
" Mba Citra, sudah belum peluknya ? "
" Wawan malu dilihatin orang tua Mba Citra." ucap Wawan lirih.
Ditatapnya wajah Wawan sejenak kemudian kepala Citra menempelkan kembali ke pelukan Wawan.
Astari melingkarkan tangan kanannya ke pinggang suaminya.
" Ayah sabar ya... "
" Hmmm... " dijawab singkat
" Sudah Citra, kasihan Wawan sampai kayak kepiting rebus mukanya karena malu. " kata Bunda Citra.
Citra segera melepas pelukannya
" Terima kasih Wan... " ucap Citra
" Bagaimana bisa kamu datang tengah malam begini di kamarku ? "
Wawan tidak bisa menjawab karena dari tadi badannya panas dingin dan baru mengalami trauma hebat... Dipeluk dari depan oleh seorang wanita.
Setelah berhasil memadamkan api dalam tubuhnya Wawan menjawab
" Wawan sendiri juga bingung Mba... "
" Soalnya tadi Wawan berada di kamar terus ada yang memanggil. Ingatan Wawan hanya aroma tubuh seseorang. "
" Berjalan dalam gelap dan menemukan aroma tubuh yang Wawan cari. "
" Hanya itu saja penjelasan dari Wawan. "
tanya Citra
" Wawan ngga bisa menjelaskan lebih Mba. "
" Kalo begitu Wawan segera pergi dari kamar Mba Citra. "
" Jangan lupa cerita ke orang tuamu kalo anaknya sudah menodai seorang gadis. Ditunggu tanggung jawabnya..!!!! "
" Tapi Mba.... " sanggah Wawan
" Kalo tidak Mba Citra akan bercerita kepada dunia bahwa Wawan laki-laki tidak bertanggung jawab. "
" Citra jangan becanda sama Wawan. " tegur ibu nya.
" Tubuh Citra hanya boleh disentuh oleh suami Citra Bunda. Ayah tolong bela Citra. " sambil mengerlingkan mata
" Demi anak ayah pasti akan kuperjuangkan. "
Wawan semakin nampak ketakutan.
" Om, saat ini Wawan masih anak-anak. Tapi Wawan janji jika tiba waktunya Wawan akan datang kembali. "
jawab Wawan mantap
" Janjimu sebagai laki-laki Om pegang. "
" Sekarang pulanglah.... sudah larut malam. "
*****
Wawan malam ini sulit memejamkan mata. Sudah hampir dua jam berlalu semenjak dirinya diantar pulang oleh Ayah Mba Citra.
Setelah mengucapkan salam Dewi Rengganis bertanya :
" Apa yang sedang kamu pikirkan Wan ? "
" Wawan ngga bisa mikir Nis. "
" Terkait ucapan Citra. " Wawan mengangguk
__ADS_1
" Tidak perlu kamu pikirkan. Yang terpenting kamu selesaikan dulu janjimu terkait permasalahan Stephanie. "
" Sebaiknya kamu istirahat terlebih dahulu. "
*****
Menjelang siang dengan diantar Mas Wahid menuju Semarang.
" Benar Wan, disini alamatnya....? "
" Informasi yang Wawan dapat begitu Mas. "
" Ting-tong "
Nampak seseorang gadis berjalan ke arah pintu . Berwajah oriental dengan menggunakan setelan kasual berwarna putih dan celana pendek sangat sesuai dengan tubuhnya yang putih dan rambut panjang nya yang terurai lurus.
" Selamat siang Kak.....Apa benar ini kediaman Bu Ratnasari ? "
Perempuan tersebut nampak ragu untuk menjawab.
" Apa saya bisa bertemu dengan Ibu Ratnasari ? "
" Maaf dengan siapa dan dari mana ya...? "
" Nama saya Wawan Kak, rumah saya di Pondok Indraprasta. "
" Ada hal penting yang harus Saya sampaikan terkait almarhum Ibu Stephanie ? "
" Mas Wawan kenal Ibu saya ? "
" Bu Stephanie mendatangi saya Kak dan meminta tolong untuk disampaikan pesan dari almarhumah. "
Gadis tersebut kembali mendengar ucapan Wawan dan seperti sedang berfikir sesuatu.
" Sampaikan ini kepada Bu Ratnasari. "
Wawan menyerahkan sebuah kalung dengan liontin kecil dengan foto di dalamnya yang sudah usang.
Wawan menunggu di teras rumah sambil duduk ditemani Mas Wahid. Sedangkan gadis tersebut masuk ke dalam dan mengunci pintu.
" Sebenarnya ada apa sich Wan? "
" Kenapa anak itu seperti terkejut dan harus mengunci pintu kembali. "
" Huft " Mas Wahid mnghela nafas
Tak berapa lama terdengar anak kunci diputar. Keluar dari dalam seorang wanita yang berusia enam puluh tahunan ditemani gadis itu dan seorang pria.
" Mas Wawan ya..... "
" Maaf kalo cucu saya dalam penyambutan kurang sopan... Mari silahkan masuk. " ucap nenek tersebut sekedar basa basi tapi kenyataan nya tetap memasang muka curiga.
