Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 60 Pembantaian


__ADS_3

Puluhan mobil memasuki pusat perbelanjaan hingga menarik minat banyak orang.


Seorang pria dengan setelan jas berjalan paling depan diikuti oleh beberapa ajudan dan ratusan pria berbadan tinggi besar menuju pintu keluar pusat perbelanjaan.


" Pak Menteri berdasarkan alat ini posisi mereka tepat berada disini. " Ucap salah satu ajudannya sambil menunjukkan pentagram yang berada di tangannya.


" Periksa semua orang dan jangan terlewat kan satupun. "


" Untuk kalian, Bawa semua anak buahmu menuju pintu keluar kendaraan. " Sumitro membagi anak buahnya menjadi beberapa kelompok untuk mencari keberadaan pemilik pusaka negara.


Mereka terus mengawasi dan memeriksa setiap pengunjung yang hendak keluar. Keberadaan mereka menjadi pusat perhatian para pejalan kaki yang lewat dan secara tidak langsung mengganggu kenyamanan setiap pengunjung.


Dengan banyaknya orang didepan pintu keluar dari pihak pengelola meminta petugas keamanan untuk turun tangan mengatasi.


Sepuluh petugas keamanan bergerak cepat dan langsung mendatangi kerumunan orang yang sedang diperiksa.


" Hei apa yang sedang kalian lakukan dengan para pengunjung ? "


" Apakah kalian mempunyai izin untuk melakukan pemeriksaan ? " Bentak pimpinan dari petugas keamanan.


"Kalian tidak usah ikut campur urusan kami. " Ucap pemimpin mereka yang tidak lain adalah Sumitro.


" Permasalahan nya kalian sudah mengganggu kenyamanan pengunjung. "


" Sebenarnya apa yang sedang kalian cari sampai menggeledah tas milik pengunjung ? " Ucapnya tegas


" Bukan urusanmu. "jawab Sumitro yang sedang berdiri mengawasi anak buahnya.


" Akan jadi urusanku jika kamu melakukan hal ini di wilayah kerja kita. "


Pimpinan keamanan pusat perbelanjaan langsung bergerak maju untuk menghentikan kegiatan mereka memeriksa pengunjung.


Dia tidak takut dengan Sumitro karena sampai hari ini tidak ada satu pun orang yang berhasil mengalahkan dia. Apalagi yang dihadapi adalah pria tua dan berbadan gemuk.


Berbekal sabuk hitam dan mantan atlit nasional musuh seberat apapun sudah pernah dia hadapi.


" Hentikan kegiatan kalian memeriksa pelanggan jika tidak maka kalian akan tahu akibat nya !! " Bentaknya namun tidak digubris oleh bawahan Sumitro.


Saat dia maju ke dalam kerumunan, tanpa dia sadari Sumitro bergerak cepat dan langsung melayangkan tendangan ke arah leher pimpinan keamanan pusat perbelanjaan.


Dia tahu ada bahaya mendekat dari arah belakang namun sayang meski respon nya cepat akan tetapi tendangan yang datang lebih cepat dari reaksi dia.


" Krakkkk.... " Terdengar suara tulang leher yang patah.


" Aaaarrgh... " Pimpinan keamanan langsung jatuh tersungkur ke atas lantai sambil memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak dari mulut nya.


Beberapa rekannya yang lain sangat terkejut saat melihat pimpinan mereka hanya dengan sekali serangan langsung tumbang.


Mereka tidak menyangka akan hal itu.


" Apakah masih ada yang keberatan ? " Bentak Sumitro dengan suara keras.


" Tidak... Kami mohon selesaikan dengan secepatnya. " Ucap salah satu petugas keamanan sambil memapah pimpinan mereka yang sudah kehilangan nyawanya.


Satu jam telah berlalu namun mereka tidak menemukan apapun hingga telpon genggamnya Sumitro berbunyi.


" ( Kamu dimana ?) "


" Saya di pusat perbelanjaan Tuan. "


" Akan tetapi jejak keberadaan pusaka tersebut menghilang. "


" ( Sudah kuduga...) "


" ( Saya salut dengan insting dia.) "


" ( Oh ya Sumitro segera kamu tarik anak buah mu menuju ke tempat ku. " )


" ( Aku sudah menemukan posisi cincin Arifin.) "


****


Di depan kediaman Pak Iskandar ayah Rony

__ADS_1


" Tuan langkah selanjutnya apa ? " Tanya Sumitro


" Kerahkan seluruh anak buah mu untuk masuk ke dalam dan bunuh mereka semua. "


" Usahakan jangan sampai ada saksi dan bawa pengguna cincin itu kemari. "


" Siap... "


Sumitro langsung memimpin anak buahnya mendekati pintu masuk kediaman Pak Iskandar ayah Rony.


