
Para prajurit pengawal kerajaan memulai perjalanan kembali ke istana. Mereka tidak mengira perjalanan mengawal misi kunjungan Putri Sekar Ayu ke wilayah kekuasaan Kerajaan Dananjaya berakhir dengan cepat. Mereka telah gagal melindungi Putri Sekar Ayu, mereka bersiap menerima hukuman dari Raja Nagendra.
“Semoga Putri Sekar Ayu selalu dilindungi dimana pun dia berada saat ini. Entah bagaimana nanti perasaan Raja dan Permaisuri saat mengetahui Putri Sekar Ayu hilang bersama Patih Lembu Ireng dan Ajisaka,” ucap Paijo kepada salah seorang prajurit bernama Rangga.
“Kalau Putri Sekar Ayu dan Patih Lembu Ireng diculik oleh gerombolan pemberontak Bajing Alas mengapa Ajisaka juga ikut diculik, sedangkan kita semua disekap di ruang bawah tanah dan ditinggalkan begitu saja, ini sungguh aneh,” ucap Rangga.
“Jangan-jangan Ajisaka tidak terpengaruh ilmu sirep yang membuat kita semua tertidur dan sekarang dia mengikuti gerombolan pemberontak Bajing Alas untuk menyelamatkan Putri Sekar Ayu dan Patih Lembu Ireng.”
“Semoga saja begitu, jadi masih ada harapan Putri Sekar Ayu bisa diselamatkan. Setahuku Ajisaka punya ilmu tenaga dalam yang hebat dia tidak mungkin terpengaruh ilmu sirep seperti kita,” ucap Paijo.
“Patih Lembu Ireng juga mempunyai ilmu tenaga dalam yang hebat dia juga tidak bisa kena pengaruh ilmu sirep bahkan dia malah terkenal karena ilmu sirepnya mampu menidurkan banyak orang sekaligus,” ucap Rangga.
“Bisa jadi Ajisaka dan Patih Lembu Ireng sekarang sedang berusaha menyelamatkan Putri Sekar Ayu.”
“Iya semoga saja begitu, gerombolan pemberontak Bajing Alas mempunyai banyak anak buah dimana-mana, gerombolan itu tidak bisa dianggap remeh.”
----------
Gerombolan pemberontak Bajing Alas yang mengejar Ajisaka telah berhasil menemukan jembatan untuk menyeberangi sungai berarus deras. Mereka mulai mencari jejak yang ditinggalkan Ajisaka dan Putri Sekar Ayu.
Sementara di dalam gua Putri Sekar Ayu selesai memanggang ayam hutan yang didapatnya saat mencari obat. Dia membangunkan Ajisaka mengajaknya makan agar tenaganya cepat pulih.
__ADS_1
“Maafkan hamba tuan putri, seharusnya hamba yang menyiapkan makanan untuk tuan putri.”
“Jangan panggil aku tuan putri, kita hanya berdua tidak usah memanggilku seperti itu rasanya menggelikan, panggil saja aku Sekar.”
Ajisaka hanya terdiam tidak menanggapi. Walaupun sekarang mereka tidak ada di istana dia tetap harus menjaga sopan santun ke Putri Sekar Ayu.
“Sebaiknya Putri Sekar Ayu beristirahat kita akan bermalam di gua ini, terlalu bahaya untuk meneruskan perjalanan di malam hari, hamba akan berjaga. Besok pagi saat matahari bersinar kita harus segera meneruskan perjalanan kembali ke istana sebelum gerombolan pemberontak Bajing Alas berhasil menangkap kita.”
“Baiklah aku akan tidur duluan, nanti setelah aku cukup tidur gantian kamu yang tidur. Aku tidak mau besok kamu mengantuk di perjalanan.”
Putri Sekar Ayu mencoba untuk tidur tetapi tidak bisa. Dia hanya duduk bersandar di dinding gua sambil memandangi Ajisaka yang berjaga di mulut gua.
“Sebaiknya kamu saja yang tidur duluan. Aku tidak bisa tidur mungkin karena tadi siang aku sudah tertidur lelap karena sirep. Aku saja yang berjaga di mulut gua, kalau ada tanda-tanda kedatangan gerombolan pemberontak Bajing Alas aku akan segera membangunkanmu.”
Putri Sekar Ayu mendekati Ajisaka dan duduk di sampingnya. Dia terus memandangi wajah Ajisaka yang terlihat sangat tampan di bawah cahaya sinar bulan.
