Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB XXXII


__ADS_3

"Aku akan mengampuni kalian, dengan syarat kalian harus menjadi pengikut kakekku. Aku akan menghancurkan jurus yang telah kalian kuasai, tapi tingkat tenaga dalam kalian tetap pada tingkatan saat ini. Sebagai gantinya kakekku akan mengajari kalian jurus baru." ucap Raden Sanjaya.


"Aku bersedia tuan, aku akan menjadi pengikut tuan dan kakek tuan. Tapi sebelumnya aku ingin memperkenalkan diriku, namaku yang sebenarnya adalah Ujang. Kalau boleh saya tau, siapa nama tuan dan kakek tuan..?" tanya Ujang


"Kau bisa memanggilku Jaka Pengalasan, dan ini kakekku Ki Sumali." jawab raden Sanjaya.


"Darimana kamu dapat nama itu cucuku..?" bisik Ki Sumali.


"Entahlah kek, aku telah hidup selama bertahun-tahun di alas Purba ini. Aku rasa Pengalasan cocok untukku. Dan sepertinya aku perlu menyembunyikan identitasku yang sebenarnya." jawab Raden Sanjaya.


Ki Sumali pun tersenyum mendengar jawaban raden Sanjaya.


"Kau telah tumbuh dewasa raden. Bahkan hal sekecil ini tidak luput dari pengamatanmu. Aku sungguh sangat bangga padamu."


"Pangeran Kusuma dan Putri lihatlah, putramu telah dewasa dan bahkan dia jauh lebih hebat dari kalian." batin Ki Sumali.


Dengan Mantram Kalacakra, raden Sanjaya menghancurkan seluruh jurus yang dikuasai topeng hitam dan anak buahnya. Mereka tetap memiliki tenaga dalam sesuai tingkatan mereka sebelumnya, tapi tidak mempunyai satu jurus pun untuk mengeluarkan tenaga dalam tersebut. Tenaga dalam mereka seperti tersegel dan akan terbuka saat mereka menguasai jurus baru.


"Aku telah menghancurkan jurus kalian, tapi tidak dengan tenaga dalam kalian. Tunggulah sampai di desa Lawean, kakekku akan mengajari kalian jurus baru."


"Jangan pernah menghianati kakekku, atau aku akan meledakkan lautan jiwa kalian.." ucap raden Sanjaya tegas.


"Baik tuan Jaka, kami akan bersumpah setia kepada tuan dan kakek tuan." jawab mereka serempak.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju arah pintu masuk Alas Purba untuk menunggu kedatangan topeng merah dan topeng perak beserta anak buahnya. Belum lama mereka berjalan, seekor harimau putih dengan tanduk di kepala, dengan tinggi sekitar 4 meter, menghalangi mereka. Harimau itu tampak buas dan sedang kelaparan.


AAAUUUUUUMMMMM.... GGRRRRRRRR... AAUUUUMMMMM..


Auman keras harimau putih bertanduk membuat topeng hitam dan anak buahnya ketakutan. Raden Sanjaya dengan tenang berjalan maju dan bersiap menghadapi harimau itu.


"Hati-hati cucuku. Harimau putih bertanduk itu adalah hewan spiritual suci tingkat tinggi. Tidak mudah menghadapinya." ucap Ki Sumali memperingatkan.

__ADS_1


"Baik kek.. aku akan berhati-hati.." jawab Raden Sanjaya.


"Sebenarnya siapa kedua orang ini..? Dengan tingkat guru tahap menengah, mereka begitu tenang berhadapan dengan Hewan Spiritual Suci.." batin Ujang.


Mereka berlima pergi menjauh dan mengawasi Raden Sanjaya dari kejauhan.


BROOOOOMM.. BRAAAAAKK.. GRAAAAAASH..


SEEEEET.. WHEEEESS... SEEEEETTTTT...


Harimau bertanduk menyerang dengan ganas ke arah raden Sanjaya. Tapi dengan gesit dan lincah raden Sanjaya berhasil menghindari setiap serangan dari harimau itu. Sudah ratusan serangan dikeluarkan oleh harimau itu, bukannya lelah, serangan harimau bertanduk semakin ganas dan cepat. Tapi raden Sanjaya juga semakin gesit dan lincah menghindari serangan harimau itu..


PLAAAAAKK.. JDUUUUUUUGG.. JBUUUUUUGGG.


"Tapak Kalimasada...." ucap raden Sanjaya dalam hati..


BOOOOOOOMMM.. BBRAAAAAAKK..


Harimau itu terdiam dan akhirnya menunduk di hadapan Raden Sanjaya..


"Ampuni hamba tuan, hamba mengaku kalah dan mulai sekarang hamba akan tunduk kepada perintahmu.." ucap harimau itu dengan telepati.


Raden Sanjaya mengalirkan tenaga dalamnya untuk membuat ikatan dengan harimau itu. Tidak hanya membentuk ikatan, rasa lapar dan haus harimau putih bertanduk juga hilang.


"Aku mengampunimu, mulai saat ini kau adalah bawahanku."


"Sekarang pergilah jauh ke dalam alas. Aku akan memanggilmu dengan telepati jika aku membutuhkanmu.." jawab raden Sanjaya"


"Terimakasih tuan. Hamba mohon diri.." jawab harimau itu dan langsung melesat pergi.


Ki Sumali dan topeng hitam takjub dengan apa yang mereka lihat. Bahkan topeng hitam hanya melongo dengan semua kejadian yang baru saja dilihatnya.

__ADS_1


"Apakah mataku rusak..? Tidak, tidak.. Tuan Jaka benar-benar sangat hebat. Bahkan jika dibandingkan dengan wakil ketua, tentu wakil ketua bukanlah apa-apa.." batin topeng hitam


"Jika aku yang turun tangan, mungkin aku akan menang, tapi bisa dipastikan aku akan terluka parah dan juga tidak mungkin akan secepat ini. Raden Sanjaya memang benar-benar hebat.." batin Ki Sumali.


"Apa yang membuat kalian tetap diam disana..? Harimau putih itu telah pergi. Mari lanjutkan perjalanan.." teriak raden Sanjaya membuyarkan lamunan mereka.


Merekapun melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk alas Purba. Tidak hanya macan putih bertanduk yang ditemui mereka sepanjang perjalanan, Singa hitam bermata merah, Ular Sanca beracun berkepala tiga, Serigala biru bermata tiga dan Rajawali merah berparuh baja, kesemuanya adalah hewan spiritual suci tingkat tinggi, dapat ditaklukkan oleh raden Sanjaya dan menghamba kepada raden Sanjaya.


Tingkatan hewan spiritual suci dapat dilihat dari kekuatannya. Hewan Spiritual Suci tingkat tinggi setara dengan pendekar tingkat raga abadi tahap puncak. Sedangkan hewan spiritual suci tingkat rendah setara dengan pendekar tingkat master tahap puncak. Tentunya kekuatan hewan spiritual suci tingkat tinggi tidak berarti apa-apa dihadapan Raden Sanjaya, karena mereka hanya mengandalkan naluri bertarung saja tanpa memiliki jurus dan kekuatan jiwa.


"Suatu saat mereka pasti akan berguna buat ku. Untuk saat ini, biarkan mereka membantuku menjaga alas Purba ini." batin raden Sanjaya.


Setelah lima hari perjalanan, mereka sampai di pintu masuk alas Purba. Kelompok topeng merah dan topeng perak belum menunjukkan tanda-tanda telah sampai disana. Sambil menunggu, Ujang atau topeng hitam menceritakan bagaimana padepokan mereka dihancurkan oleh Tengkorak Hitam.


"Bagaimana padepokanmu dihancurkan oleh sekte Tengkorak Hitam..?" tanya raden Sanjaya.


"Begini tuan, karena padepokan kami menolak untuk membayar upeti kepada Tengkorak Hitam. Mereka lalu memberi penawaran agar padepokan Cakrawala bergabung dengan sekte Tengkorak Hitam. Ketua padepokan menolak dan terjadilah pertarungan antara padepokan Cakrawala dan Tengkorak Hitam."


"Sekte tengkorak hitam memang benar-benar kuat. Ketua kami terbunuh dalam penyerangan itu. Selanjutnya semua anggota yang tidak mau bergabung dibunuh oleh Tengkorak Hitam. Lebih dari separuh anggota padepokan Cakrawala bergabung dengan Tengkorak Hitam."


"Apakah kelompok aliran putih lainnya tidak membantu..?" tanya ki Sumali.


"Mereka juga mengalami nasib yang sama dengan padepokan Cakrawala."


"Sebenarnya aku bergabung dengan Tengkorak Hitam hanya bertujuan untuk balas dendam. Setelah diriku cukup kuat, aku akan membalas semua perbuatan mereka kepada Padepokan Cakrawala."


"Tapi saat aku melihat kekuatan tuan Jaka, aku menjadi lebih yakin, dengan bantuan tuan Jaka dan jurus yang diajarkan oleh kakek tuan Jaka, aku akan menjadi lebih kuat dan dapat menghancurkan Tengkorak Hitam." jawab Ujang bersemangat.


"Kakekku akan mendirikan sebuah Padepokan yang akan diberi nama Naga Langit yang bertujuan untuk mengajarkan ajaran budi pekerti dan jalan kebenaran kepada semua orang. Selain itu segala bentuk angkara murka dan ketidak adilan adalah musuh Naga Langit."


"Naga Langit pasti akan menghancurkan segala bentuk angkara murka di negeri Kawi ini..!!" ucap raden Sanjaya tegas.

__ADS_1


__ADS_2