
"Ibu... kau benar, akulah yang sudah buta dikuasai oleh nafsu akan kekuasaan sehingga aku melakukan kesalahan dan berbuat kejam kepada pangeran Kusuma dan keluarganya? Bahkan aku juga tega menjerumuskan raja Dewayana ke dalam penjara bawah tanah.." Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah aku lakukan.." batin pangeran Himawan dengan penyesalan
"Pangeran.. apakah pangeran masih memberikan kami waktu lagi untuk mencari ibunda pangeran..? ucap pengawal membuyarkan lamunan pangeran Himawan.
"Hhhhhaahh.. baiklah, lanjutkan pencarian. Tapi ingat, jangan biarkan siapapun mengetahui masalah ini. Agar kondisi di kepatihan ini agar tetap tenang." perintah Pangeran Himawan.
"Baik pangeran, aku akan melaksanakan perintahmu.." jawab pengawal.
"Lebih baik aku pergi mencari ibuku. Aku akan meminta ijin kepada pangeran Pranoto untuk melakukan pelatihan tertutup di perguruan Wiji Sejati, aku yakin pangeran akan mengijinkan ku." pikir pangeran Himawan.
Setelah memikirkan semuanya dengan matang, pangeran Himawan datang ke Istana untuk menemui pangeran Pranoto.
"Adikku, ada apa tiba-tiba kamu menemuiku..? Beberapa pertemuan, kamu bahkan tidak pernah datang.." ucap pangeran Pranoto.
"Maafkan saya pangeran karena tidak dapat menghadiri undangan pangeran. Pangeran tau sendiri bahwa situasi di kepatihan dalam sangat kacau setelah ditinggal patih Rekso Bumi."
"Jadi aku fokus untuk membenahi kondisi kepatihan dalam sekaligus membersihkan pengikut-pengikut patih Rekso Bumi agar tidak menganggu." jawab pangeran Himawan beralasan.
"Hahahaha... tenanglah adikku, jangan merasa tidak enak hati, kita adalah keluarga. Aku percaya kamu pasti sedang melakukan sesuatu yang penting."
"Lalu bagaimana situasi di kepatihan dalam saat ini..?" tanya pangeran Pranoto.
"Seperti yang kakak inginkan, kepatihan dalam saat ini telah bersih dari para pengikut setia patih Rekso Bumi. Semua yang masih setia dengan patih Rekso telah aku jebloskan ke dalam penjara istana."
"Sekarang kakak bisa lebih tenang, tidak akan ada lagi orang-orang yang akan menganggu di lingkungan istana.." jawab pangeran Himawan.
__ADS_1
Kepatihan Dalam bertanggung jawab terhadap keamanan istana dan urusan rumah tangga istana. Segala kebutuhan Keluarga Istana disiapkan dan dipenuhi oleh kepatihan dalam. Untuk urusan keamanan, Kepatihan Dalam dibekali dengan pasukan pengawal kepatihan dibantu pasukan Senopati Kanan untuk keamanan Ratu dan para selir raja, dan pasukan Senopati Dalam untuk keamanan Raja dan Istana.
"Lalu apakah kamu menemuiku hanya untuk melaporkan itu..?" tanya pangeran Pranoto.
"Tidak pangeran, aku menemuimu karena aku ingin meminta ijinmu. Aku akan melakukan pelatihan tertutup di Gunung Jamur Dipa, di perguruan Wiji Sejati.."
"Mungkin butuh waktu tiga bulan untuk pelatihanku.." Pangeran Himawan beralasan.
"Hhhmmm.. Lalu siapakah yang akan mengurus kepatihan dalam..?" tanya pangeran Pranoto.
"Aku akan mempercayakan urusan kepatihan kepada Tumenggung Wisaya, dia adalah penasehat kepatihan dan orang yang sangat aku percaya. Selain pandai, Wiyasa adalah orang yang sangat teliti dan disiplin.." jawab pangeran Himawan.
"Baiklah, aku memberikanmu ijin. Tapi segera kembali saat pelatihanmu sudah selesai.." jawab pangeran Pranoto.
Lalu pangeran Pranoto mengeluarkan selembar kertas yang berisi pemberian ijin kepada pangeran Himawan untuk melakukan pelatihan dan memberikan kewenangan urusan kepatihan dalam kepada Tumenggung Wiyasa. Pangeran Himawan lalu memberikan instruksi kepada tumenggung Wiyasa selama kepergiannya.
"Baik pangeran, percayakan semuanya kepadaku." jawab Wiyasa.
