
Wawan hanya terdiam saat memikirkan kenekatan kedua gadis itu dalam mengambil sumpah untuk bertahan demi dirinya.
" Kenapa kamu diam Wan ? " Tanya Paramitha
" Wawan ngga papa Bu. "
" Ibu sudah makan belum....Wawan lapar."
" Mau saya masakin. " Wawan mengangguk dan menuju sofa untuk duduk.
Setelah Paramitha beranjak ke dapur dengan menggunakan telepati dia m manggil gurunya
" Bibi Gi-Gi hadir...... "
Seketika kedua kumbang muncul di hadapan Wawan.
Paramitha dari dapur sangat terkejut melihat kehadiran kumbang yang sangat besar dihadapan Wawan. Tubuhnya sedikit gemetar karena baru kali ini melihat macan kumbang yang ukuran nya sebesar sapi.
Keduanya menoleh dan tersenyum manakala kehadiran mereka diketahui oleh Paramitha sedangkan Wawan tetap fokus berbicara melalui telepati.
" Bibi, Wawan ingin tahu siapa yang telah berani mencelakai kami. "
" Aku ingin membuat perhitungan dengan mereka nanti malam. "
" Bisakah carikan informasi untukku ? "
Mereka berdua hanya mengangguk kemudian menghilang.
Wawan masih duduk di atas sofa sambil memejamkan mata. Kemudian lewat telepati dia perintahkan semua bawahannya untuk bersiap dengan segala kemungkinan yang ada.
" Makanannya sudah siap... " Ucap Paramitha membawa semangkuk sup ayam yang masih mengepulkan uap.
Setelah selesai makan Paramitha membuka suara :
" Wan, saya boleh tanya ? "
" Hmmm.... "
" Apakah kedua kumbang tadi milikmu ? "
" Hmmm...Apakah Ibu bisa melihat mereka." Paramitha mengangguk
" Kalian seperti nya saling berkomunikasi. Apa yang sedang kamu rencanakan ? "
" Mereka hanya melakukan kunjungan aja Bu.....Tidak lebih. "
" Apakah kamu menutupi sesuatu ? "
Wawan tersenyum dan menjawab
" Apakah Ibu khawatir ? " Wawan memasang mimik jenaka
" Pastilah.... "
" Saya merasa kejadian kemarin ada kaitannya denganmu. "
" Soalnya setelah kejadian tersebut saya konfirmasi ke kantor pusat mereka tidak melakukan panggilan penting. "
__ADS_1
" Saat ini pihak berwajib sedang menyelidiki kasus kamu. "
" Apa tujuan mereka hingga berniat menyingkirkan saya ? "
" Apakah kamu memiliki rahasia yang tidak ingin orang lain mengetahui ? "
Wawan terkejut dengan penjelasan Paramitha. Sejauh inikah analisa dari pihak yang berwajib.
" Intuisi saya mengatakan bahwa kamu telah menyinggung suatu golongan. "
" Bu, Wawan khan masih anak-anak. "
" Hanya teman dan riwayat dirimu yang mengatakan kamu masih anak-anak. "
Wawan terdiam
" Kamu adalah jiwa yang terjebak dalam tubuh anak-anak. "
" Apa maksud Ibu ? "
" Ikut saya. " Paramitha berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam kamar yang pernah di gunakan nya.
" Tutup pintunya. " Wawan mengikuti apa yang diperintahkan nya
" Kemari lah.... " Paramitha menarik sebuah kursi dan meminta Wawan untuk duduk di dekatnya
Wawan melangkah dengan ragu mendekat ke arah Paramitha.
" Sekarang ceritakan padaku siapa kamu yang sebenarnya !! " Ucap Paramitha dengan nada tegas
" Apa maksud dari pertanyaan Ibu ? " Wawan mencoba bersikap tenang
" Sejak lahir tanda itu sudah ada Bu tapi mulai tampak jelas waktu Wawan menginjak kelas tiga SD. "
" Bagaimana Ibu bisa tahu kalo saya memiliki tanda segitiga di lengan kiri bagian dalam ? "
" Aku secara tidak sengaja melihat tanda segitiga di lengan sebelah kiri bagian dalam saat perawat sedang membasuh tubuhmu saat sedang koma. " Paramitha menarik napas sejenak.
" Apakah tanda itu memiliki sebuah arti buat Ibu ? " Paramitha mengangguk.
