Sang Pendamping

Sang Pendamping
Ch. 70 Perubahan Bianca


__ADS_3

" Aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Dengan mengalirnya darahmu dalam tubuhku dan darahku dalam tubuhmu maka secara tidak langsung kita telah menjadi satu. " Ucap Wawan pada Paramitha.


Mendengar hal ini Paramitha begitu bahagia karena apa yang diinginkan nya telah tercapai namun di hatinya masih ada sedikit ganjalan.


" Wan, terima kasih atas penghargaan yang telah kau berikan padaku. Namun mau bagaimana pun diriku tidak berani jadi yang pertama karena masih ada yang utama. "


Seketika bayangan Sari melintas dalam benak Wawan. Rasanya kejadian itu baru kemarin. Awal pertama dia bertemu dengan Sari masih membekas dalam ingatannya.


" Maaf jika sudah membuatmu bersedih. "


" Saat ini kita sedang dimana ? "


Mengingat hal itu Wawan segera tersadar akan situasinya sekarang.


" Entahlah... Aku sendiri tidak tahu. " Wawan berusaha melakukan teleportasi berulang kali namun semua upayanya gagal.


Karena kesal Wawan membanting pantatnya ke tanah.


" Huff.... " Menghembuskan nafas dengan kasar.


" Andai saat ini diijinkan untuk berpindah tempat, kemana tujuan yang ingin kamu datangi ? " Tanya Paramitha tiba-tiba.


" Seandainya diijinkan aku ingin pulang ke rumah dan memeluk mamah. "


" Sudah lama aku tidak melihat beliau. " Ucap Wawan dengan kepala menunduk


" Meski ingin tapi aku takut jika organisasi itu masih mencari keberadaan ku. "


" Kamu tahu sendiri seperti apa mereka. "


Dalam kondisi saat ini Wawan butuh tempat bersandar. Dia rindu peluk dan belaian kasih dari mamahnya.


Mamah buat Wawan adalah tempat dia mencurahkan segala beban dan tempat berbagi cerita.


Kini keadaannya telah berubah, meski beliau masih hidup namun untuk menemui nya begitu sulit karena sangat beresiko.


Melihat Wawan yang sedang putus asa Paramitha segera memegang bahu dan membawa kepala Wawan dalam pangkuannya.


Dengan lembut Paramitha mengusap rambut kepala Wawan hingga tertidur.

__ADS_1


" Meski kamu kelihatan kuat diluar ternyata jiwa mu begitu rapuh. "


" Aku janji akan selalu ada untukmu dan menjadi tempat mu mencurahkan segala kesedihan mu. " Ucap Paramitha lirih kemudian terlelap karena lelah.


*****


Peristiwa seminggu yang lalu begitu membekas dan meninggal kan trauma di hati semua orang. Siapapun tidak akan percaya jika mendengar cerita yang terjadi selain saksi mata.


Kini kelima anak itu telah kembali ke dalam pelukan keluarga masing-masing.


Sikap dan tindakan yang ditunjukkan anak-anak itu sangat mengejutkan buat semua orang tua, seperti yang dialami Nicholas beberapa hari ini.


Setelah Bianca berhasil di selamat kan oleh Wawan dan berada diantara kedua orang tuanya, Nicholas selaku ayahnya meminta ijin untuk segera pulang ke rumah dan minta di kabari jika Wawan telah siuman.


Nicholas memperketat penjagaan baik di dalam maupun di luar rumah dan saat ini mereka berkumpul di dalam kamar Bianca. Memendam kerinduan selama dua tahun membuat Nicholas dan istrinya trauma dan tidak rela meninggalkan Bianca tidur sendirian.


Tepat pukul tiga dini hari Bianca bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Nicholas masih terjaga diatas tempat tidur, dia memperhatikan semua aktivitas yang dilakukan putrinya.


Masuk kamar mandi mengunakan baju tidur sedangkan saat keluar Bianca sudah mengenakan mukena warna putih yang diangkat bagian bawahnya.


Nicholas heran darimana Bianca mendapatkan jubah yang dikenakan saat ini, sedangkan semua barang di kamar mandi sudah dia periksa.


Saat Bianca sedang berdiri menghadap barat dari alas kakinya muncul selembar karpet kemudian mengangkat tangan sambil berucap Allahu Akbar. Gerakan demi gerakan Bianca lakukan termasuk sujud dan diakhiri dengan duduk.


