tengah warga sekolah sangat mencolok.


Bagaimana tidak.


Dengan tinggi seratus delapan puluh lima, berkulit putih, hidung mancung dan sedikit tampan ditambah lagi badan Wawan cukup sixpack langsung menarik perhatian kaum hawa.


Aura yang terpancar dari tubuhnya sangat kuat membuat semua orang terpana saat melihat nya. Bagai seorang pangeran yang turun dari singgasana untuk mencari pasangan.


Semua mata mengikuti kearah Wawan berjalan hingga dia hilang dari pandangan.


Khabar murid baru kelas tiga begitu santer menjadi pokok bahasan. Seperti dulu lagi dimana ada yang suka pasti akan ada yang iri.


Saat jam istirahat dengan santai Wawan berjalan menuju kantin. Memasuki area kantin semua aktivitas segera berhenti..... tenang dan sunyi. Semua mata terpana dengan ketampanan nya hingga sebuah suara membuyarkan mimpi mereka.


" Wah... wah... wah..... ada anak baru disini. " Roni anak kelas tiga siswa tinggal kelas selama dua kali menghadang Jalan Wawan.


" Halo apa khabar. " Sapa Wawan ramah sambil mengajak bersalaman.


Ajakan tersebut diabaikan.


" Jangan sok akrab disini. Saya bukan temanmu.... " Jawab Roni ketus


" Kalo kamu tidak ingin berteman dengan saya berarti kita sahabat dong. " Jawab Wawan masih ramah.


" Bersahabat dengan kamu....."


" Cuih...."


" Ha-ha-ha-ha.... " diikuti tawa oleh kelompok nya


" Kamu harus mematuhi peraturan yang saya buat. "


" Cium sepatu ku terlebih dahulu sebagai sebelum memasuki kantin. "


Semua mata khawatir melihat pemandangan di depan mata mereka. Roni terkenal cukup kejam kepada orang yang tidak disukai nya. Apalagi anak yang lebih tampan darinya.


Sampai hari ini tidak ada yang berani kepada nya termasuk guru karena orang tuanya adalah pemilik dari sekolah ini.


" Kamu penguasa di sekolah ini tampaknya. " Jawab Wawan datar.


" Kenapa.....?"


" Kamu tidak Terima...." Tatap Roni melotot dengan nada memprovokasi


" Bukankah seharusnya kamu yang memberi sambutan dengan berlutut dan mencium sepatu saya. " Wawan segera mengeluarkan aura dari energi yang dimilikinya untuk menekan pundak Roni.


Meski berusaha menahan tekanan pada pundaknya Roni tetap orang biasa. Tubuhnya terduduk dengan lutut sebagai tumpuan belum berhenti sampai disitu Wawan menambahkan tekanan pada kepala Roni untuk mencium sepatu nya.


Semua orang-orang berada di kantin tidak percaya akan apa yang saat ini dilihatnya. Anak paling berkuasa di sekolah mencium sepatu anak baru.


Teman-teman Roni yang akan menolong pun segera jatuh berlutut karena mendapat tekanan ratusan kilo di pundaknya.


Tubuh Roni gemetar karena marah dan malu akan tetapi tidak mampu bergerak karena tekanan yang ditujukan padanya semakin besar dan berat.


" Sekarang katakan dengan keras selamat datang penguasa baru. " Ucap Wawan lirih


" Jika kamu tidak bisa mengatakan nya jangan harap bisa berdiri dari tempat ini. "


" Kalian juga ....Cepat katakan dengan keras. " Wawan menambah tekanan pada pada Roni dan teman-temannya.


Jantung Roni seperti di remas dengan erat.


"Bbbbb baik akan saya ka... ka...Katakan."


" SE... SELAMAT DDD DATANG PENGUASA BBBBBBBARU. " Ucap mereka berbarengan.


" Bagus..... "


" Sekali lagi saya ingatkan jika kalian bertindak bodoh dan berani bermain curang saya akan memberi pelajaran lebih pada kalian......Ingat itu "


Seketika tubuh mereka terasa ringan saat terbebas dari tekanan Wawan. Hanya saja kaki mereka tidak bisa diangkat seakan-akan melekat pada lantai.

__ADS_1


Istirahat telah usai sedangkan posisi tubuh mereka masih tetap sama. Semua siswa yang melewati mereka tertunduk takut akan tetapi tersenyum puas saat melewati nya.


