Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB XLVIII


__ADS_3

Karman dengan segera melapor kepada senopati Manto dan Ki Karso tentang semua kejadian yang dialaminya di desa Gadungsari. Ki Karso tidak dapat menyembunyikan kemarahannya setelah mendengan cerita Karman.


"Tolong sembuhkan aku tuan patih. Seluruh kanuraganku telah dimusnahkan oleh pemuda bernama Jaka Pengalasan itu. Aku benar-benar tidak mempunyai ilmu kanuragan lagi sekarang.." ucap Karman memelas


"Keparaaaatt...!! siapa yang telah berani meremehkan Tengkorak Hitam..? Jaka Pengalasan, siapa dia dan apa dasarnya dia akan membuat perhitungan dengan Tengkorak Hitam..?" tanya ki Karto menahan amarah.


"Tenanglah Karman. Aku akan memikirkan cara untuk mengembalikan kekuatanmu lagi." ucap senopati Manto.


"Manto.... cepat kumpulkan anggota Tengkorak Hitam. Aku akan membawa beberapa prajurit terbaik, hancurkan mereka..!!" Ki Karto sangat geram.


"Tenang Ki.. Apa tidak sebaiknya kita serang mereka setelah kita menyerap kekuatan dari Penguasa Kegelapan..? Aku yakin saat itu mereka akan dengan mudah kita jadikan debu.."


"Waktu kita sudah dekat, dan tumbal yang kita butuhkan juga sudah hampir lengkap" ucap Manto.


"Kau benar senopati. Kita hancurkan mereka setelah mendapat kekuatan dari Penguasa Kegelapan. Akan kuhancurkan mereka sampai-sampai mereka menyesal telah dilahirkan.." jawab Ki Karto.


"Kalau demikian, sebaiknya kita kerahkan semua sumber daya yang kita punya agar persiapan segera selesai." sambung Ki Karto.


"Baik Ki... aku akan memerintahkan semua anggota kita untuk bergerak." jawab senopati Manto.


Dalam waktu kurang sepuluh hari, Senopati Manto mengerahkan lebih banyak anggota Tengkorak Hitam untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam ritual kegelapan.


-->


Sementara itu, raden Sanjaya tiba di padepokan Mahesa Sura, salah satu padepokan yang dipimpin oleh Ki Mahesa Sura. Padepokan Mahesa Sura adalah salah satu padepokan yang juga mengajarkan murid-muridnya ajaran budi luhur dan jalan kebenaran. Raden Sanjaya diterima dengan baik oleh Ki Mahesa Sura.


"Pemuda ini bukan pemuda sembarangan. Aku tidak boleh gegabah.." batin Ki Mahesa


"Mohon maaf, siapakah raden ini dan apa tujuan raden datang ke padepokanku ini..?" tanya Ki Mahesa.

__ADS_1


"Baik Ki.. Aku adalah Jaka Pengalasan yang berasal dari Padepokan Naga Langit yang berada di desa Lawean. Sedangkan tujuanku datang kesini adalah selain mempererat rasa persaudaraan, aku ingin meminta bantuan anda.." ucap raden Sanjaya.


"Padepokan Naga Langit di desa Lawean..? Aku baru mendengarnya, tapi aku menerima dengan senang hati ikatan persaudaraan ini. Lalu apakah bantuan yang raden inginkan..?" tanya Ki Mahesa.


"Padepokan Naga Langit memang baru didirikan oleh kakekku, Ki Samadhi. Dan salah satu cita-cita padepokan kami sesama kelompok aliran putih itu bersaudara."


"Perihal permohonan bantuanku adalah kita bersama-sama melawan Tengkorak Hitam, karena mereka sudah berbuat melampaui batas. Sudah saatnya kita bergerak bersama memusnahkan angkara murka di negeri kita ini.." jawab Raden Sanjaya.


Lalu raden Sanjaya menceritakan semua yang telah dilakukan oleh Tengkorak Hitam dan tujuan mereka melakukan itu semua. Ki Mahesa menjadi geram mendengar cerita raden Sanjaya. Sebagai salah satu pemimpin padepokan aliran putih, sudah pasti hatinya tergerak untuk melawan segala angkara murka yang ada di negerinya.


"Baiklah raden, dengan senang hati aku dan murid-muridku membantu. Lalu apa rencana raden..?" tanya Ki Mahesa.


"Aku ingin dalam tujuh hari kita bertemu di padepokan Naga Langit. Nanti kita bahas strategi menghadapi Tengkorak Hitam bersama-sama dengan lainnya.."


"Saat ini kakekku dan Ki Harso salah satu tetua dari perguruan Wiji Sejati sedang berusaha mengajak yang lainnya untuk bergabung juga.." jawab Raden Sanjaya.


"Kalau boleh saya tau, siapakah kakek raden ini..?" tanya Ki Mahesa.