“Sepertinya aku harus berterima kasih pada gerombolan pemberontak Bajing Alas, karena merekalah aku bisa duduk berdua bersamamu tanpa ada yang mengganggu,” ucap Putri Sekar Ayu sambil tersenyum.
Ajisaka hanya terdiam tidak membalas kata-kata yang diucapkan Putri Sekar Ayu. Ajisaka memikirkan nasib para prajurit pengawal dan Patih Lembu Ireng, bagaimana keadaan mereka sekarang. Apakah masih hidup atau dibunuh oleh gerombolan pemberontak Bajing Alas.
“Kenapa dari tadi kamu diam saja, sikapmu juga selalu dingin kepadaku. Aku penasaran apakah kau sudah punya tambatan hati atau jangan-jangan kamu sudah punya istri.”
__ADS_1
“Maaf tuan putri hamba belum punya tambatan hati dan belum punya istri. Hamba hanya seorang prajurit tidak pantas bersanding dengan tuan putri.”
“Menurutku kau sangat pantas bersanding denganku, kau telah menyelamatkan nyawaku. Kalau tidak teringat ayahanda dan ibunda di istana aku ingin melarikan diri berdua saja denganmu pergi jauh dari Kerajaan Dananjaya, menjadi rakyat jelata dan hidup bahagia di rumah sederhana dengan banyak anak.”
Ajisaka tersenyum mendengar kata-kata dari Putri Sekar Ayu, bayangan rumah sederhana dengan banyak anak terlintas di pikirannya. Ajisaka tidak pernah membayangkan hidupnya akan rumit seperti ini dicintai seorang putri raja. Andai Sekar Ayu bukan seorang putri raja dengan senang hati Ajisaka akan menikahinya.
Tiba-tiba Putri Sekar Ayu menyandarkan kepalanya di bahu Ajisaka, bau wangi tercium dari rambutnya, jantung Ajisaka berdebar-debar, tubuh Putri Sekar Ayu yang menempel seperti menjalarkan rasa hangat ke tubuhnya, Ajisaka melingkarkan tangannya ke tubuh Putri Sekar Ayu.
Putri Sekar Ayu merasa sangat bahagia. Bulir bening air mata turun ke pipinya saat Ajisaka memeluknya dengan erat. Tak terasa Putri Sekar Ayu tertidur di pelukan Ajisaka. Kebersamaan itu tidak berlangsung lama karena Ajisaka mendengar derap langkah kuda mendekat ke arah gua.
“Kita harus segera pergi dari tempat ini, aku mendengar derap langkah kuda mendekat mungkin itu gerombolan pemberontak Bajing Alas.”
Ajisaka dan Putri Sekar Ayu segera naik ke kuda dan memacunya dengan kecepatan tinggi. Beruntung malam ini bulan purnama tidak tertutup awan. Cahayanya mau menembus kegelapan hutan belantara. Semakin jauh kuda berlari ke dalam hutan semakin banyak semak perdu berduri menusuk-nusuk kulit. Luka di punggung Ajisaka terasa sangat ngilu terguncang-guncang di atas kuda yang terus dipacu. Hutan itu serasa tidak bertepi sampai Ajisaka menemukan ladang jagung.
“Sebentar lagi kita akan menemukan perkampungan, ada ladang jagung di depan. Kita bisa bersembunyi di salah satu rumah warga. Jangan membongkar identitas tuan putri saat nanti sampai di perkampungan, kita harus menyamar.” ucap Ajisaka.
Tak lama kemudian tampaklah deretan rumah-rumah warga berdinding anyaman bambu sederhana dan beratapkan rumbia. Ajisaka segera turun dan mengetuk salah satu rumah yang berada di balik rimbunan pohon bambu.
Mendengar suara ringkikan kuda seorang kakek yang semua rambutnya telah memutih membuka pintu rumahnya.
“Maaf kek, kami sedang dikejar-kejar gerombolan pemberontak Bajing Alas, bolehkah kami bersembunyi di rumah kakek?” tanya Ajisaka dengan sopan.
__ADS_1
“Baiklah nak, cepat masuk rumah. Kudanya sembunyikan di kandang sapi belakang rumah,” ucap kakek tua itu dengan ramah.
Setelah menyembunyikan kudanya Ajisaka dan Putri Sekar Ayu segera masuk ke dalam rumah kakek tua.