
"Kalian berangkatlah dulu ke desa Lawean tepatnya di padepokan Naga Langit. Kakek Sumali pasti akan menyambut kalian." ucap raden Sanjaya.
"Lalu bagaimana dengan kamu anakku..?" tanya putri Nawang.
"Aku akan mendatangi beberapa kelompok aliran putih dan mengajak mereka untuk bergabung menghadapi Tengkorak Hitam.." jawab raden Sanjaya.
"Aku akan membantumu Sanjaya, bagaimanapun aku akan meyakinkan mereka untuk bergabung dengan kita.." ucap begawan Sabdawala dan Ki Harso.
"Baiklah, akan lebih mudah jika kakek begawan dan Ki Harso bisa membantu.." jawab raden Sanjaya.
Dengan telepati, Raden Sanjaya memerintah rajawali merah untuk menjemputnya di desa Gadungsari dan menulis sebuah surat kepada Ki Sumali. Sedangkan Ki Harso memanggil beberapa merpati raja untuk mengirimkan pesan kepada Ki Sasongko dan Ki Barjo.
Ki Barjo adalah wakil kepala perguruan, dia adalah seorang yang awam dan tidak memiliki kanuragan, tapi kejujuran dan kesetiaan Ki Barjo sangat dikagumi oleh Ki Sasongko dan para tetua perguruan Wiji Sejati. Selain itu ki Barjo juga sangat dihormati oleh murid-murid perguruan Wiji Sejati.
"Rajawali merah, apakah kau mendengarku..?" tanya raden Sanjaya dengan telepati.
"Hamba mendengar tuan. Apa perintah tuan untuk hamba..?" jawab rajawali merah.
"Datanglah ke desa Gadungsari dan antarkan kami ke desa Lawean.." perintah raden Sanjaya.
"Sendiko dhawuh tuan.." jawab rajawali merah dan selanjutnya melesat pergi ke desa Gadungsari.
Sementata itu, ki Harso menulis dalam suratnya kepada ki Barjo
"Saudara Barjo, ada hal yang harus kami urus. Tolong kendalikan untuk sementara waktu perguruan. Sampaikan kepada Ki Among untuk datang ke desa Lawean." isi surat kepada ki Barjo.
"Ketua, setelah menemukan Baginda Dewayana, segera susul kami ke desa Lawean di Padepokan Naga Langit. Aku telah bertemu dengan guru begawan Sabdawala." isi surat kepada Ki Sasongko.
Dengan kecepatan tinggi, rajawali merah melesat menuju desa Gadungsari. Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit, rajawali merah telah sampai di halaman kediaman putri Nawang Sari. Semua terkejut atas kedatangan hewan spiritual suci itu. Bahkan, begawan Sabdawala, Ki Harso dan pangeran Himawan bersiap jika hewan itu menyerang mereka. Mereka lebih terkejut lagi setelah rajawali merah menundukkan kepala di hadapan raden Sanjaya. Raden Sanjaya mendekati rajawali merah berparuh baja itu dan mengelus kepalanya.
"Terimakasih rajawali merah.." guman raden Sanjaya sambil mengelus kepala rajawali merah.
__ADS_1
"Sanjaya, kejutan apalagi yang akan kau tunjukkan pada kami..? Kakek merasa kamu masih menyembunyikan sesuatu dari kami.." batin begawan Sabdawala.
"Ibu, bibi, nona Wulan, paman Himawan kalian naiklah ke punggung rajawali merah ini. Tenang, rajawali merah adalah pengikutku dan akan mengantar kalian dengan cepat di desa Lawean. Berikanlah surat ini kepada kakek Sumali."
"Nona Wulan, sesampainya di padepokan Naga Langit, terus berlatihlah dan kuasai kitab pedang kilisuci. Kakek Sumali dan Ibu pasti akan membantumu.." ucap raden Sanjaya.
"Baik raden, aku akan berlatih dengan lebih serius. Raden akan melihatnya sendiri nanti saat kita bertemu.." ucap Sekar Wulan.
Setelah mereka naik ke punggung rajawali merah, dengan segera rajawali merah melesat untuk mengantar mereka ke desa Lawean.
Dengan menaiki kuda, raden Sanjaya, begawan Sabdawala dan Ki Harso menempuh arah yang berbeda, mengumpulkan dukungan kelompok putih untuk saling membantu menghadapi Tengkorak Hitam.
-->
Sementara itu, Ki Sasongko dan Ki Samijan, dengan mengendarai elang emas perguruan Wiji Sejati telah sampai di wilayah angkasa pulau terasing. Nampak dari atas beberapa orang sedang dikepung oleh kawanan ular kobra. Mereka nampak sedang melawan ular-ular itu. Di barisan paling belakang nampak ular berwarna hijau tua dengan dua tanduk di kepalanya.