Setelah melakukan persiapan, pangeran Himawan berangkat meninggalkan kepatihan dalam untuk mencari ibundanya. Tempat pertama yang dia tuju adalah Perguruan Wiji Sejati. Bukan tanpa alasan, perguruan Wiji Sejati adalah tempat dimana pangeran Himawan belajar kanuragan. Pangeran Himawan adalah murid dari Ki Harso, salah satu tetua di perguruan Wiji Sejati.
Tujuan pangeran Himawan menemui gurunya adalah untuk menceritakan dan mengakui kesalahan yang telah dilakukannya. Dia ingin meminta solusi dan bantuan kepada Ki Harso atas semua permasalahan yang dihadapinya.
->
Pada saat yang sama, Senopati Manto sedang berada di markas sekte Tengkorak Hitam dan memerintahkan tiga orang anggota elit sekte Tengkorak Hitam untuk melakukan penyelidikan di alas Purba. Mereka disebut dengan topeng hitam, topeng merah dan topeng perak. Mereka bertiga berada pada tingkat Master tahap awal.
__ADS_1
"Tugas kalian adalah masuk ke alas Purba untuk melakukan penyelidikan atas kejadian fenomena alam yang terjadi beberapa waktu lalu.."
"Kalian, bawalah masing-masing dari kalian tiga orang anggota biasa untuk melakukan tugas dari ketua." perintah Senopati Manto.
"Apa yang harus kami selidiki tuan wakil ketua..?" tanya topeng hitam.
"Ketua curiga bahwa kejadian alam itu berhubungan dengan kitab kalimasada. Kalian selidiki keberadaan kitab itu dan juga keberadaan raden Sanjaya.." jawab Manto.
"Baik tuan wakil. Kami akan melakukan yang terbaik." sahut mereka serempak.
Segera setelah pertemuan itu, mereka bertiga dengan sembilan anggota biasa sekte melakukan perjalanan untuk menelusuri alas Purba. Butuh waktu sepuluh hari untuk perjalanan mereka sampai di alas Purba. Lalu mereka membagi dalam tiga kelompok. Masing-masing anggota elit membawa tiga orang anggota biasa dan memasuki alas Purba.
"Topeng merah, bawalah tiga orang anggota dan pergilah ke arah selatan. Topeng hitam bersama tiga orang anggota pergi ke arah timur dan aku sendiri dengan tiga orang anggota akan menuju ke arah utara.."
"Sepuluh hari lagi kita akan bertemu ditempat ini.." ucap topeng perak.
"Baik.. sepuluh hari lagi kita akan bertemu disini.." sahut mereka serempak..
Tidak seperti saat ki Karto memasuki alas Purba, mereka tidak menemukan kendala saat memasuki alas Purba. Hal ini disebabkan karena bidang sihir yang melindungi alas Purba telah rusak akibat badai petir yang terjadi saat raden Sanjaya menyerap mantram sakti langkah kalimasada.
-->
Sementara itu setelah dua minggu melakukan perjalanan, Raden Sanjaya dan Ki Sumali berhasil menemukan Istana Penguasa. Saat ini mereka berdua berada di depan sebuah reruntuhan bangunan yang di gerbangnya terdapat ukiran tulisan Kawi kuno yang arti tulisan itu adalah Hastana Hyang Asa. Mereka memasuki halaman dari bangunan itu dengan hati-hati. Setelah memasuki halamannya, terdapat bangunan yang lebih mirip seperti sanggar pemujaan tetapi dengan ukuran yang besar. Tampak bangunan itu masih utuh dan kokoh walaupun bangunan di sekitarnya banyak yang sudah ambruk. Mereka pun mendekati bangunan itu dan di depan pintu yang tertutup itu tampak dua patung kalacakra, adalah patung raksasa dengan empat wajah, tiga wajah digambarkan dengan gigi yang bertaring dan satu wajah digambarkan dengan senyuman. Selain itu patung kalacakra mempunyai empat tangan membawa senjata sejenis gada, pedang, busur dan anak panah, dan senjata berbentuk cakra.
Di atas pintu itu terdapat tulisan Kawi kuno yang berbunyi Urip iku urup yang berarti hidup itu menghidupi. Aura spiritual yang sangat kental terasa keluar dari balik pintu bangunan itu, sehingga tidak satupun hewan suci atau hewan spiritual suci yang berani mendekati daerah itu. Raden Sanjaya merasakan ketenangan berada di tempat itu, sebaliknya ki Sumali merasa bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1
"Apakah ini istana penguasa..? Aku merasakan tekanan yang sangat kuat.." batin Ki Sumali.