
Dalam beberapa hari, Ki Sasongko, Ki Harso, Ki Woko, Ki.Sumali dan Ki Mahesa, dengan mengendarai Garuda Yaksa telah sampai di desa Polosan dan membuat kehebohan di desa Polosan. Penduduk lari ketakutan melihat burung raksasa mendarat di depan halaman rumah Ki Lurah Sumitro. Mendengar teriakan penduduk, Raden Sanjaya dan Tejomantri langsung berlari menuju halaman. Mengetahui tuannya datang, Garuda Yaksa menundukkan kepala memberikan penghormatan kepada tuannya. Ki Sasongko dan yang lainnya segera turun dari punggung Garuda Yaksa dan membuat Tejomantri terkejut dan langsung berlutut memberi penghormatan. Raden Sanjaya pun memberi penghormatan kepada kelima orang tersebut dan memeluk Ki Sumali.
"Guru...... terimalah hormat ku. Apa yang membuat guru sampai di negeri Banon Sewu ini..?" ucap Tejomantri sambil berlutut di hadapan Ki Sasongko.
"Bukankah kau Tejomantri salah satu muridku..? Bagaimana kabarmu nak..?" tanya Ki Sasongko.
"Benar guru, aku Tejomantri salah satu muridmu. Aku baik-baik saja Guru. Lalu apa yang membuat guru sampai ke negeri ini..?" tanya Tejomantri.
"Panggilan dari raden Sanjaya, Dia memintaku untuk membantunya menyelesaikan masalah yang ada di negeri Banon Sewu ini.." ucap Ki Sasongko.
"Raden Sanjaya..? Siapakah dia guru..?" tanya Tejomantri bingung.
"Hahahaha... Cucuku selalu saja membuat orang lain bingung dengan identitasnya.. Sudah pasti muridmu ini tidak kenal dengan raden Sanjaya kakak, tapi kalau dengan Jaka Pengalasan pasti dia kenal.." ucap Ki Sumali.
"Ja... jaadi Jaka Pengalasan yang telah memanggil kalian..? Ba.. bagaimana bisa......... Aaahhhhh... saudara muda, sandiwara apalagi ini..?" tanya Tejomantri kebingungan.
"Tuan Tejomantri.. Apakah tuan akan membiarkan guru tuan berdiri diluar..? Sedangkan di dalam istriku dan nyonya Jaka telah menyiapkan berbagai hidangan.." ucap Ki Lurah Sumitro.
Mereka pun memasuki pendopo rumah Ki Lurah Sumitro dan melanjutkan percakapan mereka. Raden Sanjaya menjelaskan semuanya tentang siapa dirinya dan mengapa dia menggunakan nama samaran.
"Jadi saudara muda ini adalah putra dari Pangeran Kusuma, saudara seperguruanku..? Berarti kau adalah keponakanku sendiri, karena aku dan ayahmu sudah seperti saudara. Aku ikut berduka cita untuk kematian ayahmu nak.." ucap Tejomantri sambil memeluk raden Sanjaya.
__ADS_1
Ki Sasongko menceritakan kejadian yang terjadi di negeri Kawi kepada Tejomantri yang membuatnya kagum kepada raden Sanjaya. Setelah saling bercerita dan melepas rindu, raden Sanjaya menceritakan situasi kerajaan Banon Sewu kepada Ki Sasongko dan yang lainnya.
"Ki Mahesa, sebagai orang yang menguasai Kitab Lembu Sekilan, aku ingin meminta bantuanmu untuk merasakan dan menemukan keberadaan Kitab Bolo Srewu.." ucap raden Sanjaya.
Sama halnya dengan kitab tapak darah, keberadaannya bisa diketahui oleh orang yang yang menguasai kitab Brajusti, keberadaan kitab bolo srewu dapat dirasakan oleh orang yang menguasai kitab lembu sekilan. Karena masing-masing kitab itu adalah tandingan dari kitab lainnya.
"Jika sampai kitab bolo srewu ditemukan oleh permaisuri Mai, maka kerajaan Banon Sewu akan jatuh pada kegelapan.." ucap Tejomantri.
"Baiklah raden, tapi butuh waktu setidaknya dua sampai tiga hari untuk aku bisa memastikan keberadaan kitab itu. Jadi mohon raden dapat bersabar.." jawab Ki Mahesa.
Tiga hari berlalu dengan cepat. Ki Mahesa telah menemukan keberadaan kitab sakti bolo srewu, yang tersimpan di ruang penyimpanan perpustakaan kerajaan dan belum diketahui oleh permaisuri Mai.
