Sang Pendekar

Sang Pendekar
Putri Sekar Ayu Diculik


__ADS_3

Derap langkah kaki kuda rombongan Putri Sekar Ayu menghentak di jalanan. Mereka memacu kuda terus menerus tanpa henti agar segera sampai di istana kerajaan. Jalanan terasa sangat licin setelah diguyur hujan, Putri Sekar Ayu merasa sangat capek dan mengantuk. Rombongan itu tidak membawa kereta kuda. Putri Sekar Ayu terpaksa pulang ke istana dengan berkuda karena kereta kuda akan memperlambat perjalanan.


“Berhenti...,” Putri Sekar Ayu berteriak dan menghentikan laju kudanya.


“Ada apa Putri Sekar Ayu?” tanya Patih Samana.


“Bisakah kita istirahat sebentar Patih, aku sangat capek dan mengantuk.”


“Tahan sebentar tuan putri, kita harus segera sampai ke istana demi keselamatan tuan putri,” ucap patih Samana.


“Biarkanlah dia beristirahat sejenak, kita bisa beristirahat, makan dan bermalam di sini,” ucap Patih Lembu Ireng.


Putri Sekar Ayu segera turun dari kudanya, mengambil kantong minuman dan menyandarkan punggunya di batang pohon yang berdiri di pinggir jalan, nafasnya terengah-engah, dia meminum airnya dengan rakus. Ia melemaskan otot-ototnya yang terasa pegal karena berkuda terlalu lama.


Malam begitu gelap, cahaya bulan bersembunyi di balik awan tebal. Serangga malam berbunyi sahut-menyahut. Angin berhembus menerpa wajah-wajah lelah rombongan itu. Udara begitu dingin menusuk kulit. Mereka telah berkuda tanpa henti dari tadi siang. Satu persatu rombongan itu turun dari kudanya dan beristirahat.


Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda mendekat ke arah rombongan.


“Siaga... lindungi Putri Sekar Ayu, ada derap kaki kuda menuju ke sini,” ucap Patih Samana mengeluarkan pedangnya.


Semua prajurit telah bersiaga, ada yang mengeluarkan pedang dan ada yang memasang anak panah pada busur. Di kejauhan tampaklah gerombolan pemberontak Bajing Alas yang mendekat ke arah rombongan Putri Sekar Ayu. Para prajurit yang memegang panah segera menarik busur sebelum gerombolan itu mendekat.


“Aaahhh...,” teriak para pemberontak yang terkena anak panah dan terjatuh dari kudanya.


Para pemberontak di belakangnya terkejut tidak menyangka prajurit pengawal Putri Sekar Ayu ada yang membawa panah. Mereka berusaha menangkis hujan anak panah dengan pedang. Tiba-tiba hujan anak panah itu berhenti, rupanya prajurit pengawal Putri Sekar Ayu tidak membawa banyak anak panah. Hanya tiga orang prajurit saja yang mempunyai busur dan anak panah. Kesempatan itu tidak disia-siakan para pemberontak itu segera mendekat ke arah rombongan.

__ADS_1


“Serang para prajurit kerajaan itu! Bunuh mereka semua!” teriak salah satu pemberontak mengobarkan semangat pada kawan-kawannya.


Suara denting pedang saling beradu antara para pemberontak dan prajurit pengawal Putri Sekar Ayu. Para prajurit pengawal Putri Sekar Ayu lebih unggul daripada para pemberontak Bajing Alas apalagi ada Patih Samana dan Ajisaka, tetapi dari kejauhan ada gerombolan para pemberontak Bajing Alas datang mengepung Patih Samana dan para prajurit pengawal Putri Sekar Ayu.


“Hati-hati, jumlah mereka sangat banyak,” ucap Patih Samana saat melihat para pemberontak Bajing Alas yang baru saja tiba.


“Serang... kepung... bunuh mereka semua,” teriak salah seorang pemberontak Bajing Alas yang baru saja tiba.


Patih Samana dan para prajurit pengawal Putri Sekar Ayu telah terkepung, mereka kalah jumlah, para pemberontak Bajing Alas terus berdatangan.


Putri Sekar Ayu bersembunyi bersama Patih Lembu Ireng di balik sebuah batu besar.


“Tuan putri sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini, kita pergi ke istana sekarang juga,” ucap Patih Lembu Ireng.


“Kita harus pergi sekarang demi keselamatan putri, bagaimana kalau prajurit pengawal dan Patih Samana tidak bisa menghalau para pemberontak Bajing Alas. Ini kesempatan kita untuk lari sebelum mereka menyadari keberadaan putri,” ucap Patih Lembu Ireng setengah memaksa dan menarik pergelangan tangan Putri Sekar Ayu.


Putri Sekar Ayu meronta-ronta berusaha melepaskan cekalan Patih Lembu Ireng.


“Lihat mereka telah berhasil mengepung para prajurit, tidak ada waktu lagi putri kita harus pergi dari tempat ini,” Patih Lembu Ireng meniupkan ajian sirep.


Seketika Putri Sekar Ayu jatuh lunglai tertidur. Patih Lembu Ireng mengikatnya dan membawanya berkuda menuju tempat persembunyian Paramarta.


“Akhirnya... aku berhasil menculik Putri Sekar Ayu,” Patih Lembu Ireng segera memacu kudanya ke arah hutan belantara ke tempat persembunyian Paramarta.


Sementara itu para prajurit pengawal Putri Sekar Ayu yang telah terkepung tanpa rasa takut tetap berusaha melawan sekuat tenaga. Sudah banyak para prajurit tumbang terkena sabetan pedang musuh.

__ADS_1


“Bayu, Aryo bersiaplah, kita harus mengeluarkan tenaga dalam untuk menggempur para pemberontak Bajing Alas,” teriak Ajisaka sambil terus menyabetkan pedangnya ke arah musuh.


“Aryo lindungi aku,” teriak Bayu. Ia mulai menarik nafas dan berkonsentrasi mengeluarkan tenaga dalamnya.


Cahaya putih perlahan-lahan keluar dari telapak tangannya, Bayu menjejakkan kakinya dan melompat ke udara mengarahkan cahaya putih itu yang semakin membesar ke arah para pemberontak Bajing Alas.


“Aaahhhrrr...” teriakan para pemberontak Bajing Alas yang terkena serangan itu, mereka berjatuhan dengan luka hitam membiru di tubuh.


Gerombolan musuh mulai goyah melihat kawannya berjatuhan, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Patih Samana dia segera mengeluarkan tenaga dalamnya, pusaran angin kencang keluar dari telapak tangannya dan menghantamkan ke arah musuh, para pemberontak itu berjatuhan terkena pusaran angin. Sisa-sisa gerombolan Bajing Alas ketakutan lari tunggang langgang melarikan diri, para prajurit pengawal Putri Sekar Ayu bersiap mengejarnya.


“Sudah... jangan dikejar, kita harus mengantarkan Putri Sekar Ayu ke istana,” teriak Patih Samana menghentikan para prajurit pengawal yang bersiap mengejar musuh.


“Dimana Putri Sekar Ayu?” tanya Ajisaka mengedarkan pandangannya ke sekitar.


“Dia bersama Patih Lembu Ireng, mungkin mereka sudah berkuda ke arah istana, kita harus segera menyusulnya” ucap Patih Samana.


Setelah memastikan Putri Sekar Ayu dan Patih Lembu Ireng tidak berada di tempat itu mereka segera memacu kudanya menyusul Patih Lembu Ireng yang membawa Putri Sekar Ayu. Mereka terus memacu kudanya dengan kecepatan tinggi namun Patih Lembu Ireng dan Putri Sekar Ayu tidak tersusul. Patih Samana mulai merasa was-was, bukankah Patih Lembu Ireng sedang terluka, mengapa dia cepat sekali menaiki kudanya sampai tidak tersusul. Jangan-jangan Patih Lembu Ireng tidak melewati jalan ini. Bukankah ini jalan terdekat menuju ke istana.


“Berhenti...” teriak Patih Samana.


“Ada apa Patih, mengapa kita berhenti di sini?” tanya Bayu.


“Ada yang aneh, mengapa Patih Lembu Ireng dan Putri Sekar Ayu tidak kelihatan seharusnya kita sudah bisa menyusulnya karena Patih Lembu Ireng sedang terluka. Apa Patih Lembu Ireng melewati jalan lain, aku khawatir mereka berdua dalam bahaya karena tidak ada yang mengawal, apa yang seharusnya kita lakukan?” ucap Patih Samana.


“Kita bagi dua saja pasukan ini, sebagian tetap ke istana untuk memastikan apakah Putri Sekar Ayu dan Patih Lembu Ireng sudah sampai di istana atau belum. Sebagian lagi kembali ke tempat pertempuran untuk melacak jejak Putri Sekar Ayu dan Patih Lembu Ireng,” ucap Ajisaka.

__ADS_1


__ADS_2