
Setelah bertemu dengan Ki Lurah Sumitro, raden Sanjaya memerintahkan anak buah Pandu Bergolo dan anak buah Jarot untuk mengumpulkan informasi tentang Pasukan Kapak Darah. Mereka dikirim ke beberapa tempat sesuai dengan tanda hitam dan merah yang ada di peta.
Sementara itu di salah satu markas bawah tanah pasukan Kapak Darah, para pemimpin masing-masing markas sedang berkumpul untuk membahas tentang hancurnya markas kapak darah yang berada di lereng gunung Maskumambang.
"Siapa orang yang mampu menghancurkan markas Pragoto..? Sungguh mustahil Pragoto dapat dikalahkan dengan mudah. Pragoto adalah pendekar pilih tanding, tidak sembarang orang yang bisa menghadapinya.." ucap salah satu pemimpin markas yang bernama Gentho.
"Entahlah.... dari kabar yang ku dengar, Pragoto dikalahkan oleh seorang pemuda dan gadis yang belum diketahui darimana mereka berasal.." jawab orang yang diketahui bernama Jarwoko.
"Siapapun mereka aku tidak perduli. Kehancuran markas Pragoto adalah penghinaan buat kapak darah. Kita harus membalas perbuatan mereka.." sahut pria yang bernama Bakoh dan dibenarkan oleh yang lain.
"Benar..... benar itu... Cari mereka, habisi saja mereka..." sahut yang lainnya dan membuat gaduh suasana rapat.
Seorang pria setengah baya dengan tinggi sedang, perawakan kurus, berambut panjang acak-acakan memasuki ruangan rapat.
"Diam kalian semua...!! bentak pria itu dan semuanya terdiam.
Pria itu berjalan menuju kursi paling ujung dari peserta rapat, kursi pimpinan. Dialah Singoharjo pemimpin pasukan kapak darah, mantan senopati dan kepala pasukan pengawal raja Dananjaya. Hanya pimpinan markas yang tau bahwa Singoharjo adalah pimpinan kapak darah. Identitasnya sengaja disembunyikan agar dia bebas bergerak.
"Aku telah membunuh Pragoto. Sepertinya pemuda itu telah mengetahui banyak hal tentang pasukan kita dan hubungan kita dengan istana. Mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Tidak menutup kemungkinan, pemuda itu telah mengetahui tentang markas-markas kita. Hanya saja butuh waktu sedikit lama untuk menemukan semua markas kita.." ucap Singoharjo.
"Lalu bagaimana tentang acara lelang yang akan kita adakan ketua..? Apakah sebaiknya kita ubah jadwal pelelangannya..?" tanya Gentho.
"Tidak.... tidak.. acara lelang harus tetap dilaksanakan. Kita tidak boleh mengecewakan pelanggan kita. Dan aku yakin pemuda itu pasti tau tentang acara lelang ini. Dia pasti akan datang ke acara lelang itu. Disana kita akan menghabisinya.." ucap Singoharjo.
-->
Sementara itu di istana kerajaan Banon Sewu, kondisi kesehatan Raja Danayaksa semakin memburuk. Tubuhnya semakin kurus dan dalam keadaan tidak sadar. Daya hidupnya semakin habis akibat energi gelap yang menaungi istana kerajaan. Berbanding terbalik dengan Permaisuri Mai yang semakin terlihat muda dan cantik, kesaktiannya pun semakin bertambah. Kondisi yang demikian membuat permaisuri Mai mengambil alih posisi raja Danayaksa memerintah kerajaan Banon Sewu.
__ADS_1
"Sekarang semuanya sudah di tangan ku. Tinggal selangkah lagi untuk menyambut kedatangan Yang Mulia Sang Durga yang saat ini telah terbebas dari hukumannya.." batin Permaisuri Mai.
"Hamba datang melapor Permaisuri.." Senopati Karyomarno datang menemui permaisuri.
Senopati Karyomarno adalah tangan kanan permaisuri Mai dari negeri Champa yang bernama asli Yueying, dan juga pemuja Sang Durga.
"Bagaimana senopati, berita apa yang kau bawa kali ini..?" tanya permaisuri Mai.
"Markas kapak darah telah dibakar oleh seseorang. Sepertinya orang itu mengetahui banyak hal tentang kita. Apa yang harus kita lakukan permaisuri.?" tanya Karyomarno.
"Hhhmmmm.. apakah kau tau siapa yang melakukannya..?" tanya permaisuri.
"Maafkan hamba permaisuri. Hamba tidak mengetahui identitas orang tersebut.." jawab Karyomarno.
"Cepat hubungi Singomarto. Dia harus tetap menyediakan perjaka dan perawan saat perayaan malam Suro untuk menyambut kedatangan Yang Mulia Durga.." ucap permaisuri Mai.
-->
Pertemuan antara kepala desapun tiba. Masing-masing kepala desa telah hadir di rumah Ki Lurah Sumitro. Raden Sanjaya, Sekar Wulan dan Pandu Bergolo tampak ikut dalam pertemuan tersebut mendampingi Ki Lurah Sumitro. Sedangkan Jarot membantu nyai Lurah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pertemuan tersebut.
