
"Kakek, apakah ini istana penguasa..? Tempat ini lebih terlihat seperti sanggar pamujan daripada istana.." tanya raden Sanjaya.
"Jika melihat dari peta, memang seharusnya inilah istana penguasa. Di gebang tadi juga terdapat tanda-tandanya, tapi tulisan yang di gerbang berbunyi Hastana Hyang Asa.."
"Tanda-tanda di sekitar istana yang tergambar di peta pun sama seperti yang berada di sekitar tempat ini. Jadi kakek rasa inilah tempatnya.." jawab Ki Sumali.
"Hhhmmmm.. sebenarnya apa sesungguhnya istana penguasa ini..?"
"Kedua patung ini walaupun tampak mengerikan, tapi kedua patung ini terlihat begitu agung dan berwibawa. Aku yakin bahwa ini bukan hanya sekedar patung biasa."
"Apakah ini wujud dari pengawal Sang Penguasa atau inikah perwujudan dari Sang Penguasa itu sendiri..?" ucap raden Sanjaya dalam hati.
"Apa yang sedang kamu pikirkan cucuku..? Dari tadi kakek lihat kamu melihat kedua patung itu bergantian.." tanya ki Sumali.
"Entahlah kek.. Tapi aku merasa bahwa kedua patung ini bukanlah sesuatu yang biasa. Aku sendiri tidak bisa menjelaskannya.." jawab raden Sanjaya.
"Raden Sanjaya sungguh luar biasa. Bahkan dia mampu melihat sesuatu yang aku sendiri tidak bisa merasakannya." batin Ki Sumali.
"Dan ada sesuatu yang luar biasa berada di balik pintu itu kek. Energi spiritual yang keluar di balik pintu itu sungguh luar biasa, membuatku merasa tenang dan damai.."
"Tapi bagaimana caranya membuka pintu ini kek..? tanya raden Sanjaya sambil menyentuh pintu itu.
Tiba-tiba terdengan suara yang sangat lantang dan bertenaga entah darimana asal suara itu. Suara itu membuat tekanan yang sangat besar menyerang raden Sanjaya dan Ki Sumali..
LANCANG..!! MANUSIA LANCANG..!! SIAPA YANG MENGIJINKAN TANGAN KOTORMU MENYENTUH PINTU ITU..??!
TINGGALKAN TEMPAT INI..!! ATAU KALIAN AKAN MERASAKAN AKIBATNYA..!!
__ADS_1
"Suara ini sangat bertenaga dan membuat tubuhku tertekan, seperti ada gunung di punggungku.. Siapa dia dan ada dimana dia..?" batin Raden Sanjaya sambil mencari sumber suaranya.
"Kakek.. apakah kamu dengar suara itu..? Apa kakek tau siapa itu..?" tanya raden Sanjaya berbisik.
"I...i....iya.. kakek juga mendengarnya. Suara ini membuat kakek susah bernafas, tekanannya sangat kuat.."
"Kakek juga tidak tau suara siapa itu, Suara yang penuh tekanan seperti suara yang dikeluarkan raja Yama.." ki Sumali menjelaskan.
Raja Yama adalah dewa kematian. Menurut legenda, raja Yama mengeluarkan suara lantang penuh dengan tekanan ketika dia akan mencabut nyawa seseorang. Itulah mengapa orang yang akan mati, dia tidak dapat mengeluarkan suara apapun bahkan terlihat seperti sedang ketakutan. Akan tetapi raja Yama akan mengeluarkan suara yang lebih lembut kepada seseorang yang selalu berbuat baik dan berjalan pada kebenaran.
"Ampuni hamba yang mulia karena telah lancang mengganggu tempat mu. Tapi jika boleh hamba bertanya, apakah benar ini adalah istana penguasa..?" tanya raden Sanjaya kepada suara itu.
DASAR MANUSIA.. SEJAK KAPAN HASTANA HYANG ASA BERUBAH MENJADI ISTANA PENGUASA..?
APA TUJUANMU DATANG KESINI MANUSIA MUDA..? APAKAH KAMU DATANG MEMPUNYAI TUJUAN YANG SAMA DENGAN ORANG-ORANG SEBELUMNYA..?
"Maafkan hamba Yang Mulia, hamba tidak mengetahui dengan benar nama tempat ini. Hamba hanya diutus oleh ayah hamba untuk datang ke tempat ini.."
WALAUPUN SEBENARNYA AKU SUDAH TAU TUJUANMU DATANG KEMARI, TAPI AKU INGIN MENDENGARNYA LANGSUNG DARI MULUTMU APA TUJUANMU DATANG KE TEMPAT INI..
"Maafkan hamba Yang Mulia, seperti yang hamba katakan sebelumnya, hamba diutus oleh ayahanda hamba datang ke tempay ini. Tujuannya tak lain adalah untuk mempelajari ilmu kasampurnan dan mengambil pedang kalimasada.."
