Sang Pendekar

Sang Pendekar
CH2.6 Dimana mereka menjual para budak itu..?


__ADS_3

Raden Sanjaya menghancurkan ilmu kanuragan Pragoto lalu membawanya ke ruangan pribadi Pragoto. Ada banyak gulungan lontar berada di dalam ruangan Pragoto. Dengan teliti raden Sanjaya dan Sekar Wulan memeriksa setiap gulungan lontar untuk mencari semua informasi tentang pasukan Kapak Darah.


"Kakang... kemarilah. Lihatlah ini, sepertinya ini data para bangsawan yang menginginkan budak, kebanyakan mereka dari negeri yang belum kita kenal. Disini tertulis permaisuri Mai memesan dua orang perjaka dan seorang gadis perawan pada malam bulan Suro. Itu berarti dua bulan dari sekarang.." Sekar Wulan menjelaskan.


"Hhmmmm.. benar diajeng. Tapi untuk apa putri Mai menginginkan yang masih perjaka dan masih perawan..? Apakah digunakan sebagai ............." raden Sanjaya tidak meneruskan ucapannya.


"Mungkin saja kakang.. Kita tanyakan nanti kepada Pragoto saat dia sadar.." ucap Sekar Wulan yang paham maksud suaminya.


Mata raden Sanjaya tertuju pada lembaran lontar yang terbuka tertancap di dinding kayu ruangan Pragoto. Raden Sanjaya mendekati lembaran itu yang merupakan sebuah gambar peta. Raden Sanjaya memeriksa dengan teliti peta yang dilihatnya itu, tampak titik berwarna merah dan hitam seperti menandai suatu tempat.


"Mungkinkah tanda ini adalah markas Kapak Darah yang lain..? Menurut Pandu, markas Kapak Darah tersebar di seluruh kerajaan Banon Sewu, dan tempat ini hanyalah salah satu markas Kapak Darah. Lebih baik kusimpan saja peta ini, akan kupelajari nanti." batin Raden Sanjaya sambil menggulung lontar itu.


"Kakang... Aku menemukan sebuah lencana perak bergambar kapak merah dan lencana ini sama seperti gambar dalam lontar ini. Sepertinya ini adalah undangan untuk pelelangan. Bertempat di Penginapan Pondok Seribu Bunga, akhir bulan Selo. Berarti setengah bulan dari sekarang.." ucap Sekar Wulan.


"Pelelangan..? Mungkinkah mereka melelang para budak itu..? Diajeng, sebaiknya simpan undangan dan lencana itu. Kita akan berbulan madu di Pondok Seribu Bunga.." canda Raden Sanjaya disusul dengan cubitan Sekar Wulan di lengannya.


Pencarian mereka pun berakhir setelah Pragoto sadar dari pingsannya. Raden Sanjaya mendekati Pragoto. Perasaan takut tampak di wajah Pragoto saat raden Sanjaya mendekatinya. Dia merasa Raja Yama menghampiri untuk mencabut nyawanya.


"Sss... sssiiiapa kalian..? Mengapa kalian menyerang markas ku..? Aaahhh.. kkke.. kkenapa tubuhku seperti tidak memiliki tenaga..?" ucap Pragoto ketakutan


"Tenanglah Pragoto, tidak perlu takut. Aku hanya menghancurkan semua kanuraganmu saja, aku tidak akan membunuhmu, jika kau mau bekerjasama dengan kami.." ucap raden Sanjaya pelan.


"Aa aapa yang kalian inginkan..? Aaa.. aak.. aku hanya menjalankan perintah saja. Aku tidak tau apapun tentang Kapak Darah.." ucap Pragoto terbata-bata.

__ADS_1


"Ucapanmu yang baru saja membuktikan bahwa kau tau segalanya tentang Kapak Darah. Sekarang katakan siapa kalian dan mengapa kapak darah menculik para pemuda dan wanita muda..? Benarkah mereka akan dijual..? Dan siapa orang yang berada di balik kapak darah..? Sebaiknya kau katakan dengan jujur atau kau akan selamanya tidak mampu berbicara.." ucap raden Sanjaya sambil melihat tajam Pragoto.


"Baik... baik.. aku akan menceritakan semua yang aku tau. Pasukan Kapak Darah sebenarnya mantan pasukan pengawal raja Dananjaya. Setelah pangeran Danayaksa naik tahta, dia mengganti semua pengawal raja dengan pasukan miliknya. Kami merasa disingkirkan oleh pangeran, perjuangan kami selama ini sama sekali tidak dihargai oleh pangeran. Rasa sakit hati kamilah yang membuat kami berbuat seperti ini. Awalnya kami hanya merampok saja, hingga kami bertemu dengan salah satu bangsawan dari negeri Wanadahana yang meminta kami untuk menyediakan laki-laki dan wanita yang masih muda untuk dijadikan budak. Permintaan yang tinggi dan sulitnya mendapatkan laki-laki dan wanita muda, membuat kami melelangnya setiap minggu pertama bulan ganjil.." Pragoto menjelaskan.


"Aku menemukan peta di meja mu. Jelaskan apa maksud tanda hitam dan merah ini..? Lalu dimana kalian akan mengadakan pelelangan..? Apakah di markas utama kalian..?" tanya raden Sanjaya sambil membuka peta yang ditemukannya.


"Tidak ada markas utama, Pemimpin kami selalu berpindah tempat, setiap markas yang didatangi pemimpin kami adalah markas utama. Tanda hitam ini adalah lokasi markas yang berada di bawah tanah dan disana kami mengirim para budak sebelum dilelang. Sedangkan tanda merah adalah markas yang ada di atas tanah. Untuk pelelangan selalu diadakan di Penginapan Seribu Bunga di dekat kota kerajaan. Untuk masuk, kalian harus membawa lencana Kapak Darah." ucap Pragoto sambil menunjuk lokasi lelang di peta.


"Aku dengar permaisuri juga meminta kalian untuk menyediakan yang masih perjaka dan perawan. Kau tau untuk apa permaisuri memberikan syarat seperti itu..? Lalu bagaimana jika yang kau kirimkan tidak memenuhi syarat..?" tanya raden Sanjaya.


"Benar, Setiap tiga bulan sekali kami harus menyediakan perjaka dan perawan untuk permaisuri. Dari yang aku dengar, permaisuri membutuhkan mereka untuk acara pemujaan kepada Sang Durga. Permaisuri adalah pengikut setia Durga, bahkan dia mendapatkan kesaktian dari Sang Durga. Tapi aku tidak tau pasti tentang hal itu. Aku hanya mendapat cerita dari pengawalnya yang biasa menjemput pemuda dan gadis itu. Kami tidak berani memberikan yang tidak memenuhi syarat.." Pragoto menjelaskan.


"Baiklah, terakhir aku ingin bertanya. Siapa pemimpin kalian dan bagaimana kami tau dia adalah pemimpin Kapak Darah..?" tanya raden Sanjaya.


Sebuah panah tertancap di leher Pragoto yang membuat Pragoto kehilangan nyawanya. Sepucuk surat tergulung di batang anak panah itu.


"JANGAN CAMPURI URUSAN KAMI JIKA KAU INGIN SELAMAT...!!"


Begitulah bunyi dari surat itu. Raden Sanjaya dengan cepat keluar berkeliling markas kapak darah untuk mencari siapakah yang telah membunuh Pragoto. Akan tetapi Raden Sanjaya tidak dapat menemukan seorang pun di luar.


"Anak panah ini pasti dikirim dari tempat yang jauh. Tapi siapakah yang mengirimnya..? Yang jelas dia memiliki tenaga dalam dan ilmu yang tinggi. Sebaiknya aku tetap waspada.." batin raden Sanjaya.


"Bagaimana kakang..? Apakah kakang menemukan siapa yang melesatkan anak panah yang telah membunuh Pragoto..?" tanya Sekar Wulan.

__ADS_1


"Tidak diajeng. Siapapun dia, pasti dia memiliki ilmu yang tinggi. Kita tidak boleh lengah.. Sebaiknya kita bakar mayat-mayat ini, aku khawatir mayat ini akan menyebabkan masalah baru.." ucap raden Sanjaya.


Sekar Wulan dan Raden Sanjaya mengumpulkan mayat-mayat itu menjadi satu dan membakarnya bersama dengan bangunan markas Kapak Darah.


"Kakang.. Rupanya Pandu Bergolo dan anak buahnya melarikan diri. Apakah Pandu yang melaporkan kejadian disini sehingga kapak darah mengirimkan orang untuk membunuh Pragoto..?" tanya Sekar Wulan.


"Tidak diajeng. Pandu Bergolo tidak akan berani melakukan itu. Aku yakin dia kembali ke tempat Jarot dan anak buahnya berada. Sebaiknya kita segera kesana.." ucap raden Sanjaya lalu menggandeng Sekar Wulan untuk pergi ke tempat Jarot.


Perkiraan raden Sanjaya tidak meleset. Pandu Bergolo dan anak buahnya berada di tempat persembunyian bersama dengan Jarot dan anak buahnya.


"Tuan Jaka.... maafkan aku tidak dapat membantumu menghadapi Pragoto dan anak buahnya. Aku terpaksa melarikan diri, menunggu anda disini.." ucap Pandu Bergolo mengiba.


"Lalu apa yang akan tuan Jaka dan Nyonya lakukan..? Cungkring telah mati kehabisan darah, jika tuan dan nyonya mau menghukumku aku terima. Lakukan dengan cepat agar aku bisa menemani saudaraku menghadap raja Yama.." ucap Jarot sambil berlutut.


Raden Sanjaya memegang tangan Jarot. Dengan mantram kasampurnan, raden Sanjaya menyatukan kembali tulang tangan Jarot yang hancur karena beradu tenaga dalam dengan Sekar Wulan.


"Tu... ttuuan... mengapa anda mengobati ku..?" tanya Jarot.


"Istriku... apakah kau memaafkan kesalahan mereka..? Jika kau tidak bisa memaafkannya, aku akan membunuh mereka semua. Bagaimanapun mereka telah berbuat kejahatan dan pantas mendapatkannya.." ucap raden Sanjaya lembut.


"Kakang.... mereka adalah orang yang dimanfaatkan oleh kapak darah. Aku memaafkan kesalahan mereka, tapi jika mereka mengulangi lagi perbuatannya, maka aku yang akan menghukumnya sendiri hingga raja Yama pun tidak akan mengenali mereka lagi..!!" ucap Sekar Wulan.


"Baik... Istriku telah memaafkan kalian. Sebagai gantinya, kalian harus benar-benar bertobat. Bergabung dan mengabdilah kalian kepada Kepala Desa Polosan untuk bersatu melawan kapak darah. Aku akan memberikan kalian sedikit tenaga dalam, latihlah jurus kalian lagi, maka kekuatan kalian akan kembali. Tapi jika kalian berani berkhianat, maka lautan jiwa kalian akan hancur.." ucap raden Sanjaya sambil memberikan kekuatan mantram kalacakra kepada mereka.

__ADS_1


Setelah memberikan Cungkring pemakaman yang layak, mereka kembali ke desa untuk menemui Kepala Desa.


__ADS_2