Beberapa saat kemudian dari tangan Bianca muncul sebuah buku tebal seperti kamus berukuran besar. Dengan telunjuk jarinya yang lentik Bianca menunjuk tulisan yang berada diatasnya dan mulai membacanya.


" Bukankah ini bahasa Arab. Lalu apa yang sedang dia baca ? " Suara Bianca sangat merdu dan mendayu-dayu melafalkan bacaan kitab tersebut.


Grace, istrinya yang sedang tertidur lelap segera terbangun ketika mendengar lantunan ayat suci dari kitab yang dibaca Bianca dengan sangat lembut dan merdu.


Nicholas dan Grace hatinya merasa tenang dan damai dan serta muncul getaran-getaran halus di hati mereka. Mata mereka terpejam dan tanpa disadari butiran-butiran air mata jatuh dan terus mengalir dari sudut mata mereka.


Meski pelan namun suara Bianca dalam melantunkan bacaan kitab suci mampu menembus dinding kamar dan menghampiri telinga setiap orang dalam kediaman Nicholas.Para penjaga berjalan dan mendekat ke arah jendela kamar Bianca sedangkan para pelayan bangun menuju pintu kamar Bianca. Semuanya memejamkan mata dan menikmati alunan bacaan kitab tersebut dan menangis.


" Kenapa hatiku begitu tenang dan damai ? " Itu jeritan hati di setiap orang yang mendengar


Setelah Bianca mengakhiri bacaannya dan melanjutkan shalat subuh dia sangat terkejut melihat kedua orang tuanya saling berpelukan dengan mata terpejam dan meneteskan air mata.


" Papah..... Mamah.... " Panggilan Bianca membuyarkan lamunan orang tuanya.

__ADS_1


Dihampiri nya kedua orang tuanya dan segera mencium tangan kedua orang tuanya.


Ekspresi mereka sama persis dengan ekspresi Bianca kala mendengar Wawan guru nya sedang membaca Kitab Suci Al-Quran. Perasaan itu seperti candu.....Ingin dan ingin dan ingin untuk terus mendengar nya.


Mereka semua terdiam dan tidak ingin membahas apa yang barusan terjadi. Bagi mereka melihat anaknya dalam kondisi sehat dan baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup.


Waktu terus berjalan hingga menjelang senja. Sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga Nicholas jika semua makanan akan diolah sendiri oleh Grace dibantu oleh para pelayan.


Namun aktivitas mereka langsung berhenti dan menikmati lantunan ayat-ayat suci yang keluar dari kamar Bianca.


Setelah satu jam lamanya baru suara Bianca berhenti.


Seminggu kemudian


" Pah, coba kamu hubungi Felix ataupun Alexandro. Apakah putri mereka juga seperti putri kita ? "


" Baiklah. " Nicholas segera berjalan menuju meja telepon di ruang kerjanya diikuti oleh Grace.


" ( Halo ...) " Terdengar suara ngebass dari seberang sana


" Aku Nicholas..... Bisa bicara dengan Felix. "


" ( Halo Tuan Nicholas..... kebetulan saya sendiri.) " Jawab Felix dengan suara ramah dan merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak menunjukkan bahwa Felix sangat menghormati Nicholas.


" Bisakah kita bertemu ? "


" ( Kebetulan sekali Tuan..... Hari ini Tuan Alexandro, Tuan Kurtis dan Tuan Ricardo juga ingin mengadakan pertemuan.) "


" Kapan waktunya ? "


" ( Malam ini jam delapan di kediaman saya.) " Jawab Felix dengan hormat.


" Baik lah terima kasih atas waktu dan tempatnya. "


Jarak antara rumah Nicholas dan Felix lumayan jauh sekitar satu jam perjalanan. Supaya tidak terlambat Nicholas berencana berangkat pukul enam sore.


Rencana tersebut disampaikan oleh Nicholas saat mereka sedang makan siang. Atas usulan Bianca mereka sepakat berangkat pukul empat tiga puluh sore. Dengan alasan dia rindu dengan teman-temannya dan meminta banyak waktu.


" Apa yang sedang kamu lakukan ? " Nicholas sedikit heran karena istrinya mengeluarkan seluruh koleksi baju yang dimiliki nya.

__ADS_1


__ADS_2