
Wawan mulai membaca doa penaklukan di dalam hatinya. Selanjutnya mengangkat kedua tangannya ke atas.
Segel perlindungan mulai terbentuk mengelilingi ruangan. Tidak lupa Wawan juga memberikan segel perlindungan pada semua orang dan paramitha. Dari telapak tangan Wawan muncul petir-petir kecil dan di arahkan ke setiap segel.
Dinding segel yang awalnya transparan mulai nampak petir yang menyambar. Ruangan yang semula temaram kini berubah menjadi terang benderang.
Tepat di belakang Wawan berdiri sesosok makhluk berwarna merah membara dengan tinggi mencapai langit-langit ruangan. Memiliki tangan yang hampir menyentuh lantai serta kuku yang panjang dan runcing serta memiliki sepasang tanduk panjang di kepalanya.
Matanya menyala merah dan dari hidungnya keluar asap menandakan sedang marah.
" *Hey manusia, jangan pernah mengganggu urusanku. "
Ucap Iblis tersebut dengan suara serak dan menggema.
Kemunculan Iblis tersebut membuat semua orang bergidik ketakutan.
" Kamu pikir dengan kemampuan yang kamu miliki bisa membuat ku takut* . "
Setelah selesai berbicara, Iblis itu langsung mengayunkan tangannya dengan sangat cepat kearah kepala Wawan.
" Awassssss dibelakang mu . " Teriak banyak orang memperingatkan Wawan
" Wusssss...brakkkkkk."
Wawan berhasil mengantisipasi serangan dari Iblis itu dengan melompat dan berguling ke depan hingga sabetan kuku tajam milik Iblis tersebut hanya menyerang angin dan mengenai lantai dan membuat cekungan yang dalam di lantai. Iblis tersebut terus melakukan serangan mematikan secara bertubi-tubi ke arah Wawan.
Wawan hanya mampu menghindar kesana kemari tanpa mampu menyerang balik.
Paramitha tidak yakin dengan apa yang dia lihat adalah sebuah sandiwara. Melihat dari cara Iblis itu menyerang, dia menginginkan Wawan untuk mati.
Kejadian ini adalah pengalaman pertama untuk semua orang. Mereka sering melihat penampakan Iblis hanya di televisi. Namun kini mereka melihat dengan mata kepala sendiri betapa beringas dan mendominasi makhluk dari neraka itu.
Kurtis dan ke-empat orang tua dari anak itu baru menyadari alasan kenapa semua orang pintar selalu berakhir tragis. Ternyata yang menahan putri mereka adalah makhluk jahat nan keji.
Kian lama Wawan kian tersudut hingga akhirnya karena lengah sebuah sabetan kuku berhasil mengenai perut Wawan
" Srettttt..... " Darah merah mengucur drngan deras dari bekas sayatan di perut.
__ADS_1
" Aaaaarrgh... " Teriak Wawan.
" Ha-ha-ha hari ini adalah akhir dari hidupmu. Jangan pernah berani mempermainkan kami. " Ucap Iblis tersebut.
Di saat kritis tersebut mata Wawan menangkap keberadaan Sengkulu yang terikat di kegelapan.
" Jadi ini bukan Sengkulu. Kalo begitu aku akan serius. " Ucap Wawan dalam hati.
Wawan segera merapal kan kembali doa penaklukan tingkat akhir.
Seketika waktu terhenti dan di sekitar Wawan terbentuk ruang hampa yang menyerupai aquarium di mana disitu hanya ada dia dan Iblis tersebut.
Luka Wawan segera menutup dengan cepat dan mulai berdiri dengan tegak. Iblis tersebut kaget melihat luka pada tubuh Wawan sembuh seketika dan yang membuat iblis makin kebingungan karena tubuhnya tidak dapat digerakkan sama sekali.
" Apa yang sudah kamu lakukan ? " Iblis tersebut berteriak dengan ekspresi marah.
" Siapa kamu berani masuk dan mengganggu ritual ku. " Ucap Wawan sambil bergerak maju.
" Hei manusia jangan berbuat curang padaku.....Cepat bebaskan tubuhku. " Ancaman Iblis itu tapi tidak dianggap oleh Wawan.
Dengan cepat Wawan memegang tanduk di kepala iblis itu.