"Kalau begitu aku mohon pamit, aku harus segera kembali ke padepokan Naga Langit. Mungkin Ki Mahesa juga bisa membantuku untuk mengajak yang lainnya bergabung. Aku tunggu kedatangan Ki Mahesa di desa Lawean.." ucap raden Sanjaya.


"Baiklah raden. Sampai ketemu di desa Lawean.." jawab Ki Mahesa.


"Tidak ku sangka ternyata pemuda itu cucu dari begawan Sabdawala. Ternyata anda masih hidup begawan.." batin Ki Mahesa.


Begawan Sabdawala dan Ki Harso pun juga mendatangi beberapa padepokan dan kelompok aliran putih mengajak mereka bergabung untuk melawan Tengkorak Hitam dan setelah itu mereka juga memutuskan untuk menuju padepokan Naga Langit di desa Lawean.


-->


Dengan bantuan Ki Sumali dan putri Nawang, Sekar Wulan berhasil menguasai jurus-jurus yang ada di dalam kitab pedang kilisuci. Getakan yang diperagakan oleh Sekar Wulan begitu sempurna. Hanya tinggal menyerap kekuatan mantram sakti kilisuci agar Sekar Wulan bisa menguasai sepenuhnya kitab pedang kilisuci. Memang untuk menghafalkan dan memperagakan sebuah gerakan, Sekar Wulan mempunyai kemampuan diatas orang-orang pada umumnya, tapi tidak dengan pemahaman tentang mantram.

__ADS_1


"Berbeda dengan raden Sanjaya, kemampuan pemahaman nona Wulan tidak sebaik raden Sanjaya. Seandainya raden Sanjaya ada disini, mungkin akan sangat membantu nona Wulan.." ucap Ki Sumali.


"Mengapa tidak langsung menyerap energinya saja kek..? mengapa aku harus memahaminya dahulu..?" tanya Sekar Wulan.


"Pemahaman tentang mantram sangat penting untuk keberhasilan penyerapan energi mantram itu sendiri. Yang penting nona Wulan hafalkan semua mantram dalam kitab ini dulu.." jawab ki Sumali.


"Baik Kek.." jawab Sekar Wulan.


Beberapa saat kemudian, seekor elang emas mendarat di halaman padepokan Naga Langit. Kedatangan elang emas membuat padepokan Naga Langit menjadi heboh. Mendengar keributan di halaman depan padepokan, Ki Sumali dengan segera menuju halaman untuk menghadapi apapun yang terjadi.


Dengan membopong putri Dyah Ayu, raja Dewajana turun disusul dengan Ki Sasongko dan yang lainnya. Ki Sumali sangat mengenali raja Dewayana, lalu menunduk memberi hormat kepada raja Dewayana.


"Mohon ampun paduka, hamba tidak.mengetahui bahwa paduka yang datang.." ucap ki Sumali memberi hormat.


"Bukankah kau pengawal pangeran Kusuma, seingatku ada tiga orang pengawal dan cucuku Sanjaya. Dimana mereka..?" tanya raja Dewayana.


"Benar paduka. Hamba Sumali, pengawal Pangeran Kusuma, dua orang teman hamba, Ki Joyo dan Ki Tejo telah terbunuh oleh Tengkorak Hitam saat mereka menyergap kami di desa ini. Sedangkan raden Sanjaya saat ini tidak berada disini.." jawab ki Sumali.


"Nanti aku akan bertanya kepada mu Ki. Tapi tolong selamatkan istriku, dia terkena gigitan ular kobra.." ucap raja Dewayana.


Lalu mereka memasuki pendopo padepokan Naga Langit. Ki Sumali memeriksa dengan seksama kaki putri Dyah Ayu.


"Racun ini sangat ganas. Kalau tidak ada tenaga dalam yang menahan penyebarannya, mungkin putri Dyah tidak akan selamat."


"Aku tidak yakin ramuanku bisa menyembuhkan putri Dyah Ayu.." ucap Ki Sumali.


"Bukankah begawan Sabdawala berada disini Sumali..? Mungkin guru dapat mengeluarkan racunnya.." ucap Ki Sasongko.


"Dari surat yang aku terima dari raden Sanjaya, mereka bertiga, Guru, Ki Harso dan raden Sanjaya, saat ini sedang menghubungi beberapa padepokan dari aliran putih untuk dapat bergabung dengan kita melawan Tengkorak Hitam.." jawab Ki Sumali.

__ADS_1


Suasana di pendopo sangat tegang, kondisi putri.Dyah Ayu juga semakin memburuk. Bau menyengat keluar dari kaki putri Dyah Ayu. Raja Dewayana menjadi panik dan membuat suasana di pendopo Padepokan menjadi semakin tegang.


Mendengar keributan di pendopo, Selir Ling dan Putri Nawang keluar melihat keadaan di pendopo. Raja Dewayana sangat terkejut melihat Selir Ling juga berada di padepokan Naga Langit. Lebih terkejut lagi saat mengetahui menantunya, Putri Nawang Sari masih hidup dan juga berada di padepokan Naga Langit.


__ADS_2