Sang Pendekar

Sang Pendekar
CH2.11 Pembunuhan terjadi lagi di Istana


__ADS_3

Ki Woko dan Ki Harso memasuki kedai yang cukup luas. Ada beberapa set tempat duduk yang cukup untuk beberapa orang setiap setnya. Ki Harso duduk di hadapan Ki Woko setelah memesan beberapa makanan dan minuman. Didalam kedai itu tampak beberapa kelompok prajurit dan punggawa istana sedang makan sambil berbincang-bincang. Beberapa pelayan datang membawa pesanan Ki Harso dan Ki Woko.


"Sepertinya kisanak berdua bukan orang sini, darimana kisanak berasal dan apa tujuan kisanak berada di kota kerajaan..? Apakah sekedar berkunjung atau hanya kebetulan lewat saja..?" tanya kepala pelayan.


"Aaahhh.. kami hanya kebetulan lewat saja. Kami datang ke tempat ini hanya sekedar ingin beristirahat dua sampai tiga hari saja tuan.." jawab Ki Harso.


"Lalu kalau boleh tau darimana kisanak berasal dan kemana tujuan kisanak..? Mungkin aku bisa membantu menunjukkan rute tercepat untuk kisanak.." tanya kepala pelayan.


"Kami berasal dari negeri Kawi dan akan menuju ke negeri Antasangin. Kira-kira masih berapa jauh lagi kami akan sampai ke negeri Antasangin tuan..?" tanya Ki Woko.


"Negeri Kawi..? itu sangat jauh dari sini. Jika tuan melalui jalur darat, maka tuan akan sampai sekitar lima belas hari. Tapi jika tuan melalui jalur air, maka sekitar sembilan hari untuk sampai Antasangin. Karena jika melalui jalur darat, kisanak harus memutari wilayah pegunungan Merabu. Ini kisanak ada peta agar kisanan bisa mempelajari jalur menuju Antasangin.." jawab kepala pelayan selanjutnya pergi melayani tamu yang lainnya.


Ki Harso menerima peta itu dan mempelajarinya sebentar lalu menyantap makanan yang telah dihidangkan. Telinga ki Harso dan Ki Woko menangkap beberapa pembicaraan para prajurit maupun punggawa kerajaan Banon Sewu sambil menyantap makanan yang dihidangkan.


"Ku dengar akhir bulan depan permasuri akan mengadakan acara perayaan. Apa kamu tau perayaan seperti apa..?" ucap salah satu prajurit.


"Entahlah... aku tidak tau. Ini baru pertama kali diadakan di kerajaan kita." jawab lainnya.


"Tapi entah mengapa beberapa bulan terakhir ini permaisuri Mai tidak terlihat. Apakah beliau sakit..?" tanya salah satu prajurit


"Beberapa hari yang lalu aku melihat permaisuri berjalan-jalan mengelilingi istana pada malam hari. Tapi permaisuri terlihat baik-baik saja.." sahut lainnya.


"Benar.. aku pun pernah menjumpainya pada malam hari di aula kerajaan sedang menerima tamu. Tapi tamu itu memakai jubah hitam. Hanya aku tidak mendengar percakapan mereka. Sepertinya akhir-akhir ini permaisuri agak aneh." sahut lainnya.


Ki Harso mendengarkan semua informasi dari kelompok prajurit dengan tenang seakan tidak perduli dengan pembicaraan mereka. Ki Woko pun juga mendengar percakapan dari kelompok punggawa istana.


"Entahlah mengapa akhir-akhir ini permaisuri menerima tamu pada malam hari. Tamu yang datang pada pagi atau siang hari, tidak ditemuinya, malah menyuruh patih atau pejabat lainnya untuk menemui.." ucap salah satu punggawa.

__ADS_1


"Benar.. tidak seperti raja Danayaksa yang selalu menemui tamunya kapanpun, dan juga permaisuri sama sekali tidak memperdulikan bawahannya.." sahut lainnya.


"Tapi sudah hampir satu tahun ini aku tidak pernah melihat raja Danayaksa. Kabarnya beliau sedang sakit aneh. Apakah kalian pernah melihat paduka raja..?" ucap punggawa lainnya.


"Sekali aku pernah melihatnya sedang berada di kediamannya, tapi ada yang aneh, pandangan beliau kosong seperti orang yang kehilangan pikirannya.." jawab lainnya.


Ki Woko mendengarkan sambil menyantap makanannya. Mendadak datang seorang kepala prajurit memasuki rumah makan sambil berteriak..


"Terjadi lagi.. hari ini ditemukan lagi mayat dengan bekas gigitan di lehernya. Tubuhnya kering seperti kehabisan darah. Ini sudah kali kelima dalam beberapa bulan terakhir. Kita harus memperketat penjagaan..!!" ucap kepala prajurit itu.