Api yang terdapat dalam tubuh iblis tersebut mulai padam tergantikan dengan api milik Wawan yang berwarna hitam dan mengandung petir di dalamnya.
" Atas KuasaMu dan atas ijin Mu ku taklukkan iblis ini. "
" Aaaaaaaaaa. " Sebuah kalung melingkar di leher iblis tersebut dan seketika berubah menjadi wujud manusia.
" Kamu adalah makhluk abadi yang akan tetap ada sampai akhir jaman. Jadilah pengikut ku hingga tiga ratus tahun. "
" Apakah kamu bersedia ? "
" Hamba adalah Blacky akan mengabdi pada Tuan selama tiga ratus tahun tanpa pernah berkhianat. " Ucap iblis itu sambil membungkukkan badan.
" Terima kasih. "
Wawan kemudian mengeluarkan sesuatu dari alam batinnya berupa satu butir suar yang sering dipakai militer untuk menandai lokasi di tangan kiri sedangkan di tangan kanannya memegang pisau kecil dengan ukiran naga di tangan kanannya. peluru suar tersebut dan dilempar ke depan dan saat menyentuh lantai terjadi ledakan.
__ADS_1
" Jeger....... plash.....wushhh " Wawan membuat ledakan sebagai bentuk kamuflase dengan asap yang tebal ditambah kilatan seperti blitz.
Begitu array ruang hampa menghilang waktu berjalan kembali dan Wawan kembali berada di dalam ruangan.
Semua orang segera menutup mata dan telinga akibat ledakan di depan mereka serta silau akibat sinar yang begitu terang mengiringi ledakan tersebut.
Semua orang menunggu hasil pertarungan antara Wawan dan iblis tersebut. Mereka semua harap-harap cemas menantikan hasil pertarungan. Andai Iblis tersebut yang menang maka nasib mereka berada diujung tanduk.
Menunggu dengan jantung berdebar kencang itulah kondisi semua orang saat ini. Setelah beberapa saat asap mulai menghilang nampak Wawan sedang terduduk dengan bersandar pada dinding.
Semua menghela nafas lega dan bertepuk tangan dengan semangat melihat Wawan dalam kondisi baik-baik saja.
Setelah membersihkan debu yang kotor pada bajunya Wawan segera berjalan ke arah Dimitri dan meminta ijin untuk mengganti pakaian nya yang sudah koyak disusul Paramitha di belakangnya
Wawan segera mandi dan mengganti pakaiannya selanjutnya melakukan ibadah karena waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Paramitha hanya memperhatikan semua aktivitas yang dilakukan Wawan tanpa banyak pertanyaan meskipun dalam hatinya begitu banyak pertanyaan ingin diajukan.
" Sekarang waktunya. " Ucap Wawan mengejutkan Paramitha yang sedang melamun.
" Nanti aku jelaskan.... Okay. " Ucapan Wawan barusan menjawab seluruh keinginan Paramitha.
Paramitha memeluk lengan Wawan menuju ruang keluarga yang ternyata sudah nampak rapih kembali. Semua orang kini tersenyum melihat kehadiran Wawan di tengah-tengah mereka.
" Apakah semua baik-baik saja ? " Ucap Wawan kepada semua yang hadir
" Maafkan saya sebelumnya sudah membuat kalian semua ketakutan. " Sambil menangkupkan tangan ke depan wajah.
" Kami semua dalam kondisi baik, justru kami khawatir dengan keadaanmu nak. " Ucap Nicholas dengan wajah khawatir
" Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya. " Sambil menundukkan kepala sedikit.
Wawan segera menghampiri Dimitri dan bertanya :
" Apakah pesan saya sudah disampaikan kepada orang tua mereka ? " Ucap Wawan sambil melihat ke arah pentagram.
Tak menunggu lama datang ke arah Wawan pelayan membawa lima buah nampan yang berisi parfum dari masing-masing anak dan selembar kain berwarna hitam dan juga cawan serta jarum.
" Mari kita berdoa menurut keyakinan masing-masing dan semoga diberikan kelancaran dalam prosesi ini. "
__ADS_1
Wawan meminta seluruh orang tua kelima anak tersebut untuk memasuki pentagram dan berdiri di samping tubuh anak mereka masing-masing.
******