Setibanya di sana rombongan yang dipimpin Sumitro di hadang oleh para penjaga yang terdiri atas lima orang.


" Ada tujuan apa kalian malam-malam kemari ? " Tanya salah satu penjaga sambil tangannya di pinggang memegang gagang senjata.


" Apakah kalian sudah membuat janji ? " Tanya nya lagi


" Tujuan saya kemari untuk mengambil milik kami yang sudah di curi oleh salah satu anggota keluarga di dalam sana sekaligus membunuh kalian semua. "


Sumitro langsung melempar lima pisau kecil yang dia sembunyikan di balik punggungnya dan secara tepat mengenai kelima penjaga yan menghalangi gerakannya.


" Bagi dalam beberapa kelompok dan temukan cincin itu. " Perintah Sumitro yang langsung di laksanakan anak buahnya.


Mereka berpencar menuju kediaman Pak Iskandar. Semua yang mereka jumpai langsung dibunuh di tempat tanpa banyak bicara.


Baik anjing penjaga ataupun asisten rumah tangga mereka bunuh secara kejam.


Setelah menyisir dan membunuh penghuni di lantai satu mereka segera naik menuju lantai dua.


" Kenapa hatiku gelisah ya...? " Ucap Rony terjaga dari tidurnya. Dia segera bangkit dan berjalan menuju pintu.


Belum sempat dia membuka nya pintu tersebut sudah di dorong dari arah luar dan lima orang pria berbadan tinggi besar telah berdiri di depannya dengan memegang sebilah pedang yang berlumuran darah.


" Siapa kalian ? " Mereka tidak menjawab justru menerjang ke arah Rony sambil mengayunkan pedangnya.


Tubuh Rony merespon serangan mereka dengan cepat. Setiap serangan dan tebasan pedang dari lima orang tersebut dengan mudah dia hindari. Bahkan dia berhasil merebut salah satu pedang pria tersebut.


Tanpa menunggu lama tubuh nya bergerak dengan lincah dan meliuk-liuk seperti ular menghindari setiap serangan yang datang dan berhasil menebas putus leher mereka semua.


" Kenapa.... Kenapa tubuhku begitu ringan dalam bergerak ya ? "


" Mereka sebenarnya siapa dan kenapa datang kemari untuk membunuh ku ? "


Rony segera mengganti baju nya dan keluar dari kamar. Matanya terbelalak lebar kala melihat genangan darah mengalir dari kamar adik dan orang tuanya. Emosi nya memuncak dan menghampiri kamar adik dan orang tuanya.


Nampak di depan mata adik perempuan kesayangan nya terkapar di lantai dan bersimbah darah sedang kan ayah dan ibu nya lebih mengerikan.


Rony melihat di atas lantai jenazah ibunya penuh dengan bekas tusukan di punggung sedangkan tubuh ayahnya terbagi menjadi lima bagian.


Darahnya mendidih emosinya memuncak. Dia mendengar langkah kaki yang samar di luar kamar orang tuanya. Dia bersembunyi di balik pintu.


" Dari pancaran energi seperti nya dia berada di sini. " Ucap seseorang lirih kepada rekannya.


Dengan hati-hati tiga orang masuk ke dalam ruangan dan tanpa basa-basi mereka semua ditebas oleh Rony mengenai perut, leher dan yang terakhir ditusuk di dada menggunakan pedang samurai yang sangat tajam.


Kegaduhan tersebut mengundang puluhan orang untuk datang.


Perkelahian sudah tidak dapat dihindari. Meskipun dikepung puluhan orang Rony tidak takut dan gentar. Dengan gerakan yang lincah dan cepat dia seperti kesurupan.


Sekali pedang diayun Rony berhasil memenggal empat kepala. Suatu ketika dia mendapat tusukan dan sabetan pedang tapi anehnya tubuhnya tidak tergores sedangkan pedang yang menusuk dirinya seperti membentur besi.


Melihat kenyataan ini para penyerang terkejut namun hanya sebentar saja karena kepala mereka telah terlepas dari tubuhnya dengan mata mendelik tidak percaya.


Di sudut yang tidak terlihat nampak Sengkulu dan Reksageni mengawasi jalannya perkelahian.


" Keren juga ilmu kebal yang kamu berikan. " Puji Sengkulu


" Aku memberi tambahan tiga ilmu Kak. Selain kebal, ilmu meringankan tubuh dan satu lagi senang dengan aroma darah. "


" Jadi selain gerakan nya jadi lincah bocah itu sekali mencium darah maka dia akan kehilangan kesadaran nya dan akan membunuh siapapun target yang dikunci tanpa berhenti sebelum semua habis. "


Hanya dalam tiga menit puluhan orang telah kehilangan nyawanya dengan tubuh tercerai-berai. Tubuh Rony telah basah oleh darah dan lengket. Aroma amis darah memenuhi ruangan.


