
Raden Sanjaya menerima anggota taring serigala untuk menjadi pengikutnya. Raden Sanjaya melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Slamet dan Ujang, yaitu menghancurkan jurus mereka dan membersihkan watak angkara dari dalam diri mereka. Akan tetapi penduduk desa Lawean merasa keberatan dengan keputusan raden Sanjaya yang menerima mereka.
"Lebih baik habisi sekalian saja mereka. Mereka selama ini telah membuat penduduk desa menderita." ucap salah satu penduduk.
"Ya..... benar, habisi saja mereka. Jika dibiarkan hidup, mereka pasti akan mengulangi perbuatan mereka dan akan merampok lagi.." sahut penduduk lainnya.
"Tenang.. tenang.. Bukankah mereka telah mengakui kesalahannya dan ingin bertobat..? Bukankah mereka berjanji akan menebus semua perbuatan mereka..?" ucap Ki Sumali.
"Mereka adalah orang sesat Ki. Apa yang mereka ucapkan tidaklah dapat dipercaya.." protes penduduk desa.
"Dengarkan kalian semua, apakah kalian meragukan kemampuan tuan Jaka..? Jika kalian ragu, akulah saksinya. Aku dulu seorang anggota elit Tengkorak Hitam. Tapi tuan Sanjaya telah menyadarkanku sepenuhnya.."
"Jika aku bisa mendapat kesempatan kedua, kenapa mereka tidak..?" ucap Ujang.
Penduduk desa terdiam. Mereka mengetahui sendiri bahwa Ujang selama berada di desa selalu berbuat baik dan tanpa pamrih selalu membantu penduduk yang butuh pertolongan.
"Tidak hanya Ujang, tapi aku dan Barno juga sama seperti Ujang." sahut Slamet.
"Kalau memang seperti itu, aku percaya. Tapi kalau sampai mereka mengingkari apa yang diucapkannya, maka kami sendiri yang akan menghukumnya.." ucap penduduk desa.
Delapan anggota taring serigala pun meminta maaf dan kesempatan kepada penduduk desa Lawean. Mereka berjanji akan menebus semua kesalahan yang telah mereka lakukan kepada penduduk desa. Walaupun masih ada keraguan dalam hati mereka, penduduk desa Lawean memaafkan anggota taring serigala.
"Baiklah, sekarang kalian kuburkanlah mayat rekan-rekan kalian dengan layak. Walaupun mereka bersalah, mereka tetaplah manusia." ucap raden Sanjaya.
Para mantan anggota taring serigala menguburkan jenazah teman-teman mereka dengan layak. Sedangkan penduduk desa, merawat kuda yang terluka dan mengkandangkan kuda lainnya.
"Tuan.. maaf, ada satu kuda yang mengamuk. Sepertinya itu kuda Kebo Ireng." ucap salah satu penduduk.
Dengan mantram kalacakra, raden Sanjaya berhasil menjinakkan kuda Kebo Ireng dan menjadikan kuda itu tunggangannya.
Masalah kelompok taring serigala dapat diselesaikan semuanya malam itu. Penduduk desa pun dapat bernafas dengan lega dan merasa tenang.
-->
Keesokan paginya, Raden Sanjaya telah bersiap untuk melakukan perjalanan mengunjungi desa-desa sekitar desa Lawean dengan harapan mendapatkan informasi tentang semua kejadian di Kerajaan Kawi, terutama gerakan Tengkorak Hitam yang menculik para bayi dan gadis-gadis desa.
"Kakek, Kepala Desa dan kalian semua, aku pamit dulu untuk mencari beberapa informasi yang berhubungan dengan Sekte Tengorak Hitam." raden Sanjaya berpamitan.
"Hati-hati den Jaka, jaga dirimu baik-baik.." pesan kepala desa.
__ADS_1
"Jaga dirimu baik-baik cucuku. Serahkan urusan padepokan kepada kami.." ucap Ki Sumali.
"Baik kek. Aku akan segera kembali jika sudah mendapatkan semua informasinya." jawab Raden Sanjaya.
"Aku akan menuju arah utara untuk memulai perjalananku.." batin Raden Sanjaya lalu pergi menunggangi kuda Kebo Ireng.
-->
Sementara itu di kepatihan luar tempat tinggal Ki Karto, nampak Manto dan Ki Karto sedang membicarakan hal yang serius.
"Bagaimana Manto, apakah kamu mendapat kabar dari orang yang kau suruh ke alas Purba..?" tanya patih Karto.
"Sampai hari ini aku belum mendapat kabar dari topeng hitam. Tapi beberapa hari yang lalu aku telah menyuruh Karman untuk memeriksa keadaan mereka." jawab Senopati Manto.
"Sudah hampir tiga minggu mereka pergi ke alas Purba.."
"Lalu bagaimana dengan tugas yang kuberikan untuk mengumpulkan bayi dan para gadis..?" tanya Ki Karto.
"Aku terus berusaha mencari bayi-bayi di seluruh desa di wilayah kerajaan Kawi ini dan untuk para gadis, sampai saat ini sudah 25 gadis dari 99 gadis yang patih perintahkan sudah kami dapatkan." jawan Senopati Manto.
