Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB L


__ADS_3

"Kakek.. aku mohon buatkanlah ramuan penguat fisik dan jiwa untuk nona Wulan agar kekuatan fisik dan jiwanya meningkat sebelum dia menyerap energi mantram kilisuci.." pinta raden Sanjaya.


Ki Sumali tersenyum dan menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang diinginkan raden Sanjaya.


"Kakek begawan, bagaimana hasil perjalan kakek mengajak padepokan dan kelompok aliran putih untuk bergabung dengan kita melawan Tengkorak Hitam..?" tanya raden Sanjaya.


"Perguruan Hati Suci dan puluhan padepokan aliran putih bersedia untuk bergabung melawan Tengkorak Hitam. Tapi beberapa dari mereka tidak ingin terlibat dalam pertempuran langsung karena mereka tidak mempunyai sumber daya yang cukup untuk melawan Tengkorak Hitam. Tapi mereka berjanji akan membantu kita untuk melindungi dan mengevakuasi penduduk agar selamat dari imbas pertarungan ini." jawab begawan Sabdawala.


"Itu juga penting kek. Bagaimanapun kita tidak bisa mengabaikan begitu saja keselamatan warga yang tidak berdosa. Kesediaan mereka membantu melindungi warga, adalah sesuatu yang sangat bagus. Dengan demikian, pasukan kita nanti tidak akan terpecah dan fokus melakukan pertempuran tanpa khawatir ada penduduk yang terkena imbasnya." ucap raden Sanjaya.


"Demikian dengan aku raden, padepokan Tanjung Anom dan Bumi Retawu siap untuk bergabung dengan Padepokan Naga Langit.." ucap Ki Harso.


"Padepokan Mahesa Sura juga menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan kita. Dalam waktu dua hari kedepan mereka akan tiba di padepokan Naga Langit.." ucap raden Sanjaya.


"Sanjaya, kakek sebenarnya masih punya pasukan setia di kerajaan. Ketika kakek ditangkap oleh pamanmu, kakek memerintahkan mereka untuk menyembunyikan identitas mereka. Tapi kakek tidak tau bagaimana caranya kakek memberikan informasi ini kepada mereka." ucap raja Dewayana.


"Ayah, jika ayah percaya padaku, biarkan aku yang memberi tahu mereka. Kepatihan dalam juga masih mempunyai pasukan yang setia. Aku bisa mengkondisikan mereka membantu melawan Tengkorak Hitam." ucap pangeran Himawan.


"Apakah paman yakin kalau mereka tidak seperti prajurit lainnya bergabung dengan Tengkorak Hitam..?" tanya raden Sanjaya.


"Tenanglah keponakanku, aku menjamin tidak ada satu pun pasukan kepatihan dalam yang bergabung dengan Tengkorak Hitam. Aku telah mengganti pasukan di kepatihan dalam dengan orang-orang kepercayaanku. Mereka hanya setia kepada ku, bukan kepada pangeran Pranoto." jawab Pangeran Himawan.


"Hamba juga masih punya pasukan khusus yang berada di lereng sebelah utara Gunung Jamur Dipa. Hanya aku dan Ki Sasongko yang mengetahuinya. Jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar seratus orang, tapi mereka sangat bisa diandalkan. Setidaknya kekuatan mereka berada di tingkat master tahap menengah.." ucap patih Rekso Bumi.

__ADS_1


"Sekecil apapun, kekuatan mereka akan sangat membantu. Jadi paman patih tidak perlu ragu.."


"Baiklah, aku percaya pada paman Himawan. Tapi bagaimana paman akan masuk ke kepatihan dalam..? bukankah beberapa anggota tengkorak hitam telah mengenali paman..?" tanya raden Sanjaya.


"Aku tidak akan masuk ke kepatihan dalam. Aku akan menghubungi tumenggung Wiyasa, orang kepercayaanku yang saat ini ku tugaskan untuk mengendalikan kepatihan dalam. Aku hanya butuh seseorang untuk memberitahunya saja." ucap pangeran Himawan.


"Sarko dan Parjo, kalian temanilah pangeran Himawan untuk menyiapkan pasukannya. Selain itu, temuilah Karyo, dia mantan komandan Pasukan Pengawal Raja, minta dia mengumpulkan mantan pasukan pengawal raja yang masih setia untuk bergabung dengan pasukan kepatihan dalam. Patih Rekso Bumi, pergilah ke lereng Gunung Jamur Dipa, siapkan pasukan khususmu.." perintah raja Dewayana.


"Baik paduka.." jawab mereka serempak.


"Tunggu, Ki Among, pergilah bersama mereka. Ki Among akan mengirimkan situasi di sekitar istana dengan merpati raja dari perguruan Wiji Sejati.." ucap raden Sanjaya.


Pertemuan itu berakhir dengan berangkatnya pangeran Himawan bersama dengan Patih Rekso Bumi, Ki Among, Sarko dan Parjo. Mereka mengendarai elang emas milik perguruan Wiji Sejati.


"Nona... minumlah ramuan ini. Ini akan membuat fisik dan jiwamu menjadi kuat.." ucap Ki Sumali sambil menyodorkan botol berisi ramuan.


