Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB XXV


__ADS_3

Raden Sanjaya yang mengetahui ki Sumali tidak sadarkan diri segera berlari menghampirinya. Raden Sanjaya mendapati tubuh ki Sumali sangat dingin. Lalu dengan meletakkan tangannya di punggung ki Sumali, raden Sanjaya mengalirkan energi murninya ke tubuh ki Sumali.


"Kakek.. apa yang sebenarnya terjadi padamu..? Tubuhmu ini lebih dingin dari yang dulu." gumam raden Sanjaya.


Perlahan-lahan tubuh ki Sumali menjadi hangat dan akhirnya ki Sumali sadar. Raden Sanjaya melepas tangan dari punggung ki Sumali.


"Kakek.. apa kamu baik-baik saja..? apa yang sebenarnya terjadi..?" tanya raden Sanjaya.


"Cucuku.. aahhhhhh kamu berhasil menyelesaikannya. Kakek senang sekali melihat mu berhasil menguasai kitab kalimasada"


"Kakek tidak apa-apa, sama seperti kejadian sebelumnya, aku berusaha menahan petir yang akan menyerangmu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.." jawab Ki Sumali lirih.


"Tidak mungkin hanya karena petir. Tubuhmu kali ini jauh lebih dingin dari sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi kek..?" raden Sanjaya tidak mempercayai begitu saja penjelasan ki Sumali.


"Hhmmmmm.. memang tidak ada gunanya menyembunyikannya dari raden Sanjaya.."


"Sebenarnya ini karena racun dingin yang ada di tubuhku. Selama ini aku hanya menggunakan ramuan dan tenaga dalam untuk menekannya, tapi benturan dengan petir itu membuat racun dinginnya bereaksi.." jawab Ki Sumali.


"Racun dingin..? Sejak kapan dan siapa yang sengaja meracunimu kek..?" raden Sanjaya geram.


"Ini karena cakar kera raksasa yang dulu menghuni goa ini. Kupikir dengan memakan dagingnya dapat menetralisir racun dinginnya, tapi kenyataannya hanya menekannya selama lima tahun."


"Akhir-akhir ini racun dingin ini kambuh dan tidak ada satu pun yang dapat menawarkannya. Hanya dengan menekannya saja yang dapat kakek lakukan.." ki Sumali menjelaskan.


"Aku tidak boleh mengatakan bahwa mutiara cempaka salju dapat menetralisir racunnya, agar raden Sanjaya tidak merasa bersalah.." batin ki Sumali.


"Biarkan aku mencoba untuk mengeluarkan racunnya kek. Mungkin dengan ilmu kalimasada bisa mengeluarkan racunnya.." ucal raden Sanjaya.

__ADS_1


Raden Sanjaya selanjutnya mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh ki Sumali. Akan tetapi sekuat apapun usahanya, tidak akan membuahkan hasil. Racun dingin tetap tidak dapat dinetralisir atau dikeluarkan. Tenaga dalam raden Sanjaya hanya menekan racun dingin itu agar tidak bereaksi.


"Inikah sebabnya kakek tidak berlatih untuk meningkatkan tenaga dalam..? Pasti racun dingin ini yang menghalangi kakek untuk mengumpulkan tenaga dalam.." pikir raden Sanjaya


"Mungkin dengan menguasai ilmu kasampurnan, kamu dapat menetralisir racun ini.." ucap Ki Sumali.


"Hhmmmm.. mungkin saja kek. Ayah mengatakan bahwa ilmu kasampurnan adalah puncak dari segala ilmu. Aku yakin dengan ilmu itu dapat menyembuhkanmu kek.." ucap raden Sanjaya penuh harap.


"Sebaiknya kita bersiap-siap, kita tinggalkan goa ini dan mencari istana penguasa.." ucap Ki Sumali..


Tidak membuang banyak waktu, Raden Sanjaya dan ki Sumali bersiap untuk melakukan petualangannya mencari istana penguasa. Raden Sanjaya memakai kembali kalung yang dulu pernah diberikan oleh Ki Joyo sebelum mereka berpisah. Setelah memeriksa peta dengan seksama, mereka memutuskan untuk menuju arah timur. Hampir delapan tahun raden Sanjaya dan Ki Sumali hidup di goa, di dalam alas Purba. Raden Sanjaya pun telah tumbuh menjadi seorang laki-laki yang gagah lagi tampan. Saat memulai petualangan mencari istana penguasa, raden Sanjaya baru saja menginjak usia 18 tahun dengan tingkat Master tahap puncak, setengah jalan menjadi tingkat Raga Abadi tahap awal.


Seluruh wilayah di kerajaan Kawi menjadi normal kembali. Fenomena alam tiba-tiba menghilang dan langitpun menjadi cerah kembali. Pangeran Pranoto bisa bernafas lega. Para pejabat istana kini telah kembali ke kediamannya masing-masing. Tampak Ki Karto tengah berbincang-bincang dengan Senopati Manto di kediamannya.


