Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 61 Jati Diri Sengkulu


__ADS_3

Wawan tercekat melihat Rony membunuh orang dengan sangat mudahnya. Perubahan raut muka Wawan meski sekilas masuk dalam perhatian Paramitha.


" Kamu tidak apa-apa Wan. "


" Wawan baik-baik saja Bu. "


" Kenapa hari masih nampak terang ya. "


" Seharusnya saat ini khan sudah pukul sepuluh malam. "


Paramitha hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Paris sekitar lima jam.


Saat semua terdiam Wawan kembali terbayang gambaran saat Rony sedang membunuh beberapa orang dengan kejamnya.


Untuk memperbaiki suasana hatinya Wawan minta ijin untuk sekedar jalan-jalan di sekitaran taman.


Bang Dicky, Bang Yudi dan bibik cenderung lebih senang duduk di sana sambil menikmati bule-bule Perancis yang melintas di depan mereka.


Wawan sedikit terhibur saat matanya melihat banyak anak kecil bermain dan berlarian di sekitaran taman. Kadang dia tersenyum mendengar anak-anak itu berceloteh.


Secara perlahan suasana hatinya membaik. Wawan mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh taman dan tanpa sengaja matanya menangkap pemandangan yang membuat dirinya penasaran.


Di sudut lain dari taman itu seorang gadis remaja sedang berjalan dengan tubuh yang membungkuk. Bukan karena postur tubuhnya yang membungkuk akan tetapi ada sesuatu yang duduk di bahu dan menempel di kakinya.


" Apa kamu tidak kasihan melihat penderitaan gadis itu ? " Tiba-tiba Paramitha sudah duduk di sisi nya membuat Wawan sedikit terkejut.


" Bu Mitha juga melihatnya ? " Paramitha mengangguk


" Semenjak kejadian tadi siang mata batinku terbuka dan banyak penampakan yang kulihat terutama di rumahmu. Aku sendiri juga merasa aneh. "


" Oh ya Wan.... Mulai saat ini jangan panggil aku Bu.... Cukup panggil Mitha aja...." Ucap Paramitha tersenyum lembut.


" Baiklah. " Wawan menjawab dengan datar


" Meskipun kamu terlihat muda semua berbanding terbalik dengan sikap dan tindakan mu satu lagi usia mu yang lebih dari seribu tahun. " Paramitha tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


Kemudian diam sejenak dan berkata dengan nada penuh penegasan sambil memegang kedua pipinya.


" Kamu adalah lelaki ku. "


Wawan hanya menatap Mitha dan mengangguk.


" Sebaiknya kita bantu gadis itu. " Ucap Paramitha merusak suasana yang sedikit romantis


" Kalo itu keinginan mu baiklah.... Tapi bagaimana caranya ? "


" Kamu khan lebih mengerti dibandingkan aku."


Mereka segera berjalan dengan bergandengan tangan dan menghampiri gadis tersebut


" Halo.... Apa khabar....Namaku Mitha. " Gadis itu hanya menatap Wawan dan Mitha kemudian dia menjawab


" Hai...Namaku Airin, Ada yang bisa saya bantu ? " Jawabnya ramah


" Maaf sebelumnya jika pertanyaan ku sedikit tidak sopan. Sejak kapan kamu mulai merasakan kondisi seperti ini ? "

__ADS_1


Tanya Paramitha dengan hati-hati


Mendapat pertanyaan seperti itu gadis tersebut terkejut dan menatap Paramitha lebih lekat. Tubuh Paramitha sedikit gemetar saat dirinya tidak hanya ditatap oleh gadis itu akan tetapi juga ditatap oleh makhluk halus yang duduk di punggung dan memegang kaki nya. Melihat Paramitha sedikit gentar Wawan segera menggenggam tangannya erat. Perasaan terlindungi membuat perasaan Paramitha lebih tenang.


Makhluk halus tersebut yang duduk di punggung Airin seperti seorang tentara perang Dunia pertama sedangkan dua makhluk yang memegang kaki seperti bangsawan era tahun seribu sembilan ratusan dengan tubuh tanpa kaki dan isi perutnya terburai.


" Apakah kamu bisa melihat mereka ? " Paramitha mengedipkan mata dua kali sebagai jawaban.


Wawan merapal kan beberapa doa kemudian menatap Airin lebih dalam lagi dan tersenyum.


" Airin pernahkah kamu pergi ke suatu tempat dan melakukan sesuatu ? " Tanya Wawan


" Bagaimana kamu tahu ? " Tanya Airin dan di jawab dengan senyuman oleh Wawan


" Bagaimana nasib Teman-teman mu yang lain ? " Tanya Wawan penuh selidik


" Mereka saat ini hanya terbaring lemah di tempat tidur masing-masing. "


" Hanya aku yang tidak ingin seperti mereka. "


" Karena aku yakin masih ada harapan untuk sembuh. " Jawab Airin dengan penuh keyakinan dan merasakan punggung nya sedikit ringan.


Makhluk halus yang awalnya duduk di punggung Airin saat ini sedang berdiri dan berjarak hanya tiga langkah dari Wawan.


Dengan cepat Wawan menggambar pentagram ditangan kirinya dengan jari dan diarahkan ke tanah. Seketika lingkungan sekitar langsung terisolasi membentuk kubah yang kasat mata.


