Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 37 Gunung Berapi


__ADS_3

Arifin melihat Wawan membawa dua bungkusan yang sangat berat di pundaknya.


" Ini adalah sebuah rencana. "


" Sekarang pejamkan mata kalian. Ingat jangan membuka mata sebelum aku perintahkan. "


" Hmm. " Arifin mengangguk


Seketika suasana menjadi gelap dan sunyi.


Farida sedang menyelimuti ibu mertua ketika mendengar suara pintu diketuk.


" Siapa ? "


Farida melihat seorang remaja berdiri di depan pintu.


" Kamu sedang mencari siapa ? "


" Bicara nya nanti saya.... Waktu kita tidak banyak. " Tercium bau minyak tanah memenuhi ruangan.


" Apa yang kamu lakukan? "


" Jika kamu tidak menjawab maka saya akan teriak !!! "


" Bu Farida saya mohon kamu tenang dan jangan berisik. Saya datang untuk membawamu pergi atas permintaan Pak Arifin. "


" Mengingat resiko yang ada beliau tidak bisa ikut kemari. Akan tetapi menunggu di suatu tempat. "


" Sekarang bawa ibumu kemari. Jangan bawa apapun dari rumah ini. Gunakan baju ini dan lepaskan apa yang Ibu pakai semuanya. "


" Lakukan dengan cepat. " perintah Wawan


" Baiklah. " Jawab Farida.


Meski malu tapi Farida segera melepas seluruh bajunya dan menggantinya dengan baju yang didapat dari Wawan setelah itu melakukan hal yang saya kepada ibunya.


Wawan bisa melihat tubuh dari Farida meski lewat siluet dari cahaya lampu tempel.


" Sudah belum ? " tanya Wawan lirih


" Jika sudah bawa baju kalian kemari. "


Meski sudah sering melihat mayat Farida tetap saja terkejut.


" Cepat kenakan baju kalian ke mayat ini."


Farida menangkup kan kedua tangannya berdoa sejenak dan segera melakukan apa yang diperintahkan Wawan.


Api mulai membumbung tinggi manakala lampu dinding yang digunakan Wawan mulai membesar.


" Tutup mata kalian. Jangan pernah membuka sebelum mendengar perintah saya. "


" Kalian paham. " dijawt anggukan oleh mereka.


" Blubbbbb. "Tubuh kedua wanita itu menghilang


Wawan masih menunggu dan bersembunyi di kegelapan malam sambil memperhatikan kemungkinan yang terjadi.


Setengah jam sudah berlalu warga yang datang bukannya memadamkan api tapi hanya diam dan melihat naga api sedang meliuk-liuk membakar rumah dan hamparan kebun jagung yang perlahan tapi pasti mulai merambat kemana-mana.


Wawan beranjak pergi dan menghilang.


*****

__ADS_1


Ruangan berukuran enam meter pergi dengan sebuah meja persegi panjang berasa di tengah nya.


Terlihat empat orang sedang duduk saling berpasangan mempati dia sisi yang saling berhadapan.


Mereka duduk dengan posisi tegak dan mata terpejam tanpa ada gerakan sedikit pun.


Letak telepati Wawan berkata kepada Farida dan mertuanya.


" Buka matamu perlahan, ingat jangan bersuara terlebih dahulu. "


" Pastikan orang yang didepanmu adalah orang yang kamu kenal. "


" Jika mereka bukan orang kamu kenal pejamkan matamu kembali. "


Farida dan mertuanya membuka mata perlahan. Cahaya silau dari lampu masuk ke dalam pupil matanya. Perlahan lahan muncul wajah seseorang yang awalnya tidak jelas kini mulai dikenali nya.


Matanya melotot mulutnya membentuk huruf O kemudian ditutupnya dengan telapak tangan supaya dia tidak bersuara. Tubuhnya bergetar air matanya mengalir deras.


Pandangan nya berpindah kepada gadis yang duduk disampingnya.


Wajahnya begitu mirip dengan dirinya saat muda.


Dia menengok kearah Wawan dan mengangguk.


Dalam hatinya berkata


" Dia suami ku yang sudah kutunggu kedatangan nya lima belas tahun yang lalu. "


Wawan mengangguk dan berkata lewat telepati


" Berjalan lah ke sisi nya akan tetapi tetap jangan bersuara. "


Wawan berkata kepada Arifin


" Pastikan orang yang didepanmu adalah orang yang kamu kenal. "


" Jika mereka bukan orang kamu kenal pejamkan matamu kembali. "


Arifin membuka matanya berdiri dihadapannya sosok yang selama ini dirindukan nya.


" Kalo memang kamu kenal dia peluklah. "


Lidya kebingungan mendengar suara seorang perempuan dan ayahnya sedang menangis.


Tanpa mempedulikan larangan Wawan dibukalah matanya. Dia melihat ayahnya sedang memeluk seorang wanita.


