Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB XXXIV


__ADS_3

"Jadi kematian ayahku adalah konspirasi paman Pranoto dengan Tengkorak Hitam..? Demi kekuasaan paman tega melakukan hal ini kepada saudaranya. Sungguh benar-benar tidak punya hati nurani." batin raden Sanjaya sedih dan marah.


"Jadi ini sebabnya Tengkorak Hitam berkembang dengan begitu pesat.." gumam ki Sumali.


"Bukan hanya itu tuan, banyak prajurit kerajaan bergabung dengan sekte Tengkorak Hitam. Bahkan pasukan khusus kerajaan." ucap Barno.


"Lalu bagaimana keadaan Raja Dewayana sekarang..?" tanya raden Sanjaya.


"Beberapa tahun lalu, raja Dewayana dan Ratu Dyah Ayu meninggal dunia. Pangeran Pranoto sendiri yang mengumumkannya." jawab Barno.


Raden Sanjaya menjadi sedih mendengar penjelasan dari Barno. Barno menangkap kesedihan yang tampak di wajah raden Sanjaya.


"Tuan, mohon maafkan aku. Jika aku boleh tau, siapakah tuan Jaka ini sebenarnya dan apa tujuan tuan Jaka di alas Purba..?" tanya Barno.


"Mengapa kamu menanyakan itu Barno..? Apakah penting bagimu siapa aku dan apa tujuanku berada disini..?" jawab raden Sanjaya.


"Maaf jika aku lancang bertanya tuan. Aku mendengar kabar jika raden Sanjaya lari dari kejaran Tangkorak Hitam dan masuk ke alas Purba bersama pengawal Pangeran Kusuma. Jika raden Sanjaya masih hidup, mungkin beliau sekarang berusia sama dengan tuan Jaka."


"Dan sepintas aku melihat kesedihan mendalam setelah tuan mendengar penjelasanku tadi. Itulah mengapa aku berani lancang menanyakan hal ini kepada tuan." jawab Barno pelan.


"Baiklah, aku percaya kalian tidak akan mengkhianati aku. Sebenarnya akulah yang kalian cari di alas Purba ini. Aku adalah Sanjaya putra dari Pangeran Kusuma.." jawab raden Sanjaya.


Tanpa diperintah, mereka semua langsung berlutut di depan raden Sanjaya.


"Maafkan hamba raden, hamba benar-benar tidak tau bahwa anda adalah raden Sanjaya. Sekali lagi maafkan hamba dan terimalah penghormatan hamba." ucap Ujang, Barno dan Slamet sambil berlutut


"Bangunlah kalian semua, jangan bersikap formal seperti itu. Bagaimanapun ini bukan tempat yang tepat untuk melakukan penghormatan seperti ini."


"Tapi rahasikan identitasku. Hanya kalian yang tau masalah ini. Selanjutnya kalian sebut saja aku Jaka Pengalasan." ucap raden Sanjaya.


"Baik raden.. eh tuan Jaka.." jawab Slamet.


"Mari tinggalkan tempat ini menuju desa Lawean." ucap raden Sanjaya.

__ADS_1


Raden Sanjaya lalu memanggil hewan spiritual suci yang telah ditaklukkannya. Dengan telepati raden Sanjaya memanggil Harimau putih bertanduk, Singa hitam bermata merah, Sanca beracun berkepala tiga, Serigala biru bermata tiga dan Rajawali merah berparuh baja. Tak butuh waktu lama, kelima hewan spiritual suci itu telah sampai di hadapan raden Sanjaya dan menundukkan kepala mereka. Raden Sanjaya mengelus kepala mereka satu persatu sambil memberikan perintah dengan menggunakan telepati.


"Kalian, bantu aku jaga alas Purba ini. Harimau putih jagalah wilayah timur, Sanca kepala tiga jagalah wilayah selatan, Serigala biru jaga wilayah utara, Singa hitam jagalah wilayah barat."


"Rajawali, jagalah wilayah tengah. Tapi sebelumnya antarkan kami semua ke desa Lawean.." ucap raden Sanjaya.


"Baik tuan, hamba akan menjalankan perintah tuan.." jawab mereka serempak.


Harimau putih, Sanca kepala tiga, Serigala biru dan Singa hitam langsung melesat pergi setelah mendengar perintah raden Sanjaya.


"Tuan, naiklah kalian semua ke punggungku, aku akan membawa kalian terbang menuju desa Lawean." ucap rajawali merah.


Slamet, Ujang dan Barno hanya bisa takjub dengan apa yang dilakukan oleh raden Sanjaya.


"Beruntung aku tidak membuat masalah dengan raden Sanjaya. Memang raden Sanjaya sungguh luar biasa, keputusan untuk bergabung dengannya adalah keputusan yang sangat tepat.." batin Barno.


"Kalian bertiga beserta anak buah kalian, naiklah ke punggung rajawali ini. Kita akan bersama-sama terbang ke desa Lawean." ucap raden Sanjaya.