APA KAMU PIKIR KAMU MAMPU MENGUASAI ILMU KASAMPURNAN..? DAN APA HAK MU MENGAMBIL PEDANG KALIMASADA..?
"Ampuni hamba Yang Mulia. Hamba tidak pernah berfikir untuk dapat menguasai ilmu kasampurnan. Hamba hanya berusaha untuk menyempurnakan apa yang telah hamba pelajari."
"Sedangkan pedang kalimasada, hamba tidak merasa memiliki hak untuk mengambilnya. Hamba hanya menjalankan wasiat ayahanda hamba, bahwa sebagai seorang yang menguasai kitab kalimasada, sudah menjadi kewajibannya untuk membasmi angkara murka di bumi ini. Sedangkan pedang kalimasada adalah sebagai senjata untuk membantu hamba mewujudkan kedamaian di muka bumi ini." jawab Raden Sanjaya tenang.
__ADS_1
BAIKLAH.. AKU MENERIMA ALASANMU MANUSIA MUDA. TAPI AKU AKAN MENGUJI KETEGUHAN HATIMU. ADA DUA UJIAN YANG AKAN AKU BERIKAN, BERHASIL ATAU TIDAK ITU TERGANTUNG TAKDIR MU..
"Terimakasih Yang Mulia, hamba akan berusaha sebaik mungkin untuk menjalani ujian itu.." jawab raden Sanjaya.
Ki Sumali merasa kagum dengan raden Sanjaya. Di usianya yang masih muda, raden Sanjaya tetap tenang menghadapi situasi apapun.
"Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pangeran Kusuma dan Putri Nawang Sari seperti hidup di dalam diri raden Sanjaya.." batin ki Sumali.
Tiba-tiba patung kalacakra itu bergerak. Patung setinggi tiga meter dan terbuat dari perunggu itu langsung menyerang raden Sanjaya dan Ki Sumali. Raden Sanjaya dengan gesit menghindari pukulan gada dari patung itu, tapi tidak dengan Ki Sumali. Gerakannya yang sedikit lambat membuat Ki Sumali tidak dapat menghindari pukulan gada itu. Ki Sumali menangkis pukulan gada itu dengan jurus dan tenaga dalamnya.
"TAPAK BRAJAMUSTII..!! teriak ki Sumali.
KLAAAAAANGGG..
Benturan tapak brajamusti dan patung itu membuat suara yang keras memekakkan telinga. Ki Sumali terpental sejauh dua puluh meter, tubuhnya menabrak salah satu reruntuhan bangunan dan Ki Sumali muntah darah. Tampaknya ki Sumali terluka cukup parah. Raden Sanjaya segera melesat menghampiri Ki Sumali.
"Kakek..!! kamu tidak apa-apa..? Istirahatlah disini, biarkan aku menghadapi kedua patung itu kek.." ucap raden Sanjaya.
"Berhati-hatilah. Kekuatan kedua patung itu sungguh luar biasa.." ucap Ki Sumali sambil mengusap darah di mulutnya.
Raden Sanjaya melesat maju ke arah kedua patung kalacakra tersebut. Dengan menggunakan jurus tapak kalimasada, Raden Sanjaya dengan gesit menghindar dan menyerang kedua patung kalacakra bergantian.
KLAAANGG.. DHUAAAANG.. JDAAAAANGG..
Suara benturan tapak kalimasada saat menangkis dan menyerang kedua patung itu. Tapi sepertinya kedua patung itu tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Bahkan serangan keduanya semakin cepat dan ganas. Disaat raden Sanjaya merasa kuwalahan atas serangan kedua patung tersebut, tiba-tiba mantram sakti jurus tapak kalimasada terngiang di pikiran raden Sanjaya.
"Menungso kuwi sejatine kedadean soko manunggaling roso kang kababar saking patang kiblat. Kiblat lor nggambarake nepsu amarah, kiblat kidul nggambarake nepsu kaduwenan, kiblat kidul nggambarake nepsu kadonyan, kiblat kulon nggambarake nepsu manembah kang sak kabehane katuju marang pancer yoiku diri ingsun pribadi........"
__ADS_1
"Sejatine tan ana mungsuh kang wajib dikalakahe kejobo mung awak'e dewe. Nora ono kekuatan kang biso ngalahake awak'e dewe kejobo namung kendhali dhiri marang pancer yo iku marang ingsun sejati........." mantram ini terus terngiang dalam ingatan raden Sanjaya.
Raden Sanjaya memahami apa maksud dari mantram sakti jurus tapak kalimasada tersebut. Setelah mengheningkan cipta beberapa saat, Raden Sanjaya menemukan cara mengalahkan kedua patung kalacakra tersebut.