Sang Pendekar

Sang Pendekar
CH2.9 Rencana harus dijalankan


__ADS_3

Masing-masing anak buah Pandu Bergolo memberikan laporannya di hadapan para kepala desa. Masing-masing menceritakan tentang apa yang mereka lihat dan dengar dengan detail.


"Diatas markas ini adalah sebuah sanggar pemujaan, tapi tempat ini telah kosong. Sepertinya mereka telah meninggalkan markas ini cukup lama. Aku memastikannya dengan memasuki markas markas ini dan aku tidak menemukan apapun disana.." ucap anak buah Pandu Bergolo sambil menunjuk tanda dimana dia ditugaskan.


"Demikian juga dengan tempat ku. Sepertinya sudah ditinggalkan dalam waktu yang cukup lama. Hanya ada beberapa pakaian ini yang aku temukan.." anak buah Pandu yang lainnya melaporkan sambil memberikan beberapa potong baju.


"Di tempatku bertugas, berada di desa Sidomukti, kulihat mobilitas beberapa pasukan kapak darah. Pintu masuk mereka adalah sebuah kedai yang cukup ramai. Dari pembicaraan yang ku dengar, mereka membahas lelang yang akan diadakan di Penginapan Seribu bunga yang akan dihadiri setidaknya sepuluh bangsawan dari negeri lain.." anak buah lainnya menjelaskan.


"Markas yang berada di perbatasan timur kota kerajaan berhubungan dengan markas bawah tanah yang berada di desa Tanjung dan markas atas tanah di alas Pancer. Selain itu, markas ini berhubungan juga dengan penginapan Seribu Bunga melalui jalan bawah tanah. Aku mengetahui dari percakapan antar pasukan kapak darah. Selain membahas masalah pembuatan jalan bawah tanah menuju Penginapan Seribu Bunga, saat ini mereka juga sedang mencari kitab sakti Bolo Srewu atas perintah Permaisuri Mai.." penjelasan anak buah yang lainnya.


"Kitab sakti Bolo Srewu. Bukankah itu kitab ciptaan Sang Durga..? Buat apa mereka mencari kitab itu..? atau jangan-jangan............" batin raden Sanjaya.


Raden Sanjaya membuat tanda silang markas yang telah ditinggalkan dan membuat tanda lingkaran pada markas yang masih ditempati.


"Terimakasih atas usaha kalian dalam mencari informasi.." ucap raden Sanjaya.


Raden Sanjaya mempelajari setiap informasi yang baru saja di didapatkannya untuk memberikan usulan strategi yang harus mereka jalankan nanti.


"Baiklah..... dari informasi yang telah kita dengarkan bersama, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menguasai markas kapak darah yang telah ditinggalkan. Hal ini untuk mempersempit ruang gerak kapak darah. Mereka mungkin tidak meninggalkan markas tersebut, tapi sengaja dibuat kosong untuk markas cadangan mereka.." ucap raden Sanjaya.


"Kapak darah sebenarnya adalah mantan pasukan pengawal raja, jadi jumlah mereka tidak sebanyak yang kita pikirkan selama ini. Benar kata saudara muda Jaka, markas sebanyak itu mungkin hanya beberapa saja yang mereka gunakan, sisanya adalah untuk cadangan saja.." sahut Tejomantri.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan..?" tanya Ki Lurah Samadhi.


"Kita hanya perlu menjaga pintu masuk ke markas mereka saja. Bila perlu kita lakukan apapun agar mereka tidak bisa masuk ke markas mereka.." jawab Raden Sanjaya.


"Benar apa kata saudara muda. Kita tidak mungkin melawan mereka secara langsung, jadi yang harus kita lakukan adalah menghambat pergerakan mereka saja.." sahut Ki Lurah Darto.

__ADS_1


"Selanjutnya, aku ingin paman Tejomantri menghadiri acara lelang budak yang akan diadakan di penginapan Seribu Bunga dekat kota kerajaan. Paman Tejomantri bisa menggunakan undangan yang aku dapatkan di markas kapak darah yang berada di lereng Gunung Maskumambang. Aku akan menyusup diam-diam ke penginapan itu. Yang pasti, identitasku telah diketahui oleh mereka, jadi jika aku yang mengikuti lelang, maka akan menggagalkan rencana kita.." ucap raden Sanjaya.


"Jadi budak-budak itu dijual dengan cara dilelang..? Pantas saja aku tidak pernah menemukan jejak perdagangan manusia di kerajaan ini.." ucap Tejomantri.


"Kebanyakan dari penduduk di desa adalah warga sipil yang tidak bisa beladiri. Lalu bagaimana penduduk yang menguasai markas menghadapi pasukan kapak darah yang akan merebut markas mereka..?" tanya Ki Lurah Darto.


"Benar... kita tidak mungkin mengorbankan penduduk sipil.." sahut Ki Lurah Sumitro.


"Pandu Bergolo dan Jarot akan mengajari penduduk dasar-dasar dari beladiri. Setidaknya mereka punya bekal beladiri. Lalu gunakan sisat bumi hangus untuk markas mereka. Penduduk dapat memasukkan jerami ke dalam markas mereka, dan membakarnya saat pasukan kapak darah merebut markas mereka.." ucap raden Sanjaya.


