Sang Pendekar

Sang Pendekar
CH2.7 Bergabung dengan Kepala Desa


__ADS_3

Raden Sanjaya, Sekar Wulan dan Pandu Bergolo beserta pengikutnya menemui Kepala Desa Polosan. Kepala Desa menerima dengan baik kedatangan mereka.


"Perkenalkan nama saya Sumitro, Kepala Desa Polosan. Kalau boleh tau siapakah tuan-tuan ini dan apa maksud kedatangan tuan-tuan ke rumah ku..?" tanya kepala desa ramah.


"Maaf Ki.. perkenalkan namaku Jaka Pengalasan dan ini istriku Wulan.. ucap raden Sanjaya.


"Aku Pandu Bergolo, pengikut dari tuan Jaka dan mereka adalah anak buahku.." ucap Pandu Bergolo memperkenalkan diri.


"Aku Jarot ki Lurah. Aku juga pengikut tuan Jaka. Dan aku ingin mengembalikan ini ki Lurah, sekaligus aku minta kau menghukumku karena aku telah berani merampas perhiasan ini dari Istri Ki Lurah Sumitro. Aku benar-benar mengaku salah dan apapun hukumanmu akan kuterima.." ucap Jarot sambil berlutut mengembalikan perhiasan.


"Sebentar... sebentar... istriku bilang kalau yang merampas perhiasannya adalah laki-laki kurus. Tapi mengapa kau yang mengembalikannya..?" tanya Ki Lurah


"Dia adalah anak buahku Ki, dan akulah yang menyuruhnya untuk merampas perhiasan istrimu. Sekarang dia telah mati dan aku berharap raja Yama mengampuninya.." ucap Jarot.


"Baiklah... aku terima niat baik mu Jarot. Tapi hukuman apa yang pantas kau terima, biarlah istriku nanti yang memutuskan. Sekarang kembalilah duduk.." ucap Ki Lurah datar.


Raden Sanjaya kagum dengan kepribadian Lurah Sumitro. Dia begitu tenang walaupun tau bahwa perampas perhiasan istrinya ada di depannya. Dan juga kagum kepada Jarot yang berani dengan jujur mengakui langsung perbuatannya di depan orang yang telah dirugikannya.


"Jarot... disaat orang lain tidak mau mengakui perbuatannya, kau dengan berani mengakui kesalahanmu sedangkan orang yang kau rugikan tidak tau bahwa itu adalah perbuatanmu. Tidak salah istriku memberi kesempatan kepadamu untuk berbuat baik.." batin raden Sanjaya.


"Lalu apa tujuan tuan-tuan ini..? Kalu memang orang tua ini bisa membantu, pasti aku akan membantu sekuat tenagaku.." ucap Ki Lurah.


"Begini ki Lurah. Terus terang semalam aku mendengar percakapanmu dengan seseorang. Aku pun merasakan hal yang sama seperti yang ki Lurah rasakan. Maksud kedatanganku, kami ingin bergabung dengan Ki Lurah untuk melawan Kapak Darah.." ucap Raden Sanjaya.

__ADS_1


"Maaf tuan, aku sangat senang mendengar tuan-tuan ini akan bergabung dengan kami. Tapi kalau ku lihat tuan Jaka ini bukan berasal dari negeri ini. Aku tidak mau orang dari luar negeri kami terlibat dalam urusan ini. Bagaimanapun ini adalah urusan negeri kami. Bukannya aku tidak menghargai tuan Jaka, tapi dalam hal ini kami sudah pasti akan kalah. Itulah mengapa aku tidak ingin tuan Jaka terlibat.." ucap Ki Lurah.


"Maaf ki Lurah. Memang benar tuan Jaka berasal dari negeri Kawi. Tapi aku dan anak buahku adalah orang negeri Banon Sewu. Jadi sudah jadi kewajibanku juga untuk ikut terlibat dalam masalah kapak darah ini.." ucap Pandu Bergolo.


"Ki Lurah tidak perlu khawatir. Siapa yang bilang kita sudah pasti akan kalah..? Kita akan kuat jika kita bersatu dan kemenangan tidak mustahil kita wujudkan. Aku yakin banyak yang akan bergabung dengan kita untuk melawan Kapak Darah.." ucap Raden Sanjaya.


"Tuan... pasukan kapak darah adalah pasukan terlatih. Mereka memiliki ilmu yang tinggi, tapi kami hanyalah warga sipil biasa. Sebenarnya perlawanan yang kami lakukan hanya untuk menarik perhatian Istana saja agar mereka mengirimkan pasukan untuk melawan Kapak Darah.." ucap Ki Lurah


"Walaupun desa ini dan desa sekitarnya hancur, istana tidak akan mengirimkan pasukannya. Masalah utamanya bukan di pasukan kapak darah, tapi ada di permaisuri Mai. Dia tidak akan perduli pada nasib rakyatnya, karena dia adalah pengikut aliran sesat yang memuja Sang Durga. Terlebih lagi, pasukan Kapak Darah mendapat dukungan dari Permaisuri Mai.." ucap Raden Sanjaya.