Berita dari kepala penjaga membuat semua yang ada di kedai terdiam. Kengerian tampak terlukis di wajah para prajurit yang sedang makan. Ki Woko dan Ki Harso saling pandang dan berusaha mencerna informasi yang baru saja mereka dapatkan. . Setelah selesai makan, Ki Harso dan Ki Woko segera kembali ke penginapan untuk memberikan berita yang baru saja didapatkan kepada raden Sanjaya menggunakan merpati raja dan menyusun rencana untuk melakukan pengintaian di sekitar istana kerajaan.


-->


Tejomantri dan Ki Sasongko telah sampai di penginapan Seribu Bunga. Peginapan yang biasanya tidak terlalu ramai, mendadak menjadi banyak pengunjung dari berbagai negeri untuk mengikuti undangan lelang. Kebanyakan dari mereka adalah bangsawan dan beberapa adalah pendekar yang disewa untuk mengawal mereka. Tejomantri menunjukkan undangan yang didapatkannya dari Sekar Wulan kepada petugas registrasi.


"Sastroganthol dari negeri Antasangin.." jawan Tejomantri.


"Maaf tuan. Nama anda tidak ada di dalam daftar nama tamu undangan. Jadi saya tidak bisa memberikan tempat kepada tuan Sastro.." ucap petugas itu.


"Apa...? Beginikah sikap kalian terhadap tamu undangan..? Aku jauh-jauh dari negeri Antasangin atas undangan ini. Tapi kalian mengatakan namaku tidak ada dalam daftar. Sikap macam apa yang kalian tunjukkan kepadaku..? Atau kalian ingin mempermalukan bangsawan Antasangin hah...?!!" ucap Tejomantri marah, Ki Sasongko sengaja mengeluarkan auranya untuk memberi tekanan kepada yang hadir di penginapan.


"Mma... maa.. maaf tuan.. Aku akan memanggil pimpinan dulu. Aa... aaku hanya menjalankan perintah saja.." ucap petugas ketakutan dan pergi memanggil pimpinannya.


Tidak butuh waktu lama, petugas itu kembali dengan seseorang berperawakan tegap.


"Maaf tuan.. Ada masalah apa ini..? Mengapa anda membuat kekacuan di tempat kami..? ucap laki-laki itu.

__ADS_1


"Siapa kau.. apa hak mu bertanya kepadaku..?" ucap Tejomantri.


"Maaf tuan aku belum memerkenalkan diri. Namaku Sairun, aku adalah penanggung jawab tempat ini dan acara ini. Kembali, siapa tuan dan ada masalah apa..?" tanya Sairun.


"Apakah anak buahmu tidak menceritakannya kepadamu..? Aku mendapat undangan dari pimpinan kalian untuk mengikuti acara lelang. Lalu apa perlakuan kalian, anak buahmu mengatakan bahwa nama ku tidak ada dalam daftar. Lalu apakah arti undangan ini..?" ucap Tejomantri sambil membanting undangan.


Sairun membuka undangan Tejomantri dan memeriksanya, lalu memeriksa daftar tamu yang dibawanya.


"Oohhhh.. maaf tuan, ini hanya kesalahpahaman saja. Menurut daftar yang saya punya, seharusnya tuan masih tahun depan mengikuti pelelangan. Jadi wajar jika nama tuan tidak ada dalam daftar tamu yang dibawa petugas registrasi.." jawan Sairun tenang.


"Lalu, apakah kalian tetap tidak mengijinkanku mengikuti lelang..?" tanya Tejomantri.


"Tidak... silahkan tuan tetap mengikuti lelang ini, tapi untuk kepesertaan tuan tahun depan akan kami hapus.. Petugas, berikan mereka kamar dan pastikan tuan Sastro dan pengawalnya mendapatkan pelayanan yang baik.." ucap Sairun.


Petugas registrasi mengantar Tejomantri dan Ki Sasongko menuju kamarnya.


"Jika tuan membutuhkan sesuatu, tuan bisa meminta kepada pelayan yang berada di ujung sana. Pelayan akan segera memenuhi permintaan tuan. Aku mohon diri, maafkan atas kesalah pahaman tadi tuan.." ucap petugas lalu pergi.


Di dalam kamar Tejomantri sedang berdiskusi dengan Ki Sasongko.


"Yang kamu lakukan tadi cukup menarik perhatian tamu undangan yang lain. Mungkin mereka akan sedikit lebih waspada kepada kita.." ucap Ki Sasongko.


"Benar guru... Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya guru..?" tanya Tejomantri.


"Malam ini aku akan berkeliling keluar penginapan. Walaupun mereka membawa pengawal pendekar-pendekar tingkat tinggi, aku yakin dengan Aji Hanglimunan mereka tidak akan bisa mengetahui keberadaanku. Dan kau berbaurlah dengan mereka, kumpulkan semua informasi.." ucap Ki Sasongko.


"Baik Guru.. Sekarang sebaiknya kita pulihkan dulu tenaga kita.." ucap Tejomantri.

__ADS_1


__ADS_2