
Raden Sanjaya terus memacu kudanya ke arah utara menerobos hutan pinus untuk sampai di desa. Raden Sanjaya berkuda menerobos Hutan Gawean, adalah hutan yang terbentang sepanjang puluhan kilometer diantara desa Gadungsari dan desa Lawean. Maka dari itu penduduk di desa Gadungsari dan Lawean menyebutnya Hutan Gawean. Tak terasa sudah setengah hari raden Sanjaya menempuh perjalanan.
"Perutku sudah lapar, saatnya beristirahat sejenak untuk menyantap bekal yang diberikan oleh kepala desa.." batin raden Sanjaya.
Raden Sanjaya beristirahat si pinggir sungai Kedak, yang alirannya juga melalui desa Lawean. Air yang jernih dan tidak terlalu dalam membuat arus sungai itu terlihat deras dan airnya tampak menyegarkan. Dengan lahap raden Sanjaya menyantap ayam panggang yang diberikan kepala desa sebagai bekal. Samar-samar raden Sanjaya mendengar suara seorang gadis yang sedang bernyanyi.
"Siapa yang bernyanyi dintengah hutan seperti ini..? Suaranya sangat merdu dan indah.." batin Raden Sanjaya.
Setelah menghabiskan suapan terakhirnya, raden Sanjaya mencari sumber suara itu, semakin dekat dan semakin jelas hingga raden Sanjaya yakin bahwa suara itu berasal dari balik batu besar di pinggir sungai Kedak. Raden Sanjaya menaiki batu itu dengan hati-hati, sehingga terlihatlah dengan jelas seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun, bewajah sangat cantik dengan bibir tipis kemerahan sedang mandi dan bernyanyi. Kulit putih mulus dan rambut panjang sebatas pinggang membuat gadis itu terlihat semakin anggun dan cantik.
DEEGG... DEEG.... DEEGGG.. DEEGGG..
Jantung raden Sanjaya berdegup dengan kencang, tidak percaya apa yang sedang terlihat di depannya. Tubuhnya bergetar menahan semua gejolak yang ada di dalam tubuhnya.
"Hhaaaahh.. apa yang sedang aku lihat ini..? Apakah ini yang dinamakan bidadari..? Sungguh sangat cantik walaupun terlihat dari samping.." batin Raden Sanjaya dengan tubuh bergetar.
Cukup lama raden Sanjaya memperhatikan gadis itu. Tangannya yang putih membasuh seluruh lekuk tubuhnya yang indah dengan lembut. Jantung raden Sanjaya berdegub dengan kencang, terpesona dengan pemandangan di depannya. Hingga tanpa sadar tangan yang menopang tubuhnya terpeleset dan raden Sanjaya tercebur ke dalam air..
BYUUUUUURRRR......
"Aaaaaaaaaaaa..... siapa kamu..? Kamu mengintipku..? teriak gadis itu sambil menyahut pakaiannya yang berada tak jauh darinya.
Secepat kilat gadis itu memakai pakaiannya lalu mencabut pedangnya dan menyerang raden Sanjaya..
Raden Sanjaya dengan gesit menghindari setiap serangan gadis itu sambil terus berusaha untuk menjelaskan.
"Nona.. tunggu sebentar. Aku bisa menjelaskan semuanya.." ucap raden Sanjaya sambil menghindar..
SIIIIINGG.. SEEEEETTT.. WHEEEEETT.. WHUUUUNGG..
Sabetan dan tusukan gadis itu berhasil dihindari oleh raden Sanjaya. Merasa serangannya tidak satupun mengenai targetnya, gadis itu semakin meningkatkan kecepatan serangannya. Raden Sanjaya terus berusaha menghindarinya sambil terus berusaha memberi penjelasan.
__ADS_1
"Nona.. nona... tolong hentikan. Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku mohon hentikan, maafkan aku, aku akan menjelaskan semuanya.." ucap raden Sanjaya sambil terus menghindari serangan.
"Dasar cabul.. aku akan mencincangmu.. Orang sepertimu tidak layak untuk dibiarkan hidup. Sudah berapa gadis yang telah kau intip saat mandi hah..? teriak gadis itu sambil terus menyerang.
WHIIIIINGG.. SEEETT.. SEEEETT.. WHUUUUNGG..
"Kau telah salah paham nona. Tolong hentikan seranganmu, kita bicara baik-baik.." ucap raden Sanjaya sambil terus menghindar.
"Bicara baik-baik..? Orang cabul sepertimu ingin bicara baik-baik..? Lebih baik bicaralah kepada raja Yama di neraka.." gadis itu terus menyerang.
"Sepertinya aku mengenali jurus yang dipakai gadis ini. Ya, jurus pedang kilisuci. Tapi siapa gadis ini sebenarnya..? Walaupun belum sempurna, tapi bagaimana dia bisa mempelajari jurus pedang kilisuci..? Sedangkan kitab pedang kikisuci ada padaku.." batin raden Sanjaya sambil terus menghindar.