Sekar Wulan meminum ramuan itu dan segera melakukan meditasi untuk menyerap sari pati dari ramuan itu. Butuh waktu beberapa jam bagi Sekar Wulan untuk menyerap seluruh esensi dari ramuan. Sekar Wulan membuka matanya dan dapat merasakan fisik dan jiwanya menjadi lebih kuat.


"Aku sudah selesai menyerap ramuan itu raden, selanjutnya apa yang harus aku lakukan..?" tanya Sekar Wulan.


"Sekarang bermeditasilah, rapalah mantram kilisuci dan hayati setiap maknanya. Setiap bait mantram akan memperjelas tiap gerakan dari jurus yang ada di kitab pedang kilisuci. Rasakanlah energi yang masuk ke dalam tubuhmu, seraplah dan ubah menjadi tenaga dalam. Kekuatan energi itu akan dengan sendirinya meningkatkan tenaga dalammu.." ucap raden Sanjaya.


Sekar Wulan duduk bermeditasi dan mengikuti apa yang dikatakan raden Sanjaya. Cahaya berwarna emas menyelimuti tubuh Sekar Wulan, semakin lama semakin terang dan menyilaukan. Berbeda dengan saat raden Sanjaya menyerap mantram kalimasada yang menimbulkan badai petir, mantram kilisuci membuat suasana menjadi sangat sunyi. Waktu seakan berjalan lambat. Keadaan menjadi hening, tenang dan semua merasakan kedamaian di hatinya.

__ADS_1


"Apa yang sedang terjadi..? Mengapa suasana menjadi sangat sunyi dan hening..? Perasaan ini, darimana datangnya..?" batin Raden Sanjaya.


Sementara itu di pendopo semua orang merasakan kedamaian di hati mereka. Tidak ada satu pun yang bersuara. Mereka seperti terhipnotis, mereka terhanyut dalam perasaan damai yang mereka rasakan.


Sekar Wulan terus berusaha menyerap energi yang ada. Perlahan energi mantram kilisuci berubah menjadi tenaga dalam sekaligus meningkatkan kekuatannya. Titik-titik cakra Sekar Wulan yang masih tertutup, perlahan-lahan terbuka satu demi satu dan terisi penuh dengan tenaga dalam. Akhirnya, setelah satu hari bermeditasi, Sekar Wulan telah menyerap semua energi mantram kitab pedang kilisuci. Bersamaan dengan itu, alam menjadi normal kembali.


-->


Sesampainya di kota kerajaan, pangeran Himawan segera menjalankan rencana yang telah dibahas di padepokan Naga Langit. Sarko segera mencari Komandan Karyo untuk melaksanakan perintah raja Dewayana.


"Komandan Karyo, Apakah anda masih mengenaliku..? aku mendapat perintah dari raja Dewayana untuk menemuimu.."ucap Sarko.


"Sarko... benarkah kamu Sarko..? Bukankah baginda raja Dewayana telah wafat..? Lalu ............... aaaa.. eeeee" tanya Karyo gagap.


"Tidak ada waktu untuk menceritakannya. Yang pasti baginda masih hidup dan sekarang berada di desa Lawean. Baginda memerintahkan komandan mengumpulkan mantan pasukan pengawal raja yang masih setia dan segera bergabung dengan pasukan kepatihan dalam. Situasinya sangat mendesak, dalam waktu dekat, Padepokan Naga Langit dan gabungan kelompok aliran putih akan menyerang Tengkorak Hitam.." Sarko menjelaskan.


"Tapi.. bukankah ini akan menjadi pertempuran besar..? Dengan mantan pasukan pengawal raja apakah bisa menghadapi anggota Tengkorak Hitam..? Banyak prajurit kerajaan yang juga bergabung dengan Tengkorak Hitam.." jawab Karyo.


"Ini memang pertempuran hidup mati. Baginda pasti telah memperhitungkan dengan matang. Lakukan ini dengan cepat dan jangan sampai diketahui oleh istana. Segera bergabung dengan pasukan kepatihan dalam, Ki Among akan menjelaskan semuanya.." ucap Sarko


"Baik.. aku akan melaksanakan perintah baginda." jawab Karyo.


Sedangkan Parjo dan Ki Among menuju ke kepatihan dalam. Dengan lencana milik Pangeran Himawan, Tumenggung Wiyasa menerima mereka dengan baik. Segera Parjo menyampaikan tujuan mereka datang di kepatihan dalam. Dengan berada di lingkungan kepatihan dalam, Ki Among dapat dengan leluasa mengamati keadaan di sekitar istana kerajaan.

__ADS_1


Wiyasa pun segera menemui pangeran Himawan di tempat yang disampaikan oleh Parjo. Setelah menemui pangeran Himawan di sebuah penginapan di dekat lingkungan istana kerajaan, Wiyasa dibantu oleh Parjo dan komandan pasukan pengawal kepatihan dalam, segera menyiapkan pasukan kepatihan dalam. Ki Among pun juga segera melaporkan situasi di dalam istana kerajaan kepada raden Sanjaya.


__ADS_2