"Tapi bagaimana dengan markas yang di bawah tanah, apakah markas itu bisa terbakar..?" tanya Ki Lurah Sumitro.


"Sama saja Ki... memang markas bawah tanah tidak terbakar. Tapi akan membuat udara di markas menjadi panas, dan asap yang dihasilkan bisa dipastikan akan memenuhi ruangan bawah tanah. Jadi meraka tidak akan berani masuk ke dalam markas mereka.." jawab raden Sanjaya.


"Benar-benar strategi yang luar biasa. Sepertinya saudara Jaka ini tidak seperti kelihatannya. Apakah saudara Jaka pernah tergabung dalam militer..? Atau mungkin Saudara Jaka adalah salah satu murid dari perguruan besar..?" tanya Tejomantri.


"Baiklah.. ku pikir itu bukan rencana yang buruk. Lalu kapan kita laksanakan rencana itu..?" tanya Tejomantri.


"Ku rasa lebih cepat lebih baik. Malam ini kita susun rencana siapa saja yang mendapatkan tugas untuk menjadi pemimpin masing-masing kelompok.." ucap Ki Lurah Sumitro.


Malam itu raden Sanjaya bersama dengan kelima kepala desa dan Tejomantri menyusun kelompok-kelompok kecil untuk menjalankan rencana yang telah disampaikan raden Sanjaya. Pemimpin kelompok dipilih anak buah Jarot dan Pandu Bergolo yang sebelumnya ditugaskan untuk mengintai markas kapak darah.


Selama satu minggu, Pandu Bergolo dan Jarot mengajarkan beladiri dasar kepada penduduk, sedangkan raden Sanjaya, Sekar Wulan dan Tejomantri menyusun rencana menyusup ke acara lelang yang akan dilaksanakan di penginapan Seribu Bunga. Setelah satu minggu mempelajari informasi yang ada, akhirnya Raden Sanjaya memiliki cara untuk bisa menyusup ke dalam penginapan Seribu bunga.


"Paman, kalau boleh saya tau, dari manakah asal negeri paman..? Ku dengar, permaisuri Gayatri bukan berasal dari Banon Sewu.." tanya Sekar Wulan.


"Aku dari negeri Antasangin, negeri di sebelah utara negeri Kawi. Mengapa engkau menanyakan itu..?" tanya Tejomantri penasaran.

__ADS_1


"Sebentar paman, aku lihat dulu apakah ada bangsawan dari Antasangin yang mengikuti lelang..?" ucap Sekar Wulan sambil daftar peserta lelang yang dia dapatkan dari markas kapak darah.


"Apakah daftar ini kau dapatkan dari markas kapak darah..?" tanya Tejomantri.


"Benar paman.."


"Disini tertulis bangsawan dari Antasangin, dia bernama Sastroganthol, tapi dalam jadwal tercatat dia mengikuti pelelangan awal bulan ganjil tahun depan.. Hhmmmm.... bagaimana ini kakang..?" tanya Sekar Wulan kepada suaminya.


"Tidak masalah. Paman bisa mengaku sebagai Sastroganthol, bangsawan Antasangin yang menginginkan tiga orang budak perempuan muda.." jawab Raden Sanjaya.


"Sastroganthol..? Aku belum pernah mendengar nama itu. Apakah ada identitas lain selain dia berasal..?" tanya Tejomantri.


"Sayangnya tidak ada.." jawab Sekar Wulan sambil memeriksa daftar peserta lelang.


"Baiklah paman... paman akan menyamar menjadi bangsawan itu. Selama proses lelang, aku dan istriku akan mencari siapa pemimpin Kapak Darah.." sahut raden Sanjaya.


Setelah rencana disusun dengan matang, raden Sanjaya menghubungi garuda yaksa untuk meminta bantuan. Jarak yang jauh tidak mempengaruhi komunikasi raden Sanjaya dengan kelima hewan spiritual suci tersebut, karena jiwa mereka telah menyatu dengan raden Sanjaya.


"Garuda Yaksa, apakah kau mendengarku..?" tanya raden Sanjaya.


"Hamba mendengar tuan. Apakah tuan baik-baik saja..? Ada apa gerangan tuan memanggilku..?" tanya Garuda Yaksa.


"Sampaikan kepada elang emas, bahwa aku membutuhkan bantuan Ki Sasongko, Ki Harso, Ki Woko, Ki Mahesa dan Kakekku, Ki Sumali untuk membantuku di kerajaan Banon Sewu. Dan antarkan mereka berlima ke tempatku saat ini.." ucap Raden Sanjaya.


"Hamba siap melaksanakan tugas tuan.." ucap Garuda Yaksa.


Garuda Yaksa segera menyampaikan pesan raden Sanjaya kepada Elang Emas. Tanpa menunda waktu, elang emas menyampaikan pesannya kepada Ki Sasongko dan selanjutnya Garuda Yaksa dengan segera melesat menuju Padepokan Naga Langit untuk menjemput Ki Sumali dan menuju padepokan Mahesa Sura untuk menjemput Ki Mahesa. Setelah selesai menjemput Ki Sumali dan ki Mahesa, Garuda Yaksa menuju perguruan Wiji Sejati untuk menjemput Ki Sasongko, Ki Harso dan Ki Woko dan selanjutnya mengantar mereka ke tempat raden Sanjaya berada.

__ADS_1


__ADS_2