"Bagaimana tuan bisa tau hal ini..?" tanya Ki Lurah.


"Baru saja tuan Jaka menghancurkan markas Kapak Darah di lereng gunung Maskumambang.." sahut Pandu Bergolo.


"Ini adalah peta lokasi markas mereka. Tanda hitam ini adalah markas bawah tanah dan tanda merah adalah markas yang berada di atas tanah. Lebih banyak markas yang tersembunyi di bawah tanah daripada yang diatas tanah. Dan pemimpin kapak darah tidaklah menetap di salah satu markas. Mungkin saja penampilannya tidak seperti umumnya pemimpin suatu kelompok atau pasukan. Jadi dengan membunuh pemimpinnya pun belum tentu akan menghentikan kapak darah. Hanya dengan bersatu kita dapat menghentikan kapak darah sekaligus membuka kedok permaisuri Mai.." raden Sanjaya menjelaskan.


"Hhhmmmmm.. tuan Jaka tidak kusangka adalah orang yang sangat sakti. Mungkin benar apa yang diucapkan tuan Jaka. Kalau seperti itu sebaiknya membiarkan tuan Jaka bergabung dengan kami.." batin Ki Lurah Sumitro.


"Bagaimana Ki Lurah..? benar yang diucapkan tuan Jaka. Kita harus bersatu dan butuh strategi yang matang. Aku yakin tuan Jaka mempunyai strategi itu.." ucap Pandu Bergolo.


"Baiklah.... pertengahan bulan ini, tuan Jaka datanglah ke pertemuan antar kepala desa di rumah ini. Kita sama-sama menyusun strategi untuk menghadapi Kapak Darah, sekalian aku akan memperkenalkan orang yang semalam menemuiku.. ucap Ki Lurah.


"Ah.... kenapa aku sampai lupa...... Nyai... nyai... tolong siapkan suguhan untuk para tamu kita. Dan aku mempunyai kejutan buatmu.." teriak Ki Lurah kepada istrinya.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama Nyai Lurah dan pembantunya datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Apa to pak ne.. Kejutan apa..?" ucap nyai Lurah.


"Ini lho nyai.. ada orang baik mengembalikan perhiasanmu yang dirampas bandit pasar beberapa waktu lalu.." ucap Ki Lurah sambil menyerahkan beberapa perhiasan.


"Syukurlah pak ne.. Siapa orang yang telah mengembalikan perhiasanku pak ne..?" tanya Nyai Lurah.


Jarotpun berlutut di hadapan Nyai Lurah..


"Nyai Lurah aku adalah Jarot.... Dan yang mengembalikan perhiasanmu bukanlah orang baik seperti yang dikatakan Ki Lurah. Akulah yang telah menyuruh anak buahku untuk merampok perhiasanmu waktu di pasar. Hukumlah aku Nyai sebagai penebus semua kesalahanku.." ucap Jarot.


"Oalaaaahh.. jadi kamu yang mengembalikan perhiasanku Jarot..? Lha tapi kenapa kau tidak segera menjualnya atau memberikannya kepada istrimu..?" tanya Nyai Lurah.


"Aku tidak memiliki istri Nyai. Dan aku berniat membawa perhiasanmu ke kota kerajaan untuk bersenang-senang dengan wanita penghibur. Tapi tuan Jaka telah menyadarkanku, dan aku mengembalikan perhiasan yang memang bukan milikku. Hukumlah aku nyai, aku menerima apapun hukuman yang kau berikan.." jawab Jarot..


"Jarot.... kejujuranmu layak dihargai. Wes aku memaafkanmu dan tidak akan menghukummu. Tetaplah berjalan di jalan kebenaran, mugo-mugo Sang Pencipta juga memaafkan kesalahanmu.." ucap Nyai Lurah sambil menepuk-nepuk pundak Jarot.


Jarotpun bersujud di kaki Nyai Lurah sebagai ucapan terimakasih. Dalam hatinya dia berjanji untuk selalu berbuat baik dan mengabdikan diri pada Ki Lurah Sumitro. Anak buah Jarot pun ikut meminta maaf kepada Ki Lurah Sumitro.


"Jika saja semua bisa saling menyadari akan kesalahannya dan saling memaafkan, maka dunia ini akan damai. Meminta maaf dan mengakui kesalahan memang penting, tapi yang lebih penting adalah mereka yang bersalah harus bertanggung jawab untuk memperbaiki akibat dari kesalahan yang mereka perbuat.." batin Sekar Wulan.


"Tan ana luput kang tan bisa dingapura. Butuh tataging ati kanggo ngakoni kaluputan, nanging butuh jembaring manah kanggo paring pangapura.." (Tidak ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Butuh keberanian untuk meminta maaf tapi dibutuhkan kebesaran hati untuk bisa memaafkan..)" batin raden Sanjaya.

__ADS_1


__ADS_2