" Ayah sedang memeluk siapa ? "


Ucapan Lidya menyadarkan Arifin dan Farida serta ibu tua tersebut. Dikendurkannya pelukan pada istrinya dan berkata


" Istriku, ini Lidya anak kita. " Arifin mengenalkan Lidya kepada ibunya yang telah lama berpisah.


" Ibu...... " Lidya berlari menghampiri ibunya.


Sedangkan Arifin mendatangi ibunya dan memeluknya.


" Ibu maafkan anakmu yang baru punya kesempatan bisa menjemput mu. "


" Jangan menangis nak, ibu percaya Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali. "


Wawan berdiri disudut ruangan melihat reuni keluarga yang mengharukan itu.


" Sudah dulu reuni nya. " kata Wawan

__ADS_1


" Masih banyak yang harus dikerjakan. "


Mereka benar-benar lupa bahwa di ruangan tersebut masih ada Wawan.


" Maafkan kami jika terlalu bahagia hingga melupakan keberadaan mu disini."


" Wawan terima kasih atas bantuan yang sudah kamu berikan kepada kami. " kata Lidya sambil memeluk Wawan erat.


" Lidya.... sudah cukup. Kalo begini terus lama-lama aku tidak bisa berpaling darimu. " Bukannya di lepas justru pelukan Lidya makin erat


Kedua orang tua Lidya mendengar ucapan Wawan malah tertawa.


Berjalan bersama dan mereka membungkukkan badan sambil mengucapkan terima kasih.


" Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih dan kami berjanji akan setia dan mengikuti Tuan. "


Mendengar orang tuanya berkata demikian Lidya segera berdiri di samping neneknya dan memberikan penghormatan yang sama dengan ucapan yang berbeda.


" Saya Lidya mengucapkan terima kasih telah membuat keluarga kami berkumpul dan saya berjanji akan mengikuti, mendampingi dan mencintai Wawan sepenuh hati dan saya ikhlas meski hanya menjadi selir. "


" Haish anak ini.... terlalu polos kalau sudah bertemu dengan orang yang dipercayai nya. " kata Arifin


" Saya percayakan putri kami padamu. Meskipun kamu masih muda saya yakin kamu akan bisa memimpin putri kami dengan baik." Diikuti dengan membungkuk hormat kepada Wawan


"Saya tidak berjanji tapi akan saya usahakan untuk memenuhi janji itu."


Seketika suasana kembali berubah. Mereka semua berada di dalam ruangan bawah tanah milik Arifin.


Wawan teringat akan janjinya kepada Claudia. Dia melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Wawan segera beranjak pergi dari tempat itu. Pikiran Wawan kacau. Beberapa kali dia berpindah tempat selalu salah. Hingga akhirnya dia tiba dan muncul di kamar mandi dan tepat di bawah kucuran air dari shower yang menggantung di dinding.


Lidya sempat kaget begitu Wawan berdiri sisi nya sedangkan dia sedang tidak mengenakan sehelai kain pun.


Lidya mampu mengatasi rasa terkejut nya di dorongnya Wawan kearah sudut kamar mandi dengan dada menempel ke tubuh Wawan yang sudah basah kuyup.


" Apakah kamu sedang mengingat ku. " ucap lidya mendekatkan wajahnya ke wajah Wawan.


Wawan tidak mampu menghindar. Sedari tadi kakinya sudah tidak mampu digerakkan. Tangan lidya memeluk pinggang Wawan. Di dekatkan nya bibirnya ke arah bibir wawan.


Air laut yang awalnya tenang mulai bergoyang. Angin sepoi-sepoi mulai berputar-putar menimbulkan gelombang air yang naik turun.


Perubahan suhu mulai terjadi. Langit cerah berubah menjadi mendung. Petir mulai menyambar.


Gerimis kecil menjadi hujan yang sangat deras.


gelombang ombak terus menerus menghantam tebing dengan ritme yang awalnya pelan kini datang dengan intensitas cepat.


Air laut menyapu apa saja yang dilewatinya membasahi seluruh daerah.


Bumi berguncang hebat mengakibatkan retakan - retakan lapisan bumi.


Badai dan tsunami mulai tercipta.


Gunung berapi yang sudah lama tertidur kini mulai terlihat aktif. Tangan-tangan manusia menggapai apa saja untuk bisa mencapai puncak tertinggi.


Kedua insan saling berpegangan.


Mereka merasakan lahar panas dari dasar bumi perlahan bergerak menerobos semua saluran yang bisa dilewati.


Lapisan demi lapisan tanah diatasnya tidak mampu menahan gejolak dan desakan laju kecepatan lahar tersebut hingga akhirnya gunung tersebut meletus. Lahar membanjiri setiap sisinya


Kini suasana sudah lebih tenang dan menyisakan keadaan yang sangat berantakan.

__ADS_1


Hingga mereka tidak sadarkan diri karena terkena efek ledakan dan tsunami.


__ADS_2