"Manto, aku merasa bahwa fenomena alam yang baru saja terjadi mungkin berhubungan dengan kitab kalimasada." Ki Karto memulai pembicaraan.


"Hhhmmmmm... entahlah, aku hanya merasa tidak nyaman dengan kejadian alam itu. Dan tiba-tiba aku teringat tentang raden Sanjaya, juga tubuhku tidak berhenti bergetar selama kejadian alam itu."


"Dan setelah aku amati selama beberapa hari, kejadian alam itu sepertinya berpusat di alas Purba, bukankah raden Sanjaya masuk ke dalam alas Purba saat kita kejar..?" ucap ki Karto.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan..?" tanya Senopati Manto.


"Kirimkan beberapa anggota terbaik Sekte Tengkorak Hitam untuk menyelidikinya. Tapi ingat, lakukan ini secara diam-diam.." perintah Ki Karto.


-->


Di kediamannya pangeran Himawan yang saat ini menjabat patih dalam kerajaan Kawi, tampak termenung di ruang kerjanya. Dia sedang memikirkan ibunya selir Ling Lu yang memilih meninggalkan istana setelah mengetahui konspirasi jahat antara Ratu Sulastri, pangeran Pranoto dan pimpinan tengkorak hitam. Kepergian selir Ling lebih disebabkan kekecewaannya kepada pangeran Himawan yang memilih bergabung dengan mereka. Tampak penyesalan terlukis di wajah pangeran Himawan.

__ADS_1


"Bagaimana pengawal, apakah kamu telah mengetahui keberadaan ibuku..?" tanya pangeran Himawan.


"Ampun pangeran, hamba dan anak buah hamba telah mencari ke seluruh wilayah kota kerajaan, tapi hamba tidak dapat menemukan ibunda pangeran.." ucap pengawal ketakutan.


"Bodoh.. kalian benar-benar tidak berguna. Mencari seorang wanita saja tidak mampu, lalu apa gunanya aku menggaji kalian..?" ucap pangeran Himawan geram.


"Ampuni hamba pangeran, hamba akan terus mencari keberadaan sekir Ling, ibunda pangeran. Beri kami kesempatan lagi pangeran.." pengawal itu tampak ketakutan.


Pangeran Himawan menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. Dia tampak bingung dan menyesal atas kepergian ibunya. Kepergian Selir Ling tidak diketahui oleh Pangeran Pranoto dan bawahannya. Pangeran Himawan sengaja merahasiakan kepergian ibunya. Pun juga pangeran Pranoto terlalu sibuk dengan hawa nafsunya dan tidak memperdulikan keadaan istana.


"Satu tahun kalian mencari tanpa ada hasil, dan kalian masih berani meminta kesempatan lagi..?" ucap pangeran Himawan.


"Ampun pangeran, wilayah kerajaan Kawi sangatlah luas. Membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk dapat mencari ibunda pangeran."


"Saat ini anggota kami sedang menelusuri pelosok-pelosok negeri agar dapat menemukan ibunda pangeran." ucap pengawal.


Pangeran Himawan terbayang akan perdebatan antara dirinya dan selir Ling. Selir Ling Lu sangat kecewa setelah mengetahui bahwa putranya terlibat dalam rencana jahat Pangeran Pranoto untuk merebut posisi pangeran mahkota dengan cara yang sangat licik dan keji, padahal Pangeran Kusuma sangat baik kepada Pangeran Himawan.


Pangeran Himawan tampak berfikir keras, dia sedang memikirkan semua perkataan ibunya.


"Apa yang ada dalam otakmu Himawan..? Mengapa kamu sampai tega melakukan semuai ini..? Apakah kakakmu Kusuma pernah memperlakukan kita dengan buruk..?"


"Walaupun ibu hanyalah selir persembahan karena kerajaanku kalah perang terhadap kerajaan Kawi. Tapi pangeran Kusuma memperlakukan ibumu tidak berbeda dengan perlakuannya kepada Ratu Dyah Ayu, ibu nya."


Selir persembahan biasanya tidak pernah dianggap oleh keluarga utama kerajaan. Mereka dianggap sebagai wanita yang hanya digunakan untuk memuaskan nafsu sang Raja saja. Jika selir persembahan memiliki seorang anak, biasanya anak tersebut tidak mendapat pengakuan dari keluarga Kerajaan. Akan tetapi Raja Dewayana sangat menyayangi selir-selirnya. Bahkan gelar Pangeran untuk pangeran Himawan diberikan langsung oleh raja Dewayana bersamaan dengan pemberian gelar Pangeran Mahkota yang diberikan kepada pangeran Kusuma.


Dan pada saat pangeran Himawan membocorkan tentang keberadaan raden Sanjaya kepada pangeran Pranoto,

__ADS_1


"Dimana hati nuranimu Himawan..? Siapa raden Sanjaya..? Dia adalah keponakanmu sendiri, dia termasuk darah dagingmu sendiri, tapi mengapa kau begitu tega Himawan..?" kata-kata selir Ling dalam ingatan Pangeran Himawan


__ADS_2