
Ki Harso dan pangeran Himawan yang baru saja sampai di desa Gadungsari terlibat pertempuran dengan anggota Tengkorak Hitam yang dipimpin Karman. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengalahkan Karman dan anak buahnya. Pangeran Himawan mengembalikan bayi itu kepada ibunya dan Ki Harso membebaskan para gadis dari tangan Tengkorak Hitam.
"Nyonya ini bayimu. Jaga baik-baik.." ucap pangeran Himawan.
"Terimakasih tuan, tuan telah menyelamatkan bayiku.
"Terimakasih tuan, tuan telah menyelamatkan kami semua." ucap ibu bayi dan para gadis.
"Ikat anggota Tengkorak Hitam yang masih hidup. Aku akan menginterogasi mereka." perintah pangeran Himawan kepada penduduk.
"Selanjutnya, perketat penjagaan di perbatasan desa, jika ada teman-teman mereka datang kita bisa dengan cepat mengetahuinya."
"Antarkan kami bertemu dengan kepala desa, dan para bajingan ini, ikat mereka di tugu di depan pasar. Aku telah melumpuhkan mereka, mereka tidak akan bisa mengeluarkan kekuatannya." perintah Ki Harso.
"Baik tuan...!! Ayo kita jaga mereka, kalau mereka macam-macam kita hajar saja mereka.." sahut penduduk desa.
"Lebih baik kita melaporkan kejadian ini kepada Nyai Nawang tuan. Kepala desa kami sudah sangat tua, dia pasti akan menyerahkan masalah ini kepada Nyai Nawang." ucap salah satu penduduk.
"Baiklah, antarkan kami kepada nyai Nawang.." ucap ki Harso.
"Nyai Nawang, sepertinya nama itu tidak asing. Mungkinkah dia ..........., ahhhh, tidak mungkin. Kalaupun memang benar dia, ini kesempatanku untuk meminta maaf dan menebus kesalahanku.." batin pangeran Himawan.
Salah seorang penduduk mengantar Ki Harso dan Pangeran Himawan ke kediaman putri Nawang Sari yang berada di ujung desa. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di kediaman putri Nawang. Terlihat Nawang Sari dengan anggun memperagakan jurus pedang kilisuci. Senyuman selalu menghiasi bibirnya dan membuatnya terlihat semakin cantik. Pangeran Himawan sama sekali tidak berkedip, dia terpukau dengan kecantikan Sekar Wulan.
"Sangat cantik.. Siapa sangka di desa ini ada gadis secantik dia. Siapa dia..?" batin Pangeran Himawan.
"Nyai Nawang........!! ada dua orang pendekar yang ingin bertemu dengan anda..!!" teriak penduduk.
"Pendekar..? siapa pendekar yang ingin menemuiku..? Apakah keberadaanku disini sudah diketahui oleh Tengkorak Hitam..?" batin putri Nawang.
Sekar Wulan menghentikan latihannya. Perasaan was-was terlukis di wajah gadis itu. Dia pun berlari ke arah putri Nawang untuk lebih mengetahui siapa yang sedang mencari calon mertuanya itu.
"Tenanglah ibu, aku akan menemui kedua orang itu. Ibu, kakek begawan dan nona Wulan tunggulah disini." kata raden Sanjaya sambil melesat pergi ke arah Ki Harso.
__ADS_1
Dalam sekejap raden Sanjaya telah berada di depan ki Harso dan pangeran Himawan. Sambil menelangkupkan tangan di depan dada, Raden Sanjaya menyambut mereka berdua.
"Maaf tuan, mereka berdua ingin bertemu dengan nyai Nawang."
"Aku sudah mengantar kalian, tuan ini adalah pengikut Nyai Nawang. Aku mohon diri." ucap penduduk itu lalu pergi meninggalkan mereka.
"Salam kisanak, siapakah kisanak ini, dan ada perlu apa ingin menemui ibuku..?" tanya raden Sanjaya.
"Maaf anak muda, namaku adalah Ki Harso dan yang disampingku ini adalah pangeran Himawan." ucap ki Harso.
Raden Sanjaya cukup terkejut mendengar nama pangeran Himawan dan menatap tajam kepada pangeran Himawan.
"Pangeran Himawan, dia adalah putra dari bibi Ling. Tapi mengapa tidak seperti yang diceritakan bibi Ling..? Di dalam dirinya tidak ada watak angkara. Mungkinkah dia sudah bertobat..?" batin Raden Sanjaya.
"Ada apa anak muda..? mengapa engkau menatap muridku dengan tajam..? Apakah kalian sudah pernah bertemu sebelumnya dan apakah ada dendam antara kalian..?" tanya ki Harso waspada.
"Ahhhh.. tidak tuan. Mari silahkan masuk, tunggulah di pandapa, aku akan memanggil ibuku untuk menemuimu.." ucap raden Sanjaya ramah.