Wawan berdiri dan mendekati mereka setelah menghabiskan semangkuk bakso.


" Jika kamu tidak terima dengan apa yang sudah saya lakukan akan ku tunggu pembalasan darimu. " Seketika tubuh mereka bisa digerakkan kembali setelah Wawan menarik kembali energi yang menekan kaki mereka.


" Tidak pernah diriku dipermalukan seperti ini. "


" Anak itu harus merasakan pembalasan sepuluh kali lipat dari yang sudah dia lakukan padaku. " Ucap Roni dengan penuh emosi


Menjelang malam sekitar empat puluh orang dengan bersenjata parang, pipa besi dan rantai bergerak menuju ke satu tempat yaitu rumah Wawan.


Mereka awalnya sempat ragu dengan permintaan dari Roni. Akan tetapi dengan imbalan yang cukup besar dan jaminan perlindungan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan membuat mereka semua bersedia untuk melakukan nya.


" Kapan kalian akan melakukan nya ? " Tanya Roni pada salah satu pemimpin dari perusuh tersebut.


" Sekarang.... "


" Ayo maju... " Mereka segera mengenakan penutup kepala supaya tidak mudah dikenali dan masuk ke dalam rumah Wawan.


**


Wawan sedang duduk di samping rumah ditemani oleh Dicky dan Yudi. Meskipun suasana nya temaram karena lampu sengaja dimatikan akan tetapi mereka masih mampu melihat ekspresi Wawan yang berkali-kali tersenyum.


" Wan, kenapa kita harus sembunyi disini ? " Tanya Dicky


" Tak perhatikan dari tadi kamu senyum-senyum sendiri. Kamu lagi jatuh cinta ya." Tanya Yudi penasaran


" Aku lagi membayangkan jika rencana yang ku susun berhasil pasti akan terkaget-kaget mereka. "


" Aku tersenyum karena lagi membayangkan ekspresi mereka Bang. "


Dari pintu gerbang melintas bayangan orang sedang memasuki halaman rumah. Yudi dan Dicky hendak menghadang dan ditahan oleh Wawan sambil menempelkan jari telunjuk ke depan mulutnya memperingatkan merek untuk diam.


Yang awal nya satu dua kini sudah berdiri di depan pintu rumah terdapat sekitar puluhan orang dengan membawa senjata tajam.


Mereka langsung menyerbu masuk ke dalam rumah karena pintu sengaja tidak dikunci oleh Wawan.


Yudi dan Dicky melihat puluhan orang memasuki rumah akan tetapi mereka tidak melihat kemana mereka semua pergi.


" Wan, setelah mereka masuk rumah kok mereka tidak kelihatan kemana perginya."


" Ini yang tadi bikin aku tertawa Bang. "


" Ceritanya nanti......Sekarang bantu aku membereskan beberapa orang yang berada di luar. "


Wawan bersama Dicky dan Yudi segera menghampiri mobil dimana Roni dan teman-temannya berada.


" Kenapa aku tidak mendengar suara keributan dari dalam ya ? " Tanya Roni kepada salah satu teman nya.


" Coba kamu tengok apa yang terjadi !! "


Dua orang turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Wawan.


Wawan segera menghentikan waktu.....


Seketika semua aktivitas terhenti kecuali Wawan, Dicky dan Yudi.


" Wan, kenapa mobil dan motor semua berhenti. " Tanya Dicky


" *Nanti ku jelaskan semua Bang. Tapi sekarang kita tidak banyak waktu. "


" Bantu aku mengikat mereka semua. Jangan lupa tutup mata dan mulut mereka dengan plester*. "


Wawan memberikan tali dan plester dari dalam saku jaketnya.


Roni dan ke empat teman nya sudah terikat dengan kencang di depan pagar sekolah.


Dengan kode isyarat Wawan meminta Yudi dan Dicky untuk melempari tubuh kelima anak yang sudah diikat di depan pagar dengan kotoran manusia yang sudah disiapkan.


" Huek... Huek.... " Dicky dan Yudi memuntahkan semua isi dalam perut saat tercium bau kotoran yang sangat menyengat.


Wawan mengajak Dicky dan Yudi untuk pergi dari tempat tersebut.


" Wan, bagaimana dengan mobil ini. " Tanya Yudi.


" Biarkan saja Bang. Pasti keluarga mereka yang akan mengambilnya. "

__ADS_1


Lewat lorong waktu Wawan mengajak keduanya pulang


__ADS_2