" Maaf Bu Ratnasari atas kedatangan saya yang secara mendadak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. "
" Sebenarnya saya juga enggan untuk datang kemari. Alasannya simpel karena saya tidak ingin ikut campur terkait permasalahan kalian. "
ucap Wawan dengan nada penekanan. Manakala dia melihat Stephanie berdiri disisi ibunya didampingi Dewi Rengganis.
" Stephanie datang menemui saya untuk minta tolong guna menyampaikan pesan terkait jenazah dia. "
" Ditambah lagi Stephanie juga mengatakan untuk membuktikan kebenaran ceritanya dia memberitahu letak penyimpanan barang-barang berharganya, apa yang disukai ibunya dan moment moment penting selama bersama Bu Ratnasari. "
Setelah itu Wawan menceritakan kembali apa yang disampaikan Stephanie.
Mendengar cerita Wawan Bu Ratnasari meneteskan air mata.
Saat Wawan usai bercerita Pria disamping Bu Ratnasari geram.
" Kurang ajar. Tidak cukup mengambil alih perusahaan milik Kakakku. Dia juga membunuhnya. "
" Robert, tolong kendalikan emosimu. "
__ADS_1
" Iya Ibu.... Wawan terima kasih atas informasi yang diberikan kepada kami. "
Robert menangkupkan kedua tangan nya di depan muka. Wawan mengangguk
" Mas Wawan, apakah saat ini Stephanie ada disini ? " dijawab anggukan oleh Wawan
" Bisakah saya berbicara dengan anak saya ? " Wawan menatap Dewi Rengganis dan dijawab senyuman olehnya.
" Baiklah.. "
" Tolong kunci pintu pagar, tutup pintu dan semua tirai yang ada disini. "
perintah Wawan dengan sok.
" Improvisasi sedikit ach biar kelihatan lebih mantap. " ucap Wawan dalam hati sambil tersenyum
" Apakah disini tidak ada teh hangat Bu.... saya haus. " kembali Wawan iseng
" Maaf sampai saya lupa membuatkan minum. " Kata Bu Ratnasari
Tanpa di perintah Robert berlari ke dapur untuk membuatkan minum tamunya meskipun di rumah tersebut ada asisten rumah tangga.
" Terima kasih. " ucap Wawan setelah meneguk habis isi didalam gelasnya.
Wawan mengusap kedua mata Bu Ratnasari, Robert dan gadis itu.
" Hadirlah..... sampaikan apa yang menjadi keinginan mu. " Wawan menjentikkan jarinya seperti pesulap.
" Ibu..... Robert... anakku Ratna.... "
Stephanie memanggil keluarga tercintanya dengan derai air mata karena rasa rindu yang sangat mendalam.
" Stephanie.... "
Ibu Ratnasari berteriak, air matanya mengalir bagai anak sungai. Bergegas bangkit dari duduknya untuk memeluk anaknya.
Akan tetapi dia hanya menyentuh angin. Semua menangis melepas rasa rindu.
Pemandangan yang begitu mengharukan.
Mata Wawan berkaca-kaca menyaksikan adegan di depannya.
Setelah semua kembali tenang, Stephanie berbicara :
" Ibu, Robert tolong kremasi tulangku supaya arwahku tenang. "
" Waktuku sudah tidak banyak. " ucap Stephanie mendapat isyarat dari Wawan.
" Satu lagi pesanku berikan sebagian dari saham perusahaan untuk Mas Wawan. "
" Tanpa bantuan beliau tidak mungkin aku bisa melihat keluarga ku untuk terakhir kalinya. " Stephanie hendak pamit manakala muncul di belakang ibunya berdiri ayah, kakeknya.
" Ibu, ada yang ingin bertemu... "
" Istriku.... " Bu Ratnasari terkejut mendengar suara suaminya.
" Suamiku..... " Wajah Bu Ratnasari seketika berubah menjadi lelah. Dulu semasa hidupnya suaminya lah yang selalu menguatkan manakala dia lemah.
" Terima kasih kamu telah menjaga keluarga ini sendirian. Stephanie akan bergabung dengan kami. "
" Ayah... " Panggil Bu Ratnasari ke sosok tua disamping suaminya.
" Kamu adalah wanita kuat. Bimbinganmu sangat dibutuhkan oleh anak dan cucumu. "
Meski tidak bisa merasakan sentuhan dari ayahnya Bu Ratnasari kembali dengan sikap awal. Tegas dan bersahaja.
" Ratna, Nak Wawan sudah berjanji untuk melindungi keluarga kita untuk tiga generasi. "
" Tolong hormati dia. " Baik Ayah ucap Bu Ratnasari patuh tanpa bertanya.
" Waktu kita sudah habis. Saat waktunya tiba kami semua akan menunggu mu untuk berkumpul kembali. "
__ADS_1
Suasana menjadi terang benderang dan membuat semua mata silau. Sekejab kemudian menjadi seperti keadaan semula.