Paramitha dan Airin langsung terkejut dan ketakutan melihat ada tiga makhluk halus berdiri di depan Wawan dengan muka pucat dan darah menetes dari leher dan perut.


" Apa yang sudah kalian lakukan pada gadis ini ? " Tanya Wawan menggunakan bahasa Jerman.


" Bagus.... Bagus.... Bagus. "


" Yang perlu kamu tahu kalo aku tertarik dengan tubuhnya. " Kata makhluk itu dengan angkuh melihat Wawan yang kelihatan lemah.


" Sayang sekali tekadnya begitu kuat untuk bertahan. " Makhluk itu memandang Wawan dengan penuh ketertarikan.


" Aura mu cukup bagus anak muda. Serahkan tubuhmu dan aku janji akan ku kembalikan jiwa anak-anak itu. "


" Kalo itu mau mu silahkan. " Makhluk itu tubuhnya memancarkan aura berwarna merah dan mengulurkan tangannya untuk memegang kepala Wawan.


Dalam hati Wawan merapal kan doa penaklukan dan seketika tubuhnya diselimuti aura berwarna merah tepat dengan tangan makhluk halus tersebut menyentuh kepalanya sedangkan makhluk yang tidak memiliki kaki langsung menempel di paha Wawan.


Tubuh gadis itu langsung kehilangan tenaga dan jatuh terduduk di tanah sedangkan Paramitha hanya mampu menutup mulut dengan kedua tangannya.


" Wawan.... " Ucapnya lirih dengan mata mendelik.


Waktu seketika berhenti dan Wawan segera berpindah mundur tiga langkah ke belakang dan tiga makhluk tersebut kebingungan akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


" Makhluk rendahan seperti kalian berani sekali berbuat macam-macam dengan Tuanku. "


Dari arah belakang ketiga makhluk itu muncul Sengkulu dengan mata menyala merah dan kuku jari-jarinya memanjang langsung ditancapkan ke punggung makhluk halus yang tadi hendak menempel di kaki Wawan.


" Cleppp.... "


" Kroookk.... " Keduanya mengeluarkan asap hitam kemudian tubuh nya terurai dan menghilang dari pandangan Wawan.

__ADS_1


Makhluk yang seperti tentara sangat ketakutan dan berkata :


" Kamu siapa dan kenapa ikut campur dengan urusan kami ? "


" Aku adalah keturunan dari Azzura. " Seketika tubuh Sengkulu berubah menjadi wujud aslinya.


Sengkulu memiliki tubuh tinggi besar dengan kepala seperti seekor kambing bertanduk besar menantang langit, berbulu hitam dan memiliki kedua sayap di punggungnya.


" Bbbbba.... bagaimana Tuan bisa menjadi pengikutnya. " Tanya makhluk itu setelah mengenali siapa yang berdiri di sampingnya.


" Kamu tidak perlu tahu..... Tapi yang pasti kamu akan binasa saat ini. "


" Ampun..... Saya tidak tahu sebelumnya jika orang ini adalah junjungannya Tuan. "


Kata makhluk itu dengan penuh ketakutan.


" Sebenarnya apa yang sudah Airin lakukan hingga kalian ingin mengambil alih tubuh mereka ? "


" Sebenarnya anak ini tidak melakukan kesalahan apapun tapi aku suka dengan anak ini karena seperti istriku yang sekarang entah dimana dia **b**erada. " Ucapnya sedih


" Penjelasan mu tidak masuk akal. "


" Sebutkan alasan yang lain !!!"


" Karena apa yang kalian lakukan tidak hanya pada anak ini ? " Tanya Sengkulu mulai sedikit emosi karena jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan yang diinginkan nya.


" Untuk alasan lain saya tidak tahu Tuan. "


" Dimana kalian menyimpan sukma anak-anak itu ? " Tanya Wawan teringat dengan cerita Airin bahwa teman-teman nya masih tidak sadarkan diri.


Makhluk itu sambil menatap bengis ke arah wawan


" Andai tidak ada Tuan Azzura sudah ku bunuh anak ini. " Ucapnya dalam hati


" Aku tidak pernah takut dengan makhluk seperti kalian. Sekarang tunjukkan dimana tempatnya !!! " Mata Wawan mulai berubah menjadi merah menyala.


Wawan menghampiri makhluk tersebut dan memegang ujung kepalanya.


" Aaaaargh.... Lepaskan..... Aaaaaaargh. "


Makhluk tersebut berteriak dengan kencang


" Mereka menjadi tawanan Tuan kami. "


Jawab makhluk itu di sela-sela teriakkan nya


" Tunjukkan tempat nya. " Bentak Wawan


Wawan mulai merusak segel pada memori makhluk itu dan mendapatkan tempat dimana teman Airin disembunyikan. Akibatnya makhluk tersebut mulai terurai tubuhnya dan menghilang untuk selamanya.


" Sengkulu sekarang saya ada tugas untuk mu." Sambil menempelkan jari telunjuk pada keningnya.


" Siap Tuan. " Sengkulu segera pergi dari menuju alamat yang diberikan Wawan.


Sengkulu masih terheran-heran dengan kemampuan Tuannya.

__ADS_1


" Kenapa aku seperti pernah melihat tatapan mata Tuan ku saat membunuh makhluk sampah itu . "


__ADS_2