"Lihat itu ketua. Sepertinya mereka sedang diserang sekelompok monster, ular kobra beracun. Meraka sepertinya kewalahan menghadapi ular-ular itu.." ucap Ki Samijan.
"Benar.. tapi sepertinya aku mengenal kelompok itu.. Bukankah itu baginda raja Dewayana dan Patih Rekso Bumi..?" ucap Ki Sasongko terkejut.
"Tapak Brajamusti.. Tapak Kalimasada.." teriak ki Samijan disusul Ki Sasongko.
BLAAAARRRR...!! DHUAAAAARRR..!!
Ratusan ekor ular terpental dan hancur. Serangan Ki Sasongko dan Ki Samijan membuat ular kobra hijau bergerak maju sambil menyemburkan gas beracun ke arah mereka. Ki Sasongko dan Ki Samijan meloncat mundur lalu bergerak ke arah yang berbeda. Dengan isyarat dari Ki Sasongko, mereka berdua bergerak dari arah kiri dan kanan ular kobra hijau tersebut dan melepaskan pukulan andalan mereka.
"Tapak Kalimasada...!! Tapak Brajamusti...!!" teriak mereka.
BOOOOOOOMM....!! BLAAAAARRRRR..!!
Pukulan yang terarah ke kepala kobra hijau tersebut membuat kepala ular kobra hijau hancur. Akan tetapi racun yang disemburkan ular tersebut melaju semakin kencang ke arah raja Dewayana dan pengikutnya. Dengan sigap Darman, Parjo dan Sarko menghadang dengan jurusnya..
__ADS_1
"Pukulan Badai...!! Tombak Halilintar...!! Jurus Lembu Sekilan..!!" teriak mereka hampir bersamaan..
WHUUUUUUUUSSSHHH.. JDAAAAAARRR..
Kekuatan yang mereka keluarkan mampu menghalau gas beracun yang dikeluarkan oleh ular tersebut. Keadaanpun menjadi normal, tapi semua yang dilalui gas beracun dari ular tersebut layu dan mati.
"Maafkan hamba baginda, hamba datang terlambat.." ucap ki Sasongko sambil memberi penghormatan.
Raja Dewayana sangat terkejut dengan kedatangan Ki Sasongko. Padahal menurut raja Dewayana, mereka akan menghabiskan seluruh sisa umurnya di pulau terasing.
"Bu.. bukankah anda Ki Sasongko..? Bagaimana anda tau aku berada disini..?" tanya raja Dewayana terkejut.
"Ampun baginda, benar hamba adalah Sasongko ketua perguruan Wiji Sejati. Pangeran Himawan telah menceritakan semua yang terjadi di Istana kerajaan baginda.." jawab Ki Sasongko.
"Himawan..? Anak durhaka itu, yang telah bersekongkol dengan Pranoto..?"
"Apa lagi yang mereka rencanakan..? Bukankah karena dia juga aku bisa sampai di pulau ini..?" tanya raja Dewayana.
"Mohon maaf paduka, pangeran Himawan telah menyadari kesalahannya dan berjanji akan menebus semuanya.." jawab Ki Samijan.
Tiba-tiba Putri Dyah Ayu ambruk, tampak kaki kanannya ada bekas gigitan ular dan berwarna biru keunguan. Dengan cepat ki Sasongko menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan racun ular kobra itu. Akan tetapi racun itu telah menjalar di kaki putri Dyah Ayu sehingga Ki Sasongko hanya bisa menekan penyebaran racunnya.
Tidak berapa lama, seekor merpati raja yang dikirkim Ki Harso melesat ke arah ki Samijan. Ki Samijan menyambut merpati itu lalu membuka surat yang ada di kali merpati raja itu dan membaca isinya.
"Ketua, surat ini dikirim oleh tetua Harso. Dia bertemu guru, begawan Sabdawala, dan menginginkan kita pergi ke padepokan Naga Langit di desa Lawean." ucap ki Samijan.
"Mohon ampun paduka. Paduka telah mendengar sendiri isi surat dari tetua Harso. Mungkin guruku mampu menyembuhkan permaisuri Dyah Ayu. Lebih baik kita segera pergi ke desa Lawean.." ucap Ki Sasongko.
"Apakah istriku bisa bertahan sampai desa Lawean..?" ucap raja Dewayana.
"Perjalanan ke desa Lawean membutuhkan waktu sektar lima hari dengan kecepatan penuh elang emas. Dengan bantuan tenaga dalamku, kurasa permaisuri mampu bertahan paduka.." jawab ki Sasongko.
__ADS_1
"Baiklah, kita menuju desa Lawean Sekarang.." ucap raja Dewayana.
Merekapun menaiki punggung elang emas dan selanjutnya elang emas dengan kecepatan penuh melesat terbang menuju padepokan Naga Langit di desa Lawean.