"Kurang 33 bayi lagi. Kau harus bergerak cepat untuk mendapatkannya.."
"Waktunya tidak banyak lagi, dalam dua puluh lima hari semua harus sudah lengkap.." ucap Ki Karto.
Ki Karto pergi meninggalkan Senopati Manto dan masuk ke dalam ruangan pemujaan.
-->
Didalam ruangan pemujaan, Ki Karto menyalakan api dan membakar dupa di depan sebuah patung Kala. Sambil duduk bersila, Ki Karta menyembah patung setinggi satu setengah meter tersebut. Ki Karto membaca mantram kegelapan kitab Tapak Iblis untuk memanggil Penguasa Kegelapan, dan meminta ijin untuk bertemu.
"Yang Mulia Penguasa Kegelapan, hamba datang menghadap. Mohon yang mulia berkenan." Ki Karto memohon.
ADA APA KAU MEMANGGILKU KARTO. APAKAH KAU AKAN MEMPERSEMBAHKAN TUMBAL LAGI..?
"Maafkan hamba yang mulia penguasa, hamba belum membawa tumbal untuk paduka penguasa. Hanya kurang 33 bayi dari 99 bayi yang penguasa syaratkan.." jawab ki Karto.
LALU APA TUJUANMU DATANG MENEMUIKU..?
"Hamba hanya ingin tau untuk apa hamba harus mengumpulkan 99 gadis..?" jawab ki Karto.
__ADS_1
AKU AKAN MENGGUNAKAN GADIS-GADIS ITU UNTUK MELAHIRKAN KETURUNANKU. DAN KAU DAPAT MENGGUNAKANNYA SEBAGAI PASUKANMU UNTUK MENGUASAI DUNIA INI.
"Bagaimana caranya paduka menanamkan benih paduka kepada gadis-gadis itu..?" tanya ki Karto.
CARILAH SEPULUH ORANG TERBAIKMU. BERSAMA DENGANMU, PADA SAATNYA NANTI, MASING-MASING DARI KALIAN MENYETUBUHI SEMBILAN GADIS. AKU AKAN MENANAMKAN BENIHKU PADA ****** KALIAN.
DARI 99 GADIS ITU, YANG AKAN BERTAHAN DAN DAPAT MELAHIRKAN KETURUNANKU HANYA SEMBILAN ORANG. JAGALAH MEREKA SAMPAI KELAHIRAN ANAK-ANAKKU.
"Hamba mengerti yang mulia penguasa. Kalau begitu, hamba mohon diri.." ucap Ki Karto.
Ki Karto keluar dari ruang pemujaan dan menemui Senopati Manto. Saat mereka sedang membicarakan sesuatu, Karman, dengan tubuh yang terluka, datang dengan terburu-buru untuk melaporkan hasil dari alas Purba.
"Hamba datang melapor Senopati.." ucap Karman.
"Ada apa dengan tubuhmu Karman..? kenapa kau sampai bisa terluka seperti ini..?"
"Lalu apa yang kau dapat dari alas Purba, dan bagaimana keadaan topeng hitam beserta anak buahnya..?" ucap Senopati.
"Maaf Senopati, hamba tidak dapat menemukan topeng hitam dan anak buahnya. Tapi hamba rasa, mereka semua sudah mati saat berada di alas Purba.." jawab Karman.
"Apa dasarmu mengatakan itu Karman..?" tanya Ki Karto.
"Ampun tuan patih, pada saat hamba baru memasuki alas Purba, hamba dan anak buah hamba diserang oleh Singa Hitam bermata merah. Singa itu sangat besar, hamba berhasil lari tapi anak buahku mungkin mereka juga telah mati semua.." jawab Karman.
"Singa hitam bermata merah..? bukankah itu termasuk hewan spiritual suci..? Bagaimana hewan itu bisa berada disana..? Seharusnya hewan itu berada di tengah alas Purba. Apakah kekuatanku dulu yang menariknya kesana..?"
"Jika benar seperti itu, aku bisa tenang. Pasti anak sialan itu juga telah mati." batin Ki Karto.
"Baiklah, segera obati lukamu. Aku tidak igin terjadi apa-apa denganmu.." ucap senopati Manto.
"Hamba mohon diri tuan.." Karman memberi hormat dan pergi.
Ki Karto tampak memikirkan laporan dari orang kepercayaan Senopati Manto tersebut.
"Bagaimana menurutmu Ki..?" tanya Manto.
"Aku rasa topeng hitam, topeng merah dan topeng perak telah mati. Tidak mungkin bagi mereka bertiga untuk selamat, sedangkan Darman membawa delapan belas orang tingkat guru tahap puncak saja bisa sampai terluka." ucap Ki Karto.
"Sungguh sangat disayangkan. Mereka bertiga sangat berbakat.." gumam Senopati Manto.
__ADS_1
"Sudahlah, lupakan mereka. Masih banyak anggota kita yang punya bakat melebihi mereka. Sekarang yang terpenting selesaikan tugasmu untuk mendapatkan bayi dan para gadis.." perintah ki Karto.
"Sendhika dhawuh Ki.." jawab Manto sambil menghormat dan meninggalkan kepatihan luar.