Rony segera beranjak turun menuju lantai satu dengan pedang di kedua tangannya. Di depan tangga terakhir telah menunggu puluhan orang.

__ADS_1


Amarah Rony langsung meledak kembali. Dia langsung melompat dan melakukan gerakan tebasan kearah depan dan ke samping.


Cepat, lincah, akurat serta gerakan nya tidak bisa diikuti oleh mata. Mereka semua tidak sempat menghindar dan melakukan gerakan apapun karena tahu-tahu kepala terpisah dari tubuh.


Rony tersenyum puas kala puluhan orang terbunuh hanya dalam tiga tarikan nafas.


Dia tidak menyesal atas apa yang sudah dia lakukan.


Dari jauh dua pasang mata memperhatikan setiap tindakan pembantaian yang di lakukan Rony.


" Gerakan anak itu sangat lincah dan seperti nya cincin itu telah menyatu dengan pemiliknya padahal cincinnya baru aktif sepuluh persen. "


" Iblis baru telah lahir. "


" Anak itu bisa kita gunakan sebagai alat untuk tujuan kita. " Ucap Se Chin pemimpin tertinggi organisasi sekaligus anggota khusus kerajaan dari negara tirai bambu.


" Betul Tuan. " jawab Sumitro


Tanpa berbicara lagi Se chin langsung melesat menuju Rony.


" Siapa kamu ? " Tanya Rony saat jalannya dihalangi oleh Se Chin.


" Anak muda siapa namamu ? " Se Chin bertanya balik


"Bagaimana cincin itu bisa ada padamu?"


" Namaku Rony...." jawab nya ketus


" Cincin apa yang kamu maksud. "


" Apakah semua orang ini adalah anak buah mu ? " Ucap Rony sambil menunjuk puluhan mayat yang berserakan di lantai


" Hei bocah, kalo ngomong yang sopan dengan pemimpin kami. " Bentak Sumitro diikuti ratusan orang di belakang nya.


Sumitro sudah biasa melihat darah akan tetapi melihat mayat dengan organ tubuh berserakan hasil perbuatan Rony perutnya langsung mual begitu juga dengan orang di belakangnya.


" Apakah kamu mau jadi pengikut ku ? " tanya Se Chin


" Kurang ajar kalian, sudah membunuh seluruh keluarga ku dan kini menginginkan ku menjadi pesuruh mu. "


" Langkahi dulu mayat ku. " Ucap Rony sambil berlari menuju Se Chin.


" Aaaargh..... " Tubuh Rony limbung ke tanah sambil memegang perut dan dadanya.


" Apa yang kamu lakukan ? " Rony merasakan perut dan dada nya seperti diremas.


" Jika kamu menolak dan mengkhianati ku maka dengan mudah aku akan mengambil cincin yang berada di tubuhmu. "


Perut Rony membengkak besar dan berwarna merah menyala. Dia berteriak sangat kencang.


" Jika kamu mau jadi pengikut ku maka segel dari cincin itu akan terbuka dan kamu akan memiliki kekuatan lebih dari sekarang. "


Sumitro teringat ucapan tuannya, tadi dia katakan sepuluh persen dan hasilnya seperti itu bagaimana jika kekuatan nya penuh. Tubuhnya bergidik sendiri.


Rony teringat dendamnya ke Wawan dan sejenak melupakan pembantaian keluarga nya.


" Baiklah saya akan tunduk dan patuh hanya padamu. " Ucap Rony sambil sujud di depan Se Chin.


" Bagus kalo begitu. Jangan pernah mengkhianati ku atau tubuhmu akan meledak. "


" *Bersih kan tempat ini segera...."


" Singkirkan semua mayat yang ada*. "


" Baik.... " Jawab Sumitro dan bawahan nya bersamaan.


Tak berapa lama sebuah truk besar dan mobil pemadam kebakaran memasuki pelataran rumah Rony. Mereka bergerak dengan sangat cepat membawa mayat dan menyemprot lokasi pembantaian dengan air dari mobil pemadam kebakaran.


Sedangkan Rony pingsan dan berada dalam bagasi mobil Se Chin yang sedang berjalan menuju bandara di temani Sumitro.


" Kita belum tahu akan kesetiaan anak ini. Nanti aku sendiri yang akan melatihnya. "


" Baik Tuan.... " Jawab Sumitro hormat

__ADS_1


********


Maaf jika update sering terlambat..... Kemarin perut Qinan kontraksi


__ADS_2