Ki Harso dan pangeran Himawan menunggu di pendopo sedangkan raden Sanjaya memberitahu ibunya tentang siapa yang mencarinya. Putri Nawang sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putranya. Pada awalnya putri Nawang menolak untuk menemui pangeran Himawan, tapi setelah diyakinkan oleh raden Sanjaya akhirnya putri Nawang bersedia menemui tamunya.
"Wulan, tolong panggilkan bibi Ling, minta dia menemaniku menemui putranya.." pinta putri Nawang.
"Baik ibu.." jawab sekar wulan sambil pergi.
Mendengar cerita Sekar Wulan, dengan memendam amarah, Selir Ling bersama putri Nawang menemui Ki Harso dan pangeran Himawan di pendopo.
Pangeran Himawan dan Ki Harso sangat terkejut memgetahui bahwa nyai Nawang adalah putri Nawang Sari dan bersama dengannya Selir Ling ibunda pangeran Himawan.
"Anak durhaka, untuk apa kamu datang kesini..? Apakah pranoto yang menyuruhmu kemari..?" selir Ling meluapkan kemarahannya.
Sambil bersujud di kaki ibunya dan putri Nawang, pangeran Himawan mengakui segala perbuatannya dan memohon maaf kepada mereka.
"Ibu, maafkan aku. Aku menyadari kesalahanku dan aku ingin memperbaikinya. Akan kutebus semua kesalahanku dulu. Putri Nawang Sari, aku mohon maafkan aku. Apapun hukuman yang putri berikan, aku akan menerimanya asal putri mau memaafkan kesalahanku." ucap raden Sanjaya sambil menangis.
__ADS_1
Dipengaruhi oleh emosi, selir Ling tidak mampu berfikir dengan baik. Yang dia inginkan hanyalah ingin menghukum putranya tersebut. Selir Ling mencabut pedang Sekar Wulan yang berada disebelahnya dan berniat untuk mengakhiri hidup putranya. Bagi Selir Ling, kesalahan putranya tidak akan pernah bisa dimaafkan.
"Trik apalagi yang sedang kau mainkan. Lebih baik, kukirim kau menemui raja Yama untuk menebus kesalahanmu.." ucap selir Ling sambil mengayunkan pedang Sekar Wulan.
Dengan sigap, raden Sanjaya segera menahan tangan selir Ling dan merebut pedang yang dibawanya.
"Tenanglah bibi.. semua bisa dibicarakan baik-baik.." ucap raden Sanjaya.
"Ibu, jika memang dengan kematianku dapat menebus semua salahku, jangan kotori tangan sucimu dengan darahku. Aku sendiri yang akan melakukannya.." ucap pangeran Himawan sambil mencabut pedang yang terselip di pinggangnya.
Ki Harso dengan tidak kalah cepat menahan tangan pangeran Himawan dan merebut pedangnya.
"Jangan gegabah pangeran. Sabar.. pangeran harus sabar.." ucap Ki Harso.
Begawan Sabdawala yang mengamati dari kejauhan akhirnya mendarangi pendopo.
"Jika dengan berdiri kalian tidak mampu menahan emosi kalian, maka duduklah.." ucap begawan Sabdawala sambil memasuki pendopo.
"Gu.. gu.. guru.. salam hormat aku haturkan kepada guru.." Ki Harso langsung bersimpuh memberi hormat setelah mengetahui begawan Sabdawala.
"Bangunlah Harso, aku terima hormatmu.."
"Ling.. putramu telah mengakui kesalahannya dan dia berjanji akan menebus semua kesalahannya. Apakah kau tidak berniat memafkannya..? Demikian juga dengan mu Nawang.." ucap begawan Sabdawala.
"Benar bibi.. Aku juga merasakan dengan mantram kasampurnan, tidak ada sedikitpun sifat angkara dalam hati paman Himawan.." ucap raden Sanjaya.
"Semua adalah takdir dari Sang Pencipta. Himawan adikku, aku Nawang Sari memaafkan semua kesalahanmu kepadaku dan suamiku. Aku telah merelakan semuanya." ucap putri Nawang Sari.
"Kakak.. aku menyadari bahwa semua ini karena aku telah dibutakan oleh nafsuku. Sehingga dengan mudah Pangeran Pranoto telah menghasutku untuk membenci pangeran Kusuma. Aku tertutup dari kebenaran sejati, semua memang salahku, dan aku akan menebus semuanya." ucap pangeran Himawan.
"Nyonya, pangeran telah menceritakan semuanya kepada ku tentang segala hal yang telah dilakukannya. Dia sangat menyesal dan ingin bertobat. Juga akan menebus semua kesalahannya.." ucap Ki Harso.
Mendengar ucapak Ki Harso, Selir Ling menjadi luluh hatinya dan memaafkan kesalahan putranya. Dia memeluk pangeran Himawan dan berharap pangeran Himawan menepati semua yang dikatakannya.
__ADS_1