
" Bunda, ayah kenapa ? "
" Setiap kali berpapasan dengan Citra roman mukanya datar. Tidak seperti biasanya. "
" Kenapa Citra ngga tanya langsung ? "
" Citra takut membangunkan macan tidur Bun. "
Tubuh Citra bergidik membayangkan apa yang akan terjadi.
" Citra.... Duduk disebelah ayah Nak !!! "
" Dag.. dig... dug.. " suara jantung Citra seperti bermain rock n roll.
Duduk diam disebelah ayahnya membuat hatinya menciut.
" Citra..... " ditatapnya wajah putri semata wayang nya
" Kamu serius dengan perkataan mu semalam ? "
" Citra hanya bercanda ayah... Jangan sampai mengganggu pikiran ayah. "
" Kamu suka sama Wawan ? "
Citra hanya diam menunduk.
" Dalam hidup ayah, ada dua peristiwa selalu membuat hati papah bahagia. "
" Kamu pengin tahu ngga... "
Citra mengangguk
" Yang pertama saat Bunda menerima lamaran ayah. Saat itu ayah merasa mendapatkan kemenangan yang sangat luar biasa. Bisa memenangkan hati bundamu. "
" Yang kedua hadirnya buah cinta kasih diantara kita. "
" Masih teringat dengan jelas wewangian yang menempel di tubuh kecil itu. Tangismu, senyummu dan saat kamu ketakutan dan butuh perlindungan kamu lari dalam pelukan ayah. "
nampak sebutir air mata menetes dari sudut matanya yang sudah berkeriput.
" Ayah, Citra minta maaf akan kejadian tadi malam. " Citra peluk ayahnya sambil menangis
" Jangan acuhkan Citra yah.... "
" Kamu tidak salah Nak. "
" Ayah yang belum siap jika perhatianmu suatu saat terbagi. "
******
" Ibu, langkah selanjutnya apa? " tanya Robert
" Sebaiknya kamu tanya sama Nak Wawan. "
Wawan kagum dengan keluarga Bu Ratnasari. Secara latar belakang mereka bukan kalangan orang biasa di kota ini.
Namun untuk masalah etika meskipun Wawan lebih muda dibandingkan cucunya asal kepala rumah tangga meminta untuk menghormati pasti akan dipatuhi.
" Mas, langkah berikutnya apa ? "
tanya Robert
Berkat kemampuan yang sering dilatih dan banyak buku yang dibaca logika dan nalar Wawan sudah melebihi kemampuan anak seumur nya.
Setelah diam dan berfikir sejenak Wawan mengeluarkan pendapatnya. :
" Langkah yang harus diambil pertama kali adalah hubungi pengacara terlebih dahulu dan kepolisian. "
" Selanjutnya nanti urusan saya. "
" Kalau bisa diusahakan semua hari ini. "
Seperti mendapat perintah dari atasan Robert segera menghubungi pengacara keluarga dan pimpinan kepolisian tertinggi setempat.
Siang itu semua sibuk menelpon. Tatapan Wawan tertuju pada cucu Bu Ratnasari.
" Nama kamu Ratnasari ? "
" Hmm. " sambil tersenyum
" Tapi biasa dipanggil Sari. "
" Kenapa kamu dari tadi hanya berdiam diri disitu ? "
" Saya tidak punya kapasitas bicara jika tidak ditanya. "
__ADS_1
" Sama seperti saudaramu yang hanya duduk diam di pojokkan. "
" Baru kali ini saya ketemu orang yang sangat pendiam. "
" Mas, saya paham status saya disini. Kakek begitu menghormati mu itu berarti posisimu dengan nenek adalah sama. "
Sedari tadi Mas Wahid selalu memperhatikan Sari. Jiwa Wawan Tergelitik.
" Sari, apa kamu akan mematuhi perintah ku seperti kamu mematuhi perintah nenekmu ? " Sari mengangguk mantap
Wawan tersenyum licik
" Andai kamu saya minta berpacaran dengan kakak saya. Apakah kamu berkenan ? " Sari terdiam cukup lama. Dia tahu kakak Wawan cukup tampan akan tetapi pilihannya bukan dia.
" Apakah Sari punya pilihan ? " jawabnya tenang dan bersahaja.
" Pertanyaan saya khan hanya andai tentu kamu masih bisa memilih. "
Sari tersenyum.
" Andai boleh memilih Sari justru bersedia menjadi istri Mas Wawan. "
" Glek.... " Wawan tersenyum kecut.
" Mampus lho. " kata Mas Wahid
" Orang lagi menikmati ciptaan Tuhan malah kamu isengin. "
"Kena batunya Khan. " Mas Wahid tertawa bahagia
" Sari tadi itu pertanyaan iseng kok. Jangan dimasukkan ke hati lho. "
" Buat Sari, bisa melayani dan mengabdi ke Mas Wawan adalah sebuah kehormatan. " ucap Sari dengan muka serius.
" Saya masih terlalu muda untukmu. "
" Sari siap membimbing Mas Wawan untuk hal-hal yang Mas Wawan tidak ketahui. "
Dari dalam muncul Bu Ratnasari didampingi oleh Robert.
" Nenek dengar dari dalam apa yang sedang kalian bicarakan. "
" Cucu nenek punya kepribadian yang baik. Jika Nak Wawan menginginkan nya nenek bersyukur dan pasti merestui. "
Ucapan Bu Ratnasari mantap setelah melihat sebuah cincin yang melingkar di jari telunjuk Wawan.
Wawan makin orang pucat pasi.
" Anis, kamu dimana ? " panggil Wawan dalam hati.
" Saya masih disini. " Dewi Rengganis menampakkan diri.