Paramitha mulai bercerita
" Aku sering bermimpi sedang duduk di bawah pohon bersama seorang pria dan wanita dimana pria itu tiduran dengan menggunakan lengan tangannya sebagai bantal kepala. "
" Sejak kapan Ibu mulai bermimpi ? "
" Mimpi itu mulai datang sejak lima tahun yang lalu. "
" Bolehkah saya melanjutkan cerita ? "
Wawan mengangguk
" *Tiba-tiba pria tersebut duduk dan berbicara kepada kedua perempuan tersebut. "
" Besok aku akan melakukan perjalanan yang sangat jauh untuk kembali ke kampung halaman*. "
" Andai kalian tidak memiliki kewajiban untuk menjaga dan melindungi rakyat pasti aku akan senang mempunyai teman dalam perjalanan. "
__ADS_1
" Jika kalian sudah menemukan pengganti segeralah menyusul ke tempatku Berada."
" Kedua gadis itu hanya mampu meneteskan air mata mendengar ucapan pria tersebut. "
" Entah bagaimana caranya pria tersebut bisa mengeluarkan sebuah pedang lengkap dengan sarungnya dan memiliki gagang yang cukup menarik karena ada ukiran berbentuk kepala naga dan sebuah cincin giok berwarna hijau. "
" *Pria tersebut melepas sarung dari pedang tersebut. "
" Nampak sebuah pedang dengan bilah berwarna biru menyala lembut*. "
" Anjani ku serahkan setengah dari pedang mustika ini padamu. Kamu akan kebal terhadap racun, kamu bisa membaca pikiran orang lain, dan kamu bisa membuat perisai untuk melindungi dirimu dari serangan apapun. "
" Dan pastinya dengan memiliki sarung pedang ini dia akan membantu mu dengan cepat menemukan diriku. "
" Perempuan yang bernama Anjani menerima pemberian sarung pedang tersebut. "
" Pria tersebut melakukan sebuah gerakan tangan dan tiba-tiba sarung pedang yang dipegang Anjani menghilang dan muncul sebuah siluet segitiga berwarna biru dan masuk ke dalam tubuh Anjani tepat dibawah pusar.
" Hapsari terimalah mustika giok hijau ini."
" Dengan menggunakan mustika ini kamu bisa pergi kemanapun kamu suka hingga ke ujung dunia belahan manapun. "
" Kuharap kalian berdua saling melindungi dan pergi bersama untuk dengan mudah menemukan ku. "
" Pria tersebut melakukan sebuah gerakan dan giok tersebut berubah menjadi kecil dan melingkar di jari Hapsari setelah nya muncul sebuah siluet berbentuk segitiga berwarna hijau dan melesat ke arah dada milik Hapsari. "
" Pria tersebut juga merubah pedangnya menjadi sebuah siluet berbentuk segitiga berwarna biru dan melesat masuk ke dalam lengan kirinya. "
" Jika kita saling berdekatan maka segitiga milik kita akan merasakan hangat. "
" Mereka bertiga sangat akrab. Meskipun Hapsari lebih muda dari Anjani akan tetapi pembawaannya lebih tenang dan lebih dewasa dibandingkan Anjani. "
Tiba waktu nya pria tersebut untuk pergi. Dengan ilmu meringankan tubuh pria tersebut melesat dengan cepat ke arah pelabuhan.
" Anjani dan Hapsari menatap penanggalan yang terdapat di dinding kamar masing-masing. "
" Sudah sepuluh musim gugur berlalu. Setelah menemukan pengganti yang tepat untuk menggantikan posisi ku kini saatnya berjumpa dengan pujaan hatiku. "
Ucap mereka bersamaan
Dengan merapalkan doa dalam hati Hapsari tiba di kamar Anjani.
" Kakak..... " Ucap Hapsari sambil memeluk Anjani
" Ada apa gerangan adik kecilku tiba-tiba datang kemari. " Wajah Hapsari nampak tersipu malu.
" Apakah kakak tidak rindu dengan dirinya ? "
" Sudah dari tiga tahun yang lalu akan tetapi semua dengan pesannya kita harus pergi bersama. "
" Apakah urusanmu sudah beres ? " Tanya Anjani dan dijawab dengan anggukan oleh Hapsari.
" Kalo begitu nunggu apalagi... Kita berangkat sekarang. "
" Mereka tiba tepat di depan puing-puing sebuah bangunan yang rusak parah. "
"Tak jauh dari situ terdapat sebuah gua dimana di depannya tumbuh rumput ilalang yang sangat tinggi. "
__ADS_1
Mereka melangkah ke depan dan tanpa disadari tubuh mereka terurai