"Raden... aku telah menemukan jejak keberadaan kitab sakti bolo srewu. Menurut sasmita yang aku dapatkan, kitab itu berada di ruang penyimpanan, dan terdapat banyak kitab lain disana. Sepertinya sebuah perpustakaan perguruan milik istana.." ucap Ki Mahesa.
"Lalu apa tugas kami tuan..?" ucap Jarot dan Pandu Bergolo.
"Pandu Bergolo temanilah Ki Mahesa untuk menemukan kitab bolo srewu dan Jarot kau awasilah markas kapak darah yang berada di desa Sidomukti.." jawab Raden Sanjaya
Keesokan harinya sebelum matahari terbit, masing-masing kelompok berangkat sesuai dengan pembagian tugas dari raden Sajaya. Tejomantri bersama dengan Ki Sasongko berangkat menuju Penginapan Seribu Bunga, setidaknya mereka membutuhkan tujuh sampai delapan hari untuk bisa sampai ke tempat lelang. Demikian pula dengan kelompok raden Sanjaya membutuhkan setidaknya satu minggu untuk sampai ke alas Pancer.
Dalam waktu beberapa hari, kelompok sipil yang ditugaskan untuk menguasai markas cadangan dari kapak darah telah sampai di posisinya masing-masing. Dengan segera mereka menempatkan jerami kering yang telah direndam di dalam minyak dari pintu masuk markas sampai ke dalam ruangan yang ada di dalam markas. Jerami disusun sedemikian rupa agar apabila jerami yang ada di pintu masuk dibakar, maka api akan menjalar masuk ke dalam markas. Selanjutnya, kelompok sipil itu berjaga di sekitar pintu masuk markas.
__ADS_1
Enam hari berlalu semenjak keberangkatan mereka, Ki Mahesa dan Pandu Bergolopun telah sampai di kota kerajaan. Mereka tidak segera menuju perpustakaan di lingkungan perguruan istana kerajaan, tapi memilih untuk mempelajari situasi dan kondisi istana untuk menentukan langkah apa yang harus mereka jalankan.
"Saudara Pandu sebaiknya kita mempelajari dulu situasi perpustakaan istana, apakah orang luar seperti kita bisa masuk ke dalam perpustakaan.." ucap Ki Mahesa.
"Benar Ki.. Setahuku bagian depan perpustakaan dapat dimasuki oleh siapapun. Kebanyakan yang masuk kesana adalah prajurit dan anak-anak dari petinggi kerajaan yang ingin mengetahui sejarah kerajaan Banon Sewu.." ucap Pandu Bergolo.
"Sekarang kita coba berkeliling dulu saja. Besok pagi baru kita masuk kesana.." ucap Ki Mahesa.
Mereka berjalan mengelilingi halaman perguruan istana dimana setiap orang dapat memasuki tempat itu sekedar untuk melihat latihan dasar bela diri.
-->
Sementara itu Ki Harso dan Ki Woko juga telah sampai di kota kerajaan. Mereka berdua menginap di penginapan yang dekat istana kerajaan untuk mempermudah mereka mendapatkan informasi dan memgawasi pergerakan permaisuri Mai.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya Ki Woko..?" tanya Ki Harso.
"Kita cari dulu informasi di rumah makan di seberang jalan itu saja. Banyak prajurit yang makan disana, pasti ada beberapa informasi yang bisa kita dapatkan.." ucap Ki Woko.
"Baiklah... Selanjutnya apakah tidak sebaiknya kita menyusup ke dalam istana Ki..? Ku pikir kita juga bisa mendapatkan banyak informasi sekaligus rencana permaisuri mai dan keadaan di dalam istana.." ucap Ki Harso.
"Sabar Harso.. berdasar cerita dari Ki Lurah Sumitro, permaisuri Mai memiliki kesaktian yang tinggi. Jadi kita harus memikirkan rencana ini dengan matang. Kita juga belum tau setinggi apa kesaktian permaisuri Mai.." jawab Ki Woko.
__ADS_1
"Baiklah Ki.. Mari kita cari informasi di rumah makan itu dulu dan pikirkan bagaimana rencana kita selanjutnya.." sahut Ki Harso.
Rumah makan di depan penginapan Ki Woko dan Ki Harso cukup ramai. Banyak punggawa kerajaan dan prajurit yang makan di tempat itu. Mereka duduk di di meja yang berada di tengah-tengah rumah makan agar bisa dengan mudah mendengar segala informasi yang ada.