" Kenapa keberadaan mu tidak bisa Wawan lihat. " ucapnya dalam hati
" Itu adalah salah satu kelebihan yang kamu miliki. Bisa menentukan apa saja yang ingin dilihat dan tidak. "
" Sekarang aku harus bagaimana ? "
" Kembali ke dirimu, apakah kamu menginginkan nya atau tidak ? "
" Kalau saya menolak bagaimana ? "
" Itulah kesalahan mu di masa lalu. "
" Kalo saya menerima. "
" Itulah tantangan mu di masa depan. "
" Jawaban yang sangat membingungkan."
" Semakin banyak Koalisi maka akan semakin baik untuk dirimu di masa yang akan datang. "
" Itu saranku dan keputusan kembali lagi ke kamu. "
" Bagaimana Nak Wawan ? " tanya nenek setelah melihat Wawan terdiam cukup lama.
" Akan saya pikirkan setelah masalah ini selesai. "
" Semoga jawabannya tidak membuat kamu kecewa. "
Sari tertunduk malu dengan wajah bersemu merah yang makin kentara karena kulitnya yang sebening porselen saat Wawan menatapnya.
"Tok... tok... "
" Silahkan masuk Pak.... " ucap nenek saat melihat seorang pria berdiri di depan pintu dengan diikuti oleh empat petugas berbaju dinas kepolisian.
__ADS_1
" Selamat sore Bu... "
" Sudah lama kita tidak bertemu. "
Kata kepala Polisi yang bernama Nuruddin menyalami Bu Ratnasari
" Saya harus bercerita darimana karena bingung menjelaskannya. "
" Sebaiknya Pak Nuruddin langsung berbicara dengan jizu kami. " Bu Ratnasari menuunjuk Wawan sebagai jizu nya. ( jizu adalah malaikat pelindung dalam keluarga China)
Melihat Wawan Pak Nuruddin nampak kebingungan. Bagaimana seorang bocah bisa menjadi bagian penting dalam keluarga terhormat ini.
Meskipun ragu tapi insting polisinya berkata lain.
" Baiklah, kalo boleh tahu namanya siapa ? "
" Nama saya Wawan Setyawan Pak. "
" Pak Nuruddin pasti bertanya siapa saya dan apa bukti untuk mengungkap kasus ini khan ? "
" Bagaimana anak ini tahu apa yang kupikirkan ? " ucap Pak Nuruddin dalam hati.
" Mencari bukti bukan tugas saya Pak. "
" Tapi gambaran yang akan saya tunjukkan nanti bisa menuntun bapak menemukan bukti untuk mengungkap kasus ini.
" Gambaran apa yang ingin Wawan tunjukkan kepada saya. "
Pak Nuruddin masih belum yakin bahwa anak di depannya bisa menemukan bukti yang memberatkan sedangkan dulu team yang dibentuk kepolisian sempat menjadi jadi bahan olokan media massa.
" Bapak perintah kan semua petugas yang bersama Pak Nuruddin ikut dengan saya sekarang. "
Wawan meminta Sari untuk mengambil garam di dapur.
Wawan membuat lingkaran yang cukup untuk menampung lima petugas kepolisian ditambah dengan Wawan, Mas Wahid dan Robert.
Sebenarnya Bu Ratnasari ingin ikut bersama, tapi dilarang oleh Wawan karena ini masih uji coba.
Wawan tidak ingin kejadian memalukan itu terulang lagi.
Semua berdiri dalam lingkaran disaksikan oleh Bu Ratnasari dan cucunya Sari.
" Robert, kamu masih ingat suasana rumah Stephanie. " dijawab anggukan kepala
" Sekarang tolong kamu ingat perjalanan menuju ke rumah Stephanie, gerbangnya, tamannya dan suasana nya rumahnya!!! "
" Kalo sudah tergambar anggukkan kepala. " setelah menunggu lima menit Robert mengangguk.
Semua nampak cemas dengan apa yang akan dilakukan Wawan. Demi mendapatkan bukti dan nama baik kepolisian yang sempat tercoreng mereka memantapkan diri.
" Pejamkan mata sekarang. "
******
Berdiri di halaman rumah yang sangat luas dengan dengan desain ala eropa Wawan ketujuh orang lainnya berada.
" Sekarang buka mata kalian semua. "
Robert terkejut saat berada di halaman tersebut. Ingatannya seperti dibawa ke masa lalu.
" Mas Wawan, kita sekarang dimana ? "
" Kita berada di rumah Stephanie tepat di hari keberangkatan dia ke luar negeri. "
" Apa? " Robert terkejut sekali lagi
" Kita datang kesini untuk mencari bukti. Bukan untuk bernostalgia. "
" Pak Nuruddin, perintah kan anak buah bapak untuk segera bergerak. Waktu kita paling lama dua jam. Sebelum petang kita harus kembali. "
Segera ke empat ajudan Pak Nuruddin bergerak sesuai dengan perintah dan insting polisi mereka.
Bergerak bersama menuju pintu masuk utama sebelum akhirnya berpisah.
Polisi pertama melihat sebuah mobil keluaran eropa BMW Seri tiga sedang parkir di depan pintu dengan bagasi terbuka. Terlihat seseorang sedang sibuk memasukkan koper ke dalam bagasi.
Dia berdiri disamping Slamet. Polisi itu tidak khawatir ketahuan karena dari awal Wawan sudah menjelaskan bahwa kita tidak dapat dilihat mereka.
Robert mengenali orang tersebut dan berkata :
" Itu sopir pribadi kakak saya Pak....Namanya Slamet. "
" Berdasarkan laporan dia menghilang bersamaan dengan menghilangnya Bu Stephanie. " kata Pak Nuruddin
" Apa yang akan dia lakukan ? "
__ADS_1
" Karena bisa jadi dia adalah saksi atau tersangka. "