"Saudara-saudara saya ucapkan selamat datang di Desa Polosan. Sebelum memulai pertemuan ini, ijinkan saya memperkenalkan seseorang yang akan membantu kita. Dia adalah tuan dan nyonya Jaka Pengalasan.." ucap Ki Lurah, Raden Sanjaya dan Sekar Wulan berdiri memberi penghormatan.
"Membantu kita..? Apa maksudmu Ki..?" tanya Samadi kepala desa Balungan.
"Darimana kau mendapatkan pemuda ini Sumitro..? Sepertinya dia adalah pemuda biasa, lalu apa yang bisa dia lakukan..?" ucap Darto kepala desa Genengan.
"Sepertinya kau belum tau kehebatan tuan Jaka Ki Lurah. Asal kalian tau, Tuan Jaka lah yang telah menghancurkan markas kapak darah di lereng gunung Maskumambang.." sahut Pandu Bergolo emosi.
__ADS_1
"Tahan emosimu Pandu.. Wajar jika mereka memandang sebelah mata tuan Jaka dan istrinya. Mereka baru pertama kali bertemu dengan tuan Jaka.." ucap Ki Lurah Sumitro pelan.
"Apakah yang kau ucapkan itu benar..?" sahut Darto tidak percaya.
Seseorang tiba-tiba memasuki ruang rapat. Seorang laki-laki setengah baya dengan badan tegap.
"Terlepas benar atau tidak, tapi aku telah melihat sendiri markas kapak darah yang selama ini aku intai telah menjadi arang. Siapa yang melakukannya aku pun tidak tau. Semoga apa yang diucapkannya benar, bahwa pemuda bernama Jakalah yang melakukannya. Sehingga akan sangat membantu kita.." ucap pria itu sambil memasuki ruangan dan duduk di sebelah Ki Lurah Sumitro.
"Selamat datang saudarku. Tuan Jaka inilah yang akan aku kenalkan dengan anda. Dia adalah Tejomantri, dia adalah adik kandung dari permaisuri Gayatri.." ucap Ki Lurah Sumitro
Mendengar perguruan Wiji Sejati membuat Sekar Wulan sedikit terkejut, berbeda dengan Raden Sanjaya yang tetap tenang.
"Salam kenal tuan Tejo. Aku Jaka Pengalasan. Bolehkan aku bertanya tuan Tejo..?" ucap Raden Sanjaya.
"Jangan panggil aku tuan. Kau panggil aku paman saja agar kita lebih akrab. Bagaimanapun, yang berada disini adalah saudara.. Hahahaha.. Silahkan, apa yang saudara muda ingin tanyakan, tapi sebelumnya aku melihat istrimu terkejut saat mendengar nama perguruan Wiji Sejati. Apakah nyonya Jaka pernah pergi kesana..?" tanya Tejomantri.
"Eehhmmmm.. aahhh.. tidak paman. Aku hanya terkejut paman pernah belajar di tempat yang jauh.." ucap Sekar Wulan berbohong.
"Jika paman adalah adik kandung permaisuri Gayatri, berarti raja Danayaksa adalah keponakan paman..? Lalu mengapa paman tidak berada di Istana..?" tanya raden Sanjaya.
"Saudara muda ini cukup berhati-hati rupanya. Baiklah, aku akan sedikit bercerita, setelah aku selesai belajar kanuragan di perguruan Wiji Sejati, aku tidak langsung kembali ke istana. Aku ingin menguji sekuat apa ilmuku. Aku berkeliling di kerajaan ini untuk menantang pendekar yang ada. Cukup lama aku berkeliling kerajaan, hingga aku tidak tau ada sesuatu terjadi dengan kerajaan hingga aku mendengar raja Dananjaya telah mangkat dan digantikan oleh keponakanku. Saat aku kembali ke istana, kapak darah sudah menjadi perbincangan diantara penduduk Banon Sewu. Mereka mengaku sebagai pasukan istana, tapi melakukan perampokan. Hingga akhirnya aku kembali keluar istana dan mengejar pasukan kapak darah. Sampai sekarang pun aku juga belum berhasil menangkap mereka, justru perbuatan mereka semakin menjadi.." cerita Tejomantri
"Lalu bagaimana paman bisa berkenalan dengan Ki Lurah Sumitro..? apakah sebelumnya kalian saling kenal..?" tanya raden Sanjaya.
"Saat berangkat ke negeri Kawi, aku melewati desa ini dan aku kehabisan bekal. Ki Lurah dengan murah hati memberikan aku bekal untuk perjalananku ke negeri Kawi. Itulah sebabnya aku dan Ki Lurah Sumitro sudah seperti saudara.." jawab Tejomantri.
Pertemuanpun berlanjut. Mereka membahas tentang segala hal yang akan dilakukan untuk menghadapi kapak darah. Beberapa anak buah Pandu Bergolo dan Jarot yang sudah kembali dari tugas mereka, memberikan laporan kepada raden Sanjaya dan selanjutnya menjadi bahan untuk mereka menghadapi pasukan kapak darah.
__ADS_1