Rajawali paruh baja melesat terbang mengantarkan raden Sanjaya dan pengikutnya. Hanya dalam sepuluh menit mereka telah sampai di wilayah desa Lawean. Rajawali paruh baja berputar-putar di atas wilayah desa Lawean. Raden Sanjaya memerintahkan rajawali paruh baja untuk menurunkan mereka di pinggiran desa Lawean.


Raden Sanjaya dan para pengikutnya turun di bukit sebelah timur desa, dekat dengan pondok tempat persembunyiannya dulu. Setelah semua turun dari punggungnya, raden Sanjaya memerintahkan rajawali paruh baja untuk kembali ke alas Purba, menjaga wilayah tengah alas Purba. Raden Sanjaya menuruni bukit dan menuju arah desa Lawean.


"Keadaannya tidak berubah, masih sama seperti dulu." gumam Raden Sanjaya.


"Benar cucuku, hanya saja tempat ini menjadi sedikit lebih rame dari pada dahulu."


"Tempat ini sudah dibuka untuk lahan pertanian oleh penduduk desa Lawean." sahut ki Sumali.


Beberapa saat kemudian, mereka berhenti di depan sebuah pondok, pondok yang dibangun oleh Ki Joyo, Ki Karto dan Ki Sumali untuk mereka bersembunyi. Tampak di samping pondok itu ada dua buah makam.


"Makam siapakah itu..?" batin Ki Sumali.


"Kisanak, siapakah kalian semua, dan untuk apa kalian berada disini. Mengapa kalian terus memandang pondok itu..?" tanya salah seorang warga.

__ADS_1


"Maaf kisanak, kami hanya mengenang tempat ini dan pondok itu adalah pondok yang ku bangun bersama kedua orang temanku.." jawab Ki Sumali.


"Jaga ucapanmu pak tua. Kau jangan mengada-ada. Pondok ini dibangun oleh tiga pahlawan desa Lawean dan mereka telah gugur."


"Lihatlah makam yang ada disamping pondok itu, mereka telah mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan kami semua." ucap penduduk itu emosional.


"Engkau mengatakan tiga pahlawan desa, tapi lihatlah disana itu hanya ada dua makam. Lalu dimana satu lagi makam pahlawan desa kalian..?" jawab ki Sumali tenang, walaupun dalam hati ki Sumali sangat sedih mengetahui Ki Joyo dan Ki Tejo telah gugur.


"Beliau gugur di dalam alas Purba. Beliaulah yang telah menarik seluruh anggota Tengkorak Hitam meninggalkan desa ini.." jawab penduduk.


Mengetahui kegaduhan yang terjadi, salah seorang penduduk berlari menuju rumah kepala desa dan memberitahukan kejadian di depan pondok. Kepala desa dengan geram berlari ke arah pondok.


"Awas minggir, siapa yang berani lancang......... aaaa.. aan.. anda.." Kepala Desa tidak meneruskan kata-katanya.


Kepala Desa berlari dan memeluk Ki Sumali. Air mata tampak menetes di sudut mata Kepala Desa. Ki Sumali membalas pelukan kepala desa. Penduduk Lawean bingung dengan apa yang dilihatnya.


"Kepala desa, kamu masih mengingatku..?" suara Ki Sumali bergetar.


"Tentu saja Ki, siapa yang bisa melupakan pahlawan desa yang menyelamatkan kami semua..?"


"Dengarkan kalian semua. Dialah Ki Sumali salah satu dari pahlawan desa. Ternyata beliau masih hidup." ucap kepala desa menjelaskan kepada penduduk desa Lawean.


Penduduk desa Lawean menundukkan kepala tanda penghormatan dan penyesalan karena telah tidak sopan terhadap ki Sumali.


"Ki.. maafkan kami telah menuduhmu dengan tuduhan yang keji. Kami sungguh tidak mengenalimu. Mohon maafkan kami Ki.." ucap salah satu penduduk.


"Sudahlah.. ketidak tahuan memang seharusnya dimaafkan. Aku tidak mempermasalahkan hal itu." jawab ki Sumali.


"Apa yang membawamu kembali ke desa ini Ki..? lalu siapa pemuda yang berada di sampingmu itu..?" tanya kepala desa


"Sebaiknya kita masuk ke pondok dulu."


"Nanti malam, aku harap kalian semua datang ke pondok ini. Aku ingin kita bersama-sama mendo'akan Ki Joyo dan Ki Tejo." ucap Ki Sumali.

__ADS_1


Para penduduk pun lalu membubarkan diri untuk menyiapkan segala kebutuhan untuk acara do'a bersama. Ki Sumali, kepala desa dan raden Sanjaya masuk ke dalam pondok, sementara Barno, Slamet dan Ujang bersama anak buahnya membersihkan area sekitar pondok untuk acara do'a bersama.


__ADS_2