Sang Pendekar

Sang Pendekar
Pertempuran di Alun-Alun Desa Pagersari


__ADS_3

Paramarta telah mengumpulkan banyak prajurit bayaran untuk menyerang rombongan Putri Sekar Ayu yang mendirikan tenda di sebuah lapangan di desa Pagarsari. Dia ingin mereka menangkap Putri Sekar Ayu hidup atau mati. Dia juga tidak peduli Patih Lembu Ireng berada di rombongan itu. Ia ingin Raja Nagendra hancur saat mengetahui Putri Sekar Ayu mati di tangannya. Rombongan Putri Sekar Ayu siang itu telah melakukan pertemuan dengan warga desa Pagarsari dan menyelesaikan beberapa masalah di desa itu. Saat tengah malam derap langkah kuda prajurit bayaran mulai mendekat, mengepung ke tanah lapangan membawa ratusan anak panah yang dilumuri minyak dan akan dibakar sebelum dilesatkan.


Derap langkah kuda yang berderap kencang terdengar oleh prajurit pengawal Putri Sekar Ayu yang sedang berjaga. Mereka mulai bersiaga dan meneriakkan tanda bahaya untuk membangunkan prajurit lain yang beristirahat di dalam tenda. Hujan anah panah yang ujungnya berapi melesat ke arah tenda-tenda yang didirikan oleh rombongan Putri Sekar Ayo.


“Awas...  api... api... segera berlindung,” jeritan kepanikan memenuhi sekitar.


Ajisaka segera menuju tenda Putri Sekar Ayu untuk menyelamatkannya. Putri Sekar Ayu dan mbok Atmo berhasil keluar sebelum tenda terbakar. Ajisaka berusaha melindungi Putri Sekar Ayu dan mbok Atmo dari terjangan anak panah yang terus melesat. Prajurit pengawal Putri Sekar Ayu banyak yang jatuh bergelimpangan terkena anak panah berapi. Mereka berteriak kesakitan, tubuh mereka berguling-guling di tanah untuk memadamkan api yang membakar. Putri Sekar Ayu  meneteskan air mata melihat pemandangan mengerikan di depan mata. Dia terus menyeret kakinya agar kuat berlari menjauhi tanah lapang yang berubah menjadi lautan api. Mereka terus berlari meninggalkan tanah lapang yang dipenuhi kobaran api. Sesampainya di pohon beringin besar yang terdapat mata air di bawahnya Putri Sekar Ayu dan mbok Atmi berhenti dengan nafas tersengal-sengal.


“Mbok jaga Putri Sekar Ayu, kalian bersembunyi di sini. Aku akan kembali ke tanah lapang, banyak prajurit berjatuhan. Aku harus bisa menghadang laju anak panah api untuk menyelamatkan mereka. Tempat ini akan aku pagari, para pemberontak itu tidak akan melihat keberadaan Putri Sekar Ayu dan simbok di sini. Tetaplah di dalam lingkaran yang aku buat,” ucap Ajisaka.


Ajisaka segera mengeluarkan tenaga dalamnya, dari tangannya keluar cahaya putih. Cahaya itu mulai mengelilingi Putri Sekar Ayu dan mbok Atmo membentuk sebuah lingkaran. Setelah selesai memagari Putri Sekar Ayu dengan aji panglimunan Ajisaka segera berlari ke tanah lapang untuk membantu prajurit lainnya.


Hujan anak panah api masih terus melesat saat Ajisaka sampai di tengah lapang. Dia segera melompat ke udara menangkis serangan anak panah dengan api. Tanah lapang itu terang benderang menjadi kobaran api, prajurit pengawal Putri Sekar Ayu sudah terdesak dan banyak tewas terkena anak panah api. Ajisaka kewalahan menahan serangan anak panah dengan pedangnya, dia mulai menggerakkan kedua ujung jari kaki yang menghentak di tanah, lalu melompat tinggi dengan mengangkat kaki bersamaan. Dia mengerahkan tenaga dalamnya ke arah tangan, muncullah cahaya putih dari telapak tangan dan diarahkan ke arah prajurit bayaran yang terus menembakkan anak panah api. Cahaya itu sangat terang dan menyilaukan.


Wusshhh... cahaya itu terus melesat.

__ADS_1


Duarrr!


Prajurit bayaran Bajing Alas bergelimpangan terkena sabetan cahaya yang melesat dari tangan Ajisaka. Prajurit bayaran di belakangnya segera merangsek ke depan dan melesatkan anak panah ke arah Ajisaka. Ia memperhatikan hujan anak panah melesat ke arahnya. Ia mulai mengambil nafas dan menutup matanya. Di saat anak panah itu mengarah tepat di depannya, ia membuka matanya dan sekali lagi mengarahkan tenaga dalamnya. Tangannya mulai bergerak perlahan, muncullah cahaya putih membentuk dinding setengah lingkaran melindunginya dari anak panah yang melesat ke arahnya. Anak panah itu menabrak dinding cahaya dan berbalik arah menyerang kembali ke arah prajurit bayaran.


Wusshhh...


Anak panah api menancap ke beberapa prajurit bayaran. Terdengar jerit kesakitan saat tubuh para prajurit bayaran itu terkena anak panah api yang membakar tubuh mereka.


“Aaahhh.... panas... panas...panas”


Rombongan prajurit dari istana kerajaan yang dipimpin Patih Samana datang tepat waktu. Mereka segera membantu menumpas para prajurit bayaran yang mengepung pasukan pengawal Putri Sekar Ayu. Para prajurit bayaran yang mulai terdesak lari kocar-kacir meninggalkan tanah lapang.


Pertempuran di lapangan desa Pagarsari berhenti menjelang dini hari. Para prajurit pengawal Putri Sekar Ayu banyak yang tewas menyisakan mayat-mayat bergelimpangan di tanah lapang. Mereka bertumpukan menghitam terkena api bersama dengan para Prajurit bayaran yang tewas. Pemandangan di tanah lapang itu sungguh memilukan, sisa-sisa kobaran api masih menjalar membakar rerumputan kering.


Ajisaka lengannya terluka terkena sabetan pedang, dia sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam, seluruh badannya terasa sakit seperti tulang-tulangnya diremukkan dari dalam. Dengan sisa tenaganya dia menjatuhkan lututnya di atas rerumputan bertopang dengan pedang yang menancap di tanah. Bayu, Aryo dan Patih Samana segera mendekatinya.

__ADS_1


“Dimana Putri Sekar Ayu, apakah dia selamat,” tanya Patih Samana, pandangannya nanar ke arah tenda-tenda yang terbakar.


“Putri Sekar Ayu berada di tempat yang aman Patih, dia berada di sendang pohon beringin seberang lapangan. Aku telah memagari tempat itu agar Putri Sekar Ayu dan mbok Atmo selamat,” ucap Ajisaka.


Mereka segara menuju ke sendang pohon beringin untuk menjemput Putri Sekar Ayu. Di sana Putri Sekar Ayu dan mbok Atmo masih aman di dalam lingkaran perlindungan yang dibuat Ajisaka. Putri Sekar Ayu segera berlari memeluk Ajisaka saat lingkaran perlindungannya pudar.


“Bagaimana keadaanmu, kau baik-baik saja,” ucap Putri Sekar Ayu di dalam dekapan Ajisaka.


Patih Samana, Bayu dan Aryo membelalakkan matanya melihat bagaimana Putri Sekar Ayu tanpa malu-malu memeluk Ajisaka.


“Hamba baik-baik saja, tetapi banyak para prajurit pengawal yang tewas, Patih Samana dan para prajurit dari istana datang tepat waktu untuk menolong kita.”


“Terima kasih Patih Samana, entah bagaimana nasib rombongan kami jika Patih datang sedikit terlambat,” ucap Putri Sekar Ayu.


Mereka semua segera ke tanah lapang dan mulai membereskan kekacauan yang terjadi. Putri Sekar Ayu menangis melihat para prajurit pengawal yang selama ini bersamanya banyak yang tewas.

__ADS_1


Para prajurit pengawal yang tewas segera dikuburkan dengan layak di sebelah tanah lapang. Putri Sekar Ayu menyuruh Patih Samana mencatat para prajurit yang tewas agar keluarganya diberikan kompensasi dari istana.


__ADS_2