Raden Sanjaya mengenali jurus pedang kilisuci dari kitab pedang kilisuci yang pernah dibacanya.
Merasa perkataannya tidak membuahkan hasil, raden Sanjaya lalu berinisiatif untuk membalas serangan gadis itu dengan maksud dapat membuat gadis itu berhenti menyerang. Sebuah pukulan dari raden Sanjaya mengenai tangan gadis itu dan membuat pedangnya terjatuh. Raden Sanjaya menghentikan serangannya, setelah memungut pedangnya, dadis itupun langsung berlari menuju kudanya dan memacu kudanya dengan sangat cepat.
"Sepertinya aku bukan tandingannya. Aku akan melaporkan kejadian ini kepada guru. Guru pasti akan membalaskan rasa maluku ini.." batin gadis itu.
Raden Sanjaya segera menaiki kudanya dan mengejar gadis itu. Gadis itupun semakin memacu kudanya agar bisa cepat sampai di tempat gurunya berada. Sedangkan raden Sanjaya hanya mengikuti gadis itu kemanapun tujuannya.
"Sial.. sial.. dia mengejarku. Aku harus secepatnya kembali ke rumah guru. Jika sampai tertangkap, mungkin aku akan diperkosanya.." pikir sang gadis.
"Lebih baik aku ikuti saja kemana dia pergi. Aku akan menjelaskan semuanya agar tidak terjadi salah paham dengannya. Aahhhhh.. aku sungguh bodoh, seharusnya aku tadi tidak menikmati pemandangan itu..?" pikir raden Sanjaya.
Raden Sanjaya terus mengejar gadis itu. Hampir satu jam lamanya mereka berkuda hingga memasuki sebuah desa dan gadis itu memasuki halaman sebuah rumah. Gadis itu berteriak ketakutan memanggil gurunya..
"Guru.. guru.. tolong aku.. Ada pemuda cabul yang hendak meruda paksa aku."
"Tolong guru.. aku hendak diruda paksa oleh pemuda cabul.." teriak gadis itu berulang-ulang.
Sang guru pun keluar rumah dengan menghunus sebuah pedang.
__ADS_1
"Siapa yang hendak memperkosamu..? dimana dia..? teriak seorang wanita berusia 40 an dengan marah.
"Itu dia guru.. itu.. itu pemuda cabul itu yang hendak meruda paksa aku.." ucap gadis itu ketakutan sambil menunjuk raden Sanjaya yang baru saja sampai.
Wanita itu langsung menyerang raden Sanjaya, bahkan saat raden sanjaya belum sempat turun dari kuda sambil mengumpat raden Sanjaya.
"Pemuda laknat, benarinya kau mau memperkosa muridku. Akan kucincang kau dan kujadikan makanan binatang buas.." umpat wanita itu sambil menyerang.
SIIIIIINGGG.. WHUUUUNG.. SEET.. SWIIIIING..
Mendapat serangan dadakan, raden Sanjaya dengan gesit dan lincah menghindarinya sambil berusaha memberikan penjelasan.
"Tunggu bibi.. aku bisa menjelaskan semuanya. Aku tidak seperti yang dikatakan muridmu itu, percayalah nyonya.." ucap raden Sanjaya sambil terus menghindar.
"Bukti dan saksi sudah jelas, kau malah mengelak. Dasar tidak tau malu. Kau memang pantas mati.." wanita itu terus menyerang raden Sanjaya dengan sabetan dan tusukan.
"Tunggu nyonya, bibi.. tunggu.. kita bisa membicarakan ini baik-baik. Kalau memang aku terbukti melakukan apa yang dituduhkan muridmu, aku bersedia menerima hukumannya.."
"Nona.. tolong jangan mengatakan hal yang tidak aku lakukan. Aku mengejarmu hanya untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.." ucap raden Sanjaya sambil menghindari serangan wanita itu..
"Dasar pemuda cabul.. aku akan mengampunimu jika kau congkel kedua matamu denga tanganmu sendiri. Mata itulah yang membuat pikiranmu menjadi kotor dan ingin melakukan hal yang tidak senonoh denganku bukan..?" ucap gadis itu.
Raden Sanjaya dengan tanpa lelah terus berusaha menghindar dari serangan wanita itu, dan wanita itu, mendengar ucapan muridnya, serangannya menjadi semakin cepat dan ganas.
"Ini jurus pedang kilisuci, gerakannya jauh lebih sempurna dari gerakan gadis itu. Tapi darimana mereka mempelajarinya..?" batin raden Sanjaya bingung.
"Sepertinya ini gerakan langkah kalimasada. Tapi ada energi yang tidak aku kenal bersatu dengan jurus ini.."
"Siapa pemuda ini..? Jika dia belajar jurus kalimasada, kenapa dia mau memperkosa muridku..? Jurus kalimasada harus dipelajari oleh orang yang berhati suci.."
"Mungkinkah dia.........." batin wanita itu.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari dari kejauhan seseorang mengawasi pertarungan mereka dan terus bersiaga